
Sang konglomerat Galih Hadnan yang sempat di rundung luka atas kepergian anak dan menantunya kini, kembali berbahagia. Telah lahir anak kedua dari putra bungsunya, Putra Gemma Hadnan. Sang Kakek di gadang-gadang memberikan mobil mewah untuk cucunya yang baru lahir.
Gana yang sedang memasak untuk makan malam mendongak ke arah televisi. Terlihat rekaman foto-foto keluarga Galih Hadnan yang tengah berkumpul di rumah tanpa kehadirannya. Setelah listrik menyalah, Gana akan menonton televisi untuk menemaninya masak dan ingin mendengarkan notif Adzan. Biasanya masakan matang memang mendekati waktu magrib.
"Keren banget ya, cucu lahir di kasih mobil." seru Gana. Ia terlihat senang sekali mendapat berita itu. "Ya namanya juga orang kaya." imbuhnya lagi sambil mengusap-usap perutnya yang semakin membuncit.
"Papa dan Mama enggak bisa ngasih yang mewah-mewah gitu sama kalian. Cukup doa, bekal agama dan sekolah. Supaya kalian bisa hebat seperti mereka. Aamiin." Gana mengajak adik Rora bicara, yang di perkirakan akan lahir dua hari lagi.
Saat ini, kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Gana sudah merasa sesak, kaki juga sudah terlihat bengkak. Tubuhnya memang melesat naik drastis. Bidan Nia sudah bersiap datang ke rumah mereka jika air ketuban Gana sudah pecah.
Karena Gana mau melahirkan, hari ini adalah hari terakhir Ammar ke pabrik. Dia akan mengambil cuti seminggu untuk menemani Gana lahiran dan mengurusnya.
Kembali Gana menatap wajan dan mengoseng-oseng daun pepaya untuk menjadi teman lauk lainnya, seperti paru cabai hijau yang sudah tersaji di meja makan.
Semakin hari perempuan hamil itu semakin pintar memasak. Lihat saja Ammar sekarang lebih berisi. Dari wajah dan perutnya terlihat gembil. Ia bersyukur istrinya jago memasak. Kadang Gana membuat kue dan juga puding untuk cemilan.
Oseng daun pepaya yang sudah matang lantas ia letakan di meja makan. Terlihat Kino dan Pino sudah berada di kolong meja menunggu jatah makam sorenya.
"Hayo ngapain di kolong? Udah lapar ya mau emam?" ucapnya kepada dua kucing kampung yang tidak sengaja selalu datang kerumah lalu Gana pelihara.
Gana kembali ke dapur dan membawa toples berisi makanan kucing yang setiap bukan sekali Ammar membelinya di kota atas permintaan Gana.
"Ayo kita keluar." serunya. Dua kucing itu seakan mengerti dan mengikutinya. Baru saja menebar butiran-butiran makanan kucing di pelataran teras rumah, Gana menyerengitkan dahi karena motor suaminya sudah tiba.
Seperti biasa ada gantungan plastik berisi sayur dan daging ayam pesanan Gana tadi pagi yang akan Ammar beli di pasar dekat pabrik. Menggantung di stang sebelah kanan. Di body motor juga ada kardus berisi bahan-bahan dagangan untuk warung. Lalu kemana empunya? Gana menyisir ke sekeliling dan tidak menemukan Ammar. Dan baru teringat kalau Rora tidak terlihat.
"Aduh, Ya Allah." serunya.
Tanpa sepengetahuan Gana, Ammar yang sudah tiba sejak tadi, sedang bergoler di saung yang ia buat sendiri di belakang rumahnya. Walau memang sudah gelap dan mau menjelang Magrib. Tapi tetap ia lakukan. Ammar rindu ingin menelpon Mamanya. Makanya mencoba menjauh dari rumah.
Ada Aurora juga di sana, pasalnya tadi anak itu sedang bermain di ambang pintu rumah saat Ammar sampai. Buru-buru membawa Aurora ke belakang. Mama Alika sudah rindu dengan cucunya.
"Mama jangan nangis ya. Adek, Gana, Rora dan calon adiknya Rora, baik-baik aja kok di sini." ucap Ammar di sambungan video call.
Ammar yang sedang tiduran beradu kepala dengan Aurora yang tangannya sejak tadi jahil memainkan daun telinganya. Anak bocah itu memandang aneh wanita tua yang tengah menangis di layar gawai.
"Udah mau tiga tahun, Dek! Tega banget kamu sama orang tua. Mama kan kangen, Nak. Papamu juga sama. Kerjaannya marah-marah terus. Dia enggak percaya kamu menghilang gitu aja. Kalau sampai Papamu tau, Mama ikut berkomplot nyembunyiin kamu. Bisa-bisa Mama di ceraikan sama Papa." tangis Mama kembali kencang.
"Jangan lupain, Papa mu itu orang yang enggak bisa di bodohin." sambung Mama dalam isaknya. Tapi terbukti Papa Bilmar selalu kecolongan dengan sikap Ammar yang selalu bermasalah. Tidak tahu selama ini anaknya adalah seorang mafia, dan sekarang menghilang tanpa jejak.
