Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Sayang, bertahan ya.


"Apa? Dasar BANGSATT! Saya hanya suruh wanitanya saja! Habiskan wanitanya! Jangan sampai teman saya ikut celaka! Bodoh! Sialann! Keparatt! Kalian memang anjingg semua! Goblokk! Putar balik, pastikan Ammar SELAMATTTT!!!"


Anak buah Farhan sampai menjauhkan ponsel dari telinganya, ketika bosnya menghardik kasar dengan ucapan kotor.


Mereka fikir, akan mendapatkan tepuk tangan hangat, pujian serta bonus. Nyatanya bosnya marah besar ketika diinformasikan bahwa mobil yang dikemudikan Ammar menabrak pohon besar. Ammar dan Gana terlihat tidak sadarkan diri. Dan mereka mengganggap pasangan suami istri itu mati.


"Ayo putar balik!" titah si ketua kepada sopir. Akhirnya mereka kembali memutar balik walau saat ini sudah berada dipertengahan untuk kembali ke kota.


Di seberang sana, Farhan terus memegangi dada. Menggusarkan wajah dengan raut frustasi. Lelaki itu takut sekali kehilangan Ammar. Jauh dalam lubuk hatinya ia menyayangi Ammar, tapi rasa iri, dengki dan selalu merasa kalah dari segi apapun. Membuat mata hatinya tertutup.


Sadarlah, Farhan. Sejatinya, kamu menyayangi Ammar. Suara hatinya menyeruak, membuat Farhan berteriak dan membanting barang-barang untuk menahan kegelisahannya.


****


Dengan susah payah, Ammar yang masih belum sadar di sandarkan di batang pohon yang rimbun. Air mata Gana menetes seiring menatap api yang masih melahap mobil belum surut.


Ia mengusap wajah Ammar dengan usapan lembut, lantas menyatukan kening mereka dengan debaran jantung yang masih berdegup. Menangisi lelaki itu. Lelaki yang begitu mencintainya.


"Kalau suatu hari tiba-tiba aku mati lebih dulu darimu, bagaimana?"


Gana tertawa. "Ya tinggal aku kubur."


Air mata Gana kembali pecah. Ia menyesal. Bercandaan Ammar di taman bunga membuatnya terhenyak sekarang. Gana memeluk lelaki itu, menyatukan dada mereka.


"Kamu enggak boleh mati! Bangun, Ammar! Bangun! Kita harus pergi dari sini, aku takut. Penjahat tadi masih mengincar kita." pinta Gana memohon.


"Ya Allah tolong ..." sudah kering bibir Gana meminta, menyeru dan memohon dengan rancauan bibirnya.


Dan kemudian,


Gana membuka kelopak matanya ketika ia rasa ada sentuhan pelan di lengannya. Melepas pelukan itu dan menatap wajah suaminya. Gana tersenyum senang, bahagia sekali dirinya.


"Ammar ..." Gana menangkup wajah lelaki itu.


"Sayang ..." ucap Ammar amat pelan. Jari-jemarinya memegang luka di dahi Gana. "Sakit?" tanyanya.


Gana menggeleng.


"Masih sesak?" Ammar memegang dada Gana.


Gana menggeleng.


Rasa sakit, sesak dan linu pada tubuhnya seperti menghilang begitu saja terganti dengan rasa bahagia, karena suaminya sudah sadar.


Ammar menoleh ke kanan dan mendapati badan mobilnya yang sedang dilahap oleh si jago merah. Kembali mengedarkan pandangan ke pelosok jalan, dadanya gegap gempita ketika mobil penjahat sudah tidak ada lagi disekitar mereka.


Angin berhembus kencang, berseliweran di udara. Bulu-bulu halus dipermukaan kulit tangan Gana dan Ammar seketika berdiri karena terasa sejuk namun dingin. Mereka diapit oleh jalanan setapak yang diriungi pepohonan lebat.


"Jangan takut ya." Ammar masih saja memberikan wajah jenaka. Ia tahu Gana butuh untuk ditenangkan.


"Tapi kita mau pulang pakai apa?" tanya Gana.


Ammar hening. Ia bigung. Lelaki itu hanya bisa menatap langit. Awan sepertinya bergerumul membuat barisan, mendadak mendung dan akan menumpahkan air hujan.


Tuk tuk tuk.


Benar saja, rintikan air hujan mulai membasahi mereka.


Gana mendongak ke atas menatap langit, ingin membetulkan perasaan bahwa sebentar lagi akan hujan deras. Buru-buru menutup atas kepala Ammar dengan kedua tangannya. "Gerimis, Ammar." serunya panik.


Walau panik, tapi Ammar tetap tersenyum. Melihat perhatian dari Gana yang seperti ini kepadanya. Ammar melingkarkan tangan kanannya di pinggang Gana.


"Kita akan selamat dari sini, tenang ya." entah apa yang membuat ia begitu yakin.


Gana mengangguk dan tetap menutup kepala Ammar walau sia-sia. Seluruh tubuh mereka basah karena hujan yang turun langsung deras.


