Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Mau Ngapain?


Padahal yang kena kotoran adalah ujung jari Mahika dan telapak kaki Magatha. Tapi, kedua anak itu lekas dimandikan oleh Ammar dengan tangannya sendiri.


Berkali-kali Adela bertahan untuk memegang pegangan pintu kamar mandi saat ia ditarik paksa oleh Papanya untuk mau dimandi kan dan dikeramas. Ammar tidak mau ada bau-bauan yang menempel di kedua putrinya.


Alda yang memang senang main air, bersorak bahagia saat bat up penuh dengan busa sabun dan bebek-bebekan, kecuali Adela yang sedang menangis di atas closed dengan rambut sudah penuh busa sampo.


"Kenapa cih lambut aku halus di kelamas, kan yang kena puppy tangan aku, Pah. Hiks ...." terseguk-seguk menatap Ammar yang tengah berjongkok, mencuci telapak kakinya dengan gosokan kaki yang terbuat dari batu halus.


Tahu jika kumpulan puppy Miku ada di pusaran seprai dan keset, Ammar meminta Art untuk membersihkan kamar dan mengganti seprai. Sedangkan Gana tengah mengamankan Miku di kamar Aidan. Walau Ammar itu baik tapi jika sudah marah. Maka Gana akan diam seribu bahasa. Sepertinya perkara rambut Adela yang bondol terlupakan soal puppy nya Miku.


"Karena kamu habis pegang tayi, bau, Nak," balas Ammar yang kini kembali meraih gagang shower, menyapu kan air di tubuh polos nan montok Adela.


"Tapih kan lambut aku jadi bacah! Nanih kalau udah keling bakal keliting agih, ndak?" karena sehabis di creambath, rambutnya yang di potong lekas di catok hingga terlihat rapih dan lurus.


"Ya pasti kribo lagi, Nak. Em ...." buru-buru merapatkan bibir saat bola mata Adela melotot kuat-kuat.


"Ahhhhhhh, Papa! Ndak mau kibo agihhhh!!" Adela cubit perut Papanya penuh nafsu dan Ammar mengerang sampai Gana masuk ke dalam kamar mandi. Dan kumpul lah keluarga cemara di dalam sini.


"Huwaaaaaaaa." Adela memilih memeluk leher sang Ibu untuk meluapkan rasa kecewa.


"Ndak mau kibo. Ndak mau keliting agih, Mah!" meronta-ronta, mengadu histeris. Seakan melupa kalau perut Mamanya sudah munjung ke depan.


Gana hanya diam saja, mengelus-elus Adela yang masih basah. Ammar beralih mengurus Alda dengan perasaan tidak menentu. Ia biarkan sang anak menangis, meraung-raung perkara rambutnya yang sudah hancur lebur.


🌾🌾🌾🌾


Baik Ammar dan Gana mulai diam-diaman. Sama-sama merenung di punggung ranjang. Adela yang masih menangis setelah mandi karena rambutnya kembali keriting malah makin parah karena bagian kriwil seakan mekar, naik ke atas kepala, memilih tidur dalam dekapan Gana walau belum terlalu nyenyak. Sedangkan Alda sudah tidur dengan mulut menganga dalam dekapan Ammar.


"Dek ...."


"Hem." berdehem saja. Bisa Ammar tangkap kalau dengan nada deheman yang menguar masih terdengar garang.


Gana yang tetap amnesia tapi kelakuan yang seakan mulai kembali galak seperti watak asalnya, seraya masih ingin memaki Ammar namun kedudukan seakan imbang. Ia juga mempunyai salah soal Miku. Dari pada Miku yang sudah hidup dengannya dari bayi sampai menjadi pejantan tangguh di buang ke jalan atau di adopsi oleh orang lain. Maka, Gana hentikan perang panas ini.


"Dek ...."


"Apa sih, Bang?" mulai gemas. "Mau nenenn kamu, manggil-manggil terus?"


Ammar tertawa. "Iya nih haus. Butuh yang segar-segar."


"Kalau jus alpukat campur bulu ketek aku mau? Pake es batu, biar lebih fresh."


Ammar mencebik bibir malas, memilih kembali menatap televisi yang menyala, sambil berdecak. "Gitu amat kayaknya. Nggak bisa di ajak baikan. Emang nggak capek kalau ribut. Perkara cuman rambut aja, minta aku biar botak segala."


