Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Menikahlah denganku, Ganaya.


Terlihat netra gelap milik Ammar berpendar kesana kemari untuk menyisir kamar Ganaya yang masih terlihat berantakan, sesaat dirinya menghempaskan bokong untuk duduk bersisihan dengan Ganaya di bibir ranjang.


Kamar tidur dengan luas 10 x 10 meter, bercat kuning dan sebagian dinding lain yang di pasangkan wallpaper dengan gambar karikatur Spongesbobs Squarpant. Ingin sekali Ammar mentertawakan wanita ini.


"Sok dewasa lah, padahal dia juga masih bocah. Lihat aja, masa karikatur si Sandy hanya pake behaa aja masih dipasang gede-gede gitu, ck." Ammar bergumam dengan gelengan kepala samar.


Betul memang, para kartun kesukaan Ganaya terpampang nyata di mana-mana. Wanita itu suka sekali patung-patung kartun. Seperti Spongesbobs, misalnya.


Ia melirik Ganaya yang masih diam membisu. Sudah berpuluh menit, mereka seperti ini. Ganaya diam, dan Ammar tetap menunggu. Malam ini, lelaki itu menang banyak. Sudah mendapatkan pelukan dari Ganaya dan saat ini bisa berduaan di dalam kamar.


"Mau sampai kapan kamu diam, Gana? Ayo di makan mentainya." Ammar akhirnya membuka suara.


"Bibir kamu kering 'kan, pasti? Pasti bau jigongg ... nih, aku bawain jus berry." lelaki itu mengeluarkan makanan dan minuman di atas ranjang. Ia duduk menyila.


Ganaya mencebikkan bibir lalu melirik. Seperti bayangan Ammar, kalau wanita itu pasti lapar.


"Kamu harus makan. Biar banyak tenaga, Nangisnya di tunda dulu. Dilanjut besok lagi."


Ganaya mendengus. Ia pun menurut dan mengangkat kaki untuk duduk menyila. Menatap Ammar yang sedang menyiapkan makanan dan minuman itu untuknya.


Ganaya menggeleng, ketika Ammar mau menyuapinya. "Aku bisa sendiri." Ganaya meraih sendok plastik itu dari tangan Ammar.


"Baiklah."


"Sejak kapan kamu tau aku suka mentai salmon?" Ganaya masih menunduk mengaduk-aduk mentainya.


"Sejak dulu."


Tangan Gana terhenti. Ia mendongak menatap Ammar.


"Kamu suka mentai salmon, bebek bakar, sop daging tulang rangu, jus berry, es jeruk, dan susu full cream. Lebih suka pakai dress dibanding kemeja. Lebih suka pakai flats hoes dari pada high heels. Lebih suka digerai dibanding dikuncir. Suka warna biru navy. Suka nyanyi, walaupun lebih bagusan suaraku. Kamu Presdir hebat dan kaya, tapi tetap saja hebatan aku dan tentunya aku yang lebih jutawan. Haha."


Kaca-kaca di bola mata Gana kembali tampak. Ia menatap legam wajah Ammar.


"Bodohh kamu! Bodohh! Untuk apa Ammar? Untuk apa kamu beri hati kamu buat aku?"


Ammar tersenyum. Kemudian menghela napas. "Tuhan yang kasih rasa ini, aku enggak bisa apa-apa."


Gana menangis. Menangisi kebodohannya.


Ammar menyeka air mata wanita itu dengan buku-buku jarinya. Lalu meraih sendok yang begitu saja dibiarkan mengatung di udara. Memasukan mentai ke dalam mulut Gana, disaat wanita itu masih menatapnya dengan air mata.


"Menikahlah denganku, Gana. Hanya aku yang bisa menerimamu apa adanya."


Gana menggeleng dengan mulut yang penuh. Mencoba mengunyah dalam tangis.


"Ijinkan aku melukis senja. Untuk mengukir namamu di sana. Mengobati lukamu agar kering dan tertutup. Membasuh lelahmu, menghapus air matamu. Maka dari itu ... jadilah istriku, Gana." gulungan air bening menetes, membuat jejak garis lurus dari sudut mata Ammar.


Tepi hati Ganaya berdesir hebat. Terenyuh sekali. Jiwanya bergetar, sebegitu murni nya 'kah, perasaan Ammar kepadanya?


