Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Bella dan Malia.


Ya begitulah Gana walau ia sudah habis-habisan memarahi Ammar dan merajuk dengan bibir maju ke depan sejauh dua kilo meter, saat hendak ingin tidur ia akan merengkuh Ammar untuk di dekap. Tidak nyenyak katanya jika tidak menghirup aroma kulit Ammar sebelum memejam mata.


Sudah dua puluh hari dari masa nifas, Ammar yang sebenarnya mau menyentuh Gana tapi urung melakukan. Gana masih sering mengeluh nyeri di area perut, ia takut pergerakan heboh bagai kuda di area sirkus akan membuat luka jahitan Gana bermasalah. Walau kata Dokter Kandungan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jahitan paska operasi amat baik. Belum lagi yang menjadi bebannya, kalau Gana hamil lagi dalam waktu cepat, Papa Galih pasti akan memotong lehernya. Walau gerakan sepuluh anak amat di dukung Papa Bilmar.


Mumpung belum jadi aki-aki. Gas aja terus. Banyak anak itu kan rezeki, Dek.


Dalam keheningan malam dalam keadaan lampu kamar yang redup, Ammar mengelus-elus paha putih milik istrinya sembari menahan cenat-cenut di area bawah.


"Kalau mainin si harley sendiri, dosa, ya. Tapi, kalau minta, kasian binik. Hem ... walau kata Dokter nggak apa-apa. Tapi saya kasian. Kalau abis itu perutnya terbelah, gimana?" bertanya-tanya sendiri sembari mencium-cium pipi Gana yang mulutnya sudah menganga lebar karena terlalu pulas. Belum lagi emosional Gana seakan turun naik karena pusing dan capek mengurus anak-anak mereka yang masih batita dan bayi, tidak mau kena asuhan ART.


Sampai di mana usapan yang ia mainkan di sekitar paha beranjak naik ke atas, mengenai inti yang terhalang kain tipis, barulah Gana mengerjap dan menepis kasar.


"Duh maaf, Bang. Adek refleks. Aku pikir apaan masuk-masuk ke dalam," tukas Gana yang mendadak tak enak hati karena begitu saja menjauhkan tangan suami dari inti tubuhnya.


"Takut tikus ya yang masuk ke dalam?" Ammar berseloroh.


"Geli, Bang."


"Abang kangen, Dek." Ammar tersenyum.


"Abang mau?"


"Ya mau lah udah dua bulan nih puasa."


Gana menguar dekapan, lekas berbaring terlentang di ranjang, sigap membuka satu persatu kancing bajunya.


"Ayo, Bang." Gegas Ammar tahan agar Gana tidak sampai selesai membuka seluruh kancing piyama.


"Katanya tadi mau, Bang?" Gana menautkan kedua alis bingung.


Ammar menggeleng. "Kasian sama kamu. Nanti kenapa-napa perutnya."


"Asal pelan-pelan aja geraknya, Bang. Jangan heboh."


Ammar usap perut Gana tepat di area bekas operasi. "Tapi sekarang sakit nggak?"


"Sekarang sih lagi nggak linu. Kemarin tuh agak sedikit sakit."


"Ya udah deh nggak usah, Dek. Nanti aja."


"Ih, ayo ah! Dari kemaren kan udah Adek tawarin, nggak mau terus perasaan. Kenapa sih? Udah bosen, ya? Apa punya aku udah memble karena udah ngelahirin anak banyak?" jika sudah tiga hari Ammar tidak meminta berhubungan suami istri, pasti Gana akan mengingatkan atau menawarkan. Hakikatnya para suami itu membutuhkan pelepasan satu minggu dua kali untuk memperbagus keadaan gerak tubuh, mood dan semangat.


Ammar terbahak dan lekas di bekap oleh Gana. Karena di sebelah ranjang mereka ada ranjang yang tengah Adel dan Alda tiduri. Sedangkan Aqila berada di box nya.


"Jangan sampai mereka bangun, Bang!" teringat bagaimana setengah matinya meninabobokan Alda yang ingin terus bermain walau sudah waktunya tidur. Pun Qila yang takutnya merengek lagi. Serta kebawelan Adela karena bobo nya yang nyenyak jadi terusik.


"Mana memble? Legit gitu kayak kue lapis. Makanya aku doyan banget."


"Jadi beneran mau sekarang?"


Ammar meringis takut. "Aku masih khawatir."


"Kan kata Dokter nggak apa-apa. Lagian aku juga udah pasang IUD, jadi kamu nggak usah cemas, Bang. Adek nggak akan hamil cepat."


"Ya udah kita wudhu dulu," ajak Ammar kepada Gana, menggandeng sang istri ke kamar mandi dengan langkah pelan-pelan.


Ammar yang memang sudah merindu dan menahan-nahan sampai ke ubun-ubun, lekas menggapai bibir Gana dengan lumatann brutal setelah mengucap kata bismilah dan doa sebelum berhubungan agar para setan atau jin tidak lebih dulu menggauli Gana.


"Tuh kan baru aja cium udah begitu, beringas!" Gana hentikan perpagutann bibir mereka dan memarahi Ammar.


Ammar tersenyum penuh damba. "Lupa, sayang. Aku terlalu kangen jadi begini." kembali ia apit kedua bibir Gana untuk menginvasi rongga mulut sang istri dengan lidahnya yang mulai bergerilya. Jari-jemari mereka saling bertaut, derit desah dari keduanya karena rasa rindu yang membebat membuat Alda sedikit bergumam dan tak mereka perdulikan karena anak itu tidak sampai terbangun.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


"Nggak kok, Bang."


