
Ku menemukanmu di saat aku terjebak
Di situasi yang membuatku resah
Kau merangkulku di saat yang lain menindasku
Ingin rasanya aku selalu bersamamu
Tapi mengapa tiba-tiba seakan kau pergi
Melepas rangkulanmu dan berhenti melindungiku tanpa sebab
Mungkin alam semesta tak menerimanya
Dan waktu tak memberi kesempatannya
Tapi setidaknya kau telah merubahku
Dari resah menjadi luka
Ku menemukanmu saat aku terjatuh
Ke dalam ruang yang penuh kepahitan
Kau melindungiku di saat yang lain menyerangku
Ingin rasanya aku melihatmu di setiap langkahku
Mungkin saat ini, lagu tersebut yang sering Ammar ulang-ulang saat ia duduk sendirian di tepi kolam renang sambil memandang langit malam, akan ia simpan menjadi kenangan. Tergantikan dengan lirik lagu dari Afgan. Dengan judul 'Jodoh Pasti Bertemu'
Sungguh kuasa semesta, yang tidak bisa Ammar elak-kan. Bahkan kepada pendosa sekalipun, Allah masih memberikan hidayah dan Inayah-Nya. Mengabulkan permintaan Ammar, walau di saat lelaki itu hampir menyerah.
Hati yang sejak dua minggu ini terasa kosong, tiba-tiba mulai terisi kembali. Seakan ia di guyur air seperti sapi gelondongan. Tubuhnya terasa segar dan semangatnya kembali hadir.
"Saaa--Sayy--Sayyang." seru Ammar tergagap-gagap dengan wajah menyalang bahagia. "Gaa--Ganaa." ulanginya.
Namun, yang di tatap hanya melongo tidak mengerti. Ammar seperti berbicara kepada jangkrik, karena Gana tidak berekspresi apa-apa. Ia malah menunjuk ke dadanya.
"Saya, Bang?" tanyanya datar.
"Hah?" Ammar mendesah.
Di dalam mobil ada empat orang. Ada si lelaki bujang tadi, lelaki berumur seperti Ammar di kemudi, ada Gana yang sedang memangku anak perempuan belia yang napasnya tersengal-sengal.
Apa-apaan ini? Itu benar istrinya 'kan? Memang sih, banyak yang bilang ada tujuh muka yang mirip sekali dengan wajah kita di dunia. Tapi kalau ini, rasanya bukan mirip lagi. Wanita yang ia lihat memanglah Gana, istrinya. Batin Ammar memekik.
Merasa tidak beres, ia memutar langkah untuk membuka pintu mobil di sisi Gana. Ia menarik tangan Gana untuk turun dari dalam mobil.
"Eh ... Eh, Bang! Main tarik aja. Ini pacar ane." selak lelaki yang ada di kursi kemudi. Lantas turun menghampiri Ammar, memutuskan genggaman tangannya dengan Gana.
Ammar mendelik tajam. "Enak aja, pacar ane-pacar ane! Ini istri saya!" sentak Ammar. Jangan lupakan dia juga lelaki pencemburu.
"Maksud, Abang?" Ammar beralih menatap Gana. Wanita itu kembali bertanya.
"Kamu udah ninggalin aku, dua minggu! Sekarang masih mau main drama? Pura-pura gak ingat? Durhaka loh, enggak ngenalin suami."
Gana menyerengit dahi, wajahnya berubah bingung. "Maaf, Bang. Tapi saya---"
"Kak Adek ini enggak ingat apa-apa, Bang. Saya dan Bapak temuin dia di ujung sungai dekat kampung. Terus dibawa kerumah, gak sadar tiga hari. Eh, pas sadar. Dia lupa dirinya. Makanya kita rawat aja, sampai ada waktu untuk di bawa ke kota. Bapak dan Ibu saya panggil dia, Adek." lelaki yang diketahui bernama Marwan itu menjelaskan. Tapi berbeda hal dengan Kakaknya, Maryadi. Lelaki itu sudah kepalang suka dengan Gana saat wanita itu ditemukan hampir tidak bernyawa.
Air mata Ammar menggenang. Sedih sekali dirinya, wanita ini baru saja mencintainya. Tapi ingatannya begitu saja terampas. Menghilangkan memori indah yang baru saja mereka rasakan.
Dan lamunan Ammar terlonjak saat ada seruan lemah dari dalam mobil.
