
Ammar lekas menarik tangan Alda sampai kepala anak itu bergoyang dan rambut nya terkibas-kibas di udara untuk menjauh dari dinding kosong yang anak itu ajak bermain. Pun Adela jadi ikut bergolak dalam dekapan Ammar karena di bawa lari menuju kamar. Saat hendak tiba di bingkai pintu kamar, keluarlah Gana dengan Aqila menuju lantai dua, ingin bersembunyi di kamar anak mereka. Alhasil, Ammar ikut mengekor.
"Takut, Pah. Ada setan." Gana meniti anak tangga buru-buru.
"Ngapain takut sama setan!"
Gana mendelik tajam ke belakang. "Kalau nggak takut. Ngapain Papa ikutin Mama?"
"Ya mana bisa aku tidur sendirian. Adela lagi panas begini. Belum lagi Alda yang kaya reog nggak bisa diam!" anak itu menangis-nangis dalam cekalan tangan Ammar di lengannya, meronta tidak mau di bawa.
"Tuyunin, Pah! Tuyunin!"
"Mau ngapain ke sana? Nggak ada siapa-siapa, Dek!" bentak Ammar membuat Alda terus menangis dan Adela berdecak pusing.
"Awas yah kamuh kalau Kakak udah cehat. Aku tubit nanih!" Adela ikut melototkan mata ke bawah, tepatnya kepada Alda yang wajahnya penuh dengan lipstik.
Alda yang tengah beringas, masih ingin bermain dengan para anak-anak astral terus menunjuk ke arah bawah, seraya berteriak kepada Bela dan Malia untuk menjemput dirinya. "Cinih don, tayik akuh!" pintanya.
Ammar dan Gana semakin dilanda ketakutan, bisa-bisanya mereka takut hanya perkara setan melebihi ketika melihat maling. "Kecil-kecil udah bisa lihat setan. Mau jadi anak indihome kalau udah besar?" dengus Ammar.
"Indigo, Bang!" Gana membetulkan dan langkah mereka kini sudah berada di atas puncak tangga. Tetap mengikuti Gana kemana sang istri melangkah selanjutnya.
Kamar Aurora lah yang Gana pilih untuk bersembunyi di sana, karena merasa lantai bawah sedang tak aman. Dan saat membuka pintu, keheningan penuh kasih terpampang nyata. Tayya dan Aidan tengah memeluk Rora di pembaringan dalam satu selimut. Setiap akan mengikuti ujian, ketiga nya akan berkumpul untuk meluapkan rasa takut menjelang esok hari.
"Maa Syaa Allah Tabarakallah ... anak-anakku. Kalau lihat begini, tentram hati Mama, Nak," ucap Gana bahagia melihat mereka bertiga. Pun Ammar yang ikut tersenyum. Namun kesyahduan itu tak berangsur lama karena ketiganya bangun akan suara Alda yang terus memekik telinga.
"Ada apa nih? Kok Adek nangis?" tanya Aurora bangkit dari baring. Pun Aidan dan Taya, yang ikut mengucek mata sembari menguap. Gana membawa Aqila untuk merangkak naik. Ammar juga dengan Adela dan Alda setelah mengunci rapat pintu kamar.
"MAUH TUYUN!" teriak Alda saat mereka sudah bersempit-sempit, delapan orang di kasur besar milik Auora.
"Adikmu lihat hantu. Mama sama Papa jadi takut, makanya ke sini," ujar Mama.
"Hantu?" kedua mata dari ketiga anak itu melebar tak menyangka. Papa berdecak tak setuju. "Mama aja yang takut. Papa mah enggak."
"Kalau emang takut, ya, bilang aja, Pah." Gana tarik kuping Ammar karena gemas sampai lelaki itu meringis-ringis. "Ya, jangan buka kartu depan anak dong. Kan Papa malu, Mah."
Gana mencibir masam.
"Beneran ada hantu, Pah, Mah?" tanya Aidan memastikan.
"Tapih meleka ndak celam kok. Baik banet malahan. Suka jugah temenin akuh dan dedek bobok di kamal."
Gana dan Ammar gegas mengerdik bahu kaget. "Bisa-bisanya tuh bocah-bocah setan masuk-masuk ke kamar kita, Mah. Jangan-jangan selama kita bikin donat, mereka nongol lagi ngeliatin-"
"Donat?" semua berseru tanya dengan kedua alis bertaut. Pun Alda yang mendadak berhenti menangis, melongo kepada Ammar.
"Kalau ngomong tuh di saring dulu, Pah! Jangan asal cocot!" Gana jawil bibir Ammar agar anak-anak tidak berpikir keras.
"Sejak kapan Mama dan Papa bikin donat di kamar?" tanya Athaya polos. Pun Aidan dan Aurora yang mengangguk, menunggu jawaban.
