Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Dasar, Tidak Peka!


Saling berggenggam tangan, menyatukan tawa dari pembicaraan lucu yang tidak jelas muaranya akan sampai dimana. Ammar tetap melangkah bersama Gana untuk menaiki tapakkan tanah menuju perbukitan yang tingginya sekitar tujuh meter dari bawah.


Ammar menghentikan langkah dah sedikit membungkuk, lelaki itu memetik bunga mawar muda yang sedang tumbuh.


"Ja---jangan, Ammar!" seru Gana. Ammar hanya tertawa dengan wajah jenaka. Ia menyematkan potekkan bunga tersebut di atas daun telinga sang istri.


"Tambah cantik." ucapnya. Gana tersipu malu, Ammar kembali menggandeng istrinya. Kembali melanjut kan langkah sampai ke puncak perbukitan.


"Nanti kamu di marahi, Ammar." bisik Gana. Tapi ia tetap menikmati pemberian Ammar tersebut, potekan bunga mawar ia biarkan menyembul di daun telinganya.


"Siap yang berani marahi aku?" kedua alis Ammar menaut lalu tertawa.


"Ishh!!" Gana menggeleng frustasi. Biarlah katanya, Ammar memang selalu saja semaunya.


Setelah memesan dua jus alpukat tanpa susu dan roti bakar keju kepada satu saung yang berjajar dari puluhan saung, Gana dan Ammar melangkah mencari tempat untuk bergoler yang asik di sekitar pepohonan rindang.


Padahal sudah jam 11:00 siang. Tadi, dibawah saja rasanya sangat terik. Tapi ketika sudah sampai diatas, fikir Ammar suasana akan semakin panas di sini, nyatanya tidak. Karena banyak pohon rindang dan lebat membuat suasana terasa adem dan sejuk karena hembusan angin.


"Di sini aja ya." ucap Gana.


Ammar menilik pohon rindang di atas kepalanya. "Ya di sini aja. Adem."


Mereka berdua pun duduk tepat di kaki pohon yang sudah tergelar karpet plastik di atas tanah. Keduanya duduk dengan kaki melipat.


"Aku jadi ingin bakso, kamu mau gak?" tanya Gana. Air ludah miliknya seperti sudah ingin tumpah sedari tadi. Baso jumbo dengan isian cabai rawit begitu terngiang-ngiang ketika ia akan keluar dari lorong jejeran para saung-saung.


"Ya udah aku pesenin dulu ya." Ammar bergegas cepat berdiri layaknya suami siaga yang sedang menuruti keinginan istri yang sedang hamil.


Gana menarik tangan lelaki itu. "Aku aja. Tapi kamu mau 'kan?"


Ammar tidak terlalu suka bakso. Ia lebih suka bakmi ayam. Tapi karena melihat Gana sudah antusias dengan rasa inginnya, Ammar hanya bisa mengangguk.


"Semangkok berdua aja sama kamu, aku takut enggak abis." kilah Ammar. Ia tahu makanan tersebut pasti tidak akan habis.


"Ya udah kamu duduk aja di sini, aku yang kesana."


"Hati-hati ya." Gana mengangguk kemudian berlalu. Ammar kembali duduk menyandar di atas pohon sambil bersiul-siul, menunggu istrinya kembali datang untuk membawakan semangkuk bakso.


"Ammar."


"Ya?" cepat sekali fikir nya. Tapi ternyata ia mendapati Gana dengan tangan kosong.


"Apa kamu mau bakmie? Kayaknya enak. Kita makan bakmi saja, bagaimana?" tanya sang istri.


Raut wajah Ammar cerah benderang, ketika nama makanan kesukaannya disebut. Walau Gana tidak mengetahuinya, tapi lelaki itu senang. Seakan Gana mendapat mandat dari Semesta untuk menyenangkannya hari ini dengan makanan tersebut yang sudah jarang sekali ia makan.


Kini air liur Ammar yang seakan ingin tumpah, membayangi bakmi ayam matang dihadapannya.


