Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Kamu Nih, Nakal!


Menikahlah dengan dia yang memiliki sejuta maaf atas segala kekurangan mu, dan sejuta syukur atas kelebihan mu.


PAK


PAK


Dua tamparan panas Ammar layangkan langsung ke permukaan pipi Denis dan Bima.


"Dasar asisten kurang ajar! Berani-beraninya kalian membohongiku!"


Bima dan Denis sedikit menunduk sambil mengusap-usap pipi yang baru saja di sentuh dengan tekanan tornado, oleh Presdirnya.


"Mengaku tidak ada orang yang masuk ke apartemen. Nyatanya ada Gana dan Yuni di sana. Dasar brengsekk kalian! Kalian tau tidak, dua minggu istri saya seperti orang tidak waras, sampai saya harus menamparnya karena ucapan-ucapannya yang terpaksa menyakitkan keluar begitu saja dari mulutnya. Saya tidak tau, jika kala itu, Gana sedang mencoba menerima segala kesalahan saya."


"Maaf, Pak. Kami hanya ingin membantu Ibu untuk membawa Bapak ke jalan yang benar. Pak Farhan itu licik, Pak. Dia banyak membohongi Bapak. Sepertinya juga iri. Tapi kita tidak punya kekuatan untuk menceritakannya, Bapak sudah terpengaruh dengan, Pak Farhan."


Ammar menghela napas dan hening. "Saya sudah lama tahu. Tapi saya diamkan. Sampai dimana saya lelah. Saya memang sudah mau menjauh dari usaha-usaha kami yang terlarang ini, tapi ternyata sudah ketahuan istri saya." jawabnya nanar.


Ia kembali mengingat kejadian seminggu lalu, dimana Gana dengan lantangnya menjemput paksa dirinya di dermaga dan habis mencaci maki Farhan. Ammar hanya tau dirinya sudah lama dicurangi, tapi tidak dengan niat Farhan untuk membunuh Gana.


Demi sang istri, demi memulai hidup yang baru. Ammar memblokir kontak Farhan. Ammar ingin khusyu dalam taubatnya. Dalam seminggu ini juga, Ammar memilih cuti dari kantor. Setiap hari ia hanya ingin berduaan dengan Gana. Memperbanyak tilawah, dzikir, shalat sunah, olahraga dan istirahat. Rasanya otak Ammar masih menegang.


"Maafkan ya, Pak. Kami salah." sambung Bima.


Ammar mengangguk dengan senyum. "Tidak apa-apa. Saya juga minta maaf atas tamparan saya tadi. Walau begitu saya tetap tidak suka di bohongi. Tapi jika kamu tidak membiarkan Gana, mungkin saat ini saya masih berlarut dalam maksiat."


Bima dan Denis membalas senyuman hangat.


"Ayo, Pak. Kita kembali ke jalan yang benar."


Ammar mengangguk dan menghentak bahu mereka bersamaan. "Ayo." tukasnya semangat.


"Ya sudah saya mau ke dalam." ucap Ammar setelah kenyang sudah menampar Bima dan Denis yang kembali hadir bertatap muka dengannya di hari minggu ini. Selama Presdirnya cuti, tentu saja pekerjaan semua di handel oleh mereka berdua.


Hari ini tepatnya. Keluarga Mahendra dan keluarga Alex di undang Ammar untuk bertandang ke rumah. Maka dari itu saat ini Gana masih di dapur bersama tiga art nya untuk memasak makanan yang akan di suguhkan di meja makan.


Dua hari lalu. Gana, Ammar, Mahendra dan Alex pergi ke seluruh rumah bordir, markas, dan beberapa bukti-bukti kejahatan Ammar yang masih ada untuk dibakar habis.


Ammar tercengang ketika mendapati Alex masih hidup, namun dengan wajah yang cacat. Dan Ammar masih saja baik, mau meminta maaf atas nama Farhan kepadanya.


"Maafkan, Farhan, Lex. Dia masih salah arah." ucap Ammar kala itu.


Alex mengangguk berat dengan satu mata yang hanya bisa menatap. "Maaf akan aku terima, jika kamu jauhi Farhan. Selama ia masih belum bisa bertaubat."


Dengan ucapan Alex lah membuat Ammar mantap memblokir dan menghapus jejak pertemanan dengan Farhan. Bukan karena lupa akan kacang dengan kulit, tapi Farhan memang sudah kelewatan. Apa yang ia lakukan kepada Alex, sungguh tidak manusiawi. Ammar berjanji akan mengobati Alex seperti dulu, ingin membuat Alex kembali melihat dan melakukan operasi plastik. Gana sudah menyetujuinya kalau suaminya yang akan membiayai.


Setelah semua usaha Ammar, Gana hancurkan. Wanita itu mengadakan syukuran kecil tanpa mengundang keluarga. Gana dan Ammar datang ke salah satu rumah anak yatim. Untuk memberikan bantuan dari segi uang, makanan dan juga meminta mereka untuk mendoakan keselamatan suaminya.


Ammar menangis kala itu. Sujud syukur dirinya mendapatkan Gana sebagai bidadari penyejuk hati. Walau wanita itu cerewet dan galak, tapi tak masalah. Semua itu adalah kekurangan yang Ammar anggap sebagai suatu kelebihan. Ditambah lagi Gana cantik, tidak mata duitan, dan penyayang. Sayangnya Ammar belum bisa menggagahi Gana.


"Aku akan mencobanya nanti malam." ia akan terus berucap seperti itu dalam hati. Namun ketika malam tiba, ia urung melakukannya. Ia ingin menunggu agar Gana benar-benar mencintainya, padahal tanpa ia sadari. Gana sudah berkali-kali kode untuk di jamahi, walau dirinya takut.


