
Sebenarnya Ammar tidak keberatan jika harus membawa Gana ke kafe untuk bertemu dengan kliennya. Tapi, lelaki itu masih khawatir dengan keselamatan istrinya. Ia takut masih banyak mafia lain yang mengincar nyawa Gana.
Karena sejatinya tidak hanya Farhan, banyak juga mafia lain yang ingin mencecar untuk balas dendam karena perbuatan Ammar selama ini kepada mereka. Walau dalam beberapa bulan ini, Ammar sudah tidak aktif lagi ikut konvoy dalam usaha terlarang bersama Farhan.
Tapi, Farhan tetap saja menginformasikan jalan usaha mereka. Ia merengek agar Ammar tertatah saja untuk melepas dirinya agar mandiri menjalankan usaha ini.
Ammar dengan berat hati hanya bisa mengiyakan, tetapi tidak lagi secara langsung ikut ke dalamnya, karena secara garis besar ia sudah mundur, hanya memberikan Farhan arahan saja.
Ammar melakukan ini hanya karena berhutang jasa kepada Farhan, dan ia yakin dengan nasihat yang terus ia berikan, Farhan akan berubah.
Berdosa saja, Ammar.
Karena ucapan dan suara Ammar yang terasa membentak, membuat Gana menitikkan air mata. Ammar merasa bersalah dan tidak enak hati. Ia mengutuk dirinya, karena terang-terangan bisa membuat istrinya terluka hanya karena Farhan.
Akhirnya dengan sangat terpaksa dalam penjagaan ketat, Ammar membawa Gana. Dengan catatan, Gana tidak boleh mengeluh ketika dirinya di apit oleh banyak bodyguard.
"Selamat sore, Pak. Maaf saya terlambat." sapa Ammar sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan lelaki muda, gagah dan seumuran dengan Ammar. Lelaki itu di apit dengan beberapa asisten seperti Ammar yang datang bersama Bima dan Denis.
"Selamat sore juga, Pak. Tidak masalah, saya juga baru sampai." jawab Fatur.
"Perkenalkan, Pak. Ini istri saya, Ganaya."
"Gana ..."
"Fatur ..."
Gana dan Fatur saling berjabat tangan, mengulas senyum dan saling memberikan anggukan kepala hormat.
Ingin Fatur tanyakan mengapa istri Presdir EG yang begitu cantik bisa duduk di kursi roda. Tapi urung ia lakukan. Dirinya bukanlah teman akrab Ammar yang mempunyai hak untuk bertanya.
"Maaf ya, Pak. Saya bawa istri." ucap Ammar ramah. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Fatur. Dan Gana tetap di kursi rodanya.
"Oh, tidak masalah, Pak. Santai aja."
Uh, baik sekali klien ini. Biasanya para klien lain, akan lebih sensitif jika ada orang yang tidak berkaitan menelusup di antara perbincangan mereka.
Gana berkali-kali menelan saliva nya dalam-dalam. Malu sekali dirinya, sudah mencurigai suami yang memang datang kesini bukan untuk bertemu Farhan.
Napasnya terasa lega. Mimik wajahnya bahagia, karena Ammar tidak berbohong. Wanita itu sesekali melepas senyum menatap keahlian Ammar dalam berdiskusi.
"Cerdasnya suamiku." tanpa sadar suara hatinya memuji Ammar. Gana terkagum-kagum. Baru kali ini selama menjadi seorang istri, ia menatap Ammar sebagai layaknya suami. Dan wanita itu terus tersenyum karena bangga berada disamping Ammar.
Denis menyikut Bima.
"Apa sih?" sungut Bima. Tatapan lelaki itu teralihkan, ketika Denis membawa arah mata Bima untuk menatap Gana.
"Istrinya bos senyum-senyum sendiri."
"Mulai cinta kayaknya."
Mereka berbisik sangat pelan. Terkekeh geli dan hanya bisa ditahan.
Sesekali Ammar menoleh ke arah Gana, menyuruhnya minum atau menawari istrinya makanan. Gana hanya mengangguk dan diam. Ia sudah janji untuk tidak rewel.
Dan lebih romantisnya lagi yang membuat hati Gana berbunga-bunga, ketika Ammar menurunkan tangannya dari meja untuk menggenggam tangan Gana, lantas ia letakan di atas pahanya. Lelaki itu terus saja fokus mendengarkan isi kontrak kerja dengan Fatur dan beberapa asistennya.
