
Dengan sorot mata layu nan kosong. Ammar tetap setia duduk di sebelah ranjang pasien, menggenggam tangan Ganaya yang baru saja keluar dari masa kritis paska melahirkan anak ke enam mereka, beberapa jam lalu dalam proses caesar.
Awalnya saat masuk ke ruang bersalin semua tampak akan berjalan lancar. Tapi, di tengah jalan saat Gana mengejan, wanita itu terjangkit asma berat sampai susah bernapas.
Dalam keadaan genting, Dokter memutuskan untuk mengoperasi Gana detik itu juga agar dirinya dan si bayi bisa terselamatkan. Dan suasana yang terasa gaduh di luar ekspektasi Ammar tidak hanya berhenti sampai di situ, kembali di tambah pelik saat Dokter Anak mengatakan kalau anak ke enam mereka yang berjenis kelamin perempuan harus di masukan ke dalam ruang Nicu karena gerak napas agak terganggu.
Sudah lima kali menemani Gana melahirkan dan mendapatkan bayi yang sehat-sehat setelahnya, membuat daksa Ammar seolah tercacah. Pikiran jelek terus melalang buana di tambah lagi ocehan Papa mertua yang terbilang menyakitkan.
"Makanya di steril aja! Bikin anak terus perasaan! Kamu pikir anakku itu apa?" sewot Papa Galih kepada Ammar yang masih duduk memunggungi dirinya.
"Udah dong, Pah. Keadaan lagi kayak gini bukannya banyak berdoa malah kayak beo, marah-marah terus dari tadi," balas Mama Difa dengan nada ketus juga.
"Belain aja terus! Anak kamu tuh dia apa Gana?"
"Dua-duanya anakku, Pah!" Mama melototkan mata, membuat Papa Galih merapatkan bibir. Mama kembali melanjutkan ucapan yang terjeda. "Harusnya Papa tuh bersyukur anak kita bisa punya anak banyak. Masalah kayak begini, ya, wajar aja, untuk di hadapi. Namanya manusia enggak lepas dari ujian. Kalau kemarin-kemarin Allah kasih enak terus Ammar dan Gana sampai kelahiran anak kelima. Ya, mungkin sekarang ini Allah lagi pengin mengangkat derajat mereka lewat anak ke enam dengan sedikit kesusahan. Lagian juga Alhamdulillahnya udah bisa di tangani. Terus yang bikin Papa resah itu Papa? Dasar lebay!" Mama bangkit dari sofa, mendekati Ammar, mengelus bahu sang menantu yang akhirnya memeluk perut Mama karena takut.
"Maafin Ammar, ya, Mah."
"Ngapain minta maaf? Ammar nggak ada salah apa-apa. Ini murni kehendak, Allah."
"Dia yang minta istri nya hamil terus, Mah. Emangnya anak kita kucing? Bisa lahiran banyak?" Mama kembali mendelik tajam ke belakang tepat nya menghunus bola mata Papa yang kembali diam karena perawakan Mama yang horor.
"Papa mending ke kamar sebelah sana. Ikut jagain cucu-cucu." agar Gana bisa tenang untuk istirahat, maka, Ammar menyewa satu kamar di sebelah kamar ini hanya untuk anak-anak mereka yang ikut ke RS dan sekarang tengah bersama Papa Bilmar dan Mama Alika. Sejak tadi pun Papa Bilmar malas berdekatan dengan Papa Galih karena wajah besannya itu kecut sekali dan asam seperti bulu ketek anakkonda.
Papa Galih tetap statis di tempat, tidak menjawab titahan itu. Ia masih menatap kesal Ammar. "Eh-eh, matanya! Mama colok nih!" Mama Difa mengeratkan taring agar Papa bisa mengendalikan tatapan matanya.
Wajar saja jika Papa seperti itu, ia pernah kena prank selama tiga tahun dengan aksi Ammar yang ama di luar logika, menyembunyikan putri yang sudah ia ikhlaskan untuk pergi menghadap Ilahi. Maka, saat mendapatkan Gana kembali dalam keadaan seperti ini. Papa jadi takut dan melimpahkan kekecewaan kepada menantunya tersebut.
Dan saat ada gumaman serak dari Gana yang mulai membuka mata, Papa lekas berhambur mendekat dan mengusir Ammar untuk menjauh. Papa berdiri di sebelah ranjang, seraya memeluk permata hatinya.