Buru-buru Gana mengunyah sampai habis dan mendorongnya dengan jus berry. Mengatur napas yang terasa berat. Menurunkan tangan Ammar yang ingin menyodorkan sendok berisi mentai lagi kedalam mulutnya.


Gana memegang pipi Ammar. Mengusapnya lembut. "Kamu tidak mengenal aku, Ammar."


"Aku sangat mengenalmu. Bahkan lebih dari dirimu sendiri." jawab Ammar mantap.


Hening. Mereka saling bersitatap dalam perasaan yang sangat berbeda. Jika Ammar menatap dengan cinta, beda hal dengan Gana. Wanita itu menatap dengan rasa sayang kepada saudara.


"Menikahlah denganku, Gana ..."


"Kamu Adikku, Ammar. Kita ini saudara, apa kata keluarga besar kita nanti?"


"Saudara dari mananya sih? Darah juga gak sama, kedua orang tua aja beda wujudnya!" decak Ammar.


Lelaki itu mulai sebal. Melihat tingkah Ammar seperti ini, membuat Gana perlahan-lahan bisa mengembangkan garis senyumnya walau hanya setipis benang.


"Aku mencintaimu, Gana ..."


"Ya, aku tau. Dan kamu juga tau apa jawabanku."


Ammar mengusap wajahnya kasar. Menggeleng frustasi. Rasanya ingin membawa tubuhnya pergi bersama ubur-ubur dan patrick yang hobinya selalu bertelanjang dada dan hanya pakai celana saja.


Gana kembali menyantap mentainya. Rasa enak dan gurih dari makanan itu membuat ia bernapsu untuk menghabiskannya. Ammar hanya bisa mengawasi Ganaya dengan kedua tangan terlipat di dada dan wajah cemberut.


"Demi lelaki itu, kamu membanting si Mister krab?"


Gana menoleh ke sudut tumpukan benda-benda yang tanpa sadar ia hancurkan ketika sedang emosi beberapa jam yang lalu. Terlihat banyak barang-barang kesayangannya yang menumpuk di dalam plastik dan hendak di buang. Bik Iyum akan membuangnya besok pagi.


Ganaya mengangguk. "Aku tadi sedang emosi. Sudah, jangan sebut makhluk itu!" Gana mencoba menguatkan hati untuk tidak ingat dengan kejadian hari ini. Walau dipaksa untuk lupa, ia malah semakin teringat.


Ammar tertawa renyah. "Baguslah."


"Kamu mau?" Gana ingin memasukan mentai itu kedalam mulut Ammar.


Ammar menggeleng. "Buat kamu aja. Nanti kamu enggak kenyang." padahal kenyataannya lelaki itu belum makan sedari siang. Melihat Gana sudah mau makan saja, hatinya sangat senang. Rasa lapar Ammar sepertinya sudah sirna, begitu saja terganti dengan rasa bahagia.


Gana mengangguk dan kembali menyantapnya. Ammar beranjak dari ranjang dan berjalan menuju meja rias Ganaya.


"Kamu sedang cari apa, Ammar?" tanya Gana dengan kerutan kening yang mulai tampak, ketika lelaki itu sedang menggenggam gunting. Lalu membuka laci nakas yang kedua. "Nah, kan dapat lagi." gumamnya. Ammar mengambil sebuah cutter berwarna merah.


Ia mengambil plastik bekas bungkusan makanan, dan memasukan gunting dan cutter kedalamnya. Ganaya semakin menyerengitkan dahi, ketika Ammar melangkah menuju kamar mandi.


"Ammar ..." serunya.


Ammar kembali menyembulkan diri dari balik kamar mandi dan membawa jepitan kuku. Bola matanya kembali menyisir ke setiap lekukan tempat. Untuk mengumpulkan benda-benda tajam tersebut.


Dan, Ganaya semakin dibuat bingung. Mau apa, lelaki ini?


Ganaya berdiri dan menatap Ammar. "Kamu mau ngapain sama benda-benda itu?" ia menunjuk kedalam kantung plastik.


"Aku takut kamu bunuh diri."


"Hah?" Ganaya melongo hebat dan mulut menganga.


"Kamu nih, ya!!" Ganaya mengambil bantal. Ia bermaksud untuk memukul Ammar. Namun lelaki itu dengan gerakan cepat menghindar dan terus meledek Ganaya. Mencoba menjauh, dan Gana akan terus mengejarnya ke sisi dan sudut kamar. Mereka kejar-kejaran dengan gelak tawa yang renyah.