"Ammar ..." Gana menggoyangkan tubuh Ammar yang matanya seperti ingin memejam lagi.


"Iya sayang." jawab Ammar. Membuka matanya dan mengecup pipi Gana. "Aku baik-baik aja, hanya lemas." ucap Ammar dengan nada sangat lemah.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk mengurangi sesakmu?" Ammar masih mengkhawatirkan Gana. Gana menggeleng. Ia lebih menakutkan keadaan Ammar, dibanding dirinya sendiri.


Hujan terus mengguyur tubuh mereka. Rambut dan wajah basah, sesekali menyeka air hujan dari wajah karena mengalihkan pandangan.


Gana menoleh ke arah jalan ketika ada sebuah mobil melintas begitu saja. Merasa akan ada lagi mobil yang melewati jalur ini, Gana bergegas bangkit.


"Mau kemana?" Ammar menahan tangan Gana.


"Sebentar ya. Aku mau cari bantuan." jawabnya, kembali menyeka wajah yang sudah basah karena air hujan.


Ammar hanya bisa pasrah. Tubuhnya lemah, dengan kaki yang bengkak, tentu tidak akan bisa membuat ia berdiri.


Gana melangkah ke tepi jalan. Lama menerjang hujan, tapi tanda-tanda mobil akan melintas di hadapannya belum terlihat.


"Gana ..." Gana menoleh ke belakang. Ammar menyerukan namanya dan melambaikan tangan lemah.


"Tunggu." jawab Gana dari jauh.


Hujan semakin deras, membuat ia menggigil dan memeluk dadanya sendiri dengan kedua tangan. Kemertuk gigi terdengar. Ia bohong jika mengatakan dirinya baik-baik saja kepada Ammar. Sudah sesak, diguyur hujan, tubuh penuh luka, terlebih lagi suaminya tidak berdaya. Sungguh sial hari ini baginya


Berdiri selama dua puluh menit sudah ia lakukan. Rasanya pegal, ingin kembali duduk disebelah Ammar, tapi ia harus tetap berdiri disini. Tidak mau melewatkan mobil orang yang bisa ia mintai tolong untuk menumpang.


Dan.


Kilatan mata Gana berbinar ketika melihat mobil jeep hitam yang sekilas ia ingat mirip dengan mobil penjahat tadi. Jantung Gana kembali berdentam kuat, ia mundur selangkah. Tapi masih berdiri.


Mobil jeep hitam berhenti. Ammar melototkan bola matanya ketika mobil itu benar-benar berhenti didepan Gana.


Kaca mobil diturunkan, dan salah satu penjahat seperti ramah dalam bertanya.


"Apakah kami bisa menumpang?" tanya Gana polos. Ketakutan dan panik menutup akal sehatnya.


Tiba-tiba tangan si penjahat terjulur ke luar dari jendela dan meraih tangan Gana secara paksa.


"Ayo masuk!"


Gana terlonjak. Ia kaget bukan main. Ternyata lelaki ini memang penjahat. Ammar semakin mengerang dibelakang.


"Aahhh lepass!!" teriak Gana.


Ammar menyeret tubuhnya paksa. Ia terus berseru agar istrinya di lepaskan.


"Lepaskan istriku! Tembak saja aku! Aku 'kan yang kalian cari?" Ammar berteriak dengan susah payah. Menguatkan dirinya yang sama sekali tidak kuat. Tapi seruannya tetap tidak mereka dengar. Para penjahat hanya fokus kepada Gana sesuai titahan bos nya.


"Lepas!!" Gana meronta ketika tangannya terus ditarik. Namun melihat Ammar akan sampai dengan seretan tubuhnya. Tidak ada jalan lain, Gana harus mati sekarang. Fikir mereka.


"Jalankan mobil!"


Bola mata Ammar melotot. Ketika deru mesin mobil mereka di nyalakan kembali. Dan istrinya masih mengatung di pinggiran pintu mobil. Mobil berjalan dengan iringan teriakan Gana. Tangan Gana terlepas dari tarikan si penjahat, lantas memegang tepi jendela untuk bertahan agar tubuhnya tidak mengenai aspal jalan.


"GANNNAAAAA!!!" Ammar berteriak histeris. Melihat Gana menjulurkan tangan kanannya ke arah Ammar untuk minta tolong.


Mobil melaju terus, tubuh Gana akhirnya setengah limbung dan terseret. Tangan kirinya tetap berpegangan di tepi jendela yang sudah ditutup. Menyakitkan. Tangannya terjepit tanpa belas kasih.


Gana menangis, seiring tubuhnya bergelantungan di pinggir mobil. Darah sudah bercecer di aspal jalan karna permukaan kulit betis dan telapak kaki Gana yang menghantam jalan. Belum lagi terjangan angin dingin yang membuat dadanya semakin sesak.


"Mama ... Papa." Gana berteriak kencang. Mobil terus melaju. Mereka yang didalam hanya tertawa-tawa ketika Gana memohon ampun untuk berhenti.


