Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Aku Bukan Pelakor.


"Kakak ..." air mata terus Ganaya tumpahkan di dada Gifali. Wanita itu menangis sesegukan sambil meremat kain kaos Kakaknya.


"Kak ..." suara itu amat sangat pelan, sampai tidak terdengar.


Gifa mengangguk, masih mengunci tubuh Gana dengan kedua lengannya. Meletakan ujung dagu di pusaran kepala sang Adik. Lelaki itu pun menangis.


Ia juga merasa sakit dan pedih. Adik yang ia cinta, disakiti dengan sengaja oleh lelaki yang akan dilimpahkan amanat untuk menjaga, pengganti dirinya dan orang tua.


"Aku pelakor, Kak." Gana berhasil mengeluarkan kalimat itu, setelah lidahnya terasa pias.


"Bukan, Dek. Kamu bukan pelakor. Kamu wanita baik, kamu hanya di tipu." Gifali lirih.


"Selama setahun, aku bersenang-senang di atas penderitaan wanita lain, Kak." tangisan Gana semakin kencang. Dengan dada yang semakin sesak. Mengucap kata wanita lain, sangat menusuk hatinya. Ditambah lagi, jika pernikahan itu terjadi. Ia akan tersiksa seumur hidup.


"Aku bukan Aisyah istri Nabi, yang bisa kuat untuk di poligami." Ganaya terus mengeluarkan unek-uneknya.


"Masalah kamu dan Adri jauh sekali dari aturan poligami. Ini pembohongan dan penipuan! Batalkan pernikahan itu! Kakak, tidak sudi kamu dengan dia! Harusnya ia bersyukur sudah memiliki istri dan anak. Bukan untuk menjerat wanita lain lagi."


"Tapi dia bilang hanya cinta padaku."


"Omong kosong! Kalau benar-benar cinta, ia tidak akan menyakitimu, Gana. Lihatkan, bagaimana perlakuannya kepadamu? Tidak lebih dari seekor binatang!"


Gifali yang selalu teduh dalam bersikap dan berbicara. Sampai tidak sadar untuk mengumpat dan memaki Adri. Ia berfikir, biarlah Adiknya terluka di awal, sebelum hancur selamanya.


Dirinya saja selalu menjunjung tinggi kesetiaan, kejujuran dalam suatu pernikahan. Hanya ada Maura di dalam hatinya, walau dalam perjalanan rumah tangga, cekcok dan pertengkaran selalu menemani pernikahan mereka.


Namun, untuk menduakan, menipu dan membawa orang ketiga. Sungguh Gifali sangat mengecam perbuatan tersebut.


"Bersabar, Dek. Ada tujuannya mengapa Allah memberikan cobaan seperti ini kepadamu."


Ganaya semakin menangis. "Apa yang salah dengan diriku, Kak? Kenapa aku selalu di permainkan?" wajah dan hidung Ganaya sudah memerah laksana tomat.


"Masih ada jodoh terbaik yang Allah simpan untukmu, Gana. Diberi pahit dulu sebelum akhirnya kamu bahagia."


Gana menggeleng samar, sudah tidak percaya lagi wanita itu tentang jodoh. Sudah sangat trauma dengan kaum lelaki. Cinta dan hubungan Gana selalu berakhir dengan malapetaka.


Apakah cinta sucinya Ammar yang membuat Ganaya tidak boleh termiliki oleh lelaki lain?


***


"Bagaimana kabar si Anjingg itu?" suara bariton Ammar terdengar di sambungan telepon. Lelaki itu masih setia memangku dagu di balik kemudi stir, tidak jauh dari rumah Ganaya.


"Bapak Adri di rawat di Rumah Sakit Bakti Pelita, Pak. Ada beberapa polisi yang menjaga di depan pintu. Saya susah untuk mengaksesnya. Kalau orang kita nekat untuk menjalankan aksi, sepertinya resikonya akan besar, Pak. Mereka akan curiga sekali, apalagi orang-orang kita ada yang sudah menjadi DPO polisi." suara Denis terdengar berbisik-bisik di Rumah Sakit.


Ammar menghela napas panjang. Memejam kedua mata sambil menggeleng frustasi. "Ya sudah kalau begitu, perintahkan anak-anak untuk mundur."


"Baik, Pak." Denis mengiyakan sebelum sambungan telepon gelap mereka terputus.


"Tidak ada gunanya kalian menjaga nyawa si keparatt itu!" Ammar memukul stir dengan kepalan tangannya.


Murka sekali dirinya kepada Adri, lelaki yang sudah ia biarkan untuk mengambil Gana selama ini, dan akan menikahinya. Tapi dengan sengaja lelaki kurang ajar itu membohonginya secara mentah-mentah.


"Bangsatt!" Ammar kembali berseru.


Suaranya menggema nyaring di dalam mobil. Ia kembali bersandar lemah di sandaran jok. Dengan kedua tangan terlipat di dada, kembali memperhatikan halaman rumah Hadnan. Karena mobil Gifali masih ada di sana.


Ammar yang khawatir dengan keadaan Ganaya. Memaksa dirinya untuk datang dan mengecek keadaan wanita itu. Ia berbohong kepada Maura ketika ingin meminjam mobil Kakaknya itu.


Ia bilang ingin membeli sesuatu keluar, walaupun dalam satu jam Maura mengiyakan karena ia takut Ammar berbohong. Dan, nyatanya memang demikian.


Satu jam setengah menunggu di dalam mobil, waktu pun sudah tengah malam sekitar 01:30, Ammar masih terjaga didalam mobil. Dan ia bisa tersenyum dan menegapkan tubuhnya ketika mobil Kakak iparnya sudah keluar dari kediaman Hadnan.


