
"Adek, ayo salim dulu sama Om." Papa Bilmar menitah Ammar untuk mencium tangan Papi Nino. Tapi bocah lelaki itu menggeleng, ia masih bersembunyi di belakang tubuh Papa. Ammar masih takut menatap Farhan yang sedang digandeng Papi nya.
"Farhan ..." seru Papi Nino.
Anaknya mengangguk tanda faham, seolah tahu harus melakukan apa sekarang. Karena tujuan Papi Nino kesini, agar Farhan bisa meminta maaf atas kesalahannya dan mengenal dekat dengan Ammar. Ia tidak mau kedua anak itu berkelahi dan bermusuhan.
"Ammar ... Maafkan aku ya, aku menyesal. Sebenarnya aku enggak benci kok sama kamu. Hanya aku suka kesal, karena kamu lebih jago berlari ketika pelajaran olahraga ... Maaf ya, mau gak kita temenan?" nada suara Farhan terdengar sangat jujur dan manis. Ia menyodorkan sebuah godie bag kepada Ammar yang masih saja bersembunyi.
Hening. Ammar hanya diam sambil menarik-narik baju Papanya. Mendengar tidak ada respon, Farhan kembali mendongak ke atas menatap wajah Papinya. Papi Nino tetap tersenyum, sambil mengelus rambut Farhan. "Sabar, Nak. Bujuk terus."
Farhan mengangguk senyum, dan berniat mengulang lagi. Namun di saat bibirnya ingin terbuka untuk merayu, sebuah tangan terjulur dengan jari kelingking yang di udarakan kepada Farhan dari balik tubuh Papa Bilmar.
Semua tertawa melihat aksi konyol dari kedua anak lelaki itu. Farhan tersenyum senang, dan melingkarkan jari kelingkingnya di kelingking Ammar.
"Apakah kita sudah bisa berteman?" tanya Farhan. "Kita baikan ya." sambungnya lagi.
"Iya." jawab Ammar dengan nada pelan. Ammar menarik diri untuk keluar dari persembunyian, dari balik tubuh Papanya. "Jangan diulangi lagi ya." pinta Ammar.
"Sekali lagi maafkan aku. Aku janji enggak akan mengejekmu dan mengerjaimu lagi. Ini buatmu dariku." Farhan menyodorkan godie bag itu kepada Ammar.
"Apa ini?" tanya Ammar, berusaha membuka.
"Puzzle."
"Wah ..." Ammar berseru senang. "Ayo ke kamarku, kita bermain di sana." ajak Ammar. Tanpa memandang para orang tuanya lagi. Ammar dan Farhan yang baru saja berbaikan langsung berlalu menuju kamar.
Byarrr.
Kenangan dua puluh dua tahun kembali hadir di antara mereka. Membuat hati keduanya menggema syahdu.
Pintu ruangan kerja Farhan terbuka lebar. Farhan yang berada di balik meja langsung bersitatap dengan Ammar yang sudah berdiri di ambang pintu tengah menggandeng Rora dan Gana yang sedang berdiri dibelakang stroller Aidan, ada di sebelahnya.
Sementara Farina bergegas berdiri dari sofa. Bola matanya seakan ingin luruh tidak percaya. Jantung Farhan dan Farina sejak tadi memang berdegup-degup, menanti kedatangan Ammar dan Gana.
Dua sahabat. Dua keluarga kecil yang kembali bertemu. Setelah huru-hara masalah. Saling menyakiti, membunuh dan meninggalkan. Tertutup awan gelap dan kini berganti dengan awan terang.
Tanpa izin air mata dari keduanya begitu saja turun membasahi pipi. Ammar dan Farhan termenung sambil menilik tubuh masing-masing. Rasa kaget, sedih, haru bertaut jadi satu.
Gemuruh jantung yang bergejolak seakan meminta stimulus untuk menggerakkan kaki mereka agar saling menerjang.
"Ammar!"
