Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Kamu Harus Habis di Tanganku.


Maura masih setia menenangkan sang adik. Adik yang selalu mencari dirinya, dalam keadaan sedih dan senang. Adik yang selalu ia antar ke kamar mandi jika malam hari di masa kecil. Adik yang selalu ia omeli, jika dengan sengaja mengganggunya ketika mengerjakan PR. Adik yang akan selalu ia bela, jika kedua orang tuannya sedang memarahinya.


Kini, walaupun umur Ammar sudah tumbuh dewasa. Sudah berhasil menjadi Presdir, sudah berhasil membawa Eco Group ke kaca dunia, Ammar akan tetap mencari dirinya untuk menumpahkan rasa sedih, kecewa, amarah atau sekedar meminta saran.


Ia lebih dekat mengungkapkan apa yang ia rasa selama ini kepada sang Kakak, ketimbang kepada Mama dan Papanya. Ammar adalah anak yang baik, ia tidak pernah mau membebani masalah yang ia punya kepada kedua orang tuanya.


Maura merasa adiknya tidak pernah menyembunyikan apapun darinya. Dan, Ammar tersiksa karena sudah berani memboongi sang Kakak dengan segala aktivitasnya di luar EG.


Apa yang harus ia jelaskan kepada wanita itu, dengan beberapa organ-organ tubuh manusia yang selama ini ia perjualbelikan. Mendanai alat-alat perakit senjata tajam, seperti bom, pistol, granat dan senjata tajam lainnya untuk peperangan di dalam maupun luar negeri.


Mempunyai beberapa rumah bordir, dan memperkerjakan banyak wanita. Ammar akan memberikan bonus kepada para koleganya, jika menyetujui penanaman saham dengan permainan wanita.


Sungguh, bisnis-bisnis haram itu memang sangat melesatkan banyak keuntungan. Walau ia sudah kaya dengan penghasilannya di EG. Namun untuk hal itu, ia hanya mencari kepuasan batin. Ammar merasa puas dan hebat, bisa menjatuhkan lawan. Ia merasa seperti raja, dan berkat dorongan Farhan, sahabat kecilnya. Mereka berdua berkomplot dalam bisnis haram ini.


Mengusap-usap lembut punggung sang Adik. Membiarkan tubuhnya sejenak sebagai sandaran Ammar untuk melepas kesedihannya. Ammar terus menangis, terisak. Melepaskan apa yang menjadi ganjalan di hatinya sekarang. Tidak malu jika dianggap cengeng.


Mungkin kalau ada Bima dan Denis, dua lelaki itu akan melongo tidak percaya. Ammar yang akan selalu menampilkan sisi kekuatan, kekejaman dan kedinginan nya. Bisa selemah itu. Satu misi didalam hidupnya, tidak mau dianggap kecil dan remeh oleh orang lain selain keluarga besarnya.


"Menangis lah, jika dengan itu membuat beban mu berkurang. Gunanya air mata memang untuk itu." suara Maura amat meneduhkan, membuat sudut hati Ammar semakin teriris perih.


"Jika tidak mau menikah dengan Asyifa. Tidak apa-apa, Dek. Jangan dipaksa. Hal itu bukanlah jalan terbaik untuk melupakan cintamu."


sesungguhnya Maura sudah tahu masalah Ammar yang membatalkan pernikahannya dengan Asyifa, karena neberapa jam yang lalu, sang Mama menghubungi Maura untuk menceritakan masalah itu.


"Aku mencintainya ... tapi aku tidak bisa menggapainya." jawab Ammar terseguk-seguk.


"Ganaya akan menikah lusa. Mungkin karena ia belum menikah, jiwa ingin memiliki masih bersarang di hatimu. Kalau Gana sudah menikah, lambat laun pasti hatimu akan menerimanya, Dek. Dan setelah itu, kamu bisa membuka ruang dan hatimu untuk wanita lain."