Dan salah faham seperti benang kusut terus menggulung-gulung rumah tangganya.


Blass.


Kedua tangan menyatu didepan perut Gana. Gana yang sedang berkeringat, tengah mengaduk-aduk tumisan sayur di wajan seketika menggerdik pangkal bahu. Suaminya bergelayut manja, memeluk Gana dari belakang. Lelaki itu mencium permukaan leher Gana yang basah karena peluh.


"Hemm ... Asem baunya." Ammar terkekeh.


"Jangan gini ah, malu. Nanti bibik-bibik sama Yuni lihat."


Ammar tertawa. "Mereka semua sudah aku usir halus."


"Hah?" tangannya yang sejak tadi membolak-balik sayur dengan sodet di wajan langsung terhenti. Menoleh ke kanan dan kiri, dan betul para art nya sudah tidak ada.


"Kenapa sih harus masak? Kan aku sudah memperkerjakan tiga art sekaligus." cicitnya. Ammar masih saja menempel seperti anak tokek.


"Aku ingin kamu tau. Kalau aku juga jago di dapur. Karena wanita sepintar, sekuat, dan bisa mencari nafkah seapapun, harus tetap turun ke dapur untuk memberikan makanan yang enak-enak untuk suami dan anak. Kata Mama sih begitu."


Ammar tersenyum dan mengangguk. "Mama dan Kakakku juga seperti kamu."


Gana tersenyum, menyetujui ucapan suaminya. Ibu mertua dan Kakak Iparnya, memang wanita yang pintar di dapur. Mereka jago membuat lidah dan perut suami mereka bergoyang. Maka dari itu Gana ingin menirunya.


Dekapan tangannya di perut Gana semakin kuat saja. Napas Ammar yang berhembus disekitar tengkuk Gana, membuat hati wanita itu berdesir. Seakan ada yang menegang di tubuhnya, apa lagi kalau bukan hasrat yang mendadak menggebu-gebu.


Ammar masih saja menempel seperti vampir yang akan menghisap darahnya yang kecut. Gana tidak tahan, apalagi saat Ammar mengusap-usap permukaan perutnya. Wanita itu memang sudah mendamba sejak kemarin, tapi suaminya ini lagi-lagi tidak peka.


Lelaki itu sulit main kode-kode-an sama binik, cuy. Haha.


Gluk.


Knop kompor buru-buru Gana matikan. Wanita itu mendadak berbalik, membuat Ammar menyerengit kaget. Tanpa basa-basi, agar Gana bisa mencapai puncak. Langsung saja ia benamkan bibirnya di bibir Ammar yang masih menganga karena melongo dengan sikap Gana yang grasak-grusuk seperti tikus yang akan dimangsa kucing.


Gana bermain-main, melumatt bibir Ammar yang kenyal dan wangi. Tak perduli si empu bibir hanya diam karena masih syok. Yang penting dirinya ingin menikmati bibir itu sampai puas.


Lama-lama Ammar terbuai. Lelaki itu menutup mata untuk merasakan sensasi permainan Gana yang baru sekarang ia rasakan, Gana mirip seperti orang yang sedang kesetanan.


Sakit kulit bibirnya, tapi tidak masalah. Ia suka, kalaupun sampai robek, tidak apa katanya, gampang lah bisa di jahit. Batin si perjaka tung-tung.


Lidah keduanya membelit dalam rongga mulut. Decakan saliva terdengar mencap-cap di antara wajah mereka yang masih menempel.


Kedua tangan Gana sudah mengalung di leher Ammar. Ammar menggendong tubuh Gana, wanita itu mengeratkan kedua kakinya di pinggang Ammar agar tidak jatuh, dengan perpagutan bibir yang masih menyatu.


Ammar mendudukan Gana di sebuah meja kosong yang ada disudut dapur. Persatuan bibir mereka terlepas, hanya untuk mengambil oksigen di udara.


Gana memalingkan wajah karena malu. Pipinya memerah. Dan Ammar menyukainya. Diraih lagi bibir itu untuk ia esap. Kini semakin menuntut, karena diringi dengan erangan dari keduanya.


Debaran jantung yang kuat bersatu padu ketika dada mereka saling menempel. Kini bibir Ammar sudah turun ke permukaan leher Gana yang basah karena keringat dan katanya asam.


Ammar melupakannya, ia terus menghisap, persis seperti vampir ingin menyedot darah manusia. Tangan Ammar tidak begitu saja diam. Langsung bergerilya membukai kancing dress istrinya. Jari-jarinya langsung menelusup, memainkan satu buah mahoni kencang di sana.


"Euhh." Gana melenguh ketika di detik selanjutnya, Ammar berhasil menurunkan wajah ke area tersebut. Lelaki itu ingin minum fanta campur susu. Gana meremas pangkal bahu Ammar dan meringis, ia mengigit bibir bawahnya.


"Jangan di gigit ..." ucap Gana.


Tahan Ammar, jangan gegabah. Seonggok daging itu juga milik anak-anakmu nanti.


Ammar mengangguk. Dan tetap menikmati gundukan kencang, yang karena ulah tangannya, si pucuk gunung menyembul dari balik kain berenda.


Baru saja jari tangannya ingin masuk kedalam kain segitiga tipis dibawah sana. Mereka berdua tercengang. Karena ada Dava yang sudah tiba dirumah, berlari mencari Gana dan mendapatkannya di dapur, lantas berteriak.


"ANTE!"


****


Nanti aja lah di Swiss.


Loh? Ada apa di Swiss, thor?


Malam pertama🤭🤭


Kan nunggu setahun, thor?


Ya doain aja berhasil pas di Swiss, wkwkw.