"Papa nih!" interupsi Mama kesal, Papa biarkan saja saat istrinya itu mencubit perutnya. "Kayak nggak pernah ngelihat istri abis secar aja!" dengkus Mama yang masih tak suka dengan sikap Papa.
"Udah, Mah, nggak apa-apa," tukas Ammar untuk menengahi agar Mama dan Papa tidak sampai berdebat.
Ammar memilih mundur sedikit ke belakang, menggerakkan mata kepada Gana kalau dirinya baik-baik, begitu saja tahan banting akan sikap Papanya.
"Alhamdulilah, Ya Allah. Akhirnya istriku sadar." inginnya mengecup kening untuk mengucapkan terimakasih karena sudah berjuang. Tetapi, kondisi sedang tak berpihak. Ada Papa yang menyerbu Gana dengan pelukan.
Gana mengangguk senyum saat Ammar tersenyum dengan rintikan air mata.
"Makasih sayang, i love you."
๐พ๐พ๐พ๐พ
"Katanya kamu nggak mau punya Adek ini, ngapain ngajak-ngajak main?" tanya Aidan yang sedang menggendong Alda, ikut menjenguk adik bungsu mereka. Karena sering kali Adela berkata kalau Mamanya jangan lagi hamil dan melahirkan.
"Cekalang mauh kok. Aku cuka, diah tantik coalnah. Bibil na melah. Putih banet." Adela tersenyum suka saat memuji-muji Aqila.
"Atu tuga, yah?" Alda ikut bertanya.
Adela mendesis malas, garis bibirnya naik sedikit. "Kamu mah nakal! Jeyek!" seakan ingin mengigit kaki Alda dan lekas di jauhkan oleh Aidan.
"Tadi kan suster udah bilang jangan berisik, awas kalau kita sampai di usir kayak Kak Rora dan Taya." Rora dan Taya baru saja keluar dari ruangan ini lima belas menit lalu, itu pun mereka segara di minta keluar karena berisik sekali. Menganggu para bayi yang sedang tenang dengan banyak alat penunjang hidup pada tubuh. Rora dan Taya tak kuasa menahan suka, mereka jatuh hati pada pandangan pertama karena bayi Aqila begitu cantik.
Adela mengangguk paham. "Ganian don genong akuh. Akuh mau liat dali atas, Kak." meminta gantian dengan Alda. Dan Alda meronta tak mau saat Aidan ingin menurunkan. "Tuh kan kamu mah nebelin, ih!" Adela mencebik kesal kepada Alda dan sang adik tak perduli.
Sembari mencium-cium pipi Alda yang montok dan mengelus puncak kepala Adela, Aidan tersenyum sayang menatap Aqila. "Cepet sembuh, ya, Adek." walau bukan adik lelaki yang Mamanya lahirkan agar ia bisa mempunyai teman main, dirinya tak lagi mempermasalahkan, yang penting Aqila pulang ke rumah tanpa alat-alat pacu jantung seperti itu.
Saat menyusuri lorong perawatan untuk kembali ke kamar dari ruang Nicu. Rora yang tengah melangkah bergandengan dengan Taya, menatap antusias, saat ada sesosok anak lelaki tampan yang seolah berlari ke arah mereka.
"Falan!" seru Rora senang. Pun Taya yang mendapat senyuman manis dari Falan setelah bocah lelaki itu sampai.
"Adikku udah lahir, Falan. Kamu mau lihat nggak? Cantik banget loh, namanya Aqila." begitu saja Taya pergi digandeng Falan, meninggalkan Rora yang masih statis terpekur.
Rora mendesah sedih seakan ingin menangis karena cemburu, sampai di mana tepukan halus di bahu nya membuat ia menoleh ke belakang dan mendongak, ia dapati senyum hangat Dava.
"Hai."
Rora membalasnya dengan senyuman tipis. Ia masih berharap Falan yang seperti ini padanya.
"Bisa kah dia seramah itu padaku?"
๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ
Siapa nih yang kaget dapat notif? Maaf ya terlalu lama untuk aku lanjutkan, moga aku ada waktu kosong lagi untuk ngelanjutin cerita ini sampai anak bungsu Ammar dan Gana benar-benar lahir, jangan ditunggu tiap hari, ya. Yang penting cerita mereka nggak di hapus dari favorit kalian.
Alam seakan bercanda, ya, dengan kisah anak-anak mereka. Saat nulis cerita mereka, aku nggak sampai terpikir kalau kedepannya Falan akan turun ranjang nikah sama Aqila.
Kalau komennya banyak, aku lanjut cepet deh๐
maaf kalau ada typo, ya.