Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Kamu kenapa?


"Maaf, Han. Sepertinya aku tidak bisa menunggu selama satu tahun. Gana semakin mencurigai aku. Semenjak ia memergoki kita dengan Mr. Lie di kafe waktu itu. Setiap hari ia selalu berfikir negatif."


"Isi ponsel dan tab ku semua di periksa. Dan parahnya lagi ia tau mengenai Apartemen. Yang selama bertahun-tahun ini aku sembunyikan dari keluarga. Entah dia bisa tau dari mana.


"Dan untuk menyelamatkan pernikahan ku. Aku mau pamit undur diri, Han. Ambilah semua keuntungan itu. Aku berikan semua untuk kamu."


Farhan masih mematung didepan jendela Apartemennya, menatap sorot matahari yang menusuk ke arahnya. Bola matanya berpendar ke bawah melihat sebagian penghuni Apartemen yang sedang asik berenang.


Mulai beberapa hari kemarin kepalanya terasa berat. Ia tidak menyangka Ammar bisa berucap kata seperti itu dan benar-benar meninggalkannya. Harusnya Farhan senang, Ammar sudah mengibah kan keuntungan puluhan miliar kepadanya, hanya karena Gana.


Tapi Farhan merasa semua itu tidak cukup. Kebaikannya selama ini untuk menjadi sahabat pura-pura setia, harus dibayar mahal. Farhan ingin terus kaya seumur hidup, ingin kuat dalam kehidupan yang abadi.


Lelaki itu ingin uangnya berputar terus menerus. Wajah Farhan kacau. Ia benar-benar mirip seperti orang yang sedang ditinggal kekasih. Patah hati dan gundah gulana.


Ammar adalah mafia kelas kakap yang banyak disegani oleh para konsumen. Jika mereka tahu, Ammar tidak lagi bekerja sama dengannya, maka hal itu akan menurunkan pasaran usahanya. Farhan tidak mau hal itu terjadi.


Kedua tangan Farhan mengepal kuat. Rahangnya menajam dengan mata yang memicing seperti elang. Elang akan siap memangsa tawanannya dengan cara apapun.


Walau Farhan sudah berkali-kali merayu Ammar sampai akhirnya mereka bertengkar hebat. Farhan mengatakan Gana hanya menerka saja, belum sepenuhnya tahu.


Dua minggu yang lalu. Gana tidak sengaja melihat Ammar dan Farhan tengah berdiskusi di ruang terbuka bersama lelaki bertubuh kekar, memakai jaket kulit. Yang di sinyalir, lelaki itu pernah dua kali masuk penjara dengan kasus kejahatan.


Mr. Lie adalah mafia ulung, yang bisa keluar penjara dalam waktu cepat. Tentunya, karena ia memiliki banyak uang yang bisa digunakan untuk mengubah apapun, seperti halnya mengubah derita menjadi kegembiraan.


Semenjak saat itu Gana selalu mencurigai gerak-gerik Ammar jika sedang berkomunikasi dengan Farhan. Dan sebisa mungkin Ammar selalu menghindar dan memberi sejuta alasan agar Gana percaya.


Farhan berdecih. "Segampang itu kamu mundur, Ammar? Oh, tidak bisa! Kamu tidak boleh semena-mena seperti ini kepadaku! Hidupmu tidak akan tenang! Sebentar lagi, kamu pasti akan mencari aku!" otot-otot hijau di sekitar pelipisnya menyembul dashyat. Farhan mengeram amarah yang masih saja membuncah hatinya.


Drrt drrt drtt.


Farhan merogoh gawai dari saku celananya.


"Taman Bunga Anyelir?" Farhan seraya mengulangi ucapan penelepon di seberang sana. Lelaki berdarah dingin itu lantas tersenyum miring dengan tatapan lurus kedepan.


"Baik, terima kasih." ucapnya. Lalu mematikan sambungan telepon, dan beralih untuk mencari kontak seseorang yang ingin ia hubungi sekarang.


"Lokasinya Taman Bunga Anyelir. Habiskan wanitanya ... Ingat, wanitanya!"


***


Ganaya sudah rapih dengan kaos polo berwarna biru navy yang samaan dengan sang suami. Kaos tersebut mereka padu padankan dengan celana jeans, sneakers putih dan kaca mata hitam. Gana dan Ammar terlihat sangat modis dan sporti.


Ammar akan menemani istrinya berwisata ke taman bunga anyelir. Wanita itu ingin berfoto-foto di sana, menghirup udara segar dan membeli beberapa bunga-bunga dan berbagai pupuk.


Seperti misi hidup Ammar, seumur hidup ia hanya ingin membahagiakan orang-orang terkasihnya. Maka untuk itu, apapun yang Gana minta. Pasti akan Ammar penuhi.


Walau jujur, ia malas berkunjung ke tempat yang ramai. Ammar lebih senang menikmati kesendirian dengan membaca buku walau berjam-jam lamanya.


"Ammar, ayo ikut aku sebentar." Gana menggandeng tangan suaminya yang sudah berdiri diambang pintu utama, dan kembali masuk kedalam.


"Kita mau jalan-jalan, kan? Untuk apa bawa bodyguard serta Bima dan Denis?" karena Gana kaget sudah ada dua mobil yang bersiap mengantar mereka ke tempat wisata.


