
"Kamu tuh begini, nyiksa Abang, Dek," ujar Ammar. Tangan kiri nya menarik tepi kaus untuk menenggelamkan indera penciuman di sana, sedangkan tangan kanan menyuapi potongan durian ke mulut Gana.
Wanita hamil itu terkekeh dan terus menikmati setiap daging durian yang melesat masuk ke dalam mulutnya. Gana merengek ingin di suapi. Dan Ammar yang sedari tadi menahan bau, mual dan ingin muntah, hanya pasrah untuk menurut. Mengikuti permintaan istri nya.
Gana menarik tangan Ammar untuk melepas kain kaus dan lelaki itu meronta. "Bau 'ah! Nggak kasian kamu sama, Abang?"
"Memangnya Abang enggak kasian sama aku yang akan mengandung sembilan bulan."
Ammar memiringkan sudut bibir dan mendengus malas. "Ayo buka mulut!" Ammar menyuapi lagi istrinya.
"Udah di situ aja, jangan maju-maju!" Ammar menahan Gana yang ingin memajukan duduknya tepat di hadapannya.
"Aaaaaaahhh, Abang! Adek 'kan pengin deket Abang terus." rengek Gana manja.
"Ya Allah, baru hamil empat minggu. Udah begini, apa lagi sudah hamil tua?"
Gana tertawa-tawa. "Rasain, Bang!" dan desah napas Gana, membuat Ammar melototkan matanya.
"BAU!" serunya. Ammar mundur sampai ke sandaran punggung kaki ranjang.
Gana mencebik. Ia pura-pura merungut sedih. "Abang tega, ngatain aku!"
Ammar menghela napas dan menggeleng samar. Ia kembali mendekat dan memeluk si ratu ngambek.
"Bukan ngatain, Sayang." Ammar mencium pipi Gana berkali-kali. "Tapi emang Abang enggak kuat. Nyiksa banget baunya. Kalau kamu lagi enggak hamil, pasti bakalan nolak juga. Duren tuh enggak enak banget aroma nya. Mana dagingnya lembek-lembek gitu. Howe ...." Ammar seraya ingin muntah membayangi buah yang sekarang masih berada dalam genggamannya untuk kembali menyuapi Gana.
"Dari pada anak nya ileran, Bang."
"Ya, kalau ileran doang mah, bisa dong tinggal dielap?" Ammar terkekeh dan Gana memberikan delikan mata.
"Bang, kita pulang aja, yuk. Kasian Anak-anak, Bang. Masih kita titipin di rumah Gelfa. Alda juga kasian, dia pasti nangis ingin su----"
Krek.
Suara Gana menggatung, mana kala pintu kamar perawatannya terbuka. Menyembul lah Mama Difa sambil menggendong Alda yang sudah terlelap dan Papa Galih, ia menggendong si keriting yang juga tertidur. Kedua anak itu pulas terlelap selama di perjalanan menuju Rumah Sakit.
"Mah, Pah. Kenapa enggak bilang mau ke sini, nanti Ammar jemput." ucap Ammar. Ia bangkit dari ranjang untuk mencium tangan kedua mertuanya.
"Enggak apa-apa, Nak. Kalau nanti kamu jemput, yang nunggu Gana di sini siapa?" Mama berbalik tanya.
Ammar mengangguk.
"Maaf, Mama lama ya, Nak." Mama mencium pipi Gana yang masih bau durian.
"Enggak apa-apa, Mah. Maaf, ya. Mama jadi repot sama Anak-anak." Gana meraih Alda dari gendongan Mama untuk di letakan di pangkuannya, begitupun Adela yang sudah Ammar baringkan di ranjang khusus penunggu pasien.
"Papamu sih aneh-aneh aja!" dengkus Mama. Ia masih kesal.
Papa hanya bisa diam saja. Lelaki beruban itu memang salah. Di dalam mobil, Mama Difa tidak henti-hentinya memarahi Papa. Sampai sopir saja terkekeh mendengarnya.
"Mama lagi ribet ngurus cucu yang lagi pada nangis, Papamu malah enak-enak tidur!" seru Mama sewot.