"Bang ... Abang." seruan Manda, membuat semua orang beralih. Maryadi dan Marwan melongo ke dalam mobil tua mereka untuk merespon panggilan Manda.
"Aduh buru dong! Adek gue udah megap-megap nih!" sungut Maryadi. Manda punya penyakit asma seperti Gana. Penyakitnya kambuh, saat Ibu dan Bapak masih di sawah. Maryadi, Marwan dan Gana berinsiatif sendiri dengan cepat membawa Manda ke kota untuk di periksa Dokter.
Ammar memberikan kunci mobilnya. "Nih, pakai aja. Bawa aja ke RS. Oh ya, sama ini ..." Ammar mengeluarkan dompet dari kantung celananya dan memberikan uang cas senilai satu juta. "Buat kalian di jalan."
Kedua mata Maryadi dan Marwan seketika terbuka lebar. Marwan meraihnya senang. Seakan mereka langsung percaya, bahwa Ammar memang benar-benar suami Ganaya.
Tidak mungkin 'kan ada orang di dunia ini yang begitu saja melepas mobil mewahnya untuk digunakan orang lain secara cuma-cuma?
"Tapi Adek ikut 'kan?" tanya Maryadi kepada Gana.
"Dia enggak ikut. Di sini aja sama saya, suaminya!" Ammar menyelak dan memutuskan sepihak. Dari rautnya, Ammar tidak suka menatap Maryadi. Nada Ammar dingin kepadanya.
Dengan tatapan datar, Gana malah mengangguk dan mengiyakan ucapan Ammar. Seakan percaya, tapi masih ragu.
"Dia ini siapa? Benarkah suamiku? Tapi kalau bukan, kenapa perasaanku tenang ketika tanganku digenggam?" batin Gana. Ia terus menilik ke arah tangannya yang digenggam Ammar.
"Lah terus begimana? Kalian di sini?" Maryadi kembali bertanya. Ia kembali kesal.
Ammar mengangguk. "Saya yang akan betulkan mobil kalian."
"Makasih ya, Bang. Abang tungguin kita sampai balik ya." ucap Marwan.
"Iya."
Dan berlalu lah mereka dari hadapan Ammar dan Gana. Bergegas menuju RS. Kini, ditepi jurang, tempat pemisah antara Gana dan Ammar selama dua minggu, kembali menghadirkan Gana. Sesuai keinginan Ammar. Dan benar saja, cinta sejatinya hadir kembali.
Ammar membawa Gana untuk duduk di pelataran tanah kering, dan anehnya wanita polos itu mau saja dan menurut. Tidak berfikir, lelaki ini akan berbuat jahat padanya.
"Maaf ya, aku buka." Ammar membuka kancing baju Gana. Spontan Gana memegang tangan Ammar.
"Ih, Abang mau apa?" Gana menepis tangan Ammar.
"Duh Abang?" Ammar mengulangi sapaan itu. "Abang Ammar? Abang nasgor? Ya, bae lah. Enggak apa-apa." gumamnya dengan kekehan. Tapi juga dengan jantung yang masih bertalu-talu. Mungkin saatnya ia harus bangkit menjadi lelaki yang dituakan Gana. Bukan lagi menjadi dedek kecil yang suka di marahi.
"Jangan takut, Abang cuman mau pastiin sesuatu di dalam sini."
"Hah?" Gana semakin dibuat bingung.
Ammar melirik kanan dan kiri, takut-takut ada yang melihat. Bisa di ciduk sebagai aktivitas mesum nantinya. Apalagi kalau sampai viral dan masuk ke Lambiracocot.
Wajah Gana tetap tenang, walau ada rasa takut. Entah kenapa pada akhirnya ia diam saja, saat Ammar berhasil membuka dua kancing susun di bajunya. Ammar melongo ke dalam, mencari tanda pengenal Gana yang terletak di atas puncak dada istrinya.
Ammar tersenyum, ketika melihat tahi lalat milik istrinya di sana. Senang sekali ia, wanita ini memang Gana.
Oh ... Gana nya kembali.
Ammar langsung beringsut membungkuk dan mencium tanah. Ia bersujud, sambil kembali terisak. "Makasih ya Allah, makasih." ucapnya bergetar. Pangkal bahunya bergerak-gerak seiring tangisannya yang keluar.
"Bang ... Abang, enggak apa-apa?" Gana yang bingung setelah mengancingkan bajunya lalu ikut membungkuk, mensejajarkan wajah Ammar yang sedang mencium tanah sambil menangis.
