Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Sudah Diam!


Biar aku menepi


Bukan lelah menanti


Namun apalah artinya


Cinta pada bayangan


Pedih aku rasakan


Kenyataannya


Cinta tak harus


Saling memiliki


"Kamu ngapain nyanyi lagu yang liriknya kaya gitu terus? Nyindir aku ceritanya?" Ganaya mendongak ke atas menatap wajah Ammar yang sedang menunduk menatapnya. Membelai helaian rambut Gana yang terurai ke belakang. Saat ini, wanita itu tengah tiduran di pangkuan Ammar. Dengan kedua tangan memegangi gawai.


Ammar terkekeh lalu melabuhkan kecupan beberapa kali di kening istrinya. "Sensitif banget sih, kaya testpack."


Gana menjawil pipi Ammar karena gemas. Ia kembali menatap video asmr makanan di instagarem.


"Mending kamu dengerin suara aku yang bagus ini. Mirip banget kaya Hedy Yunus. Dari pada kamu tatap orang yang lagi makan tapi wajahnya enggak keihatan jelas, mulut nya doang! Mana bunyinya gitu lagi ... Krauk-krauk, bikin perut aku mual." akhirnya Ammar bisa mengeluarkan unek-uneknya sedari tadi. Ia seperti geli dan ingin muntah karena sudah satu jam istrinya memutar-mutar video asmr.


Ammar bertutur lagi. "Makanannya juga aneh, gurita? Ya ampun, kayak ayam, ikan, sapi udah punah aja dari dunia."


Lelaki itu semakin merinding. Tapi beda hal dengan Ganaya, ia terlihat antusias bahkan sesekali menelan ludah karena tergiur.


"Lihat video ini tuh bikin aku selera makan. Gimana kalau nanti aku ngidam terus pengen gurita? Masa iya kamu larang?"


Ammar mengedikkan pangkal bahu. "Kamu tega makan si Squidward? Temennya si Spongesbobs. Yang terlihat selalu ingin hidup tapi segan, namun mati tapi tak mau."


Gana mendongak lagi lantas menjewer telinga suaminya. "Beda dong ah."


Jika ratu sudah asik dengan dunianya, lalu raja bisa apa? Ammar kembali mendiamkan Gana yang asik menatap video asmr lagi.


"Cinta ..."


"Hemm ...?" jawab Gana.


"Papa kamu maling ya?"


What?


Apa tadi? Sebut apa lelaki itu? Tidak salah 'kan alat pendengarannya?


Gana langsung mengalihkan lagi manik matanya ke atas untuk menatap Ammar, dan tanpa berdosa, lelaki itu tersenyum lebar sampai gigi geligi yang putih dan terawat terlihat semua.


"Aduh!" seru Ammar. Ia mengerang sakit ketika telinganya di jewer lagi.


"Putus deh nih kuping aku, di tarik-tarik mulu! Udah mah, malem di plintir-plintir terus. Lama-lama aku kaya Titan tau nggak!" Ammar berdecak sebal. Bayangannya terhadap Gana memang diluar ekspektasinya.


"Lagian aneh-aneh aja Papa aku dibilang maling! Beliau tuh cinta pertama aku! Kesayangan aku, milik aku yang paling berharga! Enak aja kamu bilang maling ... euh!!" Gana kembali menjewer telinga Ammar. Gemas sekali wanita itu.


"Sini mulut kamu, aku garuk pake linggis!" kini Gana menjawil bibir Ammar.


Ammar menghalau tangan istrinya yang mungil tapi sangat tajam.


"Ya ampun kamu tuh. Enggak bisa banget di bercandain. Harusnya kamu tuh gini jawabnya. 'Bapak kamu Maling ya ... Kok tau?' Nah gitu harusnya."


Gana beranjak duduk, melipat kedua kaki berhadapan dengan suaminya. Memiringkan sudut bibirnya karena tau akan di rayu. "Kok tau?" agar suaminya senang, ia mengikuti perkataan Ammar.


"Karena kamu sudah berhasil mencuri hatiku, cieeeehhh ..." jawab Ammar bersorak gembira. Lelaki itu berbangga diri.


Hening.


Krik ... Krik.


Hanya ada bunyi jangkrik menyantap suaranya. Gana diam menatap Ammar dengan wajah ambigu. Membuat Ammar langsung mengerucutkan bibir karena malu.


"Kan aku yang berhasil mencuri hati kamu? Kenapa jadi bawa-bawa Papa aku? Aneh ih." dengkus Gana.


Ya Tuhan. Sungguh, terbuat dari apa sih, Gana ini? Bersikap lah senang walau hanya pura-pura. Paksakan saja untuk bahagia karena sudah di rayu. Suaminya kan sudah berjuang.


