Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Berbahagialah Selalu, Bapak dan Ibu


Setelah mendaratkan tamparan panas di permukaan pipi sebelah kanan Farhan, Gana kembali bernafsu untuk menghentakkan tamparan lagi dari telapak tangannya di pipi sebelah kiri Farhan.


Pak.


Farhan meradang. Sorot mata nya berkilat-kilat bagai petir yang akan menyambar. Tangan Gana mungil, tapi kekuatannya sangat besar. Terbukti kedua pipi Farhan memerah drastis.


Semua mata melongo tidak percaya. Begitupun Ammar yang malah tidak berkutik sama sekali. Lelaki itu terkejut dalam lamunan.


Benarkah ini istrinya? Bar-bar begini?


Walau dirinya akan dianggap sebagai wanita kasar, tidak beretika atau mungkin bisa dilaporkan atas tindakan yang tidak menyenangkan, Ganaya tidak perduli. Yang penting hatinya puas, membalaskan rasa sakit hati atas apa yang telah lelaki itu lakukan kepada suaminya selama ini.


"Dasar parasit! Lelaki jahanamm! Brengsekk!" Gana melampiaskan segala amarahnya yang sejak tadi siang begitu membara di dada tanpa bisa dikeluarkan.


Makian Gana membuat kulit wajah Farhan memerah dengan meremang, lelaki itu tersentak bukan main.


Kenapa sasaran jadi dirinya, sekarang?


"Sayang, jangan begini." Ammar menarik tubuh Gana agar sedikit menjauh dari Farhan.


Gana menggeliatkan tubuhnya dan menepis tangan Ammar. Gana melototkan matanya tajam, sampai Ammar menyerengit kaget.


"Lepas! Aku juga punya urusan dengan kamu, Ammar! Tapi sebelum itu, aku harus menyelesaikan semua ini dengan lelaki bajingan itu!" Gana mengarahkan jari telunjuknya tepat ke wajah Farhan.


Gana melangkah tepat di hadapan lelaki yang ia anggap sebagai biang kerok.


"Tinggalkan suamiku! Aku tidak rela, berbagi Ammar dengan kamu, Farhan! Tidak 'kah kamu kasian, mengubah sahabatmu sendiri menjadi, PENJAHAT dan PEMBUNUH? Sahabat yang baik tidak akan mencemburkan sahabatnya sendiri ke dalam lubang kenistaan!"


DEG.


Dada Farhan semakin remuk. Cahaya di wajahnya sudah habis dan menggelap. Dibawah langit malam, ia langsung dimaki tanpa bisa membela diri.


Apa yang Gana ucapkan, memang tidak bisa di sangkal. Ammar, Bima dan Denis hanya bisa diam tergugu.


"Jangan asal menuduh! Kamu tau apa tentang kami?" Farhan membuka suara. Ternyata Ia cukup mempunyai kekuatan untuk membela diri.


Gana berdecih dengan ejekan. "Jangan fikir aku tolol, Farhan! Aku bukan dia----" Gana menoleh ke arah Ammar dan menunjuknya.


"Yang bisa kamu bohongi, kamu curangi, kamu dustai! AKU TAU SEMUANYA TENTANG KAMU, KEPARATT!!" Gana memaki, melampiaskan lagi rasa dendamnya. Wanita itu sampai mencengkram dan menarik permukaan jaket kulit di area dada Farhan.


Gana meradang. Belum lagi ia tahu, jika dibalik kecelakaan beberapa tempo lalu, yang menyebakan ia sampai lumpu berbulan-bulan karena ulah lelaki sialann itu. Gan pasti sudah menusuknya.


"Jangan memfitnah tanpa bukti! Aku bisa


menuntut kamu, Gana!" sentak Farhan.


Mendengar ucapan Farhan sungguh membuat Gana muak dan mual. "Dasar lelaki tidak tau malu!" Gana berteriak sambil memukul-mukul dada lelaki itu.


"Keterlaluan kamu! Bisa-bisanya mengubah suamiku menjadi manusia tidak bermoral! Aku tau apa yang kalian kerjakan! Aku tau semua!"


"Apakah aku harus melaporkanmu dulu ke polisi tentang tindakan kriminal kalian? Agar kamu percaya, kalau AKU SUDAH TAU!" pekik Gana kencang.


