Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Al- Fatihah Sejak Dini.


Aidan sejak tadi tidak berhenti menatap Nurul yang tengah duduk berhadapan dengannya di meja makan. Nurul melepas kerudungnya, memperlihatkan helaian rambutnya yang hitam legam dengan model potongan bob ber poni.


Sungguh cantik dan manis, apalagi di kedua pipinya terdapat lesung pipit. Tadi sore, Gana menitah Sofwan dan Nurul untuk mandi dan mereka diberikan baju baru punya Aidan dan Taya yang belum dipakai. Kedua anak itu pun sangat senang, apalagi Gana jadi membelikan mereka baju muslim untuk lebaran.


"Kok enggak dimakan, Nak?" tanya Ammar kepada Nurul yang sedang diam menatap menu makanan yang sudah tersaji. Semua yang sedang menikmati makanan buka, kecuali Aidan, mendongak ke arah nya.


"Kenapa sayang? Mau yang lain?" tawar Gana.


Nurul menggeleng dan tersenyum kepada mereka. "Kalau jatahku dibawa pulang aja, apa boleh Om, Tante?" tanyanya di luar ekspektasi orang-orang.


Batagor dengan bumbu kacang yang baru saja Sofwan kunyah, langsung tertelan begitu saja saat ia mendengar ucapan sang Adik.


"Buat apa, Dek? Makan di sini aja," bisik Sofwan. Anak lelaki itu merasa malu.


"Buat Abi dan Umi, Kak. Umi suka somay, Abi suka ayam bakar madu," balas Nurul. Anak baik itu menyebutkan nama makanan kesukaan orang tuanya. Si baik hati, tidak perduli perutnya lapar padahal sudah berpuasa seharian. Ia merasa tidak enak kalau harus minta dibungkus untuk dibawa pulang.


"Ya Allah, Sayang. Makan aja yang ada di sini. Untuk Umi dan Abimu, sudah Tante siapkan. Nanti bisa dibawa pulang," ucap Gana.


Garis bibir Nurul melengkung ke atas, si cantik tersenyum bahagia. "Yes, asik ...," serunya gembira.


Semua yang ada di meja makan pun tertawa. Gana tidak henti mengelus-elus rambutnya dan menuangkan makanan apapun yang Nurul tunjuk di piringnya.


Mengetahui Alda bisa menggerakan kaki barang beberapa langkah, membuat Ammar senang bukan main. Buah hati yang selama ini menjadi salah satu pikirnya, akhirnya bisa berjalan walau tertatah-tatah. Terbukti setelah ransangan itu di dapat. Alda jadi mau melangkah walau ia sering jatuh terduduk.


"Kakahhh ... nih ...," Alda yang duduk di pangkuan Papanya, mengulurkan tangan ke arah Nurul yang berisikan potongan ayam yang ia ambil dari piring Papanya. Baru beberapa jam mengenal Nurul, Alda seakan sudah jatuh hati. Sedari tadi ia ingin terus menempel di dekat Nurul.


Nurul menggeleng. "Buat Adek aja. Nih, Kakak juga lagi mamam," balasnya.


Alda mengangguk-angguk. Ia mendongak ke arah Papanya yang tengah menunduk, menyantap makanan. "Mam, Pah!!" serunya nyaring.


Ammar menurut. Ia memasukan daging ayam itu beserta seluruh kepalan tangan Alda.


"Yah, dimamam tangannya," Gana menggoda Alda. Alda tertawa-tawa dengan gigi-geligi mungil yang baru tumbuh beberapa. Ia seraya menjambak rambut Papanya untuk mau mengeluarkan tangannya.


"Makan ini, Rul. Enak," Nurul menurunkan tatapannya saat Aidan meletakan sate kambing di piring nya.


Nurul mengangguk, membalas kebaikan Aidan dengan senyuman. Lantas ia meletakan potongan lasagna di piring Aidan. "Enggak tau ini enak atau enggak, tapi cobain aja," Nurul terkekeh, seakan menular. Aidan pun jadi ikut bergelak tawa.


"Kita enggak pernah makan makanan kayak gitu soalnya," timpal Sofwan sembari mengunyah potongan roti canay. "Kayak gini, apa nih namanya?"


Rora menjawab, "Itu roti Arab." Sofwan hanya ber oh saja


"Benelan? Uh, kacian banet," ucap Adela.


Rora menggelengkan kepala kepada adiknya, untuk tidak boleh berkata seperti itu. Takut menyinggung perasaan.