"Alhamdulillah terimakasih Ya Rabb. Engkau kembalikan lagi istri hamba." begitu sendu untuk di dengar. Hati Gana juga ikut bergetar dan terenyuh.
Ia tidak tahu siapa lelaki ini. Bertemu tanpa sengaja dan langsung menyebutkan dirinya sebagai suami. Serta kini, berucap syukur karena dirinya sudah kembali.
Ammar bangkit. Lalu duduk lagi, menatap wajah Gana dengan isak nya yang masih belum hilang.
"Abang ini sebenarnya siapa?" Gana mengulang. Untuk meyakinkan dirinya, agar tidak salah masuk kedalam pelukan lelaki.
"Maldava Ammar, suamimu."
"Benarkah? Setampan ini suamiku?" Gana malah memuja wajah gagah Ammar.
"Benar, sayang." Ammar mengeluarkan gawai, lalu menekan icon galery. Ia perlihatkan foto pernikahannya dengan Gana. Dan foto uwu-uwu mereka di atas kasur.
Gana mengangguk suka. Ia tersenyum menatap wajahnya di foto. Membenarkan kalau lelaki ini memang suaminya, sesuai insting nyaman dari balik jiwanya.
Kemudian ia mengusap kerikil bercampur tanah yang sedikit menempel di dahi dan bibir Ammar. Lantas mengusap pipi lelaki itu dengan lembut.
"Nama kamu, Putri. Putri Ganaya Had----"
"Hem?"
"Putri Ganaya."
"Putri?"
"Putri Ganaya ... Gana."
"Gana?"
Ammar mengangguk, meneguk ludah. Dengan kejadian tadi bersama Farhan. Ia tidak ingin begitu saja di rengkuh oleh polisi. Ia masih ingin bersama cintanya, belahan hati pengisi sanubarinya.
Seandainya Gana di bawa kembali ke pulang. Keluarga kembali akan geger, media online dan tentu keluarga mertuanya, Gana pasti akan dipaksa menjauh darinya, dipaksa bercerai, dan Ammar tidak mau hal itu terjadi lagi seperti dulu. Pasalnya keluarga Hadnan masih marah besar kepada Ammar, sampai di detik ini saja Ammar tidak kunjung mendapatkan pintu maaf.
Mungkin saja pihak dari Farina, tidak akan memenjarakan Ammar, karena pasti semua kedok akan terbongkar. Tetapi, Ammar akan lebih cepat mendekati ajal, karena suruhan Frady pasti akan mencarinya. Apalagi sekarang sudah ada Gana. Gana pasti akan menjadi incaran mereka lagi.
"Iya Gana. Panggilan kamu."
"Rumah kita dimana, Bang?"
"Rumah kita jauh. Di Pulau sebrang."
Gana membulatkan matanya. "Terus kenapa Gana bisa sampai di sini ya, Bang? Abang juga sedang apa di sini?"
Bola mata Ammar berpendar kemana-mana. Mencari alasan, karena Gana banyak bertanya.
"Di sini lokasi kecelakaan kamu." Ammar menunjuk ke bawah. Gana pun mengikuti, dan bola matanya langsung melotot.
"Abang setiap hari kesini, kali aja kamu muncul lagi. Kebetulan Abang lagi menginap di rumah teman, Abang."
Gana mengangguk sedih, walaupun di kepalanya kosong.
"Apa kita sudah punya anak, Bang?"
"Belum."
"Kalau orang tua kita tinggal dimana? Orang tua Abang? Orang tuaku?"
Ammar memandang lama wajah Ganaya. Seakan memendam riak yang susah ia tekan agar tidak keluar.
"Kita ... Sudah tidak punya orang tua. Anak yatim-piatu."
"Ya Allah, sedih sekali hidup kita ya, Bang."
Ammar mengangguk. "Maaf, Gana. Aku terpaksa." batin Ammar lirih.
Ammar tidak punya cara lain lagi. Ia harus menyembunyikan Gana ke tempat yang jauh terlebih dulu, sampai dimana kondisinya aman untuk di ajak kembali pulang.
"Oh, tapi. Apa kita enggak punya saudara?"
"Kita berdua sama-sama anak tunggal."
Gana mengangguk lagi. Wajahnya sangat memancarkan kesedihan.