"Aku enggak mau ya seperti bulan kemarin!" kecam Gana dengan pelototan mata.


Bulan lalu, saat mereka berdua berlibur ke pantai. Ammar seperti biasa membawa semua pasukan untuk menjaga mereka. Para bodyguard yang terdiri dari lima orang serta Bima dan Denis ikut mengekor kemana saja mereka melangkah. Gana merasa langkahnya sangat gerah dan sempit, belum lagi banyak mata memandang aneh. Sampai wanita itu merajuk selama di tempat wisata.


"Aku janji mereka hanya tinggal di dalam mobil." jawab Ammar.


Mendengus malas. "Aku maunya berdua aja sama kamu di dalam mobil. Kamu yang nyetir, perjalanan satu jam, enggak akan buat kamu semaput 'kan?"


Oh, ya ampun. Awal kata yang Gana ucapkan begitu saja menyihir hati Ammar. Ingin berdua saja katanya? Uh, Ammar tersipu.


Ya ampun, Ammar ingin sekali membawa Gana ke kamar dan mencium bibir wanita itu sampai puas. Gemas sekali mulutnya.


"Ya kan biar aman aja, say---"


"Kamu mau aman dari apa sih? Kan, ada Allah yang jaga kita. Terlalu berlebihan kalau sampai di kawal segala. Serem tau, kayak penjahat, eh, apa tuh ya namanya ... ehm." Gana berfikir sebentar. "Oh, iya. Kaya mafia tau enggak. Karena banyak musuh, jadi harus di kawal. Haha."


DEG.


Gana tertawa nyaring. Tapi, Ammar tidak.


Lelaki itu mematung dengan jantung yang tiba-tiba terasa padam. Seketika Gana menutup mulutnya rapat-rapat, menilik suaminya yang hanya diam terpelongo.


"Kamu kenapa, Ammar?" Gana memegang bahu lelaki itu. Ammar terkesiap lantas menggeleng dan memberikan senyuman kaku.


"Kita pergi sekarang!" ucapnya dengan nada datar. Kemudian memutar langkah meninggalkan Gana yang masih merasa bingung. Tentu Ammar sedang menata ritme jantung yang masih bertalu-talu. Ia takut sekali jika rahasianya terbongkar.


Gana menyerengitkan dahi lalu bergumam pelan. "Apa bercandaku kelewatan?"


***


Tepuk tangan meriah dilayangkan oleh Bima, Denis dan para bodyguard. Berkat keinginan Istri Presdir mereka, yang hanya ingin pergi berdua saja bersama Ammar. Membuat mereka semua mendapatkan libur seharian.


Dalam sebulan, mungkin hanya beberapa kali mereka libur seperti layaknya manusia normal. Mereka semua sudah dibuat seperti robot oleh Ammar selama bertahun-tahun. Tapi karena Presdirnya tidak pernah pelit, selalu mensejahterakan mereka dalam segi apapun. Maka mereka semua patuh dan setia kepada Ammar.


Seperti tadi sebelum Ammar pergi bersama Gana. Lelaki itu mengeluarkan segepok lembar uang merah untuk mereka bagi rata sebagai modal untuk liburan.


Dan hitung-hitung sebagai permohonan maaf kepada Bima dan Denis, karena labuhan kepalan tangan Ammar yang begitu membara telah membentam wajah mereka.


"Berkas abis di tampol. Langsung dikasih libur dan dapat uang." kelakar Denis. Tangannya masih saja mengusap-usap hidungnya yang terlihat memerah


"Rezeki anak soleh." timpal Bima.


Denis mengedik ngeri. "Nama bapak kamu, Soleh?"


"Dih, dasar otak dungu! Aku bingung kenapa Bapak mau mempekerjakan orang telat mikir kayak kamu!" Bima menoyor kepala Denis. Lalu melangkah masuk ke dalam mobil.


"Gini-gini, Bapak enggak bisa hidup tanpa aku. Kita berdua udah kayak rambut sama ketombe. Kayak kulit sama koreng. Terus kayak ..."


Jika Bima dan Denis terus saja bergurau dalam candaan.


Berbeda sekali dengan Gana dan Ammar saat ini. Dibalik kaca mata hitamnya, Ammar terus mengemudi dengan fokus. Tumben sekali ia tidak mengeluarkan suara kepada istrinya sepanjang perjalanan, dari awal keluar gerbang rumah sampai mereka tiba didalam tol.


Gana melirik beberapa kali menatap suaminya. Berkali-kali ingin membuka mulut untuk bertanya, tapi urung. Dirinya jadi salah tingkah.


"Apakah begitu merepotkan, jika harus pergi tanpa antek-anteknya?" Gana membatin. "Aku 'kan hanya ingin pergi berdua saja dengannya apa itu memberatkan dia?"


Seraya mendengar Ammar ingin berucap namun urung, membuat Gana yang sudah semangat menoleh langsung kembali merengut.


"Kenapa sih, kamu?" dan Gana hanya bisa memaki suaminya dalam sudut hati yang paling dalam. Wanita itu rungsing sendiri dengan berbagai terkaannya.


***


Tungguin yah masih ada satu episode lagi.


Like dan komennya dulu dongg🌺