Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Aku Tidak Ingin Di Ketahui!


"Waalaikumsallam iya, Mah?" Ammar meletakan earphone di daun telinganya agar bisa mudah berbicara dengan sang Mama di sambungan telepon, karena saat ini dirinya sedang fokus menandatangi beberapa berkas yang menumpuk di mejanya.


"Mama sama Papa lagi dirumah kamu sekarang, Dek. Papamu mau menginap malam ini. Gana ikut kamu kerja?" tanya Mama di seberang sana.


Kening Ammar mengkerut. Pulpen yang tersemat di jarinya sampai terlepas. Seketika dadanya berdebar. Kemana, Gana? batinnya.


"Gana ada kok, Mah, dirumah." Ammar meyakinkan sang Mama.


"Gana enggak ada dirumah, Dek. Kata pembantu mu, enggak tau kemana. Mereka enggak lihat. Mama fikir kamu ajak ke kantor."


Kepergian Gana dan Yuni memang sangat rapih, sampai kedua art di rumah tidak mengetahuinya.


"Masa, Mah?" kaki Ammar terasa lemas. Buru-buru ia mengecek ponsel. Siapa tau sang istri mengirimkannya pesan, namun ia melewatinya.


Nyatanya ... Tidak ada pesan masuk.


DEG.


Kemana?


"Hhh ..." Ammar menghela napas kesal. "Bilangnya ingin mengurus tanaman, kenapa malah enggak ada dirumah?" gumam Ammar. Lelaki itu mulai kelimpungan.


"Mah, tunggu aja di rumah. Sebentar lagi Adek pulang."


"Enggak usah pulang cepat, santai aja." titah Mama.


"Enggak, Mah. Adek pulang sekarang."


"Ya sudah hati-hati."


Sambungan telepon antara Mama dan Anak itu pun terputus. Meraih gawai dan menekan kontak Gana dan Yuni, tetap saja tidak terjawab. Dua wanita itu membiarkan Ammar dengan spekulasi fikiran yang macam-macam.


Padahal di sana, dua wanita itu sedang menegang karena Ammar yang tiba-tiba menelepon.


Seketika Ammar takut. Bukan takut karena Gana sedang di culik atau dalam bahaya. Tapi ia takut Gana pergi ke Apartemennya. Ingatan kilas balik, ketika matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda di kepalan tangan Gana tadi pagi, membuatnya ia khawatir.


"Jangan-jangan? Apa benar Gana yang mengambil kartu passcode apartemenku?" gumam Ammar dengan mata terbelalak.


Jantung Ammar berdetak cepat. Hembusan napasnya kasar. Hancur hidupnya, jika Gana berhasil memasuki apartemen. Masalah nomor pin, Gana pasti bisa memecahnya. Ammar sangat tahu sekali, wanita yang ia nikahi adalah wanita jenius.


"Apakah Gana mulai menyelidikiku?" tatapan Ammar semakin kalut, kepalanya terasa pening mendadak.


Tak butuh lama, setelah memencet tombol intercome. Bima dan Denis menyembulkan tubuh mereka dari balik pintu.


"Ada apa, Pak?" tanya mereka bersamaan. Keduanya keluar dari ruangan masing-masing yang sedang fokus bekerja. Ammar beranjak dari kursi dan berdiri menatap mereka dengan wajah tegang.


"Datangi apartemen, pastikan tidak ada Gana di sana."


"Ibu Gana, Pak? Apakah beliau tau tentang Apartemen?" Bima terkejut.


Ammar mendesah pelan. "Entah." lelaki itu membungkuk dengan tangan terulur ke bawah memegangi meja. Menatap sembulan bayangannya di meja kaca berwarna gelap.


"Baik, Pak. Kita berangkat."


Bima dan Denis berlalu setelah Ammar menjawabnya dengan deheman kecil.


"Aku tidak ingin diketahui ..." nada Ammar memelas. Tatapan matanya sayu menatap dinding.


"Ahhhh, sial!" tak bisa membendung rasa takut. Lelaki itu menghentak meja dengan kepalan tangannya, membuat barang-barang di meja bergetar dan pulpen menggelinding terjerembab jatuh ke lantai.


"GANA!" serunya lantang.


***


"Jangan diangkat, biarin aja!" perintah Gana, ketika gawai Yuni terus saja bergetar, ada nama Ammar di layar.


"Tapi Bapak telepon terus, Bu, gimana?"


"Saya bilang biarin, Yun!" nada Gana mulai meninggi. Karena hatinya sedang kesal, sedari tadi ia berkali-kali beristighfar ketika membuka kardus ketiga yang berisikan puluhan alat kontrasepsii dan botol-botol bertuliskan pil KB.


Jantungnya berdenyut nyeri. Sesekali ia meremas kain berlapis di dada, untuk menahan sesak yang terus bergelombang di dalam tubuh.


Gana meraih alat kontrasepsi. "Untuk apa Bapak menyimpan sebanyak ini?" tanyanya tak percaya kepada Yuni. Yang ditanya menatap nanar dan terus fokus merekam.


"Sabar ya, Bu. Siapa tau ini bukan punya Bapak." tangan yang dibiarkan tidak menggenggam ponsel, lantas di gerakan untuk mengelus bahu Gana yang terasa bergetar.


"Apakah Bapak mengkhianati saya, Yun? Dia mengoleksi ini semua untuk wanita yang ia bayar? Melakukan hal keji itu di sini?" air bening Gana berduyun-duyun luruh dari sudut matanya.