Setibanya tiga hari Ammar di Makassar. Dirinya baru di laporkan Papa Bilmar ke pada pihak kepolisian karena menghilang. Lelaki tua itu baru tau kalau sejak mereka makan malam bersama, Ammar tidak pulang lagi ke rumah.
Polisi, intel dan orang-orang suruhan Papa menggeledah rumah, tempat-tempat yang sering Ammar datangi sampai mereka menemukan mobil Ammar terparkir di tepi jurang.
Polisi kembali mencari Ammar seperti Gana, bedanya di hari kedua pencaharian, kasus tersebut di tutup. Polisi menemukan sobekan baju milik Ammar yang tersangkut di ranting pohon yang menjuntai ke dasar jurang. Seakan Ammar memang loncat ke jurang dan bunuh diri.
Keluarga Artanegara kembali terluka. Papa Bilmar sampai syok dengan Ammar yang seperti ini. Ia masih tidak percaya Ammar buhuh diri. Berbeda hal dengan sebagian orang-orang di keluarga Hadnan yang senang saat Ammar juga dinyatakan meninggal. Posisi jadi satu sama. Mereka kehilangan Gana, dan Ammar pun menemani. Dua keluarga itu jadi tidak sehangat dulu. Sudah pecah dan hancur tali silahturahmi.
Selama musibah besar menimpa keluarga mereka atas kepergian Gana dan Ammar, barulah setahun ini Maura kembali akrab dengan keluarga suaminya. Sebelumnya Maura di diamkan oleh adik-adik Gifali dan Papa mertuanya pun tidak banyak bicara seperti dulu.
Walau hatinya sudah berangsur ikhlas atas kepergian Ganaya. Tetap saja rasanya masih sakit. Jika saja Ammar tidak mempunyai latar belakang kejahatan seperti itu, putrinya pasti masih hidup.
Hanya Mama Difa saja yang sudah mulai bisa bicara tapi masih terduduk di kursi roda, selalu memintanya datang untuk menengoknya.
Padahal Bima dan Denis yang melakukan pengalihan isu tersebut. Agar sasaran mereka tepat, ingin triple F mengganggap Ammar sudah tiada. Maka dari itu selama dua tahun setengah ini Ammar bisa hidup dengan tenang di Makassar. Tapi entah jika ia kembali ke Jakarta, ia pasti akan mati ditangan anak buah Frady.
Pasalnya anak yang di lahirkan Farina meninggal setelah lima jam lahir ke dunia. Sempat membuat wanita itu depresi. Walau saat ini sudah sembuh dan juga sudah melahirkan kembali.
Farhan pun sempat cacat, ia tidak bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Saat ini lelaki itu sudah bisa berjalan kembali, wara-wiri di televisi dan Ammar senang melihatnya. Farina juga sudah berhijab, berkat tuntunan Farhan untuk kembali menuju jalan tobat.
Di ujung hati Farhan, ia masih saja menyesal dengan kepergian Gana karena ulah istrinya dan Ammar yang bunuh diri, karena depresi kehilangan Gana.
Walau dengan apa yang dilakukan Ammar kepada mereka sudah dianggap wajar, karena Farina dan Farhan pantas mendapatkan serangan dendam dari Ammar perihal kematian Gana waktu itu.
Tanpa ia tahu, sekarang Ammar juga sudah berbahagia. Tapi, tetap saja Frady masih mengenang luka atas kematian cucu pertamanya, yang ia rasa hasil perbuatan Ammar.
Tidak sekali dua kali ia merebut tender yang masuk ke EG. Dan Mahendra tahu hal itu, maka menitah Ammar untuk sabar dulu. Sampai waktunya benar-benar pas, agar Ammar bisa kembali ke Jakarta.
"Papa pasti maafin Adek kok, Mah. Dan enggak akan mungkin ceraikan Mama." Ammar masih saja menjawab dengan santai.
Mama mengangguk dan menyeka air matanya.
"Apa Mama yang kesana ya, Nak. Mama udah kangen banget. Pengen meluk kamu, Gana dan cucu Mama." Mama Alika tetap memaksa. Ia beralih menatap Aurora yang masih memandangnya aneh dari seberang sana.
"Ne ... Nene ... Ne." Rora mengikuti seruan Neneknya. Dan di sana Mama Alika kembali antusias dengan cucu perempuannya yang begitu gendut dan cantik. "Papamu pasti bahagia kalau tahu Adek udah punya anak. Cucunya nambah." wajah Mama berbinar bahagia.
"Mah jangan berisik. Nanti Papa di sana dengar."
Mama Alika menggeleng. "Papa lagi pergi sama Gifali. Beli makanan burung." ia kembali mengajak Aurora berbicara.
