
Dua keluarga besar dan hebat di Indonesia yaitu keluarga Hadnan dan Artanegara. Sama-sama keluarga terpandang yang tersohor dimana-mana. Dua keluarga tersebut kembali menjalin tali kekeluargaan yang sebelumnya sudah tercipta, dan kali ini kembali terulang dengan pernikahan Ammar dan Ganaya beberapa hari lagi.
Hubungan Ammar dan Ganaya, bak bumi yang bulat. Hanya bisa berputar-putar di lingkaran itu saja. Ganaya boleh berkelana kemanapun, tapi tetap, Ammar lah rumahnya untuk kembali.
Terlihat wanita cantik, ayu dan manis. Begitu elegan dan mempesona turun dengan hati-hati menuruni anak tangga satu persatu. Ganaya mengerat gandengan tangan Gelfa karena ia mulai gugup setelah melihat keluarga besar Ammar sudah berkumpul memenuhi kursi.
Jantungnya berdentam kuat sekali, sampai senyum pun sulit. Ada rasa malu dan tidak enak kepada keluarga Artanegara.
Di pelataran ruang tamu rumah Hadnan yang luas, sudah berjejer kursi-kursi yang dibuat menjadi dua kubu. Satu kubu untuk jajaran keluarga pelamar dan satu kubu lagi untuk jajaran keluarga yang di lamar.
Ammar, si lelaki tampan. Memakai batik kencana berlatar putih dengan corak berwarna cokelat muda yang berlengan panjang, sangat senada dengan dress brokat putih yang sedang Ganaya pakai.
Ammar sangat mirip seperti putra-putra pejabat Indonesia. Rambutnya yang rapih dan mengkilat karena olesan pomad, wajahnya yang putih dan bersih.
Di tambah jam rolex yang harganya ratusan juta tengah melingkar di pergelangan tangannya. Tubuhnya yang tegap dan bidang, mampu menyihir sorotan mata Faradisa, calon istri Gemma.
"Kamu ngapain ngeliatin dia terus, Fara." ucap Gemma tidak suka. Ia sampai mencubit pelan tangan Fara, agar wanita itu terlonjak dari pandangannya. Fara lekas tertawa, lalu menurunkan tatapannya dari Ammar.
"Udah jangan cemburu, wajar kan. Aku hanya memperhatikan. Ini sih ganteng banget dari pada, Kak Adri." jawab Fara apa adanya.
Gemma berdecak dengan sudut bibir yang dimiringkan, si pencemburu itu kembali mengalihkan tatapan ke arah Ganaya yang sedang menuruni anak tangga bersama Gelfani.
Semua mata memandang Gana dengan banyak pujian. Bergumam takjub, cantik serta menawan. Lalu, bagaimana dengan Ammar?
Rohnya seperti ingin terlepas dari pusaran tubuh. Dua bola matanya menampilkan kilat-kilat cinta, bahkan lebih dari itu. Ia seperti Jaka Tarub yang sedang tergugah akan kecantikan para bidadari yang sedang mandi di sungai.
Kelopak mata Ammar tidak mengedip sama sekali, mulutnya sedikit menganga. Benarkah wanita cantik itu yang akan ia nikahi? Wanita yang selama ini ia cintai setulus hati? Akan hidup bersama selamanya? Memberikannya anak-anak yang lucu?
"Cantik sekali kamu, Gana-ku." serunya tanpa sadar, begitu jujur dan alami. Semua keluarga tertawa mendengar ucapan tersebut, namun dirinya seperti tidak mendengar.
Dengan gerakan tubuhnya yang refleks begitu saja, Ammar beranjak bangkit, lelaki itu bermaksud untuk menghampiri Gana dan menggandengnya.
"Et---et!!" Papa Bilmar buru-buru menarik lengan putranya untuk duduk kembali.
"Eh iya, Pah." barulah ia sadar, dan semua orang kembali menertawakan dirinya. Wajah Ganaya memerah, ketika melihat Ammar seperti itu.
"Dasar anak kecil ..." batinnya gemas.