Gana kembali emosi. "Abang juga, ya, lebay banget. Perkara cuman pegang eek aja, anak-anak kudu di mandiin."


"Ya kan bau, Dek. Bau asem. Kamu emang nggak geli sama baunya?"


"Ya iyalah karena kamu tuh udah best friend banget sama Miku, sampai buta kalau tayi nya tuh bau banget. Bau ******. Bau kamu ...."


"Ihhh!" Gana lekas tarik jambang Ammar lagi dan kali ini lebih panas. "Merawat kucing itu pahala, Bang. Bisa menjadi penolong kita juga di waktu penghisaban. Miku akan bilang kalau dia di urus oleh kita selama di dunia." walau kucing tidak akan masuk Surga, binatang itu akan kembali menyatu dengan tanah jika tidak ada lagi kehidupan di dunia.


"Iya, Abang paham. Tapi kan nggak harus sampai berak di kasur, Dek. Emang nya kamar kita ini, WC?"


Gana mendesah napas bete. "Kalau aku tau dia mau pup di sini, ya, pasti udah aku suruh pindah ke pasirnya, Bang. Harusnya yang Abang pikirin sekarang itu tentang rambutnya, Adel. Gimana caranya biar enggak kayak pohon beringin begini."


"Dari tadi Abang juga lagi mikir, Dek."


"Mikirin rambutnya, Adel?" Gana mengulang untuk memperjelas.


Gelengan kepala yang Ammar beri, sontak membuat Gana membolakan netra. "Mikirin apa jadinya?" alis Gana terangkat satu.


"Lagi mikirin gimana caranya si Miku biar berhenti berak. Apa di steril aja bokongnya?"


"Astaghfirullah, ABANG!! Itu lagi yang di bahas!! Pergi, nggak! Perggggiiiii!!" bukannya, buru-buru bangkit ketika Gana ingin menghentak nya dengan bantal. Ammar malah tertawa-tawa di tempat. Ia terus cekakak-cekikik menggoda Gana dengan muka ganteng yang di jelek-jelekan. Gana jadi tertular, ia tak kuasa menahan tawa. Tawa pun berakhir, kini yang tersisa hanya saling memandang dalam diam.


Ammar mengelus pipi istrinya dan sebelum mendaratkan kecupan di bibir, ia berbisik. "Pindah ke atas, yuk, Dek. Ke kamar nya, Rora."


Gana tahu apa yang suaminya inginkan sekarang. "Mereka berdua ditinggal nggak apa-apa, Bang?" membawa arah mata Ammar untuk menatap Mahika dan Magatha yang dengkurannya makin terasa.


"Nggak apa-apa, lagi pulas kok."


Gana mengangguk. Keduanya bersamaan merebahkan Adel dan Alda untuk saling memeluk di ranjang. Padahal tadi Adela masih kesal dengan sang Adik sampai mencubit paha Alda hingga memerah.


"Mau jalan, apa mau di gendong?" tawar Ammar dengan senyum genit.


"Gendong aja, Bang. Biar lebih romantis." Gana tertawa geli mengapa ia bisa separah ini dalam menggoda. "Kudu ganti pakai yang sexy dulu, nggak, Bang?" mengusulkan apa perlu ia berganti daster.


"Enggak usah, Dek. Abang lebih suka kamu polos, pakai sempakk ajah. Biar kayak pegulat." mereka kembali tertawa-tawa, sampai di mana keduanya bungkam ketika pintu kamar sudah mereka buka. Ada Aidan, Aurora dan Attaya yang sudah pulang bersama Papa Bilmar dan Mama Alika di belakang mereka.


"Mau ngapain sore-sore begini main gendong-gendongan?" tanya Papa.


"Katanya mau pulang besok?" Ammar berbalik tanya.


"Papa sama Mama kangen Adel dan Alda, mana mereka? Tidur?" seraya melongo ke dalam.


🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾


Ya elah, Ammar. Baru aja mau tempur. Wkwkw.


Bab ini untuk memenuhi janjiku yang kemarin. Bbye. moga ada waktu luang lagi, nanti aku lanjutin❤️ komennyaaa dongggg yang banyak, jangan pelit sama aku🥺