"Farhan!" seru mereka bersamaan.
Dan.
Blass.
Terasa sekali hembusan angin berseliweran di udara saat mereka setengah berlari untuk saling memeluk. Menumpahkan asa kerinduan di balik hati yang pernah tersakiti. Kedua lelaki itu saling mendekap dan terisak. Tidak perduli jika istri dan anak-anak mereka akan mengatakan kalau mereka ini cengeng.
"Maafkan aku, Ammar ... hiks." Farhan terseguk-seguk. Memeluk tubuh Ammar sambil menangis. Air mata nya tumpah membasahi kain kemeja di bagian pundak Ammar.
Pun sama dengan Ammar. "Aku juga, Han. Aku salah padamu."
Farhan menggeleng dalam tangisnya. "Kamu tidak salah! Kamu itu orang baik. Aku saja yang tidak bersyukur memilikimu menjadi sahabat. Aku yang salah. Kamu pantas melakukan itu. Kalau sekarang kamu ingin menuntut balasan, aku siap."
Kini, Ammar yang menggeleng. "Aku tidak akan menuntut apapun. Kita sudah sama-sama di balas dengan balasan dari Allah secara langsung."
Farhan menggerakan kepalanya naik turun. Wajahnya sudah memerah menahan pilu.
"Anakku mati, Mar."
"Anakku juga, Han."
Semesta sama-sama mengambil anak pertama mereka. Farhan dan Ammar selama tiga tahun ini harus hidup dalam tekanan batin.
Hidup dalam ketidaktenangan, ketakutan serta penyesalan. Namun, taubat khusyu yang mereka jalani, mampu membuat Ammar dan Farhan bisa sedikit lega setelah kejahatan yang sudah mereka lakukan, karena Semesta masih berbaik hati untuk memberikan sebuah kebahagiaan dari sosok keluarga kecil yang mereka dapatkan sekarang.
Farina meninggalkan Falan di sofa yang sudah lebih dulu didekati Aurora. Anak perempuan itu bergerak cepat, ia tampak suka menatap Falan.
Farina mendekati Gana dan memeluk wanita itu. "Maafkan aku. Aku sudah jahat kepadamu, Gana." hanya Farina yang terisak. Ia menjedah ucapannya karena tidak tahan menangis. "Tapi saat ini, aku sudah sungguh-sungguh bertaubat." sambungnya.
Gana hanya mengangguk senyum dan mengusap lembut punggung Farina naik turun.
"Aku sudah memaafkanmu, Farina. Walau aku tidak ingat apa saja yang telah kamu lakukan padaku dulu."
DEG.
Tidak hanya Farina yang melepaskan pelukan itu, tapi juga Farhan, lelaki itu mengurai dekapan Ammar.
"Maksudnya, Mar?" tanya Farhan dengan wajah basah. Ia mewakili Farina yang terlihat melongo mendengar ucapan Gana.
"Gana lupa ingatan, Han. Dia tidak ingat apapun masa lalunya."
Seperti tersambar petir. Farhan menatap Gana getir. Ia tidak menyangka perbuatan istrinya bisa memberikan efek seperti itu. Mendengar ucapan Ammar, Farina kembali terisak. Ia memeluk lagi Gana dan mengerang.
"Maafkan aku, Gana ... hiks. Sungguh aku minta maaf. Aku menyesal ... Sangat menyesal! Tolong ampuni aku." Farina melepas pelukan itu, lantas beringsut untuk berlutut di kaki Gana.
"Aku lah yang membuatmu seperti ini." dan berkat sumbangsihnya lah, Ammar sampai harus menjauhi keluarga untuk melindungi Gana sampai ke Makassar.
"Bangun, Farina! Jangan seperti ini!" Gana mencoba menarik kedua bahu wanita berhijab itu untuk kembali beranjak berdiri.
Hati Farina pedih. Ia tersedak akan kebodohan dan kejahatannya kepada Gana. Sejatinya wanita itu selalu baik padanya tempo dulu, hanya saja rasa iri hati menutup akal sehatnya.
