Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Eks Part One


Sedari tadi Attaya menyeka air mata sang Kakak yang terus turun membasahi pipi. "Nanti Papa datang 'kok, Kak. Sabar, ya." Attaya mencoba menenangkan Aurora.


"Tapi lima belas menit lagi acaranya di mulai dan aku nomor empat. Papa aja masih belum bisa di hubungi." air mata Rora luruh lagi. Attaya pun memandang sedih Kakaknya. "Sabar, ya, Kak. Kan Papa udah janji pasti akan pulang hari ini. Aku yakin, Papa pasti datang!"


Dari balik bergo putih, seragam muslim yang serba putih-putih, Taya dan Rora menatap Gana yang masih berdiri beberapa jarak dari mereka. Wanita itu sedang berusaha menghubungi suaminya, ingin mengetahui sudah berada di mana.


"Abang keterlaluan!" decak Gana kesal. Ia menurunkan lagi gawai dari telinganya dan kembali memencet nomor telepon Ammar. Mengulang untuk menelepon lelaki itu.


Aidan yang baru sampai dengan jinjingan plastik berisi minuman dingin dari kantin menghampiri Mamanya terlebih dulu.


"Gimana, Mah? Papa udah sampai mana?"


Gana menggeleng dengan raut gelisah. "Yah, kasian dong Kakak, Mah," ucap Aidan yang saat ini juga memakai seragam muslim putih-putih berpeci. Ia menatap Aurora yang tengah duduk bersama Attaya dengan wajah yang basah.


Aurora, Aidan dan Attaya di masukan dalam satu sekolah yang sama oleh kedua orang tua mereka di sekolah dasar Islam terpadu yang sangat favorit di kota ini.


Aurora berada di kelas tiga, Aidan berada di kelas dua dan Attaya berada di kelas satu. Hari ini di sekolah sedang mengadakan acara perlombaan murid kelas tiga untuk hafalan surah Al-Kahfi.


Aurora termasuk kandidat dari dua puluh besar. Sang Papa selama seminggu ini memang berada di Jogja untuk mengecek pembangunan cabang perusahaan EG di sana. Dan rencananya akan di perpanjang sampai dua minggu kedepan. Gana sudah menitah Ammar untuk tidak memberikan janji kepada Aurora. Bilang saja kalau tidak bisa datang, Aurora pasti akan mengerti.


Tetapi, karena Ammar bangga putrinya terpilih dalam kandidat perlombaan, ia ingin sekali melihat Aurora di atas panggung. Maka untuk itu ia putuskan akan pulang dulu ke Jakarta, dengan jet pribadi.


Gana menyerah. Ammar tidak bisa di hubungi. Gawai nya tidak diangkat sedari tadi.


[Kalau enggak memungkinkan untuk datang, lebih baik Abang jangan berjanji!] Gana kirim pesan singkat ke ponsel suaminya. Lantas mematikan ponsel dan memasukannya ke dalam tas. Wanita berhijab itu akhirnya melangkah bersama Aidan menuju kedua anak perempuannya.


Gana duduk di sebelah Aurora. Dan anak tersebut langsung memeluknya. "Kok Papa bohong, ya, Mah?" tanyanya dalam isak.


Gana menghela napas panjang. Pusing sekali kepalanya. Ia sudah hapal, jika setelah ini Aurora pasti akan merajuk lama. Belum lagi ia mengkhawatirkan suaminya, takut terjadi sesuatu.


"Jangan nangis, Nak." Gana mengelus lembut punggung Rora. Mengecup-ngecup pusara hijabnya. Pun sama dengan Taya dan Aidan, mereka juga ikut mengusap-usap Kakaknya yang akhirnya tangisannya pecah.


"Kakak sebel sama Papa ... hiks."


"Walau Papa enggak datang, tapi kan ada Mama, Nak."


"Tapi Papa udah janji, Mah!" Aurora tetap tidak bisa menerima. "Udah 'ah aku enggak mau lomba!" timpalnya dan ingin segera melepas bergo.


"Eh, eh! Jangan, Kak!" seru Gana, Aidan dan Taya.


"Cengeng banget, sih! Masa hanya karena Papa enggak bisa datang, Kakak kayak gini!" dengus Aidan tidak suka. "Tuh, lihat!" Aidan menunjuk ke arah Sofwan.


