Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Aku Kembali Padamu.


Tok tok tok


Pintu kembali di ketuk. Sesekali diguncang dengan tekanan hebat, memaksa agar penghuni rumah yang mungkin sudah di kamar, harus bangun dan membukakannya pintu.


Yuni menatap majikannya. "Kasian Ibu, Pak. Diluar hujan deras. Ibu kan punya penyakit sesak, enggak boleh kena dingin."


Ammar beralih menatap Yuni. Ia sedikit kaget, karena baru ingat. Walau di bibir ia memaksa untuk mengusir Gana, tetap saja ujung hatinya tidak bisa. Wanita itu terlalu segalanya bagi Ammar. Dan sudah di tebak, Ammar luluh.


"Tolong ambilkan kunci di atas nakas, Yun!" Ammar seraya menunjuk ke dalam kamar. Yuni mengangguk senang dan bergegas masuk ke dalam kamar majikannya.


Lelaki itu melangkah cepat menuju daun pintu. Ammar sampai menggeleng kepala, karena ia baru tahu siapa wanita yang ia nikahi. Wanita pemberani, mandiri, dan tidak mempunyai rasa takut. Wanita macam apa yang berani membelah jalan malam-malam dalam hujan deras, apalagi jika Ammar tahu wanita itu habis memanjat pagar.


"Sayang ... buka! Aku mau masuk." seru Gana lagi. Kini, Ammar bisa mendengar suara istrinya dengan jelas. Di dengar suara itu dengan nada bindeng, Ammar langsung berlari. Lelaki itu khawatir.


Tahu ada langkah mendekat dari dalam menuju pintu, Gana semakin berseru.


"Sayang ... Yuni. Aku pulang. Tolong bukain pintu. Di sini dingin ... uhuk-uhuk." Gana terus berseru sampai ia terbatuk-batuk.


"YUN, CEPAT!" Ammar berteriak. Ia mulai khawatir.


"Ii--ya, Pak." Yuni berlari dari kamar Tuannya, menuju Ammar.


Kunci di sodorkan Yuni, langsung diraih dan ditancapkan pada lubang handle pintu. Pintu dibuka cepat dan membentang lebar.


Blas.


Gana dengan tubuh basah langsung menerjang suaminya.


"Ammar ..." lirihnya. Nadanya terdengar memelas. Ia senang akhirnya diijinkan masuk ke dalam rumah.


Ammar membawa Gana yang tubuhnya sudah basah. Rintik air membasahi lantai, saat wanita itu digiring untuk masuk ke dalam kamar.


"Yun, siapin teh hangat."


"Baik, Pak."


Ammar mendudukkan istrinya di bibir ranjang. Tubuh Gana bergetar, wajahnya pucat, kulitnya mengeriput. Wanita itu menggigil, ia masih memeluk perut Ammar yang berdiri di hadapannya.


"Tunggu sebentar." Ammar melepas paksa pelukan itu. Dan beranjak mengambil remot AC di atas nakas untuk di arahkan ke AC yang menggantung di dinding. AC ia matikan, dirinya tahu Gana sedang kedinginan. Kemudian lelaki itu membuka lemari, mengambil handuk baru dan baju tidur untuk Gana.


Gana memeluk dadanya dengan kedua tangan, gemeretuk giginya terus terdengar. Kepalan tangannya saja terlihat tremor walau sedang diam.


Ammar kembali menuju dirinya. "Kamu ngapain kesini?" tanya Ammar dengan nada dingin kembali.


Refleks Gana mendongak menatap suaminya. "Memangnya kenapa? Ini 'kan rumahku. Pemberian mahar darimu."


DEG.


Ammar melupakan hal itu lagi. Memang Gana lah yang berhak tinggal di sini dibandingkan dirinya.


"Tapi aku sudah menalakmu. Tidak mungkin kita hidup bersama seatap." Ammar sudah memegang kancing baju Gana yang sudah basah, tapi ia tidak jadi meneruskannya untuk membuka. Niatnya Ammar ingin menggantikan Gana dengan baju kering.


"Maka kamu yang harus pergi dari sini! Ini kan rumahku!"


Ammar meneguk salivanya.


"Makanya kalau kamu tidak tau ilmunya. Tidak tau hukumnya kenapa langsung mengucap?"


"Ha?" Ammar menautkan alis. Wajahnya terlihat bingung.


"Jangan hanya tau pembagian talak, jika kamu tidak mengerti dasar-dasarnya."


Ammar termenung, menatap lekat wajah Gana. "Ayo cepat gantikan aku baju. Aku dingin." Gana meronta.


"Tidak boleh. Kita belum halal lagi."


Gana menatap tajam dan benci kepada Ammar. Ia sampai mencubit perut suaminya yang sontak memundurkan tubuh untuk menjauh dari cubitan.


"Cepat handuki aku! Gantikan aku pakaian, aku hujan-hujanan dan jatuh dari pagar ini semua karena ulahmu!" Gana merajuk, mirip seperti anak tk yang kue nya diambil oleh temannya.


"Kamu jatuh?" Ammar menilik tubuh Gana.