Farina menggeleng kepala sambil menunduk ke bawah. Menumpahkan isak yang masih membuat dadanya sesak. "Astagfirullah, Ya Allah." rintih Farina. Ia merasa benar-benar berdosa.
"Amihhhhh!" seru Falan yang ingin juga menangis sesaat melihat Maminya sedang terisak, bersimpuh di kaki Gana.
Anak itu ingin beranjak turun mendekati sang Mami, tapi Aurora menahannya. "Danan tuyun yah. Di nini atah!" si cantik memegang lengan Falan. Anak lelaki itu hanya diam menurut.
"Ayo bangun, Farina. Aku sudah ikhlas. Hanya sekedar lupa ingatan, tentu bukan masalah berat bagiku. Yang penting aku dan Abang bisa kembali bersama. Dan lihatlah sekarang kami berbahagia" setelah berucap, lantas Gana mendongak, ia menatap Ammar yang sedang menatapnya balik dengan wajah tersenyum tapi sangat basah.
Semua yang mendengar sangat terenyuh. Hati Ammar berdesir kuat. Ia menatap bahagia cintanya. Bangga sekali ia bisa memiliki wanita tangguh seperti Gana.
"Tolong maafkan istriku, Ammar, Gana." kini, Farhan yang membuka suara. Demi Farina, ia memohon belas kasih dari mereka berdua.
"Istriku pasti memaafkan. Iya kan, Dek?" Ammar menatap Gana.
Gana mengangguk. Masih setengah membungkuk ia mencoba terus mengangkat tubuh Farina yang masih bersimpuh di bawah kakinya sambil menangis.
"Suamiku benar. Aku sudah memaafkan kalian. Tolong maafkan juga suamiku. Mari kita berdampingan untuk menjadi sahabat yang akan saling menolong di surga Allah nantinya."
Farina mendongak ke atas, menatap wajah Gana dengan leleran air mata. Ia genggam tangan Gana kuat-kuat. "Beneran kamu udah maafin aku, Gana?" tanya Farina terseguk-seguk.
Gana mengangguk, mengulas senyum renjana.
"Demi Allah, sudah." Gana seka kebasahan di wajah Farina.
"Kamu cantik sekali pakai hijab. Kalau nangis terus, nanti cantikmu hilang. Kita harus tetap cantik, karena diluar sana banyak yang menginginkan suami kita." Gana menenangkan hati Farina dengan leluconnya. Ammar dan Farhan pun jadi tertawa.
Farina yang sedang menangis pun jadi tersenyum. Lantas beranjak berdiri dan kembali memeluk Gana.
"Makasih banyak, Gana. Maafkan kami."
"Sama-sama. Semoga setelah ini tidak ada dusta lagi di antara kita." jawab Gana dalan dekapan itu. Ia menatap Ammar dan Farhan secara bergantian.
Seakan mengerti, dua lelaki itu mengangguk.
Kebencian.
Pengkhianatan
Dendam
Sudah game over sekarang
๐บ๐บ๐บ๐บ
"Jadi totalnya anak kamu mau empat?" tanya Farina setengah terkejut. Ia mengelus perut Gana. Kedua perempuan ini beramah-tamah di atas sofa. Berbincang apa saja. Tapi lebih banyak Farina yang bertanya bagaimana kehidupan Gana dan Ammar saat masih bersembunyi di Makassar.
"Iya, yang pertama kan keguguran padahal kandungannya sama kayak sekarang, sudah empat bulan." Gana kembali mengelus perutnya. "Tiap tahun aku hamil. Dua bulan melahirkan, aku pasti hamil lagi."
Farina takjub. Ia melongo hebat. "Kamu subur banget ya. Semuanya normal?"
"Iya, Rin. Di sana hanya ada Bidan. Aku harus sekuat tenaga untuk melahirkan normal."
