Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Silakan Temani Dia!


"Pah, kata Mama ayo tidul!" seru Adel yang sudah memakai piyama bekarikatur spongesbobs dari ambang pintu ruang kerjanya. Ia di titah Gana untuk menjemput Papanya. Padahal sudah dua kali Adel mendatangi Ammar, meminta lelaki itu untuk ikut bersamanya pergi ke kamar.


Ammar bangkit dari duduknya dan menghampiri Adel. Mencium si keriting. "Bilangin Mama, nanti Papa nyusul. Kerjaannya sebentar lagi. Tanggung, Nak," balas Ammar.


"Ya utah," ucap Adela. Setelah mencium pipi Ammar ia pun kembali ke kamar. Laporan memang banyak yang masuk, dan ia kewalahan untuk mengecek satu persatu yang tidak bisa diwakilkan kepada Bima dan Denis.


Niatnya besok, karena sudah awal bulan puasa, Ammar ingin mengambil cuti. Ia ingin sahur dan buka puasa pertama di rumah orang tuanya. Papa Bilmar merengek agar awal puasa tahun ini, semua anak-anaknya ada di rumah. Kata beliau gantian dengan Papa Galih, karena awal puasa tahun kemarin, mereka semua ada di sana.


Gana yang tengah berbaring miring menyusui Alda menoleh ke arah pintu manakala Adela menyembul dari luar untuk masuk ke dalam.


"Mah, tata Papa nanih duyu," tukasnya. Si keriting merangkak naik ke atas ranjang dan memeluk Mamanya dari belakang.


Gana mengangguk. Tangannya terulur ke belakang, menepuk-nepuk bokong Adela untuk segera tidur seperti Alda.


"Baca doa dulu, Nak ...," pinta Gana. Dan dengan suara cadelnya Adela yang sudah menginjak usia tiga tahun dua bulan, membacakan doa tidur.


"Aamiin ...." Gana dan Adela mengaminkan doa tidur mereka.


"Mama ...," panggil Adela.


"Hem? Mau susu?" tanya Gana. Ia pikir setelah selesai membacakan doa, anak ini akan langsung tidur tapi malah kembali mengajaknya bicara.


"Akuh boyeh ndak, lambutnya di lulusin?"


"Ha?" Gana melongo. Karena Alda sudah mendengkur, dan pangkal dada Gana sudah terlepas dari bibir si gundul, mengancingkan piyamanya dan berbalik menatap Adela. Ia punggungi Alda. Adela memeluk perutnya.


"Rambutnya di lurusin?" ulang Gana. Ia usap rambut keriting Adela yang memang seperti makaroni menjuntai.


"Tatah Kak Nanicha gini, Mah. Dasal kiting, akuh dong lulus lambutnya." Adela mengikuti ucapan Danisha kepadanya dua hari lalu saat bermain bersama.


Gana merenung. Pasalnya, dari semua anak memang hanya rambut Adela yang berbeda. Mirip rambut anak-anak luar negeri. Sudah keriting seperti makaroni, warnanya pun cokelat. Dan dengan keunikan itu, ia selalu di puji Ammar. Kalau Adela mempunyai ciri khas untuk menambah kecantikannya.


"Mama tuga lulus lambutnya. Kakak tuga, Adek tuga, maca akuh doang yang kiting, Mah," tutur Adela dengan nada sendu. Karena ucapan anak bungsunya Mahendra, membuat Adela seolah merajuk. Ia memelas kepada Gana. "Bicakan di lulusin lambutku, Mah?"


"Ngapain dilurusin? Rambut kamu ini udah bagus 'kok," balas Gana.


Adela menggeleng. "Ndak 'ah, akuh mauh lulus, Mah. Bial tantik," Adela memaksa. Memang untuk meluruskan rambut Adela bukan perkara yang sulit. Tinggal di rebonding maka rambut anak itu akan lurus lagi. Tapi yang jadi pertanyaannya, apakah Ammar akan mengizinkan?


"Nanti Mama minta izin dulu sama Papa, ya."


"Tatih kalau Papa ndak itinin gimana, Mah?"


Gana hening lagi. Yang ada di dalam kepalanya, mau tidak mau. Adela harus menurut, apapun keputusan sang suami. Tapi, ia rasa. Ammar masih bisa untuk di nego.


"Tapi, Nak. Rambut kamu ini 'kan dari awalnya memang sudah keriting---"


"Tadih di lulusin ndak bica, Mah?" selak Adela.