Usapan lembut Mama di bahunya, membuat Ammar makin tersipu malu. Ia menoleh dan menatap Mamanya dengan senyum riang. Bahagia sekali hatinya. Di apit oleh kedua orang tua didepan Gana yang juga diapit oleh Mama dan Papanya.
"Cantik banget ya, Gana sekarang." ucap Gadis kepada Maura. Sang Kakak tersenyum dan mengangguk.
"Makanya Ammar tergila-gila dengannya. Malah dari SMP." bisik Maura.
"Ah, masa, Kak?" saudara sepupunya itu tidak percaya.
"Beneran, Dis."
Gadis mengangguk dan memandang takjub. Ia duduk tepat dibelakang Ammar, tante dan Om nya. Sedangkan dibelakangnya ada Tante Binar, Om Rendi, Elang dan para Kakek mereka.
Para keponakan, Five G dan Two E mereka di minta untuk duduk di paling belakang oleh para Bunda mereka. Gadis dan Maura takut kalau anak-anak mereka berisik. Dan tidak lupa Bima dan Denis setia berjaga diluar pintu utama untuk mengawasi lingkungan sekitar.
Dan untuk Gifali, ia duduk di barisan keluarga Hadnan. Sebagai anak dan Kakak tertua bagi adik-adiknya. Ia juga akan berperan sebagai MC di acara malam ini.
Ganaya sudah duduk di kursi yang bersarung kain berwarna putih dan dililit pita berwarna gold. Wanita itu duduk di antara Mama dan Papanya persis di hadapan Ammar.
Ammar tidak jemu-jemu menatapnya.
Tegang. Itulah yang saat ini Ammar dan Gana rasakan. Gerakan dada mereka terlihat naik turun saat Gifali mulai membacakan doa untuk membuka acara lamaran malam ini.
"Ayah ..." dan suara nyaring Ginka mengacaukan semuanya.
Anak kecil itu tertawa menatap Ayahnya yang sedang berdiri dengan menggenggam mik. Para Kakak nya langsung membekap mulut Adiknya agar tidak kembali berteriak.
Semakin saja membuat Ammar dan Gana kembali larut dalam rasa gugup.
"Kenapa saat ini gugup sekali? Padahal sebelumnya dengan Adri, aku tidak sampai seperti ini ..." gumam Ganaya heran.
Gifali sudah membacakan doa dan memberikan kata sambutan dan terimakasih atas kedatangan keluarga Artanegara. Kini keluarga Artanegara yang giliran untuk menyampaikan maksud kedatangannya, dan keluarga mereka memilih Elang, suaminya Gadis.
Lalu.
"Papi ..." seru Elga. Eldy langsung membekap mulut adiknya yang dengan nyaring memanggil Papinya.
Lagi-lagi hiruk pikuk itu menjadi bumbu-bumbu menegangkan di antara jalannya lamaran antara Ammar dan Ganaya. Ammar menggelengkan kepala samar, dengan suara para keponakan yang sedari tadi banyak menjeda.
"Assalammualaikum wr wb. Terimakasih atas sambutannya kepada keluarga kami. Kami jauh-jauh datang kemari bertujuan untuk membawa Anak, Adik, Keponakan, Cucu dari keluarga Artanegara. Yaitu Maldava Ammar."
"Kedatangan kami bermaksud untuk melamar Putri Ganaya Hadnan. Putri dari Bapak Galih dan Ibu Difa serta Kakak dan Adik, dari Gifali, Gelfa dan Gemma, untuk dijadikan istri dan masuk kedalam bagian keluarga besar kami."
"Kami sangat berharap, Ganaya mau menerima lamaran dari Ammar. Ya kalau tidak, kami tetap memaksa supaya Ganaya tetap menerimanya ... Karena kami sudah kepalang tanggung di sini ..." Elang mengakhiri ucapannya dengan gelak tawa renyah.
Semua hadirin dibuat lucu karena ucapannya yang jenaka.
Papa galih menoleh ke belakang, berbisik kepada Om Lukman. "Bisa juga anak kamu ngelawak."
Om Lukman menyambutnya dengan kekehan kecil. "Siapa dulu dong bapaknya." jawabnya bangga.
