
"Dek, bangun. Sahur ...," seru Maura sambil mengetuk pintu kamar Ammar. Bersamaan dengan itu, ada Ammar yang baru keluar dari kamar mandi, ia baru selesai mandi junub. Karena semalam, sehabis makan nasi goreng di pinggir jalan ala-ala sepasang kekasih, Gana dan Ammar memadu cinta di ranjang.
Ia mendekat ke pintu tapi tidak membukanya, saat ini dirinya hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang. "Iya, Kak. Nanti, Adek nyusul,"
"Ya." berlalu lah Maura dari daun pintu menuju meja makan, karena di sana keluarganya sudah berkumpul, ada suami, anak, keponakan dan orang tuanya.
Ammar bergegas membuka lemari dan mengambil baju salin, lantas memakainya cepat, karena waktu sudah menunjukan pukul empat, setengah jam lagi akan masuk imsak.
Ia kecup Gana yang masih tertidur pulas dalam gulungan selimut untuk menutup tubuh polosnya. Dengkurannya kentara sekali dari mulutnya yang sedikit menganga.
"Aku sahur dulu, ya, Sayang," ucapnya. Ia benarkan posisi kepala Gana yang meleset dari bantal. Ammar tersenyum, membelai wajah istrinya, ia kembali terbayang saat Gana menjadi nahkoda permainan tadi malam, tentu dengan bimbingan dan kemauan Ammar yang ingin seperti apa. Mereka bermain lembut, karena ingat ada janin yang masih muda di dalam rahim Gana.
"Ya Allah, pagi-pagi buta keramas ...," goda Geisha, sesaat Ammar menghempaskan bokong di kursi yang bersebelahan dengannya. Semua sedang menyantap hidangan sahur, hanya Ammar yang datangnya telat.
Ammar mengusak rambut Geisha. "Merhatiin aja,"
"Ya iya lah merhatiin, orang rambut Om basah." Geisha mencebikkan bibir.
"Di gempur terus, yang ada pas lahiran ada empat," imbuh Gifali dengan kekehan.
"Aamiin, semoga di ijabah. Totalnya langsung jadi sembilan," balas Ammar senang, yang mana langsung direspon dengan delikan mata dari ketiga anaknya. Taya, Aidan dan Aurora, mereka memicing mata tidak suka.
"Papa mau tambah Adek lagi?" tanya Taya memastikan.
"Kan udah, Nak. Itu Mamamu lagi hamil," timpal Papa sambil memasukan nasi ke dalam mulut.
"Maksud Taya, Kek. Habis Mama lahiran," Aidan yang meluruskan.
"Iya, Nak. Insya Allah, kalau Allah kasih lagi---" dan ucapannya mematung manakala Mama yang sedang menuangkan nasi untuk Ammar memainkan mata sebagai kode untuk tidak berbicara seperti itu. Mama paham, anak-anak keberatan.
Papa menatap Ammar dengan gelengan kepala. "Beternak terus, enggak ada habis-habisnya."
Gifali masih saja tertawa. "Biar rame, Pah."
"Enggak 'ah, Om! Rora enggak mau punya Adek lagi!" Rora menyela dengan raut tidak suka. Ia sampai meletakan sendok nya lagi di piring, tanda tidak napsu makan.
"Aku kasian sama Mama. Muntah-muntah terus! Karena dedek bayi, Mama jadi enggak bisa puasa bareng kita," air mata menggenang di pelupuk matanya.
Maura mengelus bahu keponakannya yang sedang duduk bersebelahan dengannya. "Papa hanya bercanda. Jangan di ambil hati, ya, Nak. Ayo makannya lanjutin," titah Maura lembut. Maura beralih menatap Ammar dengan sudut bibir yang dimiringkan.
"Papa bercanda, Sayang," timpal Ammar. Rora hanya diam saja, ia kembali mengunyah dengan wajah cemberut. Pun sama dengan Taya dan Aidan.
Dan tak lama. Ada suara tangis Adela muncul dari kamar atas. Ammar yang baru menyuap langsung mendongak ke arah tangga menuju lantai atas.