Pangkal bahu semua orang yang mendengar bergedik naik. Seram sekali Gana, Ammar saja yang sudah menjadi suami, baru tahu keaslian Gana ketika sedang mengerang dalam emosi.


Kemana nyali Ammar yang sejak kemarin berucap kencang dan kasar kepada Gana? Sekarang malah meringkuk seperti ulat bulu yang akan di injak. Menatap Gana saja ia tidak berani.


Istrinya sudah tahu semuanya? Benarkah?


Ammar hening lama. Menghembuskan napas kasar yang diiringi rasa penyesalan.


Bagaimana nasibnya setelah ini? Apakah Gana sudi menerimanya lagi?


"Jadi ini yang membuatmu berubah padaku beberapa minggu ini, sayang?" desahnya dalam hati. Menatap punggung Gana yang habis memaki-maki Farhan dengan tatapan sendu.


Kakinya terasa menciut tidak bisa menapak. Ia sampai tidak fokus untuk membela Farhan dari amukan Gana. Tetapi Ammar baru bertindak ketika Farhan mulai mencekal pergelangan tangan Gana.


"Han ..." seru Ammar. Seraya meminta agar Farhan mau mengalah dan mewajari emosi Gana malam ini.


"Lepas tanganku, brengsekk!" Gana kembali memekik. Membuat emosi Farhan kembali naik. Farhan menatap Gana dengan mata menyalang horor.


"APA? KENAPA DIAM? MAU TAMPAR AKU? AYO TAMPAR! DASAR LELAKI LAHNAT! Penjahat! Perusak! Pembunuh! Penghancur! Parasit! Kamu hanya memperdaya suamiku untuk kesuksesanmu, Farhan! Dasar, menjijikan!!" Gana terus memancing agar Farhan ikut bersua. Atau melalukan hal yang menyakitkan kepada dirinya, agar Ammar bisa menilai bahwa temannya ini memang bukanlah teman yang baik.


"JANGAN ASAL MENUDUH!" Farhan yang tidak tahan dicaci maki akhirnya berteriak dan tanpa sadar mengadahkan ujung pistol tepat dahi Gana.


Sontak Bima dan Denis bergegas cepat.


JAG.


Farhan terperanjat, pun sama dengan Gana dan Ammar.


Ammar menatap Farhan tidak suka.


"Berani kamu sentuh Gana, Han! Aku bunuh kamu!" tunjuk Ammar kepada Farhan. Ia juga kepalang kaget, dengan sikap Farhan yang tidak bisa menahan emosi kepada wanita. Apalagi dengan Gana, istri tercintanya.


Ammar menarik Gana dan menyembunyikannya dibalik punggung. Walau wanita itu bergeliat dan meronta ingin tetap maju untuk menjambak dan mengacak-acak Farhan.


"Maafkan Gana, Han."


Bola mata Gana membeliak. Apa-apaan ini? Wanita itu melototkan matanya tidak suka. Ia mengigit bahu Ammar, dan yang digigit mengerang sakit.


"Apa-apaan kamu, meminta maaf atas namaku kepada laki-laki yang sudah menghancurkan hidup kamu, Ammar! Kamu bisa salah jalan seperti ini, karena dia! KARENA DIA!!" Gana menegaskan dengan terperinci. Gana kembali menunjuk wajah lelaki itu dengan penuh amarah yang menyala-nyala.


Farhan semakin bernafsu untuk membunuh Gana. Sesak dadanya dipermalukan oleh seorang wanita sampai ke akar-akarnya.


Bima dan Denis masih mengarahkan ujung pistol ke wajah Farhan dari samping kanan dan kiri wajahnya. Farhan tidak bisa berkutik, ia menurut untuk menurunkan pistol.


"Sekarang jawab! Kamu lebih pilih dia atau aku?" Gana melemparkan pertanyaan kepada Ammar.


Dunia pun tau jawabannya. Tanpa aiueo, Ammar menjawab cepat. "Aku pilih kamu, sayang." jawab Ammar dengan polos. Gana kembali menatap Farhan dengan dada yang membusung dan bertolak pinggang. Penuh kebanggaan.


"Kamu dengar 'kan? Apa pilihan suamiku? Enyah lah dari hidup kami! Jika kamu masih nekat untuk masuk kedalam hidup Ammar, aku tidak akan segan-segan melaporkan kamu ke polisi! Bukti kasus pembunuhan yang kamu lalukan terhadap Alex, ada ditanganku!" ucap Gana lantang. Wajahnya tegas tidak menyembulkan rasa takut sama sekali.


