
"I love you too, dear."
Jiwa Gana bergetar, ketika mendengar Mulan sedang melepas rindu dengan suaminya di sambungan telepon. Gana masih memangku Dava yang tengah tertidur memeluk dada nya. Tangan Gana sedari tadi tidak berhenti untuk mengusap lembut rambut anak itu dengan gerakan naik turun.
Gana mengulas senyum menatap Mulan. "Indah sekali pernikahan, Mba Mulan. Sudah punya anak saja, masih romantis dengan suaminya." lirih Gana.
Ia menghela napas pelan, membuang rasa dongkol di dada, karena teringat akan jalan pernikahannya dengan Ammar. Sungguh jauh jika dibandingkan dengan Mulan.
"Berat enggak? Sini biar sama aku, Gana." ucap Mulan setelah ia meletakan gawainya di meja. Mendekat untuk mengulurkan kedua tangan, mengambil alih menggendong Dava.
Gana menggeleng. "Enggak apa-apa, Mba. Aku masih rindu sama Dava." Gana menundukkan kepalanya dan menyesap kulit pipi Dava yang putih dan gembul.
Muach. Gana mencium Dava berulang kali. Raut wajah Mulan begitu senang, ketika Gana seperti begitu menyukai Dava.
Sudah dua jam Gana bertandang di rumah baru Mulan. Sampai makan siang pun di sini. Rumah Mulan memang masih terlihat kosong dari barang-barang. Belum terisi sempurna, di belakang saja masih ada beberapa tukang yang sedang bekerja membereskan bangunan rumah mereka.
Di rumah ini pun belum ada foto-foto terpajang, sehingga Gana belum mengetahui kalau Mahendra adalah suami Mulan dan Ayah dari Dava.
Mulan meminta dibelikan rumah baru. Ia tidak mau tinggal dirumah hasil dari uang haram. Ia ingin Mahendra membiayai mereka dan kembali memulai bisnis dengan uang yang halal.
"Makanya bikin, biar Dava ada temennya." Mulan menggoda.
Gana ikut terkekeh. "Ya kali bikin anak gampang, kaya bikin telur gulung."
Dua wanita itu kembali tergelak dalam tawa.
"Kamu mesra banget ya sama suami, resepnya apa? Bagi dong." tanya Gana.
Mulan tersenyum lucu. Ia menyandarkan tubuh di sandaran sofa, sambil menggusar rambut hitam yang begitu indah terurai.
"Kalau boleh jujur. Ini adalah suatu keajaiban, Gana." kilat di wajah Mulan terlihat berbinar-binar.
"Keajaiban?" Gana mengulangi.
"Hem ..." Mulan mengangguk. Ia memiringkan duduknya agar bisa menatap wajah Gana dengan jelas.
Mulan mengusap tubuh Dava agar semakin nyenyak. "Aku bisa mencintai suamiku, di saat Dava sudah berumur dua tahun. Dengan masa pernikahan yang sudah menginjak usia enam tahun. Tiga tahun aku merasa diriku hampa dalam pernikahan sampai masa mengandung Dava."
Merasa cocok dengan masalah yang sedang ia emban, Gana fokus mendengarkan. Ada jeda dari ucapan Mulan, karena ia sedang menyeka air mata yang ingin turun menetes.
Gana mengelus lembut pangkal bahu Mulan, untuk menguatkan. "Kalau tidak kuat, jangan cerita, Mba. Mungkin ini berat buat kamu. Aku tadi hanya bercanda minta resep itu."
Mulan menggeleng. "Enggak apa-apa. Aku memang sudah lama ingin mencurahkan isi hatiku. Tapi tidak tau harus berbicara dengan siapa."
Gana tersenyum. "Kalau kamu percaya padaku, aku siap mendengarkan curahan hatimu, Mba."
Mulan tersenyum. "Makasih ya, Gana. Walau sejatinya kita berdua adalah orang asing. Tapi setelah aku bertemu dirimu beberapa kali, dan sampai sekarang. Aku merasa dekat."
"Aku pun sama, Mba. Jadi mempunyai teman."
Mulan kembali tersenyum karena menyambut senyuman dari Gana.
