Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
71141. Your Succes!


Derap sepatu Ganaya dan Yuni menggema di lorong apartemen. Gana memakai topi dan kaca mata hitam, sedangkan Yuni memakai kerudung yang kemudian dilapisi lagi dengan topi di kepalanya.


Mereka berdua melangkah cepat dengan kepala tertunduk. Gana, si wanita cerdas. Tahu sekali jika banyak cctv yang bermuara di sekitar lorong yang akan mereka lewati. Takut, jika Ammar atau Farhan akan mengenali mereka. Maka dari itu, sebisanya ia berpakaian dengan tampilan berbeda.


Tap.


Langkah mereka terhenti di kamar dengan benomorkan angka 200. Gana cukup lama berdiam di depan pintu kamar ini.


"Bu ..." Yuni menghentak bahu Gana, agar wanita itu terhempas dari lamunannya.


"Kemarin benar 'kan nomor kamarnya segini?" tanya Gana kepada Yuni.


"Iya, Bu. Nomor 200." Yuni membenarkan.


"Tapi kemarin satpamnya bilang ini kamarnya Pak Bima, Bu. Enggak apa-apa kita masuk ke dalam tanpa ijin?"


"Bukan, Yun. Saya jamin ini apartemen milik Bapak." Gana menepis keraguan di benak Yuni. Tidak mau membuat mood majikannya berantakan, Yuni hanya bisa mengangguk, menurut dan menerima saja.


"Kartu passcode nya mana?"


"Oh, iya, Bu. Sebentar." Yuni merogoh kantung celana jeans dan mengeluarkan kartu segi empat berbentuk seperti atm berwarna abu-abu.


"Kamu fokus perhatiin ke arah lift ya, Yun. Takut-takut ada yang datang dan curiga sama kita."


"Siap, Bu."


Gana kembali fokus menempelkan kartu dan benar saja terkan nya, harus memasukan nomor pin berbasis angka.


"Berapa ya?" tanyanya sendiri.


Wanita itu sudah mencoba mulai dari tanggal lahir Ammar, tanggal lahirnya dan tanggal pernikahan.


"Aneh, kok engga bisa juga!" ia berdecak kesal.


"Berfikir Gana ... Ayo, berfikir!" Gana menyemangati dirinya sendiri.


"Angka berapa lagi ya, yang istimewa bagi suamiku?" ia kembali berfikir keras.


"Atau pin atm nya 'kah?"


Gana mencoba memasukan angka pin atm Ammar yang sangat ia hafal. Tetapi, nyatanya tetap saja salah. Pintu seraya mengeluarkan bunyi alarm yang menandakan si pemegang kartu salah dalam memasukan pasword.


"Ahh!" serunya kesal.


"Gimana, Bu?" tanya Yuni.


"Angka yang saya tebak, salah semua, Yun."


"Terus gimana, Bu?" tanya Yuni dengan kilat panik. Sungguh kasihan jika majikannya pulang dengan tangan kosong, jika tidak bisa menerobos ke dalam.


"Sebentar, saya masih berfikir."


Gana hening. Sampai memejam mata karena fokus menenangkan denial nya untuk memecah misteri, angka berapa yang sekiranya di gunakan Ammar untuk menembus kamar ini?


Lima menit berlalu. Gana membuka mata dengan wajah tercurah akan harapan yang baru saja terlintas. Entah kenapa iya yakin dengan terkaan ini.


"G \= 7, A \= 1, N \= 14, A \= 1 ... 71141?" tanyanya dalam hati sambil menekan angka tersebut.


Dan.


Taraaa.


Your succes.


Krek. Pintu kamar terbuka.


"Alhamdulillah ..." seru kedua wanita itu bersamaan.


"Ibu hebat banget. Bisa nerka password di pintu. Bisa nih kita cari harta karun." ledek Yuni.


Gana tertawa. "Sekarang juga 'kan kita lagi mau cari harta karun, Yun." timpal nya dengan kekehan.


Yang pintar di sini adalah Ammar dan Gana. Ammar bisa menyisipkan angka dari huruf nama Gana. Dan Ammar tidak akan menyangka kalau Gana dapat membaca isi kepalanya.


DEG.


Baru saja kaki mereka masuk satu langkah di dalam. Seketika, Gana dan Yuni terpaku. Langkah kaki terpaksa terhenti. Manik mata mereka menilik kesana-kemari dengan tatapan tidak percaya.


Gana terdiam, ketika menatap beberapa botol beling minuman berwarna hijau ada di atas meja. Dengan banyak puntungan rokok, kulit kacang dan kartu remi. Semua yang ia lihat sekarang, membenarkan terkaannya dengan yang terjadi semalam dengan Ammar. Bahwa lelaki itu pulang dalam keadaan mabuk, sehabis bertemu dengan lelaki keparatt yang ia benci.


"Ini benar kamarnya, Yun." Gana membenarkan.


"Mau Yuni bersihkan, Bu?"