Gana menggeleng. "Bisa ... tapi, kayaknya enggak akan lama. Habis dilurusin nanti bisa keriting lagi. Enggak akan permanen selamanya keriting."


"Hemm ...." Adela mencoba mencerna sambil mengangguk-anggukan kepala. "Ya utah ndak apa-apa. Nanih tan bica dilulusin agih," balas si cerdas.


Gana menghela napas. Ia kecup kening sang Anak. "Ya udah, nanti Mama ngomong dulu sama Papa, ya. Sekarang kamu tidur, udah malam!"


Adela mengangguk dan mulai memejam mata. Ia yakin, Papanya pasti akan mengizinkan.


Gana masih menepuk-nepuk bokong Adela agar semakin nyenyak.


"Ada-ada aja pengin di lurusin," Gana terkekeh. Ia kecup lagi wajah Adela. "Bagus gini rambutnya. Unik, hihihi," ia pegang helaian rambut keriting Adela ke udara.


...🌾🌾🌾...


Karena gerakan kaki Alda yang melintang di perutnya. Membuat Gana yang tidur di tengah Alda dan Adela, mengerjapkan mata. Sambil menguap ia tilik sisi kosong di sebelah Alda. "Kok Abang belum ke sini juga?" tanyanya sambil menyeret bola mata menatap jam di dinding.


"Padahal sudah jam dua belas. Pasti ketiduran nih di ruang kerja," gumamnya pelan. Gana beranjak bangkit dari ranjang untuk menyusul suaminya. Ia betulkan selimut yang letaknya sudah tidak beraturan di tubuh ke dua anaknya.


Gana keluar dari kamar, ingin melangkah menuju ruang kerja suaminya. Tapi, karena ia haus, wanita hamil itu lebih dulu membelokkan langkah menuju dapur.


Dan.


Daun telinganya memekak, manakala ia dengar suara lelaki yang ia cintai ada di salah satu kamar pembantunya.


Yanti!


DEG.


Jantung, paru, hati Gana seakan ingin mencelos. Matanya melotot hebat, apalagi ia baru saja bangun tidur. Sukma seakan belum kumpul semua.


Dan.


Tap.


Langkah kaki Gana terhenti dengan mulut menganga saat melihat Ammar keluar dari kamar Yanti dan si empu kamar mengekor dari belakang seraya menemani sampai ambang pintu, untuk melepas kepergian si lelaki.


Ketiga pun kaget. Terutama Ammar yang tidak akan menyangka istrinya ada di hadapannya sekarang.


"Abang ngapain di sini?" tanya Gana dengan wajah memerah. Ia memegang dada karena tidak percaya.


"Jangan salah paham, Dek. Abang hanya bantu pasangin lampu kamarnya, Yanti," balas Ammar. Di tangannya memang sedang memegang lampu kamar yanti yang sudah mati, ingin ia buang ke tempat sampah dapur.


Gana menggeleng tidak percaya. Manik matanya masih membola hebat dengan hembusan napas kasar. Ia tilik Yanti yang tengah memakai piyama daster dengan leher rendah yang panjangnya hanya sampai seatas paha.


"Kamu selingkuh, Bang!"


"Demi Allah enggak, Dek!" sergah Ammar.


"Jangan salah paham, Bu. Bapak tadi hanya sedang bantu pasangin lampu. Soalnya saya enggak bisa gantinya," timpal Yanti. Walau ia menyukai majikan lelakinya, tapi melihat Gana seperti ini ia tidak enak untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Gana sudah baik padanya.


Gana tetap tidak percaya.


Ammar beringsut mendekat dengan wajah gelisah. Bukan gelisah karena di ketahui, tapi gelisah karena Gana tidak akan semudah itu untuk mempercayai ucapannya. Gana gampang merajuk.


Gana berbalik badan lantas berlari menuju kamar, tapi sebelum itu terjadi. Tubuhnya lebih dulu direngkuh Ammar. "Jangan ngambek, Dek. Demi Allah, Abang hanya bantu pasangin lampu aja,"


"Kok bisa Abang yang ganti? Kok tau dia kalau kamu belum tidur?" air bening sudah menggenang di pelupuk mata Gana.