"Apa? Alex?" bukan Farhan yang bertanya. Tapi Ammar dengan alis yang bertaut. Lelaki itu masih tidak mengerti.


Farhan tetap diam dengan wajah menyeringai tawa. Walau dalam hatinya, jantungnya tengah berdebar-debar tidak karuan.


Dari mana kah Gana mengetahuinya? Dan benarkan Alex benar-benar sudah mati? Bagaimana Gana bisa membongkar rahasia mereka seperti sekarang ini? Farhan terus bertanya-tanya dan mencoba untuk menganalisanya nanti.


"AYO PULANG!" Gana menarik tangan Ammar yang sedang hening mencerna ucapan istrinya barusan tentang Alex. Gana melenggang langkah dan menggandeng Ammar, seperti anak kecil yang sedang di tuntun oleh Ibu.


Ammar menurut dan mengekori langkah Gana, begitu pula Bima dan Denis yang ikut enyah dari hadapan Farhan.


Farhan menyesalkan sikap Ammar yang begitu saja pergi meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata pun. Bagaimana nasib nya setelah ini dengan Mr. Jang, Ammar juga tidak perduli.


Yang Ammar fikirkan sekarang memang hanya Ganaya. Bagaimana nasibnya setelah ini?


Mereka berempat bergegas naik ke dalam mobil dengan langkah cepat. Denis masuk ke pintu kemudi, dan Bima duduk disebelahnya. Sedangkan Ammar dan Gana duduk di kursi penumpang belakang.


Ammar beringsut mendekati Gana dan menggenggam tangannya untuk mengucap kata maaf. Dan tanpa Ammar sadari.


PAK.


Gana mendaratkan tamparan panas bolak-balik di kedua pipinya. Bima dan Denis saling menatap namun hanya bisa diam. Mereka kembali tersentak.


"Dengarkan aku, Ammar! Aku datang kemari memintamu pulang hanya semata-mata ingin menjauhkan dia dari hidupmu! Ingin mengembalikan mu ke hidup yang normal seperti dulu! Aku ingin orang tuamu tetap memujamu dalam keberhasilan tanpa tahu aib terbesarmu!"


"Tapi maaf, aku tidak akan semudah itu untuk memaafkanmu! Dan, mulailah untuk menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk sidang perceraian kita nanti!"


DEG.


Ucapan yang paling dibenci kembali menggema ditelinga Ammar. Bima dan Denis saja sampai melotot tidak percaya. Sebenarnya Gana sedang sengaja memainkan perasaan Ammar, agar lelaki itu jera. Supaya tidak mau lagi terpengaruh dengan Farhan. Karena sejatinya Gana tahu, pengaruh Farhan sangatlah kuat, tidak akan semudah itu membuat Ammar berpaling darinya.


"Aku tidak mau bercerai, Gana. Aku sayang kamu." ucap Ammar amat lirih. Tidak tanggung-tanggung lelaki itu menundukkan kepalanya di paha Gana dan mulai mengeluarkan air mata.


Gana hening menatap Ammar yang sedang bersikap seperti anak kecil. Gana menatap kedepan, menangkap pandangan mata Bima dan Denis yang juga sedang menatapnya dari balik kaca spion.


Bima dan Denis seketika tersenyum, membalas senyuman jahil yang Gana berikan. Lega hati mereka, karena tahu Gana hanya sedang berpura-pura, tidak benar-benar berniat untuk menceraikan Presdirnya.


"Berbahagialah selalu ... Bapak dan Ibu." batin Bima dan Denis.


Terpujilah sikap Ganaya sebagai istri. Malaikat bertepuk tangan ria menatap Gana, yang begitu mati-matian memperjuangkan suaminya dengan merelakan nyawanya yang hampir saja terancam. Baginya, mati tidak masalah. Yang penting Ammar kembali ke jalan yang benar. Jalan yang di ridhoi oleh Allah dan Orang tua.


****


Masa-masa Gana akan ngerjain Ammar abis-abisan, saling memaafkan, masa-masa penuh cinta. Sebelum aku uji lagi kisah cinta mereka.


Like dan komennya jangan lupa yaw🌺


Bima dan Denis emang butuh cewek nih, biar gak abstrak hidupnyaa😂😂😂