"Aku terharu, akhirnya Allah membiarkan aku bisa hidup tanpa kenangan masa lalu. Terlepas dari rasa cinta yang salah, dan bisa hidup dengan lelaki yang memang sudah tergariskan dalam tali jodohku."
Gana menyerengitkan dahi. Mengapa alur ceritanya, mirip sekali dengan dirinya saat ini?
Kenangan Adri memang masih saja terbayang-bayang sampai sekarang. Walau kadar cintanya sudah kosong. Tapi apakah untuk bisa mencintai Ammar butuh waktu bertahun-tahun seperti Mulan?
"Maksudnya Mba, Mba Mulan menikah dengan suaminya tanpa rasa cinta? Atau pada saat menikah masih mencintai seseorang?"
Mulan mengangguk. "Dua hal itu terjadi padaku, Gana."
Gana menggeleng kepala seraya tidak percaya. "Sama persis seperti hubungannya dengan Ammar dan Adri sekarang."
"Semua masalah ini berawal dari cinta pertamaku di kampus. Waktu itu aku masih seorang Maba. Aku tidak sengaja menabrak bahunya ketika ia sedang keluar dari ruang perpustakaan."
"Sejak saat itu aku selalu memperhatikannya, mencuri-curi pandang dan mengikuti aktivitas dirinya selama dikampus. Aku sangat menyukainya dari pandangan pertama."
"Tapi pada saat bersamaan, ada ketua senat yang meminta ku menjadi pacarnya, ketua senat itu yang sekarang ini menjadi suamiku. Suamiku ini seleting dengan si cinta pertamaku. Mereka berdua sama-sama, Kakak kelasku."
"Wah ..." Gana melebarkan matanya, dengan mulut yang menganga.
"Suamiku itu sangat di segani dan ditakuti. Dia jago beladiri, kasarnya sih, aku manfaatkan dia kala itu." Mulan menatap sudut atap, seraya kembali menerawang masa lalu.
"Tapi memang perasaan tidak bisa di paksa. Aku sudah mencoba menyukainya, tetap saja tidak bisa. Aku masih saja teringat dengan lelaki itu. Aku sangat kagum padanya. Dia itu sempurna, sudah tampan, kaya, jenius, ramah dan rajin shalat ke mushola." Mulan terus saja memuji-muji Ammar.
"Aku pernah berani mengutarakan perasaanku padanya. Namun tidak terbalas. Aku fikir ia sudah punya pacar. Tapi ternyata tidak, kalau kata teman dekatnya. Ia masih mengharapkan cinta pertamanya. Ia sangat sayang dan tergoda dengan wanita itu. Walau katanya, wanita itu tidak pernah menerimanya."
"Maka semua wanita yang ingin mendekatinya, pasti akan mundur. Karena sikapnya sangat cuek sekali." ucap Mulan dengan wajah biasa. Sudah tidak ada lagi raut yang berbinar ketika sedang mengingat Ammar dan cintanya di masa lalu.
"Sampai malapetaka datang. Suamiku tau, kalau aku mencintai lelaki itu. Ayahnya Dava menghajarnya habis-habisan, diperlakukan tidak senonoh, dipermalukan, dijatuhkan nama baiknya dilingkungan kampus. Sampai suamiku membayar orang untuk menyodomii lelaki yang aku cintai itu, walau perintahnya tidak berhasil. Aku senang, akhirnya dia berhasil kabur."
"Astagfirullahalladzim ..." Gana mendesah lirih. "Tapi alhamdulillahnya dia berhasil kabur ya. Maaf Mba, tapi suami Mba, terlalu keji. Aku pun mengutuk sikap suami, Mba. Sampai tega melakukan hal seperti itu. Hal itu pasti akan menjadi trauma baginya seumur hidup, Mba."
Mulan mengangguk lemah. Dadanya kembali sesak. Ia mengutuk sekali perbuatan Mahendra kala itu.
"Dan dampaknya. Aku jadi membenci suamiku. Aku ingin pergi dari hidup suamiku kala itu, tapi tidak bisa. Sampai aku terus hidup dalam penyesalan."
"Karena aku, dia mendapatkan kenangan buruk selama dikampus. Akhirnya dia keluar dari kampus dan pindah ke luar negeri. Sejak saat itu aku patah hati." Mulan meletakan kepalan tangan di dada untuk meremat kain baju yang ingin ia pakai.