Sejatinya, masalah Ammar yang mencintai Ganaya hanya Maura dan Gana yang tahu. Tidak ada satu orang pun dari keluarga besar mereka bisa mengendus masalah ini. Maura menutup rapat, sekalipun itu dari suaminya.


Mendengar ucapan sang Kakak. Membuat Ammar mendadak diam. Tangisannya terpaksa berhenti. Ia menarik tubuhnya dan melepaskan pelukan itu. Menatap manik mata Maura lamat-lamat.


"Aku akan tetap menikah dengan Gana, Kak." jawab Ammar lugas. Ia terlihat sangat yakin sekali.


Maura mengerutkan keningnya. "Jangan mulai, Ammar! Kamu bisa gila jika terus seperti ini." Maura memegang kedua lengan Adiknya.


"Shalat dan berdoalah. Minta agar rasa cintamu di pudarkan oleh Allah untuk Ganaya!" Maura menempelkan ujung jari di dada Ammar.


Dan masih dalam wajah yang serius, Maura kembali bertutur.


"Gana akan menikah lusa. Ingat itu!" Maura mengusap kebasahan di wajah Adiknya. Membenarkan helaian rambut yang sangat berantakan.


"Mandi dan shalat. Habis itu turun ke bawah, kita akan makan malam."


Ammar mengangguk. "Bolehkan malam ini aku menginap di sini?"


"Jangankan menginap, jika kamu mau tinggal di sini, pasti aku bolehkan."


Senyum manis Ammar di raut wajahnya yang masih sendu kembali terlihat.


"Makasih banyak, Kak. Aku beruntung mempunyai Kakak seperti mu."


****


"Enak ya, kalau makan ada yang ngambilin." sindir Ammar dengan tatapan nyeleneh kepada Gifali, Kakak iparnya. Maura baru saja meletakan piring berisi nasi dihadapan suaminya.


"Makanya kamu nikah. Sudah dua puluh tujuh tahun, apa lagi yang ditunggu? Dulu, aku menikahi Kakakmu, saat umur kami delapan belas tahun. Lihat kan, ketika anak-anakku sudah besar. Aku masih terlihat muda." timpal Gifali bangga. Ia puas sekali meledek Ammar.


"Pernikahan sudah di ujung mata. Malah kamu batalkan ditengah jalan. Kamu mau cari yang seperti apa, Ammar?" tanya Gifali lagi.


Mendengar pertanyaan terakhir, membuat garis senyum di wajah Ammar meredup. Ia sedikit tertunduk, hanya bisa menatap makanan-makanan yang sudah berjejer di hadapannya.


Bisa tidak, jika ia bilang. Kalau hanya Ganaya yang bisa meneduhkan sanubari hatinya. Dan, Gifali pasti akan tersedak tidak percaya.


Tahu, kalau adiknya kembali tidak enak hati. Maura memilih mengalihkan topik yang lain. "Sudah ayo makan." titahnya kepada semua yang sudah menduduki kursi.


Five G yang sejak tadi tadi sibuk bercanda, kini hanya diam menurut ucapan sang Bunda. Geisha yang berada dihadapan Om nya, terus saja memperhatikan wajah Ammar yang mendadak bisu.


Tahu, jika suasana menjadi dingin. Gifali kembali mencairkan suasana. "Ya udah enggak apa-apa batal nikah, yang penting kamu bisa mencari pilihanmu sendiri, Dek."


Ammar mendongak dan tersenyum. Ia tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Kakak Iparnya. Karena ia tahu, dirinya pantas untuk di nasehati.


Maura langsung menyentak bahu adiknya. "Enak aja!" dengus nya dengan delikan mata tajam.


Geisha tersenyum. "Geisha cantik ya, Om?"


Ammar mengangguk. "Sangat."


Geisha tertawa dengan bola mata yang berbinar-binar. Seraya mengibaskan helaian rambutnya dan berbicara kepada mereka semua yang ada di meja makan.