"Maafkan kami ya. Karena kami, kamu harus mengalami hidup yang pelik. Aku salut sama kamu. Lahiran selalu normal, ngurus anak lebih dari satu. Jualan juga. Kamu memang hebat, Gana. Dari dulu, kamu memang hebat dan pintar. Pantas banyak yang suka sama kamu----"
"Dan di antara mereka. Aku yang bisa memilikinya seumur hidup!" Ammar menerobos percakapan para emak-emak. Ia menghentak dadanya, seraya menyombongkan diri. Mulutnya yang menganga karena tertawa langsung mengatup saat Farhan memasukan kue ke dalam mulutnya.
"Sombong amat!" kekeh Farhan. Dua lelaki yang sejak tadi banyak mengobrol di meja kerja beberapa meter dari sofa, kemudian berbalik karena mendengar obrolan para istri yang begitu berisik.
Ammar tertawa dan Gana menunduk malu. "Abang emang gitu, Rin. Suka bangga diri."
"Kalau menyangkut kamu. Harus!" Ammar kembali berucap sambil mengunyah makanan yang dimasukan Farhan ke dalam mulutnya barusan.
"Huwaaaaaa ... Amihh!"
Tiba-tiba Falan menangis.
Semua mata beralih memandang Aurora dan Falan yang sedang bermain di atas karpet yang tergelar di lantai. Falan seraya mengulur tangan kepada Farina.
"Kenapa, Nak?" tanya sang Mami. Falan menunjuk Aurora yang sedang memegang bola-bola kecil, lalu beralih memegang dahinya.
"Cakit, Amih. Titipuk." cicit Falan memelas.
Takut dimarahi, buru-buru si anak demplon itu beringsut untuk memegang dahi Falan dan menghembuskan udara dari bibirnya agar rasa sakit di dahi itu memudar.
"Duh, cayang. Aapin ya, Yoya ndak tenaja." Rora membela diri. "Tanan nanis, yah! Cup ... cup." Aurora terus mengelus-elus dahi Falan. Sekilas mengecupnya dengan bibir yang menyemburkan saliva.
Falan mengusap dahinya sambil memasang wajah kesal. "Asah, nih! Utah-utah danan tium-tium, Alan!" duh, galak sekali bocah tampan ini.
"Minta maaf, Kak, sama adek nya." titah Gana.
"Ini tuga agih mina aaf, Mah." si pintar bisa saja menyahut.
Ammar dan Farhan hanya bisa tersenyum. Melihat keluarga mereka bisa berkumpul seperti ini rasanya sangat melegakan hati.
Padahal dulu sekali, Farhan tidak pernah terfikir tentang jalan hidupnya di depan akan seperti ini. Dan yang paling membahagiakan. Dirinya dan Ammar sudah bersatu kembali. Berteman lagi, membentuk kekuatan untuk menjadi keluarga.
"Aku lamar anakmu ya untuk jadi istri Falan kalau sudah besar." kekeh Farhan. "Anakmu cantik, cocok untuk anakku yang tampan." bukan hanya Ammar yang berbangga diri. Dirinya pun sama. Sebelas dua belas. Maka dari itu mereka cocok untuk jadi sahabat.
Ammar bergelak tawa. "Bertarung lah dengan Mahendra dan Alex. Mereka juga memperebutkan anakku untuk dijadikan istri dari para anak lelakinya."
Farhan mendesah napas berat, menggeleng samar. "Saingannya berat. Anak mantan mafia semua."
Raungan tawa kembali menggema di kedua pasangan suami istri tersebut.
๐บ๐บ๐บ๐บ
"Tumben ya, Bang. Bintangnya banyak banget." tunjuk Gana ke atas langit.
Ammar yang ikut menatap bintang malam lalu mengangguk. "Bintangnya cantik kayak Adek." Ammar mencium pipi istrinya yang masih mendongak ke atas.
"Cantikan mana sama Adek?"
