Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Tidak Usah Besok, Nanti Malam Saja!


Syok. Itu lah yang Ammar rasakan. Rasa bahagia yang sudah lama ia nantikan, akhirnya tiba. Hanya bisa memendam, menyimpan dan menghabiskan waktu untuk memikirkan orang yang dicintai dalam belasan tahun, tanpa ada respon balik.


Dan di saat harapannya benar-benar sirna untuk memiliki, maka di saat itu lah dirinya terhenyak bahagia karena bisa menembus dinding kebekuan hati Ganaya. Wanita itu mau untuk ia nikahi.


Berbelas tahun, hidup dalam penolakan sepanjang masa. Bagaimana rasa perih di hatinya, ketika ia hanya bisa melihat kemesraan Gana dengan mantan-mantannya di sosial media beberapa waktu yang lalu.


Ammar selalu menyimpan foto-foto Gana diberbagai aktivitasnya yang ia ambil dari jaman para manusia memakai Blakcberry sampai beralih ke Android.


Mafia kejam itu juga manusia. Ia mempunyai hati dan perasaan. Walau rasa kemanusiaannya setengah sudah hilang, namun rasa cinta abadi untuk Gana. Masih terus berlanjut.


Terlihat Ammar terbaring lemah di pusaran ranjang, di sebuah kamar yang tidak terlalu luas ada di ruangan kerjanya. Berkat Bima dan Denis yang datang tepat waktu bisa memapah tubuh Ammar di kamar ini.


Ganaya kalang kabut, ia dibuat panik dengan Ammar yang tidak sadarkan diri. Tapi setelah berjuang, dengan mengoleskan minyak kayu putih di sekitar lubang hidung dan disekitar pelipis. Lelaki itu akhirnya sadar.


Ammar masih menatap Ganaya dengan senyuman dan kaca-kaca di bola mata yang sudah menggenang. Ia menggenggam erat tangan wanita itu. Ganaya mengelus genggaman tangan mereka dengan tatapan hangat.


"Kamu adalah cahaya yang membuat lorong hidupku, dari gelap menjadi terang."


"Mampu membuat awanku yang selalu kelabu menjadi biru."


"Mampu membuat hatiku yang selalu hampa menjadi tegap."


"Terimakasih Gana, sudah mau bersedia untuk menjadi istriku."


Rasanya syahdu dan tulus sekali untuk didengar. Serentetan kata-kata puitis entah mencuri dimana, membuat Gana kembali terenyuh. Ia mengangguk, lalu tertunduk untuk menahan agar air matanya tidak keluar.


"Ajari aku untuk bisa mencintaimu, Ammar." jawab Gana dengan bibir bergetar. Sepertinya wanita itu sering mendengarkan lagu----Adrian Martadinata---Ajari aku.


Ah, mengapa rasanya sakit sekali? Hidup serasa kejam kepadanya! Apakah dia bisa mencintai? Bahkan selama berbelas tahun ini saja, ia tidak pernah memberi celah sama sekali untuk Ammar.


Rasa cintanya kepada Adri masih besar. Tapi sejatinya, yang akan menjadi suaminya dan akan hidup bersamanya hanyalah, Maldava Ammar seorang. Dan Gana mulai mengerti garis takdir hidupnya.


Wanita itu menangis, melepas genggaman tangan mereka untuk menangkup wajahnya. Terlihat sekali pangkal bahunya mengguncang hebat. Menangis terisak-isak.


Apa sih ini? Drama apa yang sedang Semesta berikan untuknya?


Ammar bangkit dari baringannya. Kemudian menarik tubuh yang ringkih itu untuk masuk ke dalam dadanya. Bertemu dengan degupan jantungnya yang sedang berdebar.


"Kamu enggak perlu lagi susah-susah cari jodoh kesana-kesini. Dari kamu masih diperut Tante Difa, jodoh kamu itu ... ya, aku."


Ganaya semakin menangis. Tangisannya sangat kencang. Sampai Bima dan Denis yang berada diluar pintu, celingukan panik.


"Bos meninggal?"


"Otak kamu sempit, Denia!" Bima menoyor kepala Denis.


Ammar mengelus punggung Gana dengan gerakan naik turun, sesekali mencium pusaran rambut Gana yang sangat wangi. "Calon istri aku ..." ucapnya bahagia.


Senyum nya begitu merekah. Rasanya ia ingin sekalu menerbangkan sepasang burung merpati ke udara, untuk mengapreasiasi kebahagiaannya sekarang.


Begitu baik 'kah, Semesta padanya? Seorang hamba yang berlumur dosa, dan sudah bertahun-tahun tidak menengadahkan tangan kepadanya.


"Ajari aku, Ammar."


Ammar mengangguk. "Luka mu akan kering seiring perjalanan rumah tangga kita, aku akan membuatmu tergila-gila padaku."


"Jika aku belum bisa juga mencintaimu, bagaimana?"


"Jika belum mencintaiku, tidak apa-apa, Gana. Yang penting kamu harus tetap setia dengan pernikahan ini."