"Tadi saat mau ke kamar. Kebetulan ketemu Yanti di ruang tivi bawa-bawa bantal mau tidur di sofa. Katanya lampu di kamarnya mati, nggak bisa tidur dalam keadaan gelap. Abang hanya bantu pasangin, Dek. Demi Allah," jelas Ammar. Peluh di wajahnya mulai tampak. Ia lihat Gana yang susah untuk di ajak diskusi baik-baik. Dan benar saja dari rautnya seakan Gana tidak percaya, padahal bukti bekas lampu mati ada di tangan Ammar sekarang.


Gana yang sudah ketutup api cemburu dengan tekaan buruk menyelimuti benaknya, menggeleng. Ia tetap tidak percaya. Dan benar saja terkaan Ammar.


"Demi Allah, Sayang," Ammar mengulang. Ia genggam tangan Gana, dan wanita itu melepasnya.


Yanti yang masih berdiri di ambang pintu, melihat kedua majikannya dengan tatapan sendu. Ia memang tertarik kepada Ammar, dan menginginkan lelaki itu dalam kata lebih, tapi kemarin-kemarin sebelum dirinya memakai gamis dan kerudung milik Gana. Hati Yanti tersentuh dengan perhatian yang Gana berikan. Membuat wanita itu urung untuk menggoda Ammar. Dan di saat Yanti sudah berubah ingin menjadi baik, perkara seperti ini pun datang.


Gana menoleh ke arah Yanti dan mulai melangkahkan kaki mendekat ke arah baby sitter anak-anaknya. "Ini kan yang kamu mau? Menggoda suami saya?"


"Ibu salah paham. Ini semua enggak seperti yang Ibu pikir," balas Yanti takut-takut, karena wajah Gana sekarang amat menakutkan.


"Dek ...," Ammar memegang lengan Gana dari belakang, untuk menghentikan langkah istrinya yang seakan ingin menjambak rambut Yanti. "Jangan, Dek. Kamu salah paham,"


"Yanti, kamu masuk ke dalam!" titah Ammar. Yanti pun menurut. Ia masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Melihat Yanti masuk ke kamar. Gana berang. Ia mendelik tajam ke arah Ammar. Melepaskan tangan suaminya dengan kasar. "Kamu belain dia?"


"Abang enggak belain, Dek. Demi Allah ...."


"Jangan bawa-bawa Allah, Bang!"


"Ya terus gimana biar kamu percaya?"


"Gimana mau percaya? Kalau aku lihat dengan mata kepala sendiri kamu keluar dari kamar dia! Oh, iya. Pantas aja Adel suruh Abang tidur, tapi, Abang bilang nanti dulu. Ohh ... mau tengok Yanti dulu ke kamar??" Gana setengah berteriak, air matanya pun luruh. Ia mendorong dada Ammar. "Jahat kamu, Bang!"


Ammar menggelengkan kepala. Ia pegang kuat lengan Gana untuk berhenti meronta. "Astaghfirullah ... demi Allah, Dek. Abang udah sampai bawa nama Allah begini, masa kamu enggak percaya juga? Sebelas tahun kita nikah apa pernah Abang main perempuan? Abang hanya ingin nolong Yanti," sang suami mencoba menjelaskan.


"BOHONG!!"


Dada Gana sudah bergerak naik turun menahan sesak. Ingin ia percaya, namun sulit. Ucapan Mulan beberapa hari lalu membuat denial nya rusak. Gana tepis tangan Ammar dan mendekat ke daun pintu Yanti. Berdiri di sana, lantas berteriak.


"Yanti! Kamu saya pecat!!"


Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun pernikahan, Gana marah besar kepada Ammar karena masalah wanita. Salah paham karena takut kehilangan, membuat akal sehatnya tertutup.


Gana yang merasa umurnya lebih tua dari Ammar, sudah beberapa kali melahirkan, tidak percaya dengan bentuk tubuh merasa takut jika Ammar berpaling. Apalagi Ammar masih terlihat muda dan tampan, tubuhnya kekar terjaga. Siapapun wanita pasti menginginkan suaminya. Dan satu hal lagi, Gana tengah mengandung. Hormonnya suka berubah-ubah.


"Dek, jangan begitu. Kamu salah paham," Ammar mencoba menenangkan. Memutus rezeki orang hanya karena salah terka, sungguh tidak baik, pikirnya. Gana menepis lagi tangan Ammar yang ingin mendekapnya.


"Kalau Abang mau temenin dia, silakan!" Gana menunjuk lagi ke daun pintu kamar Yanti.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Sabar, ya, Bang. Istrimu kan lagi hamil. Dan memang ketika ingin berbuat baik itu suka banyak aja sandungannya.