"Okelah ... lets'go. Aku datang sayang." serunya lalu memutar kunci mobil dan menekan pedal gas. Memasukan mobil ke dalam rumah yang pintu gerbangnya sedang akan ditutup oleh satpam.


"Oh, Den Ammar, silahkan." ucap penjaga itu. Ammar tersenyum dibalik kaca mata hitamnya, ia mengangguk dan mengucap kata terima kasih.


Debaran jantung Ammar begitu kentara. Ia tahu, ini bukan saatnya tepat untuk datang. Setidaknya ia hanya ingin mendengar suara Ganaya dan tahu jika wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.


Ammar segera turun dari dalam mobil dan melangkah menuju pintu utama. Ia mengetuk beberapa kali, sesekali diiringi dengan menekan bel.


Seorang art paruh baya menyembul dari balik pintu utama, ia hanya membuka satu pintu saja.


"Den Ammar?" Bik Iyum mengenali lelaki ini.


Seakan tahu hal yang sedang terjadi dengan majikannya. Bik Minah mengubah raut wajahnya gelisah. "Itu, anu, eum ... Non, lagi ..."


"Saya ngerti, Bik. Makanya saya datang, disuruh bawain makanan." Ammar berdalih.


Bik Minah ber oh panjang. Ia tidak jadi lancang menjelaskan keadaan majikannya, karena ia senang Ammar sudah faham.


"Oh baik, Den. Silahkan masuk."


"Saya duluan ke atas ya, Bik." Ammar sudah hafal lekuk rumah ini. Sampai ia tahu dimana letak kamar Ganaya, walaupun belum pernah memasukinya. Karena tidak jarang, Ammar suka datang kerumah ini ketika Five G minta di antar kerumah Kakek dan Neneknya, dari jaman Ammar belum menjadi apa-apa.


Suasana rumah sudah sepi. Lampu-lampu dibalik kamar pun sudah padam. Tapi hanya lampu kamar Ganaya yang masih terang, ia bisa melihat hal itu dengan jelas dari balik ventilasi kamar wanita itu. Menaiki tangga dengan langkah cepat. Ia sudah tidak tahan ingin bertemu dengan pujaan hatinya.


Baru saja langkah kakinya sampai. Jantungnya kembali berdentam. Permukaan kulitnya meremang, ketika samar-samar ia mendengar isakkan tangis Ganaya dari dalam kamar.


Ammar tertunduk, meremat kain kaos di bagian dadanya. "Aku sakit mendengar kamu menangis, sayang." desah Ammar.


"Cinta itu memang tidak harus memiliki. Dan aku sudah menjalaninya, mencoba melepas mu dengan berbagai lelaki yang sudah pernah bersamamu, menjadi kekasih hatimu dan terakhir Adri yang akan menjadi calon suamimu."


"Aku lakukan agar kamu bahagia, tapi maaf akhirnya kamu menderita. Maka untuk itu, maaf Gana. Karena aku harus memaksa, agar kamu mau menerimaku!"


"Karena hanya aku yang mampu membuatmu aman. Hanya cintaku yang tulus. Maaf, kalau kamu harus menderita dulu seperti ini."


Ammar menyeka genangan air matanya agar tidak jatuh menetes. Menekan oksigen ke dalam dada lalu menghembuskan nya ke udara. Ia merasa gugup.


Tok tok tok.


Ammar mengetuk pintu kamar Ganaya dengan tekanan pelan, ia tidak mau orang rumah yang sudah istirahat, terganggu dan terbangun.


"Ganaya ... ini aku, Ammar."


Hening. Isakkan tangis terdengar berhenti, Ammar bisa merasakan tapakkan kaki yang mulai mendekat ke arah pintu dan akhirnya mematung di sana.


"Gana ..." amat lembut dan meneduhkan.


"Mau apa, Amar?"


Ammar menghela napas sedih, ia tak tahan untuk meneteskan air matanya. Ketika mendengar suara Ganaya terasa amat berat.


"Aku ingin melihatmu."


"Apa lagi yang ingin kamu lihat, Ammar? Aku sudah hancur!"


"Buka dulu pintunya, biarkan aku masuk." Ammar menekan-nekan handle pintu.


"Pergi, Ammar! Aku malu."


"Iya aku tahu, wajahmu pasti jelek sekali sekarang karena terus menangis." Ammar tertawa dalam tangis.


"Pergi ...!!" Ganaya kembali berteriak. Ammar tahu, wanita itu kesal karena terus di ledek. "Aku bawakan mentai salmon."


Ammar menguji Ganaya dengan makanan kesukaannya. "Aku tidak mau!" sergah Ganaya.


"Ya, baiklah akan aku berikan saja untuk Paulina dan Carlos Daniel."


"Jangan, Ammar! Nanti mereka diare!!" seru Ganaya.


"Puss ... sini, sama om ganteng yuk."


Ammar berakting, seakan ia bertemu dengan dua kucing peliharaan Ganaya. Mendengar itu, membuat wanita yang mengurung diri dikamar ini, lantas keluar kamar. Ganaya bisa bernapas lega, karena kedua kucing yang dimaksud Ammar tidak ada didepan kamarnya.


"Kamu jahat, Ammar!"


Ammar tersenyum dalam air mata yang terus berjatuhan. Lelaki itu merentangkan kedua tangannya. Seakan mengerti, Ganaya langsung menyambar tubuh itu dan membenamkan kepala di dada Ammar.


"Ammar ..."


***


Like dan Komennya jangan lupa ya🌺🌺