Ammar memutar bola matanya jengah. Melipat bibirnya rapat-rapat. Merungut, mengalihkan tatapan ke arah lain.


Malu banget. Haha.


Gana hanya bisa menggeleng dengan gelak tawa kecil. Begini kali, kalau nikah sama dedek gemes yang uwu banget.


"Rambut kamu udah gondrong nih, di potong ya." Gana mengusap rambut Ammar.


Hatinya Ammar berdesir lagi. Ia menoleh dengan wajah senang. Senang karena Gana memperhatikan dirinya. Ya begitulah Ammar, mau bagaimanapun sikap istrinya yang menyebalkan, ia mudah menerima saja. Apalagi Gana sudah manis seperti ini.


"Kamu antar aku ya."


"Iya." jawabnya.


"Tapi kalau yang bawah gimana?"


"Yang mana?" tanya Gana bingung.


"Rambutnya Harley." Ammar tertawa nyaring. "Udah panjang, malah suka nusuk." Ammar berdecih geli.


Gana melototkan matanya. Mencubit lengan Ammar sampai merah.


Ah, sakit.


"Bantuin potongin ya, sebelum si Harley ketombean." bukannya berhenti, lelaki itu semakin menjadi-jadi.


"Ih bener-bener deh!!"


Ammar langsung beranjak berdiri dan berlari kecil mengitari pepohonan di dekatnya, ia tertawa-tawa menghindari cengkraman tangan yang ingin Gana layangkan.


"Sini aku bonding sekalian!!"


***


Brug.


Pintu bagasi mobil sudah Ammar tutup rapat. Ia sendiri yang memasukan beberapa pot bunga mawar, anyelir dan beberapa bunga yang lain. Totalnya ada enam pot bunga, beberapa kantung pupuk dan barang-barang yang tidak berguna, tapi tetap istrinya beli.


Kemana lagi sih wanita itu?


"Kemana lagi Gana?" bola matanya berpendar. Dan terhenti kepada wanita yang tengah berdiri di depan gerobak kebab.


Ammar menggeleng. "Jajan lagi? Perasaan sepanjang jalan menuju parkir, semua makanan sudah ia beli, masih kurang?"


Gana menoleh dan langsung mendapati manik mata suaminya. "Tunggu dulu." serunya dari jauh.


Ammar mengangguk. Lantas mengeluarkan vape dari sakunya. Mulutnya terasa asam, karena jika berdekatan dengan Gana. Wanita itu selalu melarang Ammar merokok. Padahal vape tersebut, tidak membuat mulut Ammar berbau sama sekali, jelas saja vape yang dipilih sangat mahal harganya. Ammar lebih suka memilih rasa permen karet.


Sedang asik menatap Gana dari kejauhan, tiba-tiba ia kaget dengan mata yang memicing tidak suka. Sekilas ia melihat seperti ada siluet hitam dari balik pepohonan, seperti sedang memperhatikan dan mengintai istrinya.


Ammar mematikan vape nya lalu memasukan ke saku celana. Bergegas menghampiri Gana yang masih sibuk memperhatikan pembuatan kebab.


"Sudah belum?" tanya Ammar dengan raut tegang.


"Bentar lagi." jawab Gana.


"Ayo cepat." Ammar mulai gelisah. Ia takut sekali jika ada musuhnya yang mengincar keberadaannya.


"Sabar, tinggal di bungkus."


Raut Ammar mulai pucat. Jantungnya berdebar. Entah mengapa hatinya mulai tidak tenang. "Ayolah cepat!" nada Ammar mulai tinggi satu oktaf.


Gana dan si penjual menatap ngeri dan kaget. "Sabar dong, kamu kenapa sih?"


Melawan beberapa preman suruhan, sebenarnya bukan masalah besar untuk Ammar. Tapi masalahnya, saat ini, dirinya membawa istri. Ia takut Gana terluka, walau ia bersumpah akan menjaga wanita itu dari serangan apapun. Dan terlebih lagi ia takut, Gana mengetahui tentang rahasianya yang selama ini ia simpan.


"Sudah jadi nih, ayo kita ke mobil."


Ammar langsung menarik tangan Gana untuk kembali melangkah menuju mobil mereka. Gana hanya menurut bingung.


****


Bluss.


Hembusan angin begitu kencang, seiring lajuan mobil yang tengah Ammar kemudikan. Gana sampai meremat seat belt karena suami nya mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi di atas rata-rata.


"Kamu bisa enggak bawa mobilnya pelan aja? Kita mau pulang ke rumah 'kan? Enggak mau ke akhirat?"


