Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Permata Hatiku.


Hening.


Mereka saling beradu dalam debaran jantung yang terus berpacu. Gana menutup mata, dan bibirnya masih belum terlepas. Seakan tahu jika Gana sedang menunggu, lantas Ammar membuka bibirnya untuk melumatt bibir sang istri. Ia memulai permainan.


Kedua tangan Ammar terangkat untuk memegang perpotongan dagu istrinya. Tangan Gana yang sejak tadi hanya mengatung statis, samar-samar berpindah, melingkar di pinggang sang suami.


Ammar melahap habis, menumpahkan rasa rindu dan hasrat yang sedang membara. Hatinya semakin bergejolak, ketika Gana pelan-pelan membalasnya. Ciuman semakin menuntut ketika lidah mereka berbelit.


"Euh, sayang ..." Ammar melenguh.


"Alhamdulillah Ya Allah ..." ternyata ada sepasang mata yang sedang menumpahkan air bening.


Mama Alika mengucap syukur melihat kemesraan sang anak dan menantunya dari balik pintu yang tidak sengaja ia buka. Bermaksud ingin membangunkan ketiga cucunya. Namun urung.


"Ngapain, Mah?"


Bola matanya langsung membulat. Lantas beranjak untuk menutup pintu lagi dengan amat pelan, meninggalkan Ammar yang masih berdiri memeluk dan bercumbu dengan Gana dipertengahan ruang kamar.


Mama Alika menoleh dan mendapati suaminya yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Mama ngapain, ngintipin adek?" kepala Papa juga ingin meloroh masuk kedalam, namun pintu kamar keburu tertutup.


"Ish! Ngagetin aja!!" decak nya. Mama mendorong tubuh Papa agar sedikit menjauh.


"Dosa kamu ngintipin anak."


"Enggak sengaja, Pah. Mama tadi tuh mau bangunin cucu-cucu."


"Alesan aja kamu tuh. Bilang aja lagi pengin yak?" Papa terkekeh.


Mama mendengus sambil mendelikan mata. "Sembarangan kalau ngomong!"Mama menjawil bibir suaminya.


"Ayo Papa juga pengin." ucap Papa dengan wajah jenaka.


Pangkal bahu Mama seketika naik. Wanita itu merinding.


"Enggak mau ah, Papa bau balsem." Mama mencium mengendus aroma tubuh suaminya.


"Bukan balsem, tapi fresh care." Papa menunjukan botol kaca kecil dari saku celananya.


Mama menepuk jidad, meneruskan langkah dengan gelengan kepala. Ia meninggalkan suaminya yang masih saja memaksa.


"Enggak usah takut, Mah. Si Sassy enggak akan perih. Jagur nya kan gak di olesin Fresh Care."


"BILMAR!!"


Pasangan lansia yang masih bertubuh bugar itu terus saja merancau dalam gelak tawa, berbeda dengan Ammar dan Gana yang masih memadu kasih dalam keheningan.


Suasana semakin panas di dalam kamar. Berkali-kali Ammar sampai menginjak kaki istrinya, karena gerakan ciuman bibirnya yang semakin meradang, hot dan menggelegar.


Dengan bibir yang terus memagut, Ammar membawa tubuh Gana untuk menyentuh dinding. Ammar menghimpit tubuh mungil itu di sana.


Decitan saliva dari keduanya begitu jelas terdengar. Kedua mata mereka saling memejam seiring tangan yang saling menggenggam.


Ammar terlihat rakus, menghentikan persatuan mulut hanya untuk mengambil oksigen di udara yang mulai terkikis di antara mereka.


Kadang Gana membalas, kadang ia diam hanya menikmati. Rasa cinta yang belum hadir, selalu membuat sugesti dalam kepalanya, untuk tidak mau melakukan hal ini.


"Ayo Gana, rasakan dulu. Tenang, rileks. Fokus ... hanya suamimu di hatimu, hanya dia ..." suara Mulan kembali terbayang.Gana yang mulai meredup, kembali bergairah.


Gana kembali membalasnya. Ammar semakin di rundung hasrat. Lelaki itu semakin buas, ini adalah ketiga kalinya mereka berciuman. Tapi yang saat ini lebih mengesankan.