"Apa dia tidak membalas dendam?" tanya Gana.
Mulan menggeleng. "Dia adalah lelaki yang sangat baik. Sepertinya dia tidak mengadukan hal itu kepada keluarganya. Jika saja ia, aku yakin suamiku akan habis ditangan keluarga besarnya."
"Aku ingin minta maaf padanya, atas perlakuan suamiku. Ini semua memang berawal karena rasa cintaku padanya yang tidak bisa aku tahan dan aku musnahkan!" Mulan tertawa getir. "Akhirnya Suamiku sadar, dirinya mengaku salah. Mau meminta maaf juga percuma. Lelaki itu sudah pergi jauh membawa luka batin."
"Maka dari itu sebagai permohonan maaf ku dari jauh, aku memakai namanya pada anak kami. Dava. Aku ingin Dava, menjadi seperti dia. Lelaki yang cerdas, tampan, kaya dan baik hati."
"Nama lelaki itu Dava?"
"Aku terbiasa memanggilnya seperti itu." seakan Mulan lupa dengan nama yang pernah ia terlontar dari bibir Gana. Mengapa bisa semirip itu.
Kedua bola mata Gana terbelalak. "Dan, suamimu menyetujuinya?"
Mulan menggerakkan kepalanya dengan anggukan.
"Sebagai rasa menyesalnya. Ia sadar sikapnya dulu sudah kelewat batas. Maka ia menyetujuinya. Sejatinya ia tahu, Kak Dava itu lelaki yang baik."
"Berkat rasa cemburu, membuat lelaki yang aku cinta itu, harus menanggung beban seumur hidup. Namanya hancur di kampus, semua orang mencemooh karena ulah suamiku."
"Aku ingin meminta maaf padanya, Gana."
Air mata Mulan tumpah ruah. Sudah tidak bisa tertahan lagi. Penyesalan yang selama bertahun-tahun ini ia rasakan, terus saja mengiris kalbunya.
"Kenapa enggak dicari, Mba? Dia masih hidup kan?"
Mulan menghentikan isak nya. "Masih, Gana. Kami sempat mencarinya. Setelah kedatangannya kembali ke Indonesia. Tapi sayang, dia berubah menjadi serigala lapar. Jahat, kejam dan tidak manusiawi. Kembali menjadi musuh suamiku. Kita ingin mendekat, tetapi ia terus menjauh. Ada yang menstir nya Gana. Dan pengaruhnya sangat kuat sekali."
Mulan kembali menghela napas. Ada saliva yang menggulung banyak. Ingin ia katakan, bahwa suaminya pun sama seperti Ammar. Sama-sama orang jahat. Yang lantas mundur dan mengambil jalan hijrah ketika anak mereka di vonis penyakit oleh Dokter.
Kening Gana mengerut menjadi beberapa lapisan bergelombang. "Maksudnya berubah menjadi orang jahat, Mba? Sayang sekali ya." desah Gana. "Aku jadi iba dengan lelaki itu."
Mulan mengangguk. "Aku pun kecewa, ketika tahu bahwa sekarang ini ia menjadi seorang ma----"
Bepp bepp bepp
Suara Mulan mengatung dan teralihkan. Gawai Gana berdering. Membuat Dava yang sedang pulas lalu bergeliat dan menangis. Buru-buru Mulan meraih Dava. "Angkat telepon lah dulu, aku akan membawa Dava ke kamar."
Gana mengangguk dan merogoh tasnya.
"Hallo Ammar, ada apa?" jawab Gana. Meletakan gawai ditelinga sambil melirik Mulan yang baru saja masuk ke dalam kamar bersama Dava yang masih menangis.
Sesungguhnya yang menjadi keingintahuan Gana dari cerita Mulan sekarang adalah, apa yang membuat Mulan bisa berpaling dari cinta pertamanya, kemudian bisa berbalik mencintai suaminya. Itu yang ingin ia tanyakan, tapi Mulan seakan hanyut dan kembali berenang dalam nostalgia di masa lalu.
****
Kasian kan dedek Ammar dulunya.