Ammar menoleh dengan tatapan tajam. Membuat Gana terhenyak, lalu menunduk diam. Ia tidak tahu saja jika Ammar sedang menutupi jantungnya yang sedang berdentam kuat. Dadanya mulai sesak. Fikiran nya kembali kacau.


Dan semua hal itu terasa lebih jelas. Ketika Ammar mendapati sebuah mobil jeep hitam yang saat ini sedang membuntuti mobil mereka dari belakang.


Tubuh Gana semakin terdorong ke depan, ketika Ammar menekan lagi pedal gas. Mobil melaju lebih kencang. Gana merasa mobil yang sedang ia naiki begitu ringan, bahkan bisa terbang tersapu angin karena saking kencangnya.


"Ammar, kamu kenapa?" tanya Gana dengan raut wajah takut.


Ammar tidak menjawab. Ia hanya fokus didepan mengikuti hamparan jalan kosong yang berkelak-kelok dan sedikit naik turun. Sialnya, hanya ada mobilnya dan mobil di belakang yang sedang melintas.


Ammar mengambil bahu kanan. Dan mobil di belakangnya pun melakukan hal yang sama. Lantas Ammar mengambil bahu kiri, dan keparattnya mobil itu pun mengikutinya.


Ammar menghentak kemudi stir. "ANJINGG!!" Ammar semakin tersulut, karena terkaannya benar jika mobil dibelakang sedang ingin mengincar nyawa mereka.


Gana kaget setengah mati ketika suaminya tidak sadar berteriak dan mengeluarkan kata-kata kasar.


"Siapa anjingg? Aku?" tanya nya.


Ya Tuhan, Gana. Bisa tidak dalam keadaan genting seperti ini, lebih baik diam saja? Atau berdoa dalam hati agar perjalanan mereka selamat saat ini.


Ammar tidak menjawab. Ia fokus mengemudi. Harus secepat mungkin melajukan mobil agar sampai ke jalanan besar. Meninggalkan jejak dan kabur dari sanderaan.


Tin ... Tin.


Barulah Gana menoleh ke belakang, ketika ada suara klakson yang dibunyikan ke arah mobilnya.


"Itu siapa? Teman kamu?" tanya Gana.


Ammar semakin tidak tenang. "Bang Sat! Siapa mereka? Berani-beraninya mengganggu aku!!" batin Ammar menyeruak tajam.


Tin ... Tin.


Yang dibelakang seolah meminta Ammar untuk menghentikan mobil.


"Ammar, barangkali itu teman kamu. Ayo berhenti saja dulu."


Sungguh gila! Menepikan mobil sama saja memberikan nyawa dengan cuma-cuma.


"SUDAH DIAM!" bentak Ammar. Gana tersentak. Ia langsung diam seribu bahasa. Kaget sekali dirinya. Suami yang selalu baik, bisa memarahinya seperti itu. Wajah Ammar sudah memerah bagai kepiting rebus.


Ammar menyesal, sampai menghela napas panjang dan menggusarkan wajah nya.


"Ayo sini peluk aku! PELUK!!" nada Ammar masih saja kencang. Ia menarik Gana kedalam dekapannya secara paksa. Gana terhenyak, ia melingkarkan tangan di perut Ammar. Lelaki itu lantas membuka dashboard dan meraih pistol.


Kedua mata Gana kembali membola hebat. "Ahh, pistol!" serunya lalu menyembunyikan matanya di dada Ammar.


Ammar menurunkan kaca mobil dan mengarahkan pistol ke belakang.


DORR.


Bunyi tembakan sudah terdengar di udara. Ammar tidak mempunyai pilihan selain menghabisi mereka saat ini. Gana memeluk Ammar erat-erat. Tubuhnya sampai bergetar karena takut.


Ammar terus mengarahkan pistol ke belakang. Dan mobil yang dibelakang malah semakin melaju cepat. Ammar terhenyak, ketika tembakannya meleset.


Kini mobil jeep hitam itu sudah ada disebelah kiri mobil Ammar. Tepat disebelah posisi duduk Ganaya.


"Mereka mengincar Gana ..." gumam Ammar. Lelaki itu tertohok hebat. Ammar semakin menyalak tajam, dadanya terasa di peras kuat, ketika melihat sebuah pistol sudah mengarah ke arah punggung Gana dari luar jendela.


"Brengsekk!"


DORR.


Deruan pistol kembali terdengar secara brutal.


***


Like dan Komennya ya. Episode ketiga nih di hari ini. Moon maap, besok aku libur ya gengs.🌾🌾