Om Lukman dan Tante Lala pun turut hadir dalam lamaran Ganaya, karena baginya Papa Galih bukanlah sekedar sahabat tapi juga sudah sebagai saudara, malah sudah menjadi besan. Karena pernikahan Fadhil dan Gelfa tetap terlaksana, walau pada saat itu Papa Galih murka, karena Gelfani, harus menikah karena kasus MBA.
"Terimakasih atas penjabaran maksud kedatangannya malam ini kepada keluarga kami. Untuk jawabannya akan langsung saya serahkan kepada Adik saya, Gana."
Gifali memberikan mik tersebut kepada Gana. Ammar tersenyum ketika Gana mengambil mik itu dengan tangan sedikit bergetar. Ia menatap jelas wajah Ammar, namun tiba-tiba bayangan Adri muncul di sana.
Seketika Ganaya merasa tubuhnya kembali lemas dan tidak berdaya, namun segera mungkin ia menguatkan dirinya, menggelengkan kepala seraya untuk memusnahkan bayangan Adri.
Fokus, Gana. Hanya Ammar saat ini, bukan Adri! Suara hatinya berbisik jelas sekali. Membuat Gana mantap dalam menjawab.
"Bismillah, atas ijin Mama dan Papa serta Kaka dan para Adikku. Gana menerima lamaran dari Ammar."
"Alhamdulillah ..." semua berseru senang.
Senyum merekah begitu terpancar dari wajah Ammar. Lega hatinya, tenang jiwanya. Bisa tidak, jika besok langsung menikah? Dewi Fortuna dalam hatinya terus bergejolak.
Suasana di dalam rumah ini seketika bertambah hangat dan sejuk. Kupu-kupu seakan menari di tepi wajah Ammar. Tidak ada rasa yang paling membahagiakan dibandingkan di hari ini.
"Terimakasih, Gana. Aku mencintaimu ..."
Seluruh keluarga kembali bersorak dengan ucapan genit yang Ammar suarakan. Membuat wajah Ganaya langsung memerah seperti jambu.
"Perasaan kemarin Papa masih gendong Adek, Mah. Terus dia ngompol dipangkuan Papa." ucap Papa Bilmar sambil menyeka air matanya. Ia berucap kepada istrinya.
Tentu ucapan itu didengar oleh Ammar, dan anak lelakinya itu langsung memeluk Ayahanda. "Papa sehat terus ya, biar bisa gendong cucu dari Adek."
Ammar mencium kedua orang tuanya secara bergantian, merentangkan kedua tangan untuk menarik mereka kedalam dadanya. Mama dan Papa menitikkan air mata haru.
Air bening dari sudut mata Maura tidak luput untuk surut. Bahagia sekali dirinya, ketika Ammar bisa hidup dengan wanita yang ia cintai, walau dirinya tahu. Ammar pasti akan terluka, karena sesungguhnya ia sangat faham, bahwa Gana sama sekali tidak mencintai Adiknya.
Mama Alika bangkit berdiri, pun sama dengan Gana yang ditemani oleh Mama Difa. Mereka bertiga berdiri di antara para hadirin. Mama Alika menyematkan cincin diamond dijari manis calon menantunya. Di akhiri dengan kecupan dan pelukan. Semua rekaman indah itu tidak luput dari tangkapan layar sang Fotografer handal yang sudah Ammar sewa.
Setelah acara inti selesai, sudah memasangkan cincin, memutuskan tanggal pernikahan dan acara seperti apa yang diinginkan oleh calon kedua mempelai. Mereka semua dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Sedangkan Gana dan Ammar masih berfoto-foto di pelaminan dengan arahan gaya dari Fotografer.
Mereka saling merangkul, memeluk dan gaya apa saja agar terlihat romantis. Walau Gana masih terlihat risih dengan sentuhan yang Ammar berikan, namun sebisa mungkin wanita itu tetap mencoba untuk menerimanya. Bagaimanapun, Ammar adalah calon suaminya.
Semoga kalian selalu aman dan lancar sampai hari pernikahan tiba. Aamiin.
***
Ayoloh, hatiku jadi berbunga-bunga buat part ini❤️ Like dan komennya yah gengss.
Anak-anak sultan sebentar lagi akan makan bersama guys, ada yang mau ikut?😂