"Maaf, Kak," balas Adela.


Ammar dan Gana memandang kedua anak itu dengan rasa kasian. Dua-duanya sedang berproses menjadi Hafidz dan Hafidzah. Hapalan Al-Quran Nurul dan Sofwan memang di atas rata-rata teman-teman sekelasnya. Belum lagi mereka berdua juga pintar di bidang pelajaran lainnya. Sungguh, di balik kesederhanaan yang Allah berikan pada mereka di dunia, telah Allah cukupkan bekalnya untuk di Akhirat.


...🌾🌾🌾...


Sehabis berbuka puasa, Ammar dan Gana mengantarkan Sofwan dan Nurul untuk pulang ke rumah. Ammar dan Gana ingin bertemu dengan orang tua mereka.


Ingin berkenalan lebih jauh, berbincang, mencari tau kiat-kiat apa saja yang di gunakan untuk mendidik kedua anak itu, sehingga bisa memenuhi standar hidup ajaran agama.


"Barang siapa saja membaca Alquran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya dan sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan pada kedua orang tuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia,"


Begitulah janji Allah kepada para orang tua yang bisa membuat anak-anak mereka menjadi penghafal Al-Quran. Walau Ammar pernah melakukan dosa yang amat fatal di masa muda, ia tetap ingin dengan mudah masuk surga bersama Gana berkat anak-anak mereka yang berharap bisa seperti Sofwan dan Nurul.


"Dek bantu Umi buat minuman," titah Abi kepada Nurul. Nurul yang ikut duduk di sebelah Abi dan Sofwan bergegas bangkit menuju dapur. "Maaf, Abi. Adek lupa," balas anak itu malu. Biasanya jika ada tamu, ia akan bergegas membantu Umi menyiapkan minuman.


Bola mata Aidan sejak tadi berpendar ke sisi rumah. Ia temukan foto Nurul sedang bayi, begitu lucu dan menggemaskan.


"Maaf, ya, Pak, Bu. Sudah repot-repot mau mengantarkan Sofwan dan Nurul pulang. Tadinya, setelah tarawih saya mau jemput," ucap Abi.


Ammar tersenyum menatap lelaki yang sedikit lebih muda darinya, tapi sudah mempunyai anak sepantar. Abi dan Umi memang menikah dari usia muda, tapi lama mempunyai momongan.


"Tidak apa-apa, Pak. Kami sangat senang diizinkan bertandang kemari. Sofwan dan Nurul sudah berkenan menjenguk Aidan. Anak-anak Bapak juga banyak membantu anak-anak kami. Anak saya yang ini ...." Ammar meletakan tangannya di atas pundak Aurora dan Taya. "Jadi mengerti pelajaran matematika yang sudah di ajarkan Sofwan." lantas menyentuh Alda. "Nurul bisa merangsang anak saya agar bisa melangkah. Padahal saya dan istri sedang dalam fase menyerah. Hanya menunggu keajaiban Allah, agar saraf di kaki anak saya bisa pulih kembali," tutur Ammar.


"Masya Allah Tabarakallah, saya ikut senang, Pak. Anak-anak saya bisa bermanfaat untuk sesama," balas Abi.


"Bagaimana cara Bapak bisa mendidik mereka seperti ini?" tanya Ammar to the point. Memang ini yang ingin ia tanyakan sejak di rumah.


"Kebetulan saya punya Sofwan ini lama banget, Pak. Hampir tahunan menunggu. Terus saya dan istri nazar. Saya berdoa kepada Allah, kalau saya diberi Anak. Saya janji akan membuat anak saya menjadi penghafal Al-Quran.


Alhamdulillah tidak lama, istri saya hamil. Sejak dalam kandungan, saya dan istri sudah mengenalkan bayi kami dengan lantunan ayat-ayat Al-Quran. Mengajak mereka bicara dengan bahasa-bahasa Arab yang kami bisa.


Setiap malam sampai pagi, kami rajin menyetel murotal surah-surah untuk menemanin kami tidur, menghela para jin yang ingin mendekat. Alhasil sejak Sofwan berumur satu tahun, dia sudah bisa hafal Al-Fatihah."


Abi merangkul Sofwan dan dikecup anak itu dengan rasa bangga.