Saat pusing ingin menjawab apa, Alda kembali meraung. Kini, bocah perempuan itu berguling-guling di lantai dengan air mata terus menganak. Ia berteriak-teriak, memanggil-manggil nama nenek dan kakeknya untuk mengadu. Kasihan dengan sang anak yang terus merengek. Gana melepaskan Aqila yang masih tetap pulas ke dalam pangkuan Rora. Sedangkan Ammar juga melepaskan Adela pada gendongan Aidan.
"Main di sini aja, ya. Sama Papa dan Mama, Nak," bujuk Mama kepada Alda yang masih meronta, mengusap kebasahan air mata di pipi anak itu.
"HUAAAA!" tetap menangis, mulutnya menganga lebar, memperlihatkan gigi geligi susu yang sudah rapih berbaris di area depan. Ammar memilih menggendong Alda untuk ia dekap, ditimang-timang dengan kasih sayang, di bawa ke sudut kamar. Mengelus lembut punggung sang anak dengan untaian doa terus menerus.
Lama-kelamaan Alda mulai tenang, isak nya perlahan berhenti, walau masih ada namun tidak senyaring tadi. "Magata Aldavia, kesayanganku ...," bisik Papa, mencoba terus untuk menenangkan.
"Mau ngapain, Mah?"
"Mau telepon Papaku, biar bersihkan rumah ini dari setan."
Ammar terbahak. "Kamu pikir Papa itu pembasmi setan?"
"Papa pernah cerita dulu kalau nggak salah, Geisha dan Bisma pernah lihat hantu waktu mereka masih kecil."
Ammar yang merasa masalah ini sepele tidak harus terlalu dibesar-besarkan, melangkah panjang dengan gelengan, menghampiri istrinya.
"Udah jangan, Mah. Kasian Papa kamu repotin cuma karena masalah begini."
"Tapi, Mama worry sama, Alda, Pah. Kalau aja tuh setan nggak distrak anak kita. Mungkin Mama akan biasa aja tanggepin nya."
Alda yang mulai terlelap dan wajahnya sudah dibersihkan dengan tissue, tetap berada dalam kehangatan elusan tangan Ammar.
"Coba sini." Gana menyodorkan gagang telepon itu kepada Ammar. "Papa mau coba telepon Papa ku aja."
"Papamu?" dahi Gana berkerut-kerut macam lipatan gelombang. Akhirnya mendengus bete karena ia tahu, sejatinya Ammar bukan tak enak kalau merepotkan Papa Galih. Tapi, ia hanya tak mau dianggap cemen.
Gana menurut saja, apa mau suaminya.
"Assalammualaikum, Pah."
"Waalaikumsallam, iya, Nak. Kenapa?" tanya Papa yang masih mengantuk sekali dengan nada berat. Sedang pulas-pulasnya ada telepon masuk dari pangeran lelakinya.
"Tolong ke rumah Adek, Pah. Di rumahku ada hantu."
"Hantu?" mata Papa membulat lekas segar dari kepulan kantuk. "Iya, Pah. Tolongin Adek."
"Kamu pikir Papa pemburu hantu? Masa ama setan aja takut begitu! Kamu tuh udah tua, Dek! Malu dong sama, burung!" bukannya mendapat angin segar, Ammar malah terbelenggu dengan kemarahan Papa nya.
"Tolongin dong, Pah." memelas.
"Kamu urus saja sendiri, Dek. Papa ngantuk nih. Habis nonton bola." Ammar hanya bisa pasrah kalau kali ini Papa Bilmar 'No best friend' dengannya. Sambungan telepon itu lekas terputus. Dan Gana mendelik bete ke arah Ammar karena lebih baik menghubungi Papa Galih sejak di awal tadi.
"Udah kamu tidur aja, Mah. Papa yang akan berjaga."
Gana mengiyakan karena ia juga mengantuk, sembari menyusui Qila yang bergumam ingin bangun. Ammar memilih merebah di sofa sembari mendekap Alda yang tertidur di ceruk dadanya.
Satu jam kemudian ada ketukan di pintu kamar yang membangunkan Ammar, tapi tidak dengan Gana dan anak-anaknya.
"Iya, Bik?" tanya Ammar kepada Bik Nanih setelah membuka pintu kamar.
"Ada si Eyang dateng, Pak." Ammar tampak gembira seakan makan steak berkilo-kilogram saat Papa Bilmar tetap datang ke rumahnya.
"Sudah ku dugong kalau Papa nggak mungkin tega padaku," gumam Ammar melangkah riang untuk menuruni anak tangga.
🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾
Masa, Papa Bilmar si ganteng-ganteng serigala mau disamain sama pembasmi tuyul sih Abang, wkwkwk.
Senang ada notif? Like dan komennya jangan PELIT! :')