Ganaya mengangguk dalam tangis. Tulus sekali lelaki itu, sampai ia mau memencet hidung Gana yang susah sekali untuk mengeluarkan ingus nya. Ammar membantunya, agar pernapasan Gana tidak tersendat.


"Ahh Ammar, itu jorok sekali!" Ganaya mengusap tangan Ammar dengan ujung dress nya. Baru saja ia ingin memeluk lelaki itu, tapi Ammar sudah melakukan hal yang tidak akan disangka-sangka.


"Aku tidak mau calon istriku mati, hanya karena gulungan ingus itu yang tidak mau keluar." Ammar terkekeh.


Ganaya mencebikkan bibirnya.


"Makasih, Ammar. Kamu murni sekali kepadaku."


Ganaya menunduk lagi. Ia mengangguk berat karena menahan rasa malu. Dulu ia yang menolak mentah-mentah. Kini, ia juga yang menjilat muntahannya. Masalah Adri dan Gemma, sungguh membuat dunianya jungkir balik.


"Kamu mau minta apa dari aku sebagai mahar?" Ammar memilin ujung rambut Ganaya. Dan mengendus aromanya, saking harumnya sampai kedua matanya terpejam.


Ganaya menggeleng. "Apa saja, aku terima."


"Tapi ... bisa 'kah kita menikah cepat?" Ganaya kembali berujar.


Ammar membuka mata kilat. "Mau sekarang? Aku siap!" jawab Ammar mantap.


"Lamar aku besok, Ammar. Bawa kedua orang tuamu untuk datang kerumah."


"Tidak usah besok, nanti malam aku akan ke rumahmu ... akan aku kirim Mua and Hair Stylist untuk mendadanimu di rumah." jawab Mafia kelas kakap tersebut.


Jantung Ganaya kembali memburu hebat. Dengan helaan napas panjang, ia mengangguk tanpa sanggahan. Ia tahu keluarga Artanegara dan Hadnan akan gempar sebentar lagi bak meteor jatuh di lapangan terbuka.


"Iya, Ammar. Nanti malam aku tunggu kamu di rumah."


***


"Ganaya?" seru Mama Alika.


Ia menatap legam bola mata putranya yang masih bersimpuh untuk meminta restu. Mama Alika menoleh, menatap suaminya yang juga sedang tercengang. Maura yang juga sedang main di sana, hanya hening menatap Adiknya di single sofa. Maura sudah mengira hal ini akan terjadi.


"Iya, Mah. Anaknya Om Galih."


"Adiknya, Gifa 'kan?" Papa Bilmar menyelak.


Ammar kembali mengangguk. Kedua pasangan yang sudah setengah abad itu sangat tercengang ketika tiba-tiba, melihat putranya pulang cepat dari kantor dan langsung meminta restu untuk menikah.


Bukan masalah menikah-nya, tapi dengan wanita yang akan di pinang Ammar. Walau mereka tahu, Ganaya batal menikah dengan rincian alasan yang jelas.


Ammar yang masih setengah berjongkok diantara Mama dan Papanya, terus menggenggam tangan orang tuanya. "Restui Adek dan Gana, Mah, Pah."


"Boleh jadi, kamu memang mencintainya. Tapi, dia?" tanya Mama.


Ammar hening. Bola matanya yang berbinar seakan redup. Sebagai wanita yang melahirkan Ammar, ia sangat tahu sekali apa yang tengah dirasakan oleh anak lelakinya. Mama Alika dan Papa Bilmar sangat tertohok, karena selama ini Ammar memendam cinta berbelas tahun lamanya.


"Cinta butuh berkorban, Mah. Adek sangat mencintainya. Menunggu tidak masalah, dari pada tidak memiliki sama sekali." jawab Ammar. Kemudian menangkup kan kepalanya di atas pangkuan sang Mama.


Mama Alika mengelus lembut dari rambut sampai ke punggung Ammar. Papa Bilmar menatap Maura. Dan sang Kakak tidak memberikan ekspresi apa-apa. Tentu mereka tahu hidup dengan orang yang tidak mencintai kita, akan sangat sulit untuk bahagia.


"Apa kamu sudah mantap, Nak? Secepat ini? Membimbing istri itu, cukup sulit. Apalagi, kalau istri belum bisa mencintai suaminya." ucap Papa.


Ammar mendongak dan menatap Papanya. "Adek akan belajar membimbing, Gana. Pah."


Tekad Ammar sudah besar. Ia tetap menembus dinding keraguan yang orang tuanya berikan. "Adek akan bahagia, jika hidup dengan pasangan yang Adek cintai."


Maura hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa pening. Alasan apa yang harus ia beri kepada suaminya setelah ini.


"Kapan mau melamar? Biar nanti Mama akan menyiapkan persiapannya dulu."


"Nanti malam, Mah."


"Hah?" Mama, Papa dan sang Kakak berteriak histeris. Jantung mereka kembali di pacu kuat-kuat. Benar-benar, Ammar. Bisa membuat kedua orang tuanya jantungan sekaligus.


***


Follow IG aku ya. Aku suka kasih tau kapan aja aku update. Sekalian kita temenan🌾🌾


@megadischa


Like dan Komennya yah, maacih❤️