"Aku memang cantik." ucap anak itu bangga.


"Dasar genit." sungut Bisma.


"Perasaan Bunda enggak pernah gitu deh." decak Pradipta.


"Kamu dengar kan, apa ucapan Kak Geisha?" tanya Gea kepada Ginka.


"Ya, aku dengar. Rasanya perutku mual. Ingin muntah." Ginka memiringkan sudut bibirnya, memutar bola matanya malas.


Gifali tertawa renyah menatap ke lima anaknya. "Ayah tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Langkahi dulu mayatku, Ammar."


Dan semua tertawa terbahak-bahak. Sampai dimana ponsel Gifali berdering dan gelak tawa mereka terhenti. Maura segera bangkit dari kursi, untuk mengambil ponsel yang suaminya letakan di atas meja televisi.


"Mama?" ejanya. Ada apa malam-malam begini Mama mertuanya menelepon. Maura kembali untuk menghampiri suaminya.


"Siapa sayang?"


"Mama yang telepon." jawab Maura. Gifali meraih handphone itu dan menjawab panggilan tersebut.


Wajah yang selalu meneduhkan. Tiba-tiba berubah menjadi wajah yang sulit untuk diartikan. Kedua alisnya menaut dan bola mata yang berpendar kesana-kemari, ia fokus mendengarkan apa yang Mamanya ucap di seberang sana.


Kemudian, tanpa sadar Gifali menghentak meja dan langsung berdiri.


"APA?" serunya nyaring. Menatap lurus ke arah dinding polos dengan gawai yang masih mengudara di telinganya. Semua tersentak dibuatnya.


"Tunggu, Kakak. Akan segera kesana, Mah." Gifali memutuskan sambungan telepon tersebut. Dengan cepat memutar langkah. "Ada apa, Yah?" Maura mengekor langkah suaminya yang bergegas masuk kedalam kamar.


Ammar dan five G hanya termenung dengan tangan terlipat di atas meja makan. Tiba-tiba saja perasaan Ammar tidak enak. Jantungnya berdebar dan bayangan wajah Ganaya seketika muncul di hadapannya.


"Ayah, mau kemana? Adek ikut ya." Ginka beranjak bangkit dan menghampiri Ayahnya yang sudah keluar dari kamar dengan kunci mobil ditangannya menuju pintu utama.


"Bun, tolong anakmu." titah Gifali. Maura mengangguk. "Hati-hati, Yah." wajah Maura dan Gifali sangat tegang.


"Ayah! Adek mau ikut." cicit Ginka yang tubuhnya sudah lebih dulu di tahan oleh Maura. "Mau ikut Ayah." serunya.


Ammar bangkit dan menghampiri Maura yang masih berdiri diambang pintu rumah, memperhatikan suaminya yang dalam keadaan panik sedang mengeluarkan mobil dari garasi.


"Ada apa, Kak?"


"Apa kamu tahu masalah ini, Ammar?"


Ammar tertohok dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Kakaknya. "Masalah apa?" Ammar mengulangi.


"Gana membatalkan pernikahannya. Dia hampir di perkosa oleh Adri, untung Gemma datang untuk menolong. Gemma menghajar Adri sampai tidak sadarkan diri."


DEG.


Jantung Ammar seketika ingin terlempar jauh ke angkasa. Dadanya berdenyut nyeri ketika kalimat perkosaan, mencuat dari bibir sang Kakak. Kedua tangannya mengepal hebat dengan sorotan kemarahan tiada ampun.


"Kamu harus habis di tanganku, Adri!" gumam Ammar. Lelaki itu dengan cepat berbalik ke dalam dan kini, Maura kembali mengekor dibelakangnya.


"Kamu mau kemana, Ammar?"


"Aku ingin membunuhnya!"


***


Like dan Komennya yaa, maacih❤️.