"Ini yang sakit." Gana menunjuk lututnya. Ammar melongo kasian. Ia menopang kedua lutut dilantai dan mensejajarkan tubuhnya dengan luka tersebut.


Ammar mengusap luka yang awalnya berdarah kini hanya memutih karena sudah terkena air hujan. Terlihat lebam kebiruan melingkar dan luka robek sedikit.


"Makanya jangan asal panjat pager! Macam anak monyett barbar aja!" decak Ammar kesal.


Gana mendengus, ia menghempaskan pukulan di bahu suaminya.


"Kamu yang monyet!" sentak Gana gemas. "Aku enggak akan barbar kayak gini, kalau kamu enggak seenaknya aja talak aku! Setelah kamu udah pernah ngerasain enak di ranjang, dan aku belum. Terus kamu mau tinggalin aku gitu aja? Enak banget!"


Ammar akhirnya terkekeh. "Aku baru ngerasain enak setengah, setengahnya belum. Kan belum jebol-in kamu. Kamu aja masih perawan ting-ting."


"Nah tuh tau! Terus kenapa kamu mau talak aku? Bodohh banget!" Gana bergumam pelan di akhir kalimat. Tak tahan dirinya jika tidak mengumpat Ammar.


Ranjang semakin basah karena Gana belum melepas bajunya. Wanita itu semakin menggigil. Walau begitu ia tidak perduli, tetap fokus ingin menyadarkan Ammar.


"Cepat gantikan aku baju dulu. Aku akan jelaskan padamu tentang tindakanmu barusan! Sebelum waktu di hari ini habis!" Gana melirik jam dinding, dimana setengah jam lagi sudah masuk ke hari esok.


"Aku obati dulu lukamu ya." ucap Ammar lembut. "Nanti aja, ayo pakaikan aku baju!"


Gana memaksa, agar napsu Ammar tersulut. Setidaknya lelaki itu akan kembali teringat bagaimana indahnya pernikahan dengannya.


Dan benar saja, setelah Ammar berhasil membuka seluruh pakaian Gana yang hanya menyisakan celana dalam serta pembalut yang juga basah, Ammar meneguk ludah. Kejantanannya sebagai pria seketika bangkit. Jika saja tidak terucap kata talak, Ammar pasti sudah meraup dua bongkahan sintal milik istrinya saat ini juga.


"Udah kamu duduk di sini!" Gana menepuk bagian kosong disebelahnya. "Aku mau ke kamar mandi dulu. Ganti pembalut, lalu ganti baju."


Ammar mendengus kesal. "Nah itu bisa ganti baju sendiri! Emang kamu tuh cuman mau goda aku!"


Gana terkekeh pelan dan bergegas ke kamar mandi untuk membasuh tubuh, mencuci muka, dan berpakaian.


Hanya butuh lima menit, wanita itu kembali ke ranjang. Ia menarik Ammar untuk merangkak ke pertengahan kasur.


"Kata siapa?" Gana mendelik.


Ammar menunduk. "Aku sudah menalakmu didepan Papa, apakah kamu amnesia?"


Gana tertawa. Lalu mengulang ucapan yang sudah ia ucapkan di awal pertemuan. "Makanya kalau enggak tau ilmunya, jangan ngasal! Mau seapapun Papa maksa kamu, kalau kamu nya enggak mau! Ya jangan dong!!" bukan kesal, tapi wanita itu gemas. Ingin mencium Ammar tapi gengsi.


"Kamu tau nggak, talak yang di anggap haram pada saat apa saja?"


Ammar menggeleng.


"Yaitu pada saat haid, saat istri sedang suci tapi habis di gauli dan saat suami langsung menjatuhkan talak tiga, tanpa melewati talak satu dan dua."


"Bagi suami yang menjatuhkan talak dalam ketiga keadaan tersebut. Maka ia berdosa. Karena hukumnya haram."


Ammar fokus mendengarkan penjelasan Gana.


"Kamu memang sudah menjatuhkan talak satu. Dan talak itu tetap terjadi, kita sudah bercerai dalam agama. Tapi dalam keadaan haram dan kamu sangat berdosa!"


"Maka untuk menghapus dosa tersebut, kamu diperkenankan harus merujuk aku di hari ini juga. Kalau kamu tidak mau berlarut-larut dalam dosa. Bukankah dosamu sudah banyak?"


Ammar memiringkan sudut bibir. Karena ia tahu, Gana kembali menyindirnya.


"Iya."


Jawaban singkat itu membuat Gana terkekeh.


"Kamu tau dari mana ilmu ini?" tanya Ammar.


"Buka ponselmu, cari pengertiannya lewat internet atau youtube para ulama. Aku pun selama di RS mencari-cari pengertian tentang talak di ponsel Mama, karena ponselku lowbat."


Ammar bergegas meraih gawai dan mengikuti perintah istrinya. Setelah lama mencari, dengan sudut garis bibir yang tertarik ke atas. Ia tersenyum memandang gawai, lalu menoleh ke arah Gana.


"Masuknya talak bid'i ya? Talak yang dijatuhkan suami saat istrinya sedang haid?" Ammar mengulang, dan Gana mengangguk kebenaran dari yang suaminya baca.