Sambil mengelus perut, lelaki itu mengangguk. "Kalau bakmi. Pesan dua mangkuk aja ya." pinta Ammar.


"Oke baik." Gana kembali berlalu ke jejeran saung.


"Enak banget ya punya istri. Apa-apa disiapin, di ambilin, tapi sayang, Ley. Kamu masih aja puasa. Haha." gumam Ammar menatap Harley yang masih tersembunyi dengan baik dibawah sana.


Tak lama kemudian datang lah Gana dengan dua piring. Ammar sampai membuka kaca mata hitamnya untuk menatap jelas.


What? Piring? Bukan mangkuk? Bakmi goreng kali ya?


Bola mata Ammar makin membola ketika sang istri meletakan dua piring yang berisikan seporsi somay ikan tenggiri berbumbu kacang.


Hah?


"Somay aja ya? Tadi pas lewat baunya enak banget." ucapnya tanpa dosa.


Ammar mengangguk lemah, dengan senyuman yang ia paksakan mengembang karena masih tertohok. Ia kaget istrinya ini mirip sekali seperti bunglon, yang cepat untuk berubah-ubah sesuai keinginannya.


Dari bakso berganti bakmi lalu berujung dengan somay ikan cuek ... eh, tenggiri.


"Mungkin ini yang Papa bilang, suami harus bisa mengerti keinginan istri yang selalu di luar ekpektasi. Tidak masalah. Aku kuat empat lima!" gumamnya sambil memasukan potongan pare yang tertutup bumbu kacang, yang ia yakini itu adalah somay.


Mata Ammar melotot. "Apa ini? Kok pahit?"


"Itu pare. Makan aja, enak dan bikin sehat."


"Mungkin ini yang Papa bilang. Suami harus bisa menekan ego untuk mengatakan apapun yang istri pilihkan pasti akan selalu enak. Tidak masalah. Aku kuat!" batinnya.


"Wah habis pare nya." Gana melirik ke piring milik Ammar, di saat lelaki itu sedang berjuang untuk mengunyah dua pare besar.


Ammar mengangguk tanpa kata. Ia masih fokus. Fokus untuk menelan atau memuntahkannya, mumpung masih ada waktu. Tapi melihat wajah Gana yang terlihat ceria, ia tidak punya pilihan lain selain menelannya.


"Ahhh .... akhirnya lega! Hampir mati!!" Ammar membatin. Ia meraih gelas jusnya dan menenggaknya tanpa rasa sabar.


"Padahal pare nya pahit banget loh, hebat ih kamu langsung abis. Aku fikir kamu enggak suka."


Ammar mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya. Ia menatap Gana yang kembali menunduk menyantap potongan somay, pare di piringnya saja belum sepenuhnya habis.


"Ya enggak apa-apa, enggak usah di makan pare nya." jawab wanita itu dengan enteng sekali.


Ammar menghela napas lagi sambil mengusap tenggorokannya. "Kayaknya Papa lupa nih, poin kejujuran itu penting. Lebih baik jujur bilang enggak suka, dari pada memaksakan suka tapi tersiksa." gumam nya lagi sambil mengingat bagaimana Papa Bilmar tersiksanya ketika Mama Alika membuatkan jus brokoli tanpa gula setiap pagi. Wanita yang sudah menimang lima cucu itu bilang, brokoli sangat bagus untuk tubuh.


"Permisi, pajangan bunganya Mba, Mas." Gana dan Ammar menoleh ketika ada anak lelaki berusia delapan belas tahun mendekati mereka sambil membawa beberapa pajangan berbentuk bunga kayu yang di pahat.


"Ayo sini duduk." Gana menitah nya untuk duduk. Anak lelaki itu sepertinya enggan karena ia merasa dekil dan bau.


"Ayo enggak apa-apa, biar istri saya bisa lihat dagangan kamu." sambung Ammar.