"Kak Sofwan hanya di temani sama adiknya, si Nurul. Mama dan Papa nya aja enggak datang karena bekerja. Masih mending Kakak, ada Mama dan kita." Nurul adalah teman sekelas Aidan, dan Sofwan teman sekelas Rora yang juga terpilih sebagai kandidat.


Aurora yang sejak tadi menangis terseguk-seguk kemudian berangsur tenang. Aidan menyodorkan minuman manis yang ia beli dari kantin langsung ke bibir Kakaknya.


Tak lama kemudian ada aba-aba terdengar dari para guru kalau semua hadirin segera memasuki ruang serbaguna karena acara akan di mulai.


Gana lebih dulu mengusap wajah Rora dengan tissue. Mengecup wajahnya berkali-kali dan memeluknya. "Semangat ya, Nak. Semoga Kakak menang."


"AAMIIN!" seru Aidan dan Attaya senang.


Berlalu lah mereka berempat dari taman sekolah dengan saling bergandeng tangan. Walau separuh jiwa nya seakan menghilang karena Papanya tidak hadir. Tapi, pelan-pelan Rora sudah bisa tenang dan tersenyum. Karena Mama dan kedua adiknya terus memberikan dorongan semangat.


...🌾🌾🌾...


Terlihat Rora sudah berdiri di atas panggung dengan mik di tangannya. Sudah dua menit ia menundukkan kepala kebawah. Dari kursi penonton. Gana, Aidan dan Taya menyorotnya dengan perasaan was-was. Mereka takut Rora tidak bisa menguasai panggung, terutama hatinya masih sedih. Masalah tentang Ammar yang tidak bisa memegang janji, bisa saja membuyarkan hapalan yang sudah seminggu ini ia hapalkan berulang-ulang di rumah.


"Ayo, Nak. Segera di mulai." titah salah satu juri yang sedang menatapnya. Dan Rora masih saja menunduk.


Ingin sekali Gana maju kedepan, menarik Rora untuk turun dari panggung. Ia malu dengan para orang tua temannya Rora yang sedari tadi sudah berisik merasa lama menunggu Rora.


"Kalau lupa, turun aja!" teriak salah satu anak dari kursi penonton. Aidan memicing mata kesal kepada Golby. Anak lelaki itu tidak suka kalau Kakaknya di buat malu.


"Duh gimana nih, Mah?" tanya Taya kepada Mama. Suasana semakin tegang dan tidak enak. Pasalnya masih ada enam belas kandidat lagi yang harus berdiri dipanggung, menunggunya.


"Malvinia! Ayo, Nak. Silahkan di mulai!" seru lagi juri kepada Rora.


Gana meringis. "Mama juga bingung, Dek."


Tak tahan menatap Aurora yang seperti itu, akhirnya Aidan berteriak ke arah panggung. "KAKAK! SEMANGAT!"


Dan Aurora langsung mendongak ke arah Aidan dan bergantian kepada Mama dan Taya. Gana dan Taya juga menyerukan kata semangat. Aurora membalasnya dengan senyuman tipis. Energinya muncul lagi.


Dan saat anak perempuan itu kembali menatap ke depan, ke para juri. Air matanya langsung luruh. Tangannya bergetar, mik yang tengah ia genggam saja seraya ingin jatuh ke bawah.


"PAPA?" Aurora bergumam di atas mik, dan suaranya membuat Gana, Aidan dan Taya kaget. Mereka bertiga langsung menoleh ke belakang. Tak disangka, ada Ammar di ambang pintu masuk ruang serbaguna. Lelaki itu baru saja sampai.


Semua mata pun ikut menoleh ke belakang melihat lelaki tampan berjas hitam tengah berdiri menatap putrinya di atas panggung.


"Wah, Papa datang, Mah!" Aidan berseru senang. Taya pun gembira. Gana bangkit dari kursi penonton dan memberikan lambaian tangan ke arah suaminya, agar Ammar menghampirinya.


Napas Aurora yang sejak tadi berantakan kini mulai teratur. Seakan langit gelap mendadak berganti dengan sinar matahari yang cerah. Dadanya mulai lega, karena cinta pertamanya tetap datang hari ini untuk menepati janji. Mic kembali ia arahkan di bibirnya. Dan Rora mulai melantunkan surah Al-Kahfi dengan suara teduhnya.


...🌾🌾🌾🌾...