"Haduuh, masih subuh udah nangis," celetuk Dipta sambil mengigit kerupuk.
"Tolong jemput, Dek. Bawa sini!" titah Papa Bilmar kepada Dipta, lalu beralih kepada Ammar yang baru saja ingin bangkit dari duduknya, ingin menghampiri Adela ke atas.
"Kamu duduk! Habiskan makananmu, sebentar lagi imsak," Ammar mengangguk dan kembali melanjutkan makan. Karena Papa tahu Dipta sudah selesai makan, maka ia yang ditugaskan menjemput si keriting.
"Kakak ... Kak!" seru Maura kepada Bisma. Dan yang di serukan, malah memejam mata, menyandar di sandaran kursi sambil mengunyah makanan. Dan saat kunyahan nya sudah habis, Papa Bilmar memasukan sambel dengan sendok ke dalam mulut Bisma.
"Ahh! Pedas!!" teriak Bisma. Semua pun bergelak tawa. "Melek 'kan jadinya," ucap Papa santai.
"Kakek tega 'ih, aku kan nggak suka sambal!" dengus Bisma setelah meminum air banyak-banyak ke dalam kerongkongan untuk menyapu lidah dari rada pedas.
"Makanya makan yang benar! Itu nasi mu masih banyak, Bisma!" Papa mengingatkan.
Bisma mencebik dan bergumam pelan. "Aku malas sahur."
"Mau makan apa, Nak? Mau mie?" timpal Mama.
Bola mata Bisma membeliak sempurna, ia senang karena ada angin segar. Sang Nenek yang ia sayang memberikan opsi yang membahagiakan. Karena Mama tahu kesukaan setiap cucu-cucunya.
"Indomie goreng, Nek. Pakai kornet---"
"Makan lah apa yang sudah tersaji. Jangan pilah-pilih, di luar sana banyak yang tidak seberuntung kita bisa makan dengan menu seperti ini," selak Papa, membuat Bisma melipat bibir dalam-dalam. Gifali dan Maura hanya tersenyum saja melihat ulah sang Anak.
Bisma menatap Neneknya. Ia tetap bergumam pelan. "Mau mie, Nek,"
"Di bilangin enggak ngerti!" Papa kembali memunculkan taring.
"Nenek buatin," Mama menyela. "Papa enggak usah marah-marah, nanti gigi palsu kamu loncat," Mama beranjak bangkit dari kursi setelah menepuk bahu suaminya. Ia berjalan menuju dapur.
"Mah, enggak usah. Biar Kakak aja yang masakin---" Maura ikut bangkit, mengekor langkah Mama ke dapur. Karena para art pun tengah menikmati sahur, tidak enak jika Mama merepotkan mereka lagi.
"Haha, gigi palsu!" seru para cucu. Papa Bilmar pun ikut terkekeh, ia malah mengeluarkan gigi palsunya dari kotak, ia tunjukan kepada semua yang ada di meja makan.
Ginka dan Ghea sampai menutup mata. Aidan saja sampai ingin muntah melihatnya.
"Serem 'ih, Kek!" seru Geisha, ia menatap geli.
"Calon Dokter masa takut!" gerutu Papa.
"Bukan takut, tapi ... em ...," jika ia bilang jijik, Kakeknya pasti marah. Geisha hanya menggeleng sambil menaikan pangkal bahu.
"Papa!" seru Adela, ia mengulurkan tangan ke leher Ammar dari gendongan Dipta.
Ammar dudukan Adela di pangkuannya. "Mau makan, Nak?" tanyanya.
Adela menggeleng. Ia hanya menyandar lemah di dada Papanya. Sambil menatap seluruh makanan yang ada di meja. Mulutnya terus menguap. Sebenarnya ia masih mengantuk, tapi karena tadi saat ia terbangun tidak mendapati siapa-siapa di sisinya. Maka, anak itu menangis.
"Sini yuk, gendong sama Kakek, Papamu kan lagi makan," Papa Bilmar beringsut untuk mendekati kursi Ammar. Ia ingin meraih Adela, cucu terlucu. Adela menggeleng. "Ndak 'ah, Kek. Mau cama Papa atah!"
