
Dulu sekali, Ammar selalu berdoa agar Gana mau membalas setiap pesan-pesan yang ia kirim. Tidak muluk-muluk meminta wanita itu untuk kembali menanyakan kabarnya, dibalas saja. Ammar sudah bahagia sekali. Walaupun nyatanya Gana selalu cuek dengan setiap pesan-pesan yang selalu ia kirim.
Maka saat ini, ketika dirinya dan Gana sedang berada dalam satu selimut yang sama. Sama-sama tanpa helaian kain dan tidur saling berpeluk, tentu hal itu merupakan suatu keajaiban yang luar biasa dalam hidupnya yang tengah ia rasakan. Ucapan syukur tanda terima kasih kepada Illahi terus ia ujarkan.
Ammar tahu dirinya sudah menjadi suami, dirinya pun tahu Gana berkewajiban untuk memberikan haknya, tapi ia tahu jika sama-sama sudah mencinta, maka melakukan hak dan kewajiban rasanya akan lebih bermakna.
Melepas dan menerima, ketika sama-sama saling menginginkan. Gana melepas kegadisannya dan Ammar siap menikmatinya. Tentu hati mereka harus bersatu dulu. Ammar ingin Gana meyerahkan harta berharganya memang murni karena cinta bukan karena terpaksa. Lelaki itu sangat menghormati istrinya.
Ammar terbangun setelah tidur selama satu jam, seusai mendapatkan pelepasan. Gana pun sudah terlelap karena waktu saat ini masih dini hari. Mulut dan tangannya lelah, karena sudah berhasil membuat sang suami terbang ke awang-awang.
Sudut bibir Ammar terangkat penuh ke atas. Senyumnya mengembang penuh suka cita. Bibir nya sedari tadi tidak berhenti mengecup pucuk rambut istrinya yang masih terlelap. Jari-jemari nya terus mengusap-ucap pipi mulus Ganaya.
Sesekali tangannya nakal, menyingkap kain selimut yang tengah menutup tubuh polos sang istri. Ia melongo ke dalam dan terkekeh geli.
"Akhirnya walau Harley belum sepenuhnya lepas landas, seenggaknya aku sudah mencicipi si Honey." kelakar Ