Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Nanti aku mati, loh!


"EYDEN!"


Mendengar hardikan sang Mama, sontak kotak susu yang tengah Aidan genggam, begitu saja jatuh ke atas seprei. Ia kaget setengah mati, habislah riwayatnya siang ini.


Tentu hal itu membuat Gana semakin melototkan matanya. Sudah tidak puasa, malah mengotori tempat tidur. Gana mendekat dengan langkah gemas seraya ingin mencubit.


"Kamu enggak puasa? Mama bilangin Papa, ya!" sentak Gana.


"Mama tanan!" seru Adel. Ia bergegas berdiri di ranjang, membentangkan kedua tangan, dirinya seolah pasang badan untuk sang Kakak.


"Kenapa jangan?" tanya Gana dengan kerutan di dahi, jari-jemarinya sudah tidak tahan untuk menjewer telinga Aidan. Tapi, melihat ekspresi Adel yang seperti ini, membuat Gana tidak tahan untuk tertawa, walau ia tetap menahannya. Ia masih ingin ditatap Aidan, kalau dirinya sedang marah. Bisa-bisanya anak itu berbohong kepadanya.


"Kacian Kakak, Mah. Kakak ndak kuat puaca. Nanih, mati loh," si cadel malah menakut-nakuti Mamanya. Aidan saja sampai terkekeh di balik tubuhnya yang montok. Ada-ada saja pikirnya, mana ada orang puasa bisa mati.


"Kakahhhhh, nuuuu nain nuuu," celoteh Alda. Tangannya mengulur ke arah Adel dari gendongan Gana. "Kamuh nomong apa, Dek? Akuh ndak ngelti," balas Adela. Dan Alda hanya tertawa gemas sambil menguap. Maksud Alda, ayuk kita main.


"Puasa enggak akan menyebabkan orang mati, Nak. Puasa itu wajib, sedari usia kita tujuh tahun. Nanti, kalau Adel sudah berumur segitu, juga harus puasa seperti Kakak. Wajib!" Gana tegas.


Adela menggeleng, ia meringis takut. "Ndak 'ah, Mah. Aku ndak mauh puaca. Nanih, aku telapalan." Ia mengelus perutnya. "Mama mau aku mati?" kembali menakut-nakuti.


Cerdas sekali anak ini. Gana tersenyum, ia cium anak itu dan beralih ke arah Aidan. Awalnya Gana ingin marah dan menghukum Aidan. Tapi, melihat anak lelakinya sedikit pucat dan ia terharu dengan kebaikan hati Adela yang begitu sayang kepada Kakaknya, membuat Gana menghempaskan emosi. Namanya juga masih anak-anak, harus dilatih tertatih-tatih agar bisa kokoh dalam berpendirian.


Gana duduk di bibir ranjang sambil memangku Alda. Adela dan Aidan menempel di sisi tubuh Gana, memeluk lengan wanita itu.


"Sekali lagi Mama katakan, tidak ada sepanjang sejarah, manusia yang mati karena berpuasa. Kenapa? Karena ada Allah yang maha melindungi. Kan kita sedang mencari pahala, menempuh hal kebaikan untuk diri kita, masa iya kita sampai mati? Puasa itu juga bagus untuk kesehatan. Bisa mengistirahatkan tubuh sejenak dari makanan-makanan yang tidak baik."


"Tapi kan, Mah. Akuh ndak kuat puaca. Akuh lapelan olangnyah---" dalam sehari ia bisa menghabiskan lima kotak susu dan beberapa bungkus biskuit. Ammar saja takut kalau Adela bisa obesitas.


"Kalau sekarang, ya, enggak usah. Karena kamu masih kecil. Tapi, kalau umur mu sudah tujuh tahun atau seusia Kaka, hukumnya wajib untuk berpuasa! berdosa loh bagi hamba-hamba Allah yang sengaja tidak berpuasa. Mumpung ketemu sama bulan Ramadhan, kita berlomba-lomba untuk mencari kebaikan. Karena kita enggak akan tau, tahun depan masih bertemu Ramadhan atau tidak," jelas Gana.


Semua termangu mendengar perkataan Gana. "Eyden harus belajar. Harus kasih contoh ke Taya dan Adek-adek. Kalau lemas, lapar, haus itu hal biasa dalam puasa, Nak. Semua orang merasakan itu. Namanya juga seharian kita tidak minum dan makan. Coba sekarang Mama mau tanya, nyesel enggak buka? Biasa aja kan rasanya habis buka sebelum waktunya? Enggak enak?"


Aidan mengangguk lemah. "Iya, Mah. Aku menyesal. Coba kalau aku lebih sabar, pasti aku enggak akan batal. Dan bisa buka puasa sampai Maghrib sama Papa, Kakak dan Adek,"


"Maaf, ya, Kak," ucap Adela. Ia menatap sendu Kakaknya. Karena dirinya lah, yang membuat anak lelaki itu membatalkan puasa.


Aidan tersenyum dan mengangguk. "Enggak apa-apa, Dek."


"Pokoknya jangan di ulang lagi, ya. Eyden harus terus belajar puasa. Jangan sekali lagi kami bohongin Mama! Ingat, ada Allah yang melihat dan Malaikat yang mencatat segala dosa-dosa kita. Kecuali kamu sedang sakit, Mama bisa tolerir untuk tidak puasa. Dan untuk Adek." Gana menurunkan matanya ke bawah, menatap manik mata cokelat milik Adela.


"Jangan lagi tawar-tawarin semua Kakak untuk mau minum dan makan kalau sedang puasa. Walau kelihatannya kasian karena menahan lemas. Ya, biarin aja. Enggak boleh dikasihani, karena apa? Kalau Adek begitu, sama aja Adek enggak sayang sama Kakak, membuat Kakak berdosa. Mau Adek, Allah marah sama Kakak?"