"Jangan, Yun. Jangan menciptakan kreasi tangan di sini. Biar Bapak menganggap, tidak ada yang masuk selain dia dan anak buahnya."


Gana merogoh tas dan mengeluarkan ponsel, lantas memberikannya kepada Yuni.


Yuni menerimanya dengan raut bingung. "Kenapa, Bu?"


"Tolong rekam selama saya melangkah ke setiap sudut yang ada di apartemen ini, Yun." Gana memberikan perintah.


Yuni mengangguk dengan sigap. "Baik, Bu."


"Bagus." ucap Gana.


Recorded start. Yuni merekam langkah kaki Gana yang mulai berjalan ke tempat yang ia mau. Mengikuti apapun yang Gana serukan. Si cerdas, ingin menyimpan hasil rekaman itu sebagai bukti. Agar jika waktunya tepat, ia bisa membongkar kejahatan Ammar dan Farhan selama ini.


Apartemen yang tidak bertingkat, cukup biasa dan jauh dari kata mewah. Hanya memiliki dua kamar bersebalahan, ruang tamu dengan meja bulat berteman empat kursi melingkar serta satu sofa didepan televisi. Paling ujung ada kamar mandi dan dapur ala kadarnya. Dan ternyata ada kamar lagi di sana. Terpojok dan rahasia. Gana tertarik untuk membukanya.


Handle pintu di tekan. Gana mengelus lega dadanya, karena kamar ini tidak terkunci.


Ceklek. Saklar lampu Gana nyalakan. Kamar menjadi terang benderang.


"Astagfirullahaladzim!" suara mereka berdua begitu nyaring di udara. Gana dan Yuni terkejut bukan main. Tangan Yuni saja sampai bergetar ketika memegang ponsel.


Gana sedikit memundurkan langkah, ia masih mengatung di ambang pintu. Jantungnya berdetak kuat. Kornea matanya seraya ingin jatuh dan menggelinding di lantai.


"Kok ada tengkorak sih, Bu?" tanya Yuni gugup.


Gana meringis takut. "Saya juga enggak tau, Yun."


Walau ada kepala tengkorak yang berada di atas lemari. Gana tetap memaksa masuk ke dalam kamar yang luasnya hanya 3 × 4 meter.


"Apa yang kamu perbuat, Ammar? Mengapa ada benda seram seperti itu?" gumam Gana.


Yuni saja yang jago bela diri, tetapi masih takut dengan tengkorak kepala tersebut. Tapi, mau tidak mau, ia harus mengekori Gana untuk merekam.


Tidak tahu saja Gana, kalau tengkorak kepala itu adalah tengkorak dari orang yang Ammar bunuh dengan tangannya sendiri. Seorang lelaki yang ia binasakan hanya karena ingin membalas dendam karena pernah di olok di bangku putih-biru.


Gana membuka daun lemari yang tertutup rapat. Ketika pintu tersebut terbentang lebar, Gana langsung terbatuk-batuk. Karena banyak debu yang mencuat.


Uhuk ... Uhuk.


"Ibu enggak apa-apa? Mau minum, Bu?" tanya Yuni. Ia bersiap membuka tas punggungnya untuk merogoh botol air minum kemasan.


"Boleh, Yun."


"Ini, Bu." Yuni menyodorkan botol air yang sudah dibuka tutupnya. Gana menenggaknya sampai setengah. Manjur juga tawaran Yuni. Kini, kerongkongan Gana sudah tidak gatal lagi.


Gana kembali ke pusat tujuannya. Ia berbalik ke arah lemari dan membukai kardus-kardus yang bertumpuk.


"Astagfirullahaladzim ..." mereka kembali berseru. "Yun, rekam semua ini dengan jelas!" titah Gana.


Yuni mengangguk dengan tatapan tidak percaya. Menyorotkan kamera belakang ke arah tumpukan pistol-pistol yang entah masih terpakai atau tidak. Jumlahnya cukup banyak. Ini baru satu kardus yang ia buka, belum dari kardus yang lainnya. Jumlahnya pasti ratusan.


Habis berperang 'kah?


Gana memeriksa semua kardus yang tersusun enam tingkat dengan bentuk dan lebar yang sama. Dan hasilnya pun semua sama, senjata tajam berplatuk.


Gana kembali membuka lemari ke dua yang ada disebelahnya. Dan debu kembali bertebaran. Salahnya Gana tidak memakai masker sekarang, ia kembali terbatuk-batuk. Menenggak lagi air putih untuk meredakan batuk yang datang tidak tahu diri itu.


Kedua mata Gana dan Yuni membola hebat, serasa bergoyang. Dua wanita itu sampai membekap mulut tidak percaya. Jiwa dan raga mereka tersentak. Gana tidak kuasa menggelengkan kepala untuk menahan rasa keterjutan nya.


"Astagfirullahaladzim ..."


Entah apa yang ia lihat sekarang.


****


Like dan Komennya jangan lupa ya🌺🌺