"Maka biar kamu tidak berdosa, kamu harus merujukku. Karena walau haram, tetap saja kamu sudah menjatuhkan talak. Cepat Ammar, sepuluh menit lagi." paksa Gana.


"Tapi Gana, bagaimana dengan Papamu? Aku sudah berjanji."


"Papa hanya emosi, sedangkan Mama tidak akan mungkin menyetujui hal ini. Kita fikirkan nanti, yang penting sekarang ayo rujuk aku dulu!"


Dulu wanita ini yang meminta untuk dinikahi, sekarang dirinya juga yang meminta untuk di rujuk balik.


"Cepat Ammar! Sebentar lagi jam dua belas!"


"Lalu kenapa? Apakah akan ada cenderela sepatu kaca yang sebentar lagi hadir di sini?"


"Bukan! Tapi dora dan monyetnya!" decak Gana tak sabar.


Demi apa mereka malah tertawa-tawa di saat-saat seperti ini.


Ammar menatap Gana dengan tatapan kembali cinta. Hatinya masih berdesir kuat. Berpisah selama beberapa jam saja membuat ia lemas tidak selera hidup. Apapun lah yang akan dilakukan keluarga istrinya, akan Ammar hadapi. Ia berhak atas Gana. Ia akan menjaga wanita itu dari apapun yang membahayakan. Ammar akan terus bertaubat untuk mendapatkan cinta Allah, cinta keluarganya, dan keluarga istrinya. Biarlah di caci dan di maki dulu sekarang, ia yakin, cepat atau lambat mereka pasti akan memaafkan dirinya.


"Ayo cepetan! Keburu imsak!"


Ammar terkekeh lagi. Bisa-bisanya di ujung genting seperti ini, Gana berguyon.


"Aku harus ngomong apa? Kata-kata merujuknya bagaimana?" tanyanya polos.


"Aduuhh!" Gana semakin tak sabar. Ia kembali meraih ponsel Ammar dan mencari apa yang sedang ditanyakan oleh lelaki itu.


Karena awam ilmu, tidak memperdalam ilmu-ilmu noktah pernikahan. Ya beginilah Gana dan Ammar. Terlihat seperti sedang bermain-main.


"Nih banyak, tinggal pilih." Gana menyodorkan layar gawai kembali dan memperlihatkan isinya.


Aku rujuk padamu.


Aku kembali padamu.


Ammar membacanya secara seksama. Setelah faham, ia kembali menatap Gana dan menggenggam tangannya.


"Aku cinta kamu, Gana .."


Baru saja Gana ingin tersenyum senang karena sudah kembali sah menjadi istri, senyumnya kembali meredup. Ia melotot tajam.


"DIBACA YANG BENER!!" Gana kesal karena Ammar tidak fokus.


"Aduuh---duuh." Ammar meringis sambil mengusap-usap lengannya yang panas karena sudah dicapit dengan ujung kuku kepiting betina.


Ammar kembali bersiap, ia menatap Gana dan meraih tangan wanita itu.


"Bismillahirrahmanirrahim ... Demi Allah, aku rujuk padamu. Aku kembali padamu."


"Alhamdulillah, Ya Allah." Gana mengucap syukur. Lantas memeluk Ammar dan Ammar mengunci tubuh nya. Mereka berdua menangis bersamaan, melepas haru dan kesedihan dalam suatu dekapan.


Hiks ... Hiks.


Decitan suara riak air mata, terus menggema di dalam ruangan. Yuni yang berdiri di ambang pintu dengan secangkir teh hangat, terlihat tersenyum bahagia.


Seapapun keluarga bersikeras meminta mereka untuk berpisah, jika Semesta belum meridhoi. Maka, Gana dan Ammar tidak akan pernah terpisah dari ikatan pernikahan.


Karena yang bisa memutuskan tali perjodohan hanyalah Allah. Bukan tangan manusia.


Rujuk harus dilakukan dalam masa iddah atau masa-masa menunggu istri. Jika sudah melewati masa iddah ( dalam tiga kali masa suci atau tiga kali masa haid) maka suami tidak bisa merujuk hanya dengan ucapan saja. Melainkan harus di ulang dengan akad baru. Dan aturan hukum ini berlaku untuk talak satu dan talak dua.


🌺🌺🌺🌺


Bagi yang belum menikah atau pun sudah menikah tapi masih tabu, harus banyak serap ilmu-ilmu pernikahan dari segi agama ya. Karena percekcokan dalam RT pasti selalu terjadi, dan banyak jin-jin yang mendominasi. Setidaknya kalau pasangan kita sedang jadi api, maka kita jadi air. Di tambah lagi kalau kita mempunyai bekal agama. Maka dalam menjalani ibadah terpanjang ini, akan terasa lebih mudah. Ayo kita belajar bareng-bareng.


Siapkan hati kaliann ya, karena malam nanti adalah puncak dari segala konflik. Yang nanya gimana Gana bisa amnesia, bisa terjawab nanti malam.


Kasih aku Like dan Komen yang banyakkkkkkk yaaaa.