"Maaf ya, Bang. Dua minggu ini Abang sendirian. Enggak ada yang ngurus."
Boleh jadi ia lupa ingatan. Tapi rasa di hati tidak akan terganti. Rasa cinta kepada Ammar tetap saja berbuih, memberi rasa nyaman dan tenang. Maka dari itu, ia langsung menerima ketika Ammar mendekapnya lagi. Tidak seperti kepada Maryadi, Marwan atau keluarga mereka yang terasa asing.
"Abang ngerti. Semua ini bukan maunya kamu. Abang tetap tempat teduhnya kamu. Makanya kamu pulang lagi ke, Abang. Abang itu memang rumahnya kamu." Ammar mengambil jari telunjuk istrinya untuk menunjuk dada nya.
Seraya memaksa Gana untuk menerimanya, Ammar sedih karena memori Gana hilang. Tapi ia akan lebih sedih, ketika tubuh Gana menghilang selama-lamanya.
Gana menunduk, menatap jari itu lalu menyentuhnya. Ia letakan telapak tangan Ammar di pipinya.
"Maaf ya, Bang. Adek belum bisa ingat apa-apa. Adek juga enggak ingat Abang." ucap Gana dengan tatapan sedih. Lantas membelai wajah Ammar kembali. Mereka saling mengusap wajah. Gana mengikuti detak jantung yang terus berdegup.
Ammar kembali mendapatkan sentuhan Gana, tangisannya semakin pecah. Kemudian ia tarik tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam dadanya.
"Cintaku ... Hatiku ... Bidadariku ... Permataku ... Jantungku ... Hidupku." Ammar terus merancau.
Ia memeluk Gana erat-erat, tanpa ada sekat. Mengecup puncak hijab yang Gana pasang tanpa di pakaikan peniti di bawah leher.
"Iya, Bang." jawab Gana dengan suara seperti sedang tercekik.
Pelukan yang ia yakini, tidak akan lagi ia dapat. Ia fikir, Gana sudah benar-benar berhenti merangkulnya, berhenti melindunginya. Allah tidak memberi kesempatan kedua untuknya, maka menjauhinya. Tapi semua itu salah. Dan Ammar bahagia.
"Di tepi jurang. Dibawah pepohonan rindang, di atas tanah kering berbatu. Abang temukan lagi, Adek."
"Iii---ya, Bang." jawab Gana meringis. Tubuhnya linu sekali. Tenaga Ammar memang remuk.
"Cintaku ...." rancau nya senang.
"Bang, Adek sesak."
"Eh, iya. Maaf ya sayang."
Buru-buru Ammar melepas pelukan itu. "Masih sakit lukanya?" Ammar menyentuh perban yang masih hinggap di sana. Sudah dua minggu tapi masih dipakaikan perban.
"Iya, Bang. Ada luka sobek, tapi Adek enggak mau dijahit." jadi luka itu hanya diberi betadine dan ditutup kasaa.
Ammar memandang nanar. "Nanti Abang obatin lukanya ya, kita ke Dokter."
Gana tersenyum. "Iya, Bang."
Ammar mengangkat bibirnya untuk mengecup dahi Gana.
"Semoga kisah kita ini bisa di jadikan cerita ya." ucapnya saat ia sudah menyudahi kecupan itu. Mereka kembali bersitatap, saling menilik bola mata masing-masing.
"Hem?" Gana mengerjap-ngerjap kelopak matanya. "Di buat novel, Bang?"
Ammar mengangguk. "Iya."
"Emang kisah cinta kita kenapa?"
"Indah." jawab Ammar, lantas mengecup bibir istrinya lagi.
"Maksudnya, Bang?"
"Nanti Abang ceritain. Soalnya cerita panjang, harus mendaki gunung dan melewati lembah dulu ..."
Gana tertawa.
"Abang tetep jadi mau bikin novel buat kita?" wanita itu terkekeh.
"Ngeledek ya." Ammar mengecup pangkal hidung istrinya.
Gana tersipu malu. Hatinya semakin berbunga.
"Judulnya apa, Bang?"
Ammar tersenyum. Kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Gana. Kemudian mengecup bibir ranum istrinya yang di sudutnya masih terlihat kebiruan.
"Ganaya, My Adore."
🌺🌺🌺🌺
Siapa yang nungguin Abang Ammar dan Adek Gana belah pepaya? Hahaha. Like dan komennya dulu banyakin yaaa.