Dengan cepat Adela menggeleng. Ia mencebik sedih, air bening bergerumun di pelupuk matanya yang indah. Ia turun dari tepi ranjang dan mendekati Aidan.


"Huwaaaaaaa ...." si keriting menangis memeluk Kakaknya. "Aku cayang Kakak, ndak mauh Kakak dimalahin cama Awoh,"


Alda mendongak ke atas, menatap Gana sambil menunjuk ke arah Aidan dan Adela


"Kakah, nis, Mah," Gana hanya mencium anak itu.


Aidan mengunci tubuh adiknya erat, bukannya haru, anak itu malah terkekeh.


"Eyden lanjut puasa lagi, ya. Walau sebenarnya udah batal. Tapi, Mama mau kasih hukuman. Biar kamu kapok. Percuma kan buka puasa sekarang? Cuman minum seteguk terus puasa lagi?"


"Jangan sampai Kak Rora, Taya dan Papa tahu kamu batal puasa hari ini. Bisa-bisa nanti keikutan. Papa juga kan bilang, kalau puasanya enggak full, enggak akan dibeliin baju lebaran," ucap Gana.


Adela menghentikan tangis. Ia melongo dengan ucapan Mamanya. Menarik kepalanya dari perut Aidan, si keriting menatap Gana.


"Telus kalau akuh timana? Aku kan ndak puaca, Mah. Tatinya dibeliin baju lebalan ndak?"


Aidan tertawa lagi. "Kalau Adek enggak dibeliin, nanti pakai baju Kakak, ya,"


Bibir bawah Adela maju ke depan. "Akuh kan cewek, maca pakai baju cowok!" dengusnya.


"Wowwwwooo ...," Alda ikut berceloteh, mengikuti ucapan kata Adela.


...🌾🌾🌾...


"Kok dari tadi Papa perhatikan kamu senyum-senyum sendiri, ada apa, Nak?" tanya Ammar kepada Adela yang duduk di hadapan dirinya bersebelahan dengan sang Mama dan kedua Kakak perempuannya, sedangkan Ammar bersebelahan dengan Aidan. Kalau Alda, ia di letakan di kursi khusus untuk makan. Saat ini, di meja makan keluarga besar itu sedang menikmati santapan buka puasa.


Adela tidak bisa menahan tawa, saat Aidan beberapa menit lalu, memimpin membacakan doa berbuka puasa untuk keluarganya. Anak kecil itu tahu sendiri kalau sang Kakak tidak puasa dan tengah membohongi Kakak nya yang lain dan Ammar.


Adela menggeleng dengan senyuman renyah. "Ndak apa-apa, Pah," balasnya. Gana sekilas terkekeh sambil menatap Aidan yang juga ikut tertawa menatapnya. Sungguh rahasia tiga insan yang amat membagongkan.


Ammar, Taya dan Rora menautkan alis bingung. Mengapa hanya mereka bertiga yang seakan tidak tahu hal apa-apa.


"Pah ..." baru Ammar ingin memasukan sendok berisi kolak pisang ke dalam mulut, ia kembali mendongak ke arah Adela.


"Iya, Nak?"


"Akuh nanih dibeliin baju lebalan, ndak?" si montok langsung to the point. Seakan ingin memerdekakan hak nya.


"Baju lebaran hanya untuk yang berpuasa penuh," balas Ammar. Bukan maksud hati ingin mengecilkan hati Adela, tapi ia hanya ingin mengobarkan semangat ke tiga anak nya yang lain untuk tetap berpuasa full agar bisa mendapatkan baju baru.


"Yahhhh ... telus akuh, timana? Aku kan macih kecil, ndak kuat puaca," tanyanya lagi. Raut senang yang sedari tadi menerpa, tiba-tiba redup. Ia pikir Papanya ini akan mentolerir dirinya.


Ammar tersenyum. Ia melambaikan tangan ke arah Adela untuk berpindah duduk di pangkuannya. Si keriting akhirnya mengangguk dan turun dari kursi, ia memutar langkah dan duduk di pangkuan Papanya, menatap Mama, Rora dan Taya.


"Kalau buat Adek, masih dapat pengecualian."


Seketika garis senyum si bolo-bolo hon-hon terangkat naik, memperlihatkan gigi-geliginya yang mungil dan putih, berjajar rapih. "Benelan, Pah?" tanyanya memastikan lagi.


Ammar melabuhkan kecupan di pucuk rambut Adela. "Benar, Nak. Yang penting kalau di rumah, Adek jangan rewel. Bantuin Mama jagain Adek Alda kalau Kakak-kakak lagi sekolah," titah Ammar.


Gana hanya menghela napas saat mendengar titahan Ammar kepada Adela. Tidak tahu saja lelaki itu, kalau dua hari lalu. Adela mengajak adiknya untuk main basah-basahan di kamar mandi, saat Gana sedang tidur siang. Si rambut jarang itu sampai kena flu ringan.


"Iya dong, Pah," janjinya gembira dan semangat. "Tapi, Pah. Akuh boyeh ndak, minta yang ain ajah, jangan baju," imbuhnya lagi.


Ammar membulatkan mata. "Mau apa, Nak? Tas? Sepatu? Nanti biar Papa belikan semua." bola mata ketiga Kakaknya melongo takjub. Enak sekali Adiknya, tidak puasa tapi tetap dibelikan perlengkapan baru menuju hari Idhul Fitri.


Adela menggeleng. Dan semua yang ada di meja makan, mengerutkan kening menunggu jawabannya.


"Lulusin lambut akuh, ya, Pah." pinta Adela memelas, ia memegang helaian rambutnya yang mirip seperti makaroni goreng.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...