"Hhh ..." Gana melepas paksa. Napasnya terengah-engah.


"Sabar, Ammar. Nanti aku mati." Gana benar-benar kesulitan bernapas. Semakin lama, Ammar semakin mendominasi. Sampai Gana saja sulit untuk menandingi permainan bibir tersebut.


Ammar tertawa dengan wajah penuh damba. "Panas bibirnya?" tanyanya. Tangannya ikut menyentuh bibir Gana yang sedang wanita itu sentuh.


Gana mengangguk sambil mengatur napas agar kembali normal. "Berdarah ya kayaknya?"


Ammar berdecis geli. "Kamu fikir aku vampir?"


Ammar kembali mendekatkan wajahnya untuk turun ke permukaan leher istrinya dan mengecupnya dengan tekanan kuat. "Ammar jangan tinggi-tinggi. Nanti kelihatan." Gana resah. Ammar mengangguk dengan telapak tangan kiri yang sudah naik ke permukaan dada dan meremas satu bongkahan salju milik Gana.


Bola mata Gana bergerak dalam kelopak yang sedang tertutup. Hatinya kembali gugup. Lagi-lagi ingin menyudahi.


"Kamu bisa, Gana. Layani saja dulu. Rasakan saja ..."


Gana terus fokus, ia mencoba menerima belaian dan sentuhan dari suaminya, walau hatinya masih kosong. Lagi-lagi ia ingin mendorong tubuh Ammar untuk menjauh. Dan sampai dimana sugesti di kepalanya lebih kuat. Ia berhasil mendorong tubuh Ammar.


Sang suami melepas segala permainannya. Ammar gelagapan. Ia tangkup wajah istrinya. "Maaf aku sudah kelewat batas ya." tatapan mata lelaki itu mulai gelisah.


"Layani saja dia, jangan buat dirimu berdosa." suara Mulan kembali berbisik.


"Iya dong, Mah. Gana tuh istri yang sempurna. Dia itu kayak Mama. Selalu mengurus Adek dirumah." dan suara Ammar yang sedang berbincang dengan Mama terus berputar-putar di kepalanya.


Lantas Gana menggeleng. "Buu---bukan, Ammar ... Aku----"


Dengan terpaksa, Gana mengangguk. Mungkin malam ini, Semesta ingin Gana melepas kehormatannya untuk sang suami.


"Kita pindah ke kamar, Kak Maura, aja ya." Ajak Ammar. Gana hanya mengangguk sambil memegangi bibirnya yang sudah tebal, panas dan agak perih. Ammar tidak sengaja mengigit bagian lunak itu karena gemas.


Krek.


Pintu kamar Maura dibuka olehnya. Kamar yang hanya sesekali di huni, jika sang Kakak menginap.


Gana di dudukan di bibir ranjang. "Lanjut lagi ya?" tanya Ammar. Gana mengerjap dua kali, rohnya seperti kembali masuk. Ia sempat melamun ketika sedang digandeng menuju kamar ini.


"Ya." jawabnya tanpa ekspresi. Ammar kembali menyergap, membenamkan mulutnya lagi untuk melumatt habis bibir Gana yang sudah membengkak. Dan selanjutnya, ia berhasil merebahkan Gana di pusaran kasur.


Ammar mengungkung Gana kembali. Bola mata mereka beradu setelah perpagutan bibir, Ammar akhiri.


"Apa aku sudah boleh meminta hak ku, Gana?" Ammar sepertinya lupa. Ia pernah bilang akan menunggu istrinya untuk mencintai dirinya dulu. Tapi, karena hasrat sudah kepalang tanggung membelit tubuhnya. Ia tidak bisa berfikir ke arah lalu, yang ia inginkan sekarang hanya pelepasan.


Gana mengangguk pelan dengan jantung yang bergemuruh. "Ayo, Gana. Lepaskan saja. Tidak apa-apa ... dia suamimu." bisik-bisikan entah dari mana kembali ia dengar tepat ditelinganya.


Ammar bermain cepat, sampai tidak sadar jika baju mereka berdua sekarang sudah terlepas dan terserak di atas ranjang. Ammar terus menelan ludah ketika menatap Gana dalam kepolosannya.