"Dipta nih, Kek. Minta di gendong," seloroh Geisha. Ia menunjuk Dipta yang sedang memakan apel.
"Minta disunat kali, udah tua masih minta di gendong," jawab Papa. "Nanti abis subuh, urut Kakek, ya," titah Papa kepada Dipta. Sekarang giliran dirinya.
Dipta melototkan mata ke arah Geisha. "Kakak 'sih! Cari penyakit aja!"
"Dari Subuh sampai Duha ngurut nya, biar puas," timpal Ammar.
Dipta mendengus bete menatap Ammar. "Mulai deh, Om!"
Gifali dan Ammar hanya tertawa saja melihat tingkah laku Papa mereka yang selalu minta di urut dalam setiap kesempatan. Papa juga tak segan-segan meminta di urut oleh Gifali, dan lelaki teduh itu akan menurut saja. Yang penting mertuanya senang.
...🌾🌾🌾...
"Bangun!!"
"Duh, perih, Kek!" Dipta yang sedang asik tidur di atas sofa mengerang sakit, saat Kakeknya menarik daun telinganya.
"Tidur terus perasaan! Ayo bangun, ngaji!" seru Papa. Dipta pun beranjak duduk, untuk menguatkan raga nya.
"Tidur di bulan puasa itu 'kan ibadah, Kek," balas Dipta. Ia masih mengusap-usap telinganya yang terasa panas.
"Kalau tidur dari pagi sampai Ashar begini, itu bukan lagi ibadah! Tapi lagi latihan buat jadi calon jenazah!"
Dipta mengusap dada. "Astaghfirullah."
Aidan yang sejak tadi terduduk lemas di sofa tidak jauh dari Dipta, yang juga tengah setia menunggu arah jarum jam agar terus bergulir cepat ke kanan menunggu adzan Maghrib, tertawa melihat Kakak sepupunya tengah diomeli oleh Kakek mereka.
Anak itu menyengir kuda, sampai di mana tawanya surut ketika mencium aroma mengenakan dari mangkuk berisi mie kuah yang di bawa Adela.
"Kakak cuapin akuh, dong. Mama agih belsihin Adek, tatih Adek pup," ucap Adela. Niatnya mie tersebut ingin di santap Gana berdua dengan si keriting, berhubung Alda menangis karena buang air besar, maka Gana menitah Adela untuk makan duluan.
"Minta suapin sama Kak Rora ajah! Aku 'kan lagi puasa, masa iya nyuapin kamu! Kalau aku mau, gimana?"
"Kek ...," seru Dipta kepada Kakek yang sudah melenggang langkah menuju Mushola setelah memarahinya.
"Aidan mau buka katanya. Mau mie, Adeknya," tukas Dipta. Ia hanya mendengar ujung kalimat Aidan kepada Adela.
Dari jauh, di balik baju kokoh dan sarungnya, Papa Bilmar menautkan alis ke arah Aidan. Takut jika di marahi seperti Dipta, Aidan lantas menggeleng.
"Bohong, Kek." Aidan membela diri. Dan Dipta tertawa-tawa melihat ekspresi Aidan yang gelagapan.
"Kalau puasanya enggak full, Kakek sunat Kamu habis lebaran," ucap Papa.
Aidan menggeleng takut. "Aku puasa full 'kok, Kek." ia memang belum mau di sunat. Masih saja takut, padahal Ammar sudah membujuknya berkali-kali.
"Sunat aja sekarang, mumpung semua lagi pada kumpul," selak Bisma yang baru datang dan menghempaskan bokong di sofa.
"Iya, benel-benel," timpal Adela ikut tertawa. "Ih, kamu!" Aidan mencubit Adiknya. Dan si keriting pun menangis lagi.
"Diem nggak! Kakak botakin nih rambut kamu!" ancam Bisma. Adela yang takut hanya mengangguk pasrah, menghentikan tangis.
"Sini, Kakak suapin." Bisma mengambil mangkuk yang tengah Adela pegang, ia mulai menyuapi.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...