"Ampun, Mah. Papa ngantuk banget soalnya."
Begitu lah perdebatan antara Mama dan Papa. Mama terus berisik seperti kaset rusak.
"Maafin Gana, ya. Mama dan Papa jadi kurang tidur." terlihat dari raut Mama dan Papa memang letih.
Mama duduk di tepi ranjang. Dan Papa duduk di kursi sebelah ranjang Gana. Ammar lebih dulu membereskan cangkang duren yang sudah tidak ada isinya untuk di buang ke tempat sampah. Lelaki itu jijik sekali.
"Enggak apa-apa. Namanya juga anak lagi sakit, orang tua harus ngerti. Kamu juga 'kan enggak setiap hari sakit." tukas Papa.
Mama memutar mata jengah. "Sok bijak. Sendiri nya malah tidur!" Mama mencubit lengan Papa, ia masih saja gemas. Haha.
Papa mengusap lengannya. "Papa udah kurus begini, Mah, masih aja dicubitin." Papa memelas. Gana dan Ammar tertawa.
"Oh, ya, kamu jadi di USG?" tanya Mama kepada Gana.
"Semoga aja memang enggak hamil, ya. Kasian anak-anak kalian sudah banyak." selak Papa. Dan wajah Gana dan Ammar mendadak lesu.
"Ya kalau hamil enggak apa-apa. Namanya juga rezeki, masa iya di tolak." sahut Mama.
Gana memandang Ammar. Ia ingin lelaki ini yang menjelaskan. Ammar mengangguk tanda paham.
"Gana positif hamil, Mah, Pah. Baru jalan sebulan."
"Astaghfirullah ...." ucap Papa kaget. Ia pikir dugaannya benar. Kalau anak nya itu memang tidak hamil, hanya masuk angin biasa atau kena penyakit maag.
"Alhamdulillah dong, Pah." Mama membetulkan.
Papa menghela napas panjang. Lelaki beruban walau masih kelihatan tampan, menyandarkan tubuh lemah di sandaran kursi.
"Banyak Anak memang banyak rezeki. Tapi kalo sampai enam begini, apa enggak kebanyakan? Ngurus nya gimana? Usia nya pada enggak jauh. Aduh, pusing Papa, mikirin kalian!"
Ammar dan Gana hanya bisa diam dan mendengarkan apa yang Papa ucapkan. Tidak berani membantah.
"Udah jangan dengerin Papa. Bismillah aja, ya, Nak. Banyak kok diluar sana yang punya anak sepuluh, dua belas, dua puluh, tapi baik-baik aja. Sehat dan senang-senang aja. Jangan tolak apa yang Allah kasih." Mama menasehati dengan pemikiran positif.
"Yang penting komunikasi kepada Anak-anak terus di lakukan. Diberi pengertian kalau sekarang Gana sedang hamil lagi. Walau begitu Gana dan Ammar harus bisa membagi waktu untuk semua anak-anak dengan baik. Agar mereka tidak merasa cemburu."
Wajah Gana dan Ammar terlihat cerah. Mereka mengangguk suka. Walau Papa masih saja memandang mereka kecewa.
"Yang Papa khawatirkan itu Gana. Kayak sapi perah, lahiran terus! Kasian 'kan?" ujar Papa. "Lihat aja 'tuh badannya, kurus gitu!" imbuhnya lagi.
Sebagai suami, Ammar merasa tersindir. Ia tilik tubuh Gana yang memang semakin kurus dari hari ke hari. Karena kelelahan mengurus lima anak sekaligus, belum lagi sekarang hamil kembali. Ammar memandang sedih, seakan dirinya tidak becus mengurus istri.
Gana menggenggam tangan suaminya, mengelusnya pelan. Seakan membela. " Papa tenang aja, ya. Nanti Gana pasti bakalan berisi lagi. Bakalan banyak makan," tutur Gana.
"Ya." Papa menjawab datar. Ia memilih bangkit dari kursi untuk masuk ke dalam toilet.
"Jangan dimasukan ke hati, ya. Kalian 'kan tau kalau Papa udah ngomong kayak gimana?"
"Iya, Mah." balas Ammar dan Gana.