"Mampus, lo!"


Hahaha. Mereka kembali bersorai.


Tubuh Gana terus diguyur hujan. Rasa sakit dan perih tiba-tiba terasa pias dan baal. Ia tidak mau melihat bagaimana keadaan kakinya sekarang.


Tulang kakinya pasti patah dan remuk. Kulitnya sobek, dagingnya menyembul keluar. Kuku-kuku kakinya hancur. Aspal jalan yang basah bercampur dengan darah Gana.


Tubuhnya mulai melayang, seiring matanya yang mulai memejam. Jari-jemarinya mulai terlepas dari jendela mobil.


Bug.


Gana limbung ke aspal. Mobil pun terhenti. Semua penjahat menoleh ke belakang. Mereka langsung tersenyum puas, ketika melihat Gana tengkurap tidak sadarkan diri di aspal jalan.


"Ayo jalan! Tinggalkan tempat ini!" titah si ketua penjahat. Tawa mereka tiba-tiba redup, ketika melihat Ammar dari beberapa meter sedang berusaha menyeret tubuhnya dan berteriak.


Mobil kembali melaju. Meninggalkan Gana yang tidak sadarkan diri dan Ammar yang terus menyeret tubuhnya sambil menangis.


"GANAAAAAA!"


Ia terus berteriak memanggil nama istrinya, membelah kelebatan hujan yang sedang mengguyur dengan deras. Air matanya bercampur dengan air hujan dan keringat. Ia mengutuk mereka semua karena sudah berani melakukan hal ini kepada istri kesayangannya.


Ammar terus menyeret tubuh. Tidak perduli dengan rasa sakit yang saat ini ia rasakan. Yang ia inginkan hanya ingin meraih tubuh Gana dan memastikan wanita itu masih hidup.


"Sayang ..." rancau nya ketika sudah tiba. Sekuat tenaga membalikkan tubuh Gana untuk terlentang menatapnya.


Hati nya teriris. Memejam mata dan berteriak. Mendapati kening Gana robek dengan luka menganga.


Ammar terus menangis. Tangisannya kencang menembus hujan. Tidak perduli dengan suara petir. Ammar menggoyangkan tubuh Gana agar sadar.


"Hhh ..." Ammar mendesah napas frustasi, ketika tidak merasakan denyut nadi di bawah dagu Gana.


"Gana!!" Ammar mengguncang kedua bahu istrinya.


Bulir-bulir air bening Ammar terus saja meruah. Dadanya sesak, menyoroti tubuh Gana yang terbujur di atas aspal, penuh dengan simbah darah di area kepala dan kakinya.


Dengan susah payah dan tubuh yang tidak tahu lagi bagaimana rasanya sekarang. Ammar mencoba meletakan kedua tangan yang disatukan lurus di atas dada Gana. Dengan tumpuan lutut di atas aspal, ia menggerakkan tubuhnya untuk memompa tubuh Gana.


Melakukan kompresi dada agar jantung Gana yang sempat terhenti, bisa kembali berdegup. Kompresi diselingi dengan bantuan napas dari mulutnya kedalam mulut Gana. Mentransfer oksigen dari dalam tubuhnya.


"Bangun sayang! Bangun!" kedua tangannya terus menekan jantung.


"Ayo bangun! BANGUN!!" sentak Ammar. Ia lebih memilih ikut mati jika Gana tidak bisa diselamatkan sekarang.


Uhuk ... uhuk.


Suara batuk akhirnya terdengar lagi dari dalam mulut Gana. Ammar berhasil memijat jantung istrinya. Karena syok berat membuat jantungnya terhenti sesaat. Mengingat banyak guncangan yang terjadi dengan tubuhnya. Pertama karena asma yang kambuh, kedua karena terguncang di dalam mobil mengakibatkan luka dan linu-linu karena benturan di dalam mobil dan ketiga kejadian barusan. Sangat menerjang adrenalin.


"Ammar ..." Gana menatap wajah suaminya dengan mata yang menyipit.


Ammar memeluk Gana dengan isakkan tangis tertahan. Lelaki itu berteriak menumpahkan lara di dadanya. Ammar senang dan sedih. Senang karena Gana kembali sadar dan sedih mendapati istrinya seperti ini.


Hujan yang sedari tadi turun dengan lebat, kini bergulir reda. Seakan alam ikut bersedih menyaksikan suami tengah berjuang untuk menyelamatkan nyawa istrinya seorang diri.


Tak lama ada sebuah mobil putih berhenti dihadapan mereka. Ammar menoleh dan mendapati Farhan turun dari dalam mobil.


"Farhan ..." seru Ammar bahagia.


"Sayang bertahan ya, aku akan bawa kamu ke rumah sakit." ucap Ammar kepada Gana.


***


Dua part di hari ini ya gengs. Duh dua eps ini bikin dada aku cekot-cekot pas nulisnya.


Gana maapin aku ya😢.