"Ini pasti jebakan ya?" Ammar berbalik tanya. Menikah empat tahun dengan Gana, ia sudah hafal sifat wanitanya. Gana terkekeh. Ia memeluk lelaki itu. Bergeliat manja, mengusap-usap perut Ammar.
Mumpung Aurora dan Aidan sedang berada di kamar Mama dan Papa. Gana dan Ammar bisa berduaan di taman belakang sehabis menyelesaikan makan malam bersama. Udaranya cukup segar, walau dingin tapi tidak terlalu.
"Rambutnya udah panjang nih, Dek. Besok pagi Abang potong ya?" Ammar seraya menyisir rambut Gana dengan jari-jemarinya.
"Sekarang aja, Bang. Ngapain harus nunggu besok pagi. Takutnya Abang enggak sempat."
Ammar mengerutkan dahi. Ucapan itu terasa aneh untuk di dengar.
"Enggak sempat gimana? Memangnya Abang mau kemana?" Ammar memperjelas ucapan Gana. Gana pun menggeleng. "Iya yah, kok Adek ngmong nya gini. Ya udah, Bang. Lupain aja. Adek hanya asal ngomong." Gana terkekeh.
Keduanya kembali menatap bintang sampai
tak berapa lama Bik Onah datang menghampiri mereka yang sedang memadu kasih dibawah langit indah ciptaan Tuhan.
"Maaf, Den. Ada yang nyari, Aden." Bik Onah tampak tegang.
"Bibik kenapa? Kok wajahnya gitu?" tanya Gana.
"Siapa yang cari saya, Bik?" pun sama dengan Ammar. Ia terusik dengan tatapan Bibik.
"Polisi, Den. Papanya Aden yang menemui lebih dulu, sekarang ada di ruang tamu."
"Ha?" bola mata Gana membeliak begitupun Ammar.
"Ayo, Den. Cepetan. Mama Aden udah nangis-nangis di depan."
Jantung, paru dan hati Gana seakan mendadak tidak berfungsi. Jika Mama mertuanya sudah menangis, ini pasti bukan soal kabar baik.
Tangan Gana mendadak dingin. Mencengkram lengan Ammar. Napas Gana memburu cepat. Bunyi swing di dada kembali mencuat. Tahu kalau asma istrinya mendadak kambuh. Ammar membaringkan Gana di bangku kayu yang membentang lebar.
"Adek istighfar!" Ammar membungkuk, mengusap-usap dada istrinya.
"Abang!" ucapnya dengan nada berat.
"Adek!" demi Allah. Ia lebih takut Gana kenapa-napa dibandingkan dirinya harus ditangkap polisi sekarang.
Gana meremat kain baju di dada suaminya. Wanita hamil itu sesak. Mulutnya menganga dengan napas termegap-megap. Gana syok bukan main.
"Abang! Jangan keluar sekarang, Bang! JANGAN!" Gana terus meronta. Kini tangannya menarik tepi leher Ammar, agar lelaki itu mengangguk dan mengatakan iya. Sekuat mungkin Gana menahan.
"Sabar, sayang. Sabar."
"Pokoknya jangan keluar! Jangan, Abang!"
Air mata Ammar menetes jatuh bertubrukan dengan air mata yang sedang membasahi pipi Gana. "Adek mohon, Bang!"
Melihat istrinya seperti ini, Ammar benar-benar mengutuk dirinya. Ia kembali menyakiti Gana. Seakan sudah waktunya, Ammar mempertanggung jawabkan segala kesalahan dan kejahatannya selama ini.
"Ammar!" seru Papa Bilmar.
๐บ๐บ๐บ๐บbersambung๐บ๐บ๐บ๐บ
Kira-kira kalau sad ending, kalian benci enggak sama aku? Nanya ajah! Nanyaโบ๏ธ. Aku anak baik kok๐ฅณ
Like dan Komennya banyakin dong. Gitu aja cukup buat hati aku senang.