...🌾🌾🌾...
Ammar menggenggam segelas kopi panas yang ia pesan tadi di kantin untuk dinikmati bersama Papa Bilmar, di taman Rumah Sakit. Setelah di kabari perihal Gana. Siangnya, Papa dan Mama bergegas ke Rumah Sakit untuk menjenguk. Ammar memandang lesu nabastala. Ia masih saja terbayang-bayang dengan ucapan Papa Galih. Lelaki beruban itu pun mendadak irit bicara kepada Ammar. Apalagi dulunya, Ammar pernah mengulas luka di hati Papa.
"Sabar, Nak. Kalau mertuamu begitu, ya, wajarin aja,"
Ammar memang menceritakan bagaimana perangai dan ucapan Papa Galih saat di kamar perawatan kepadanya. Meminta solusi terbaik yang mana tidak ada solusi lain selain hanya menerimanya saja.
"Papa juga dulu gitu, Dek. Papa kesal sama Gifali saat Maura hamil lagi. Sudah umur nya muda, hamil dalam jarak dekat, dan kembar lagi. Tapi, mau gimana lagi. Kan Allah yang kasih rezeki anak kepada mereka. Ya udah, Papa hanya bisa mendoakan saja.
Jadi, kalau Papa mertuamu sekarang merajuk. Ya wajar. Apalagi anak kalian sudah lima, jaraknya juga dekat-dekat. Mas Galih khawatir dengan keadaan Gana yang lahiran terus. Coba aja nanti, semisal Rora, Taya, Adela, Alda seperti Gana. Pasti, kamu juga akan khawatir."
Ammar mengangguk paham. Kepalanya terasa terang. Penjelasan Papa membuat dadanya terasa lega. Ia mulai memaklumi kegalauan Papa mertuanya yang sedang khawatir kepada Gana.
Ammar tersenyum kepada Papa. "Makasih banyak, ya, Pah."
Papa membalas senyum. Ia menepuk lembut bahu anak lelakinya. "Sabar aja, Nak. Dulu aja Papa sabar kok menghadapi Kakek Luky. Apapun yang berkaitan dengan Mamamu kalau dalam pemikirannya tidak sesuai. Kakek pasti akan marahin dan pukul Papa." Papa Bilmar mengingat masa lalunya saat mengarungi rumah tangga yang begitu menghadapi banyak ujian dengan istrinya dulu.
"Walau sifatnya tempramen dan keras. Tapi, Papa sayang padanya. Semoga saja amal ibadah Almarhum kedua Kakek mu di terima di sisi Allah SWT. Aamiin."
"Aamiin, Pah."
"Makanya Adek banyak sabar, ya. Di maklumi aja. Seperti Adek memaklumi sifat Papa dan Mama yang kadang juga nyusahin Adek." air bening menggenang di pelupuk mata lelaki paru baya itu. Ia teringat bagaimana dirinya suka merajuk, kalau Ammar telat sehari saja datang ke rumah untuk menjenguk dirinya dan istri.
Ammar meletakan gelas kopinya di meja taman. Ia merangkul Papa dan mencium pipi lelaki itu yang sudah berkeriput di bagian sudut mata. Menyeka air mata Papa yang turun saat lelaki itu mengedipkan mata.
"Enggak ada kata nyusahin, Pah. Papa itu jalan menuju Surga-Nya, Adek." orang tua adalah ladang pahala nya seorang Anak. Bisa membahagiakan, menjaga, mengurus orang tua sampai kembali kepangkuan Allah, adalah keberhasilan seorang Anak di dunia ini.
Seakan hukum sebab dan akibat sedang terjadi. Dulu, saat Kakek Luky dan Kakek Bayu masih hidup, Papa Bilmar dan Mama Alika sangat berbakti, menjaga, merawat dan mengurus mereka sampai ajal menjemput.
Seolah keletihan itu tengah dibayar kontan oleh Allah SWT. Manakala sekarang, Allah menjadikan Ammar dan Maura, sesosok anak-anak yang berbakti untuk mereka berdua.
Masya Allah, Tabarakallah ...
...🌾🌾🌾...