Anak lelaki itu tersenyum dan mengangguk. Ia membuka bungkusan dagangan dan diletakan di atas karpet. Bersyukur dirinya, sebersih, setampan, secantik, semulus, sewangi seperti Gana dan Ammar masih mau mempersilahkan ia duduk. Berbeda dengan beberapa pengunjung lain, yang penampilannya biasa saja tapi sudah merasa kaya selangit. Anak lelaki itu di usir pergi, padahal bibirnya saja belum berucap untuk menawarkan dagangan.


Jangan lupa, di atas langit masih ada langit. Seperti halnya, Nagita Slavina dan Rafi Ahmad, artis kaya raya yang masih bisa rendah hati untuk tidak sombong, dari pada artis lain yang biasa saja tapi sudah sok kaya. Haha. Bagaimanapun kamu bisa berdiri di atas gunung dan bersorak bangga, tetap saja yang melihat dari bawah, kamu akan tetap terlihat kecil.


"Ini harganya berapa?" tanya Gana. Ia menggenggam sebuah karikatur bunga mawar yang dipahat dengan aksen warna biru.


"Tiga puluh ribu."


Gana mengangguk.


"Biru juga bagus, cerah." ucap Ammar.


"Kalau hijau?" tanya Gana.


"Hijau juga bagus. Adem."


Gana terlihat bingung. Ia menilik lama warna yang akan ia pilih.


"Hijau sama biru bagusan mana?" tanyanya lagi.


"Biru."


Gana menoleh. "Jadi hijau jelek?"


"Bbu--bukan, sayang. Hijau juga bagus." Ammar jadi tidak enak hati kepada anak lelaki tersebut yang masih menunggu Gana untuk membelinya.


Gana mendengus. "Awalnya kamu bilang biru yang bagus, sekarang hijau? Plin plan ih!"


Anak lelaki itu seperti ingin tertawa, ketika Ammar yang sudah sebegitu sabarnya masih saja di omeli istrinya.


Ammar menelan saliva nya dalam-dalam. Ingin mengacak rambutnya sendiri, karena gemas kepada Gana.


"Warna biru juga kan kesukaan aku." cicit Gana sendu.


Benar-benar cobaan. Kalau memang suka warna biru kenapa harus menanyakan pilihan? Uh, ingin sekali bibir manyun itu Ammar lummat sampai lepas.


"Ya udah yang biru aja sayang."


"Tapi hijau juga kata kamu bagus 'kan?"


Jebakan apa lagi ini?


Ammar bingung ingin menjawab apa. Ia sudah menebak pasti akan salah lagi.


"Iy---"


Ucapan Ammar kembali terselak. "Ya udah warna yang merah aja." Gana menjatuhkan pilihan.


Jangankan Ammar, anak lelaki itu juga membeliakkan netra pekat miliknya karena tidak percaya, akan pilihan Ganaya.


Iris mata Ammar seperti ingin rontok sekarang.


Biru? Bagus enggak? Warna kesukaanku juga. Tapi kalau hijau, gimana? Jelek ya? Ah kamu plin plan! Ya udah aku mau yang warna merah aja.


Demi si Patrick yang selalu pakai celana saja, Ammar ingin sekali masuk kedalam dasar laut di dunia bikini bottom. Ingin hibernasi bersama Plankton di sana. Ia gemas sekali. Ganaya memang sulit sekali ditebak.


"Saya beli semua aja." ucap Ammar kepada si penjual. Senyum Gana merekah. "Gitu dong dari tadi, peka. Enggak usah nungguin istrinya milih-milih dulu."


Ya, ampun. Rasanya kepala Ammar ingin terbelah. Dari awal yang memilih itu siapa?


"Pantas aja Papa selalu diam kalau sedang menemani Mama berbelanja. Ternyata diamnya Papa memiliki maksud. Agar Mama tidak bersikap menggemaskan seperti Gana."


Uh, ya ampun.


***


ini mah belum seberapa, gimana nanti menggemaskannya kalau Gana sedang hamil? Dedek pasti bakalan bengek๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿคญ


aku masih pengen mereka seneng-seneng dulu sebelum nangis-nangis hehe. nikmatin aja alur ceritanya ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