Sampai di mana, Ammar bisa mengendalikan Ganaya dan mereka jatuh ke ranjang dengan posisi Ammar sudah ada di atasnya, entah sejak kapan. Mereka kembali saling menatap lekat bola mata masing-masing. Aroma napas kembali bersatu, mereka bisa merasakan hawa wangi dari hembusan napas masing-masing.


Jantung Ammar berdegup kencang. Hatinya bergetar, lelaki itu idak percaya bisa sedekat ini dengan Ganaya.


Ammar menyeka poni Gana yang sedikit menutup kelopak mata wanita itu. "Menikahlah denganku, Gana. Jadilah istri dan Ibu dari anak-anaku." Ammar kembali memohon.


Gana ingin mendorong tubuh Ammar sepertinya yang sudah ia lakukan kepada Adri, tadi siang. Namun entah mengapa tubuhnya tidak bertindak apa-apa. Seakan mengizinkan Ammar untuk tetap berada dengan posisi seperti itu.


"Aku mencintai----"


Tok tok tok.


"Gana ..."


Lidah Ammar tercekat, belum saja selesai menuntaskan kalimatnya, sudah ada gangguan dari luar. Ganaya yang kepalang takut, langsung mendorong tubuh Ammar untuk beranjak dari tubuhnya.


"Itu, Mamaku. Ayo cepat kamu sembunyi, Ammar!" titah Ganaya, lantas beranjak berdiri dan kemudian melangkah menuju pintu.


Ammar menggeleng dengan wajah jenaka. "Syukur-syukur ketahuan. Biar kita bisa di nikahin sekalian."


Ganaya menghentikan langkahnya, dan menoleh tajam. "Jangan bodoh, Ammar!"


"Gana ... ayo shalat tahajud dulu."


Ganaya semakin panik, ketika Mamanya terus mengetuk dan menyerukan namanya.


"Kamu yang bodohh, Gana! Mau melepas lelaki setampan dan sebaik aku."


Ganaya semakin mendelikan matanya. Ia memutar langkah, sembari melepas sendal yang ia pakai, dan hendak di sentakan ke tubuh Ammar.


"Ehh---eh, iya ... iya." Ammar menjauh dengan kedua tangan yang ia julurkan kedepan seakan membela diri. "Masuk!" Ganaya menunjuk ke dalam kamar mandi.


"Cium dulu dong, calon suaminya." percaya diri sekali Mafia ini.


"AMMAR!!" Ganaya memukul lengannya. Bukan merintih, namun Ammar mendekatkan pipi kanannya ke wajah Ganaya. "Pilih mana? Cium aku, atau Tante Difa tahu aku ada di sini?"


Ganaya mendengus kesal. Tidak ada pilihan baginya selain menuruti keinginan lelaki itu.


CUP.


"Ahh ... yess!" Ganaya langsung membekap mulut Ammar, yang tanpa sadar bersorak gembira.


Senang sekali lelaki itu, bisa mendapatkan kecupan dari Ganaya. Walau singkat. Benar-benar Ammar, bisa mendapatkan kesempatan dalam kesempitan. Namanya juga Mafia, idenya banyak.


"Ayo, masuk!!" Ganaya mendorong tubuh kekar Ammar ke dalam kamar mandi.


"Yang ini enggak?" Ammar menunjuk bibirnya.


"Dasar anak kecil!"


"Aduuduhhh ..." Ammar berteriak, ia mengusap lengannya yang terasa panas. Ganaya menghempaskan cubitan di sana.


"Tunggu di sini!" titah Ganaya Lalu menutup pintu kamar mandi.


"Ah ... yes ... yes!!" Ammar bersorak girang didalam kamar mandi. Istimewa sekali malam ini, walau kehadirannya dianggap seperti maling. Dan mungkin ia akan lompat dari jendela untuk bergegas pulang nanti.


Namun tidak masalah, malam ini ia sudah menang banyak. Bisa memeluk dan mendapatkan kecupan hangat dari Ganaya.


"Mampuss kamu, Adri! Berkat kebodohanmu, aku bisa menang! YESSSS!!"


***


Nakal nih bocah, pake segala ngatain behhanya si sendi lagi🤪😂.


Like dan Komennya yah🌺🤗.