"Karena dengan ilmu yang kami tau dari berbagai ta'lim yang pernah kami ikuti, dengan mengajarkan bacaan Al-Fatihah kepada anak, secara tidak langsung kita telah mendapatkan 3 amalan; Proses kita mengajarkan kepada anak akan dihitung sebagai sedekah jariyah, ketika anak kita membacanya baik dalam sholat maupun kehidupan sehari-hari maka akan dihitung sebagai ilmu yang dimanfaatkan dan Insya Allah anak yang sudah kita ajarkan ilmu agama termasuk di dalamnya bacaan Al-Fatihah akan menjadi anak yang sholeh yang do’anya akan bermanfaat bagi kita. Berulang kali anak-anak kita membaca surah Al-Fatihah dalam shalatnya, itu berarti ada pahala yang ikut mengalir untuk kita. Jangan biarkan orang lain yang mengajari, atau alat elektronik. Lebih baik kita sendiri, orang tuanya."


"Masya Allah ...." air mata Gana dan Ammar menggenang. Ia baru tahu jika usahanya selama ini saat membantu anak-anak sedari kecil untuk menghafal Al-Fatihah dan surah-surah pendek menjadi titik balik pahala buatnya.


"Terima kasih ilmunya, Pak. Semoga saya bisa menerapkan kepada anak-anak saya yang lainnya," balas Gana.


"Aamiin ...." semua mengaminkan. Ammar mengelus perut istrinya. Ia berjanji akan mencontek kiat-kiat yang sudah dijabarkan oleh Abi untuk calon bayi yang sedang berkembang di perut Gana.


Di rumah tipe dua satu dengan dua kamar, tanpa pendingin ruangan membuat pasukan A8 ini kepanasan. Luas ruang tamu, tidak lebih luas dari kamar mandi di setiap kamar anak-anak Ammar dan Gana.


"Mama, akuh nanas!" seru Adel. Ia meringkuk di samping Gana. Mengeluh kalau dirinya gerah.


"Adek!" sentak Aidan tidak suka. Karena saat Adela berucap, langkah Nurul dan Umi sampai di hadapan mereka dengan nampan berisi cangkir minuman, toples berisikan rengginang dan biji ketapang. Bukan cookies almond mahal yang sering A7 santap di rumah.


Umi tersenyum. "Panas, ya, Nak?"


"Enggak kok, Bu. Adem," selak Gana dengan raut wajah tidak enak. Tapi Adela yang tidak mengerti malah mengaku iya. "Iya, nih. Ante. Di cinih nanas, adah ace nyah ndak?"


Aidan membekap mulut Adiknya yang makin-makin mengeluh. Jika keluarga A7 sungkan dan malu, berbeda hal dengan keluarga damai ini. Mereka malah tertawa. Nurul menggendong Adela dan memangku nya, ia kipasi anak itu dengan kipas untuk nasi.


"Maaf, ya. Kipas angin kami lagi rusak, baru kemarin di service," ucap Umi dengan senyuman.


Ya begitulah jika manusia sudah bisa menaklukan dunia dengan bekal Akhirat, kesusahan yang ia rasakan di dunia tidak akan membuat mereka lantas rendah dan mengeluh. Tentu panas di dunia tidak seberapa dengan panas di Neraka.


"Oh, enggak apa-apa, Bu. Tidak masalah," jawab Gana. "Oh, iya. Ini ada sedikit untuk Sofwan dan Nurul." Gana memberikan bingkisan yang ia bawa untuk kedua anak-anaknya itu. Baju-baju mahal yang ia beli dari Mulan dan beberapa bungkusan makanan yang bisa mereka nikmati bersama.


"Ya Allah, banyak banget, Bu, Pak. Saya jadi malu menerimanya. Takut merepotkan. Sofwan dan Nurul saja sudah pakai baju baru sekarang," ucap Umi. Ia melihat baju yang saat ini tengah di pakai oleh kedua anak mereka.


"Malah menurut saya ini kurang. Saya bangga melihat Sofwan dan Nurul yang begitu pintar. Kalau Bapak dan Ibu mengizinkan, saya ingin memberikan beasiswa untuk Sofwan dan Nurul serta ingin menawarkan Bapak untuk bekerja di perusahaan saya," ujar Ammar. "Akan saya berikan gaji yang pantas, biar Ibu juga tidak usah bekerja. Bisa mengurus Sofwan dan Nurul lebih dalam lagi," imbuhnya lagi.


Umi dan Abi saling melemparkan pandangan.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Hari Jumat, Guys. Jangan lupa Al-Kahfi.