Gana mengulas senyum manis, menatap genggaman tangan mereka.
"Kamu capek enggak sayang?" tanya Ammar sambil membetulkan poni Gana yang bergeser karena tertiup angin ac.
"Enggak, Ammar." jawab Gana pelan.
Ammar mengangguk, dan kembali fokus.
***
Sudah satu jam mereka berdiskusi di kafe ini. Dan hasil akhirnya memuaskan. Fatur dan Ammar resmi menjadi relasi. Mereka cocok dengan berbagai kontrak yang diajukan dari kedua belah pihak.
Penutupan rapat, di akhiri dengan pembicaraan ringan oleh Fatur. Mereka yang hadir tidak berhenti tertawa, karena Fatur dan Ammar adalah orang yang sama-sama jago humor.
Namun, suasana yang sedari tadi renyah karena gelak tawa dari beberapa orang begitu saja terhenti dengan langkah sepatu yang baru saja tiba di antara mereka.
Ammar dan Gana mendongak, lalu membolakan mata karena terperanjat. Begitupun Denis dan Bima. Orang yang mereka tatap pun juga melongo terheran-heran.
"Kamu baru datang sayang?" tanya Fatur kepada Asyifa.
"Sini duduk, dan kenalkan ini Bapak Ammar dan istrinya. Relasi ku." sambung Fatur.
Asyifa hanya diam mematung dengan deburan jantung yang kuat. Menatap tajam ke arah Gana dan Ammar. Wanita itu masih berdiri dan enggan duduk. Tersentak batinnya.
"Ayo kenalan." Fatur memaksa Asyifa untuk berjabat tangan.
"Tidak perlu. Aku sudah kenal dengan mereka." jawab Asyifa lantang. Dagunya di naikan dengan mata memicik keji kepada Gana.
Ammar dan Gana hanya bisa diam.
"Oh, sudah kenal?" Fatur mengulangi. Dunia sepertinya sangat sempit. Lelaki itu tersenyum, walau merasa aneh karena wajah Asyifa tidak begitu bersahabat ketika menatap Ammar dan Gana.
"Jadi Fatur, lelaki yang digosipkan dekat dengan Syifa?" Ammar membatin.
Asyifa tersenyum miring menatap keadaan Ganaya.
"Aku kenal sekali dengan mereka. Sangat kenal. Malah dulu kami hampir menjadi keluarga."
"Tapi akhirnya Tuhan menjauhi kami. Menjauhi aku dari seorang perusak!" Gana terhenyak dengan ucapan Asyifa. Wanita itu lantas menoleh ke arah Fatur. " Dan perusak akan selalu mendapatkan balasannya!" Asyifa bergegas cepat, meraih gelas yang masih utuh dengan air sirup, lantas menyiram nya tepat ke wajah Gana.
Byrrr.
"Hhh ..." Gana gelagapan. Ammar sontak berdiri dan memundurkan kursi roda istrinya.
"Kurang ajar kamu, Syifa!" tunjuk Ammar dengan mata menyalak tajam.
"Yang kurang ajar itu dia! Membuat keluargaku malu karena gagal menikah! Dia yang membuat kita berpisah! Perempuan brengsek ini!"
Ammar menepis tangan Asyifa ketika ingin menjambak rambut Gana. Fatur dengan sigap memeluk perut Asyifa dari belakang untuk menghentikan tindakan bar-barnya.
Asyifa tersenyum miring. "Bahkan sekarang kamu cacat, Kak! Jangankan mengurus suami, mengurus dirimu saja kamu tidak bisa! Haha. Tuhan sudah adil, membalaskan rasa sakit hatiku padamu."
"Tutup mulut kamu, brengseek! Sekalipun Gana seperti ini, ia tetap berharga untukku!" kecam Ammar. Ammar meraih tissu untuk mengusap kebasahan di wajah istrinya.
"Yang brengsek itu dia, Ammar! Dia itu enggak akan bisa mencintai kamu sampai kapanpun! Kamu hanya di manfaatkan olehnya. Untuk menutup rasa sakit hati dari Kak Adri dan untuk menyegerakan pernikahan adiknya, agar tidak tersendat karena kegagalannya dalam pernikahan! Buka mata kamu Ammar! Kamu hanya di manfaatkan!"