Pantas 'kah ia mendapatkan pengkhianatan seperti yang ia tuduhkan? Sejatinya Gana belum bisa memecah misteri, apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya menerka kulit luarnya saja, dengan cerita Farhan yang membawa wanita bayaran ke Apartemen dan noda lipstik di kerah piyama Ammar tadi malam, tentu membuat spekulasinya semakin nyata.


Di rumah, Ammar memang terlihat sangat perhatian, cinta, sayang dan tidak pernah mau istrinya terluka walau hanya di ujung kuku.


Tapi diluar? Tidak akan ada yang bisa mengira. Apa lagi bukti nyata sudah ada didepan mata. Gana tidak akan bisa menebak kalau alat kontrasepsi dan pil KB yang ia lihat, di gunakan untuk para wanita malam yang mereka pekerjakan.


"Kamu menjijikan sekali, Ammar!" gumam Gana lirih. Kaki Gana terasa lemas. Ia tidak sekuat ini.


"Bu ..." Yuni mengelus bahu Gana yang tertunduk.


Gana mendongak dan menyeka air mata dengan buku-buku jarinya. Ia kembali mengukuhkan niat untuk membongkar semua bukti yang akan ia berikan kepada Mahendra.


Gana melangkah keluar dari ruangan ini, karena sudah tidak ada lagi kardus yang belum ia buka. Melangkah bersama Yuni ke arah kamar kedua yang berada didepan ruang tamu.


Awalnya Gana kesusahan ketika menekan handle pintu. Rasanya pintu kamar itu agak keras untuk dibuka dengan cara biasa.


"Sini Bu sama Yuni." Yuni memberikan dulu ponsel itu kepada Gana yang dimana kembali berdering dan itu dari suaminya. Gana mengidahkan, menatap benci layar gawai itu. Ia benci mengingat lelaki yang tadi malam memeluknya dengan erat sekali.


Krek.


Tenaga Yuni memang tidak bisa diragukan lagi. Akhirnya pintu tersebut dapat terbuka.


Gana menatap senang walau hatinya was-was. Entah, rasa sakit apa lagi yang akan ia rasakan? Ketika mendapat bukti terbaru dari dalam.


Ceklek.


Tombol saklar di tekan, lampu pun menyalah dan memberi raut terang didalam ruangan.


"Wah ..." Yuni mendesah takjub. Matanya membulat melihat sisi dinding penuh dengan foto-foto Gana.


Gana terpaku di pertengahan kamar, ia termangu sampai membekap mulutnya yang sedikit menganga. Foto-fotonya dari jaman SMA, kuliah, bekerja, dan di detik sebelum mereka menikah sembilan bulan lewat beberapa minggu yang lalu, terpajang rapih di dinding kamar ini.


"Tuh 'kan, Bu. Bapak tuh cinta banget sama Ibu. Lihat deh, semua dinding aja di penuhi sama foto Ibu."


Ada perasaan bangga karena dirinya dicintai seperti ini oleh Ammar. Tapi semua itu buru-buru ia tepis.


"Satu hal yang harus kamu ingat, Yun. Lelaki yang mencintai pasangan belum tentu bisa lolos dari kata khianat! Mereka bisa menginginkan wanita lain karena nafsu." Gana tetap merasa Ammar telah mengkhianatinya. Jika saja tidak ada noda lipstik tadi malam, mungkin saat ini wanita itu hanya menerka-nerka kejahatan apa yang sedang suaminya lakukan.


"Walau semua ini salahku, karena belum bisa memberikan kehormatan. Tetap saja perbuatan perselingkuhanmh tidak akan pernah aku maafkan! Aku akan menceraikan mu jika itu memang terbukti! Aku tidak suka tidak di khianati!!" kecam Gana dalam batinnya. Mukanya sudah memerah menahan kesal. Kembali ia remat kuat-kuat lapisan baju di dada.


"Kamu bawa obat saya 'kan, Yun?"


Yuni mengangguk. "Ibu sesak?" tanyanya sambil membuka tas.


"Mulai kerasa sesak." jawabnya mulai berat.


Orang normal saja yang tidak mempunyai riwayat asma akan merasa sesak dengan riwayat benda-benda tak lazim yang baru ditemukan di apartemen ini, apalagi Gana? Yang notabene mempunyai penyakit. Yuni sedari tadi sudah takut. Kalau Gana sampai pingsan di kamar ini.


Gana duduk di kursi yang bertatapan dengan meja yang ia terka adalah meja kerja Ammar. Ada sebuah komputer dan beberapa file kabinet di sebelahnya. Tapi Gana lebih ingin mengetahui isi komputer, maka tanpa gerakan lambat, ia menyalakan komputer yang tidak berpasword.


"Syukur lah tidak memakai kode." ucapnya lega.


"Ini Bu, diminum dulu obatnya." Yuni menyerahkan satu puyer berwarna putih yang langsung ditenggak oleh Gana dan di dorong dengan air.


"Rekam lagi ya, Yun." titah Gana.


"Siap, Bu."


Gana memejam matanya, seraya berdoa agar tidak lagi mendapatkan hal yang aneh. Tidak mau kebenciannya kepada Ammar makin menjadi-jadi.


"Bismillah ..." ucapnya ketika telapak tangan sudah berada di atas mouse untuk menggerakan krusor.


Galeri.


Klik.


Gana memilih file galeri yang berada di beranda dekstop layar.


Segera manik mata gelap nan indah milik Gana dan Yuni, membola hebat. Melotot kuat, seraya ingin terlempar jauh dari pusaranya.


"Astagfirullah ... Ya Allah ... Allahuakbar!"


****


Kalau komennya banyak, nanti aku up lagi hari ini. Tungguin aja ya🌺🌺