Mendengar ucapan itu, membuat dada Ammar terasa ngilu. Semenjak dirinya tidak ada, Papa lebih banyak menggantungkan hidup kepada Gifali. Yang notabenenya duku selalu Ammar yang menjadi andalan Papa. Tapi mau bagaimana lagi? Ini lah resiko yang harus Ammar jalani.
"Pokoknya Mama jangan kesini ya. Jauh banget, Mah. Adek takut Mama sakit. Yang penting sekarang, Mama jaga kesehatan ya. Jagain Papa juga. Kirimin terus foto-foto Papa kayak biasa. Adek pasti pulang, Mah."
Setiap hari Mama akan selalu mengirimkan foto-foto Papa yang sedang makan, tidur atau melamun sambil memegang foto Ammar. Dan ketika melihat wajah Papa yang tidak lagi kekar, Ammar pasti menangis. Menahan rindu yang sulit untuk diungkapkan.
"Abang ... Bang." suara Gana terdengar. Sepertinya langkah kaki istrinya sedang menuju ke arahnya. Walau tubuh wanita itu belum terlihat.
"Mah, nanti malam Adek telepon lagi ya." Mama mengerti dan mengangguk.
Sambungan video call di antara mereka pun akhirnya terputus. Buru-buru memasukan ponsel ke kantung celana dan bersiap bangkit dari baringnya sambil menggendong Rora untuk menghampiri Gana yang langkahnya baru sampai.
"Kok sampai langsung ke saung? Enggak masuk dulu ke rumah? Sama Rora lagi. Aku udah cemas aja anak ini hilang. Ternyata bener dugaan aku, pasti dibawa kesini sama Papanya." ucap Gana sambil mencium tangan Ammar.
"Tiduran di saung enak, Dek. Sore-sore begini. Tadi Rora main di depan pintu langsung aku gendong aja kesini."
"Lain kali jangan gitu, Bang. Kalau sudah sampai dirumah ya temuin aku dulu, ganti baju dulu dan mandi. Jangan langsung gendong Rora. Tubuhmu bawa polusi!" Gana protes. Ammar tersenyum, sekilas ia mencium pipi istrinya.
"Iya cintaku." Gana yang sedikit kesal lalu melunak. Wanita itu tersipu dengan sebutan yang baru saja Ammar suarakan. Semburat merah muda di wajahnya begitu menggelora.
"Adek masak apa? Makan sekarang aja deh. Nanti malam enggak usah makan lagi. Pengin tidur cepat abis Isya. Kayak nya badan Abang capek banget." keluh Ammar.
"Masak makanan kesukaan Abang. Tumis daun pepaya sama paru cabai hijau. Udah siap di meja. Abang tinggal makan. Nanti malam Adek buatin jamu dan di urutin deh, biar pegel-pegelnya hilang."
"Maunya di pijit sama Honey aja, gimana?"
"Enggak! Tadi pagi udah, Abang tuh enggak ada bosen-bosennya! Kalau begitu terus, yang ada Adek hamil terus. Kalau dihitung-hitung adek udah hamil tiga kali, Bang!" decak Gana. Sayang anak pertama mereka sebelum Aurora harus menghadap ilahi di usia kandungan ketiga bulan.
"Mana ada sih urusan begituan bosen? Lagian belum sepuluh 'kan?" Ammar terkekeh.
Gana mendelik tajam.
"Pokoknya enggak mau ah, libur dulu ya. Nanti aja habis lahiran." rengek Gana.
"Malah Bu Bidan nyaranin untuk sering-sering nengok si dedek." Ammar mengelus perut istrinya.
"Ya udah besok aja!"
"Enggak ah, pokoknya nanti malam. Ketemu Honey tuh obat pegal-pegalnya Abang."
Gana mendengus, sambil menggeleng kepala samar.
"Dosa loh nolak suami."
Gana memutar bola matanya malas. Dan akhirnya menurut. "Iya, iya."
"Nanti ya abis shalat Isya, di kamar belakang apa di karpet?"
"Di tanah!" gerutu Gana.
Ammar tertawa dan memajukan bibir untuk mencium pipi Gana. Namun sebelum itu terjadi, Aurora malah menghalau bibir Ammar yang ingin maju mendekat pipi Mamanya. Menarik bibir itu untuk mencium pipi.
"Oh gitu nih ceritanya? Cemburu sama Mama?" Gana menggelitik perut Aurora. Dan anak itu tertawa sambil bergeliat memeluk Ammar dalam gendongan.
Sungguh, untuk mendapatkan kebahagiaan bersama Gana. Ammar harus membayarnya dengan mahal. Berjauhan dari keluarga dan menikmati hidup sesederhana mungkin.
🌺🌺🌺🌺
Siapa yang seneng aku kasih bonus? Hehe.
Sengaja aku lompat dua tahun, karena cerita Gana masih banyak yang ingin aku kuak. Takut terlalu lama, jadi yang bertele-tele nya aku skip. Kapan thor mereka ketemu keluarganya? Apa mau besok? Biar sekalian aku tamatin🤪😂
Like dan Komennya jangan lupa ya.