Gana yang sedari tadi menunduk dan menangis, langsung mendongak, menatap Ammar yang hanya bisa diam memejamkan mata. Malu sekali dirinya, Asyifa membuka aibnya. Membuat Ammar seperti tidak punya harga diri didepan khalayak ramai.
"Ammar ..." panggil Gana dengan amat lirih. Ia tidak perduli dengan Asyifa, yang ia perduli kan adalah perasaan suaminya sekarang.
"Semua itu tidak masalah. Selama Gana mau tetap hidup bersamaku!" jawab Ammar. Lelaki itu menandingi ucapan Asyifa.
Fatur masih terpelongo tidak mengerti. Asyifa dan Ammar hampir menikah? Lalu direbut oleh Gana? Istrinya yang sekarang? Kok, bisa?
Begitulah yang sedang Fatur terka.
Asyifa berdecih. "Dasar lelaki tololl! Mau saja dijadikan boneka! Selamanya kamu hanya di jadikan boneka oleh Gana, si wanita cacat ini, Hahaha."
Air mata Gana terus menetes. Ia malu sekali dipermalukan di muka umum. Ingin membalas ucapan Syifa yang menyakitkan, tapi lidahnya terasa kelu. Rasa menyesalnya lebih besar, ia masih merasa bersalah kepada Asyifa.
"Asyifa tolong maaf----" Ammar memberikan gelengan kepada kepada istrinya, membuat Gana menghentikan suaranya. Ammar tidak mengizinkan hal itu, karena Asyifa akan semakin bersorak dan menginjak-nginjak harga diri istrinya.
Ammar menatap Asyifa dengan semburat kemarahan. Jika saja bukan mengatasnamakan laki-laki, ia sudah menghajar Asyifa sampai babak belur. Sayangnya, ia tidak bisa melalukan. Karena dirinya bukan banci. Memutuskan untuk tidak meladeni Asyifa. Ammar menoleh ke arah Fatur.
"Saya memang senang bekerja sama dengan anda, Pak. Tapi lebih baik, saya putuskan untuk membatalkan kontrak kerja kita barusan. Saya tidak suka, istri saya dilecehkan oleh wanita yang tidak tau malu seperti yang kini, ada di sebelah anda! Permisi, saya duluan ... Bim, Den, urus dan bayar makanan dan minuman kita." titah Ammar kepada Bima dan Denis.
Ammar mendorong kursi roda Gana untuk melenggang pergi. Fatur hanya melongo tanpa kedipan mata, seakan rohnya ditarik oleh Yang Maha Kuasa, begitu pun dengan Asyifa, memicik tajam ke arah Ammar yang semakin menjauh membawa Gana.
****
Bagi yang komen males baca, males makan sampe males idup---eh😂😝. Enggak apa-apa guys, kan aku bilang tabung aja kalau emang gak sanggup bacanya.
Kapan terkuak, kapan terbongkar, kapan, kapan, dan kapan. Itu semua sudah ada runtut acaranya.
Kapan si thor, Farhan ketauan nya? Kapan Ammar taunya? Kenapa ga sekarang aja? Ya end atuh ceritanya. Semua tuh ada alurnya, masa iya ngedadak kebongkar gitu aja, ya gak sih??
Sabar aja yak😘, kan aku bilang di part inti konflik, akan terbongkar. Sampai kapan thor? enggak lama kok, bentar lagi.
Kira-kira sampai Bisma ketemu jodohnya, wkwkwk. Siapa itu Bisma? Bisa baca novelku yang judulnya My Sabbatical Wife, bagi kalian yang belum baca, hehe. Gapapa lah sekalian promosi.
Sehat-sehat ya guys, sama kuota hapenya terus keisi, biar bs terus baca karya aku tanpa ribet beli koin, isi saldo bla-bala. Aku udah segini baiknya masih aja kalian saktin, cedih🙃🙃🙃 .... hahah, candalah. aku mah kuat orangnya guys kaya Mama Alika, strong💪💪 tahan banting, kagak mempan ama komen yang kayak begitu. Mau bagaimanapun kalian berteriak, aku tetap menulis sesuai outlineku.
Yang suka sama karya aku, sayang sama aku. Cukup doain aku sehat ya, agar bisa terus menghibur kalian.
love all.
❤️❤️❤️
Episode ketiga nih di hari ini, peluk aku sama like dan komen dari kalian.