Ammar yang masih bercucuran keringat hasil bermain bom-bom tar, belum melepas penyatuan, masih di atas Gana, tersenyum suka. "Makasih, ya, Dek." ia kecup kening Gana untuk menyalurkan rasa bahagia. Pun Gana yang juga gembira, karena hak batinnya terpenuhi.


Ammar mendekap Gana dari atas dengan selimut masih menutup tubuh mereka yang setengah polos. Tidak mau telanjang bulat karena takut-takut anak-anak mereka bangun.


"Ayo, Bang. Lepas. Kita wudhu lagi sebelum tidur." Ammar yang akan tertidur sebentar lagi di ceruk leher Gana, mulai bangkit dan menggulingkan tubuh di sebelah tubuh sang istri. Sunah nya, jika dalam keadaan junub dalam keadaan malam hari, ingin meneruskan tidur karena belum mau mandi, lebih baik wudhu lagi untuk membersihkan diri secara sementara.


Alih-alih ingin berwudhu, Ammar malah meminta lagi Gana di sana.


"Mau lagi, ya, Dek."


"Ih, Abang!" dengan bibir menggerutu, tapi ia lakukan untuk berdiri di hadapan wastafel dan mengizinkan Ammar untuk memeluknya dari belakang. Gana tak mampu mempertahankan desahann yang sedikit nyaring sampai Ammar membekapnya.


"Jangan berisik, Dek-"


"Pah."


Deg.


Jantung Ammar dan Gana lekas ingin copot saat Adela mengetuk pintu kamar mandi yang sepertinya belum di kunci. Sedang bermain di tengah-tengah dan akan menuju garis finish lekas buyar begitu saja bagai sedang makan makanan pedas tanpa minum, nyelekit. Ammar dan Gana menyudahi permainan dan buru-buru membuka pintu kamar mandi.


"Kakak mau pipis?" tanya Ammar yang malu sekali saat Adela dapati dirinya dan istri berduaan di sini.


Adela menggeleng dengan mimik kantuk yang masih bertengger. Sepertinya anak ini ngelindur. Lekas Ammar gendong Adela yang masih hangat dengan baju tebal dan rambut yang mekar ke pembaringan untuk di rebahkan kembali. Tapi, sebelum tiba di ranjang, Adela menunjuk ke arah pintu kamar yang terbuka.


"Adek ndak mauh macuk, Pah. Katanah macih mauh main."


"Mau main?" Ammar dan Gana saling lempar pandang. Mereka tengok ke ranjang yang keduanya kira kalau Alda masih ada di sana ternyata memang tidak.


"Dari kapan mainnya?" tanya Ammar kepada Adel yang merebah di ceruk lehernya, yang ikut mengekor langkah Gana untuk mendapati Alda tengah bermain sendiri. Mungkin anak itu keluar dari kamar saat emak dan babe nya asik bermain di wahana kecebong-kecebong lincah.


"Hihihi ... nih nih atuh akein, yahhh!" dengan lipstik milik Gana yang Alda ambil dari dalam tas ia seolah berbicara sendiri dengan dinding yang tengah ia warnai.


Ammar dan Gana memandang takut karena Alda seakan berbicara dengan mahluk tak kasat mata.


"Alda ...," panggil Gana yang masih melangkah ke arahnya dan Alda menoleh. Keduanya kembali membulatkan mata saat wajah Alda sudah belepotan lipstik.


"Astaghfirullahaladzim." Gana sampai mengelus dada, menghentikan langkah sejenak. Berbeda dengan Ammar yang terus mendekati anak kelimanya untuk di bawa lagi ke dalam kamar.


"Ndak, Pah! Nauh nain ni cinih," elak Alda tak mau digandeng.


"Mau main apa sendirian di sini?" tanya Ammar yang juga seperti Gana mulai merasa takut.


"Adek ndak cendilian, Pah. Tuh adah cih Bella dan Malia." Adela tunjuk dinding kosong di hadapan Alda yang mana sang Adik kembali tertawa-tawa.


"Ya Allah, setan, Bang," tukas Gana pelan, ia mulai berlari, berhambur ke dalam kamar untuk memeluk Qila.


"Adek jangan kabur!" sang mafia yang dulu nya tidak pernah takut saat menggorok banyak kepala manusia, sekarang hanya dengan sesosok hantu penunggu rumah, ia takut sampai ingin pipis di celana. Haha.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Kalian yang minta aku buat cerita dewasa anak-anak Ammar, di aplikasii ini, sekali lagi maap ya sayangku. Cerita ke tujuh anak Ammar yang versi dewasa sudah aku terbitkan diaplikasiii lain dan sudah tamat. Jadi nggak mungkin aku bawa ke sini. Di sini mah enjoy aja sama masa mereka yang masih kinyis-kinyis, ya. Karena kalau masa-masa dewasa mereka di mana mereka sudah berumah tangga, itu konfliknya agak berat juga kayak enyak sama babe nya. Pokoknya aku selalu suka dengan karakter wanita kuat yang bisa hidup kokoh dengan aral melintang konflik.


Bisa follow IG ku @Megadischa untuk DM langsung. Mau tanya apa aja silahkan :)