"Eum ..." keluhan tertahan di bibir Gana. Kedua tangannya memeras kain seprai ketika Ammar sedang mempora-porandakan pusat intinya.


Ammar fokus dibawah. Tergugah, takjub dengan apa yang ia lihat.


"Kamu indah sayang ..." ucapnya.


Tubuh Gana sudah berpeluh. Rasanya campur aduk. Rasa nikmat, aneh, malu dan rasa tidak rela untuk melepas. Ia belum mencintai lelaki itu, ia tidak mau melepasnya tanpa kenangan. Ia tidak mau menangis untuk menyesalinya. Seakan ucapan dan bisik-bisikan yang terus menyemangatinya sejak tadi, sirna semua.


"Kamu nangis?"


DEG.


Gana membuka kelopak matanya cepat. Ia tersentak, karena suaminya kini sudah ada di depan wajahnya, entah sejak kapan.


Yang ia tahu sedari tadi sang suami sedang fokus di pusat tubuhnya.


Ah ... sabar ya Ammar.


Ammar menghela napas dan membuangnya kasar. Mengusap wajah sampai ke belakang rambut dengan gusar. Ia tangkup wajah Gana. "Maafkan aku ya. Aku terlalu terburu-buru. Aku lupa dengan janjiku."


Gana hanya terdiam. Ia menatap Ammar dengan air bening yang terus terjerembab turun dari sudut matanya, membasahi pipi dan leher.


"Maafkan aku." bukannya marah atau kecewa, Ammar malah meminta maaf. Lantas ia kecup kening Gana yang sudah banjir akan keringat.


"Aku tau kamu butuh waktu." Ammar berguling disebelah Gana dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


Ammar menarik tubuh Gana ke dalam dadanya. "Jangan nangis ya, maafin aku."


Gana menggeleng. Ia seka air matanya. Seakan jiwa keberaniannya mulai hadir. "Ayo lakukan lagi Ammar, aku pasti bisa. Paksa aja, aku siap!"


Ammar menggeleng. "Begini saja aku sudah merasa cukup. Sangar cukup. Yang penting kamu tidak merasa tersakiti."


Ah betul, dengan Gana sudah membalas ciumannya saja, ini sudah menjadi awal melegakan untuk Ammar. Ia tahu, sebentar lagi Gana pasti bisa mencintainya.


Dipaksa dengan suasana yang belum kita inginkan, memang akan menjadi trauma berkepanjangan. Apalagi ini hal ini adalah hal pertama untuk Gana. Melepas keperawanan saja sudah sakit, ditambah hati yang belum genap dan sejujurnya belum siap. Hal tersebut akan menjadi memory buruk untuk Ganaya.


"Ammar, apa aku bisa membantu dengan cara lain? Seperti waktu itu misalnya?" Gana beranjak duduk dengan selimut yang masih ia pegang untuk menutup dadanya. Menatap Ammar yang sedang berbaring. Gana tahu, Ammar pasti akan tersiksa malam ini.


"Seperti waktu ...?" Ammar mengulang dengan mata yang berpendar, seolah mengingat.


"Ehmm." Gana menggerakkan kepalanya naik turun seakan membetulkan ingatan Ammar pada saat malam pertama mereka yang gagal.


Ingin Ammar menolak, tapi pusat intinya sudah cenat-cenut tidak karuan.


Ammar mengulurkan tangan ke atas untuk mengusap lembut pipi istrinya. Wajah lelaki itu kembali mendamba penuh gairah.


"Apa kamu mau?" tanyanya.


"Ya, aku mau."


Ammar mengangguk. "Lakukanlah, Gana."


Dan di detik selanjutnya. Hanya ada suara erangan dan keluhan dari Ammar.


"Euhh sayang ... Iya, Gana. Terus." Ammar terus merancau. Sesekali mengigit bibir bawahnya dalam pejaman mata. Ia menggiring Gana yang masih amatir.


"Sayang ... Permata hatiku ... Bidadariku." desahh Amar berat. Lelaki itu tak kuasa menahan, Ammar sampai memegangi pangkal bahu istrinya yang masih fokus dibawah sana.


Dan malam ini, hanya milik Ammar.


***


Like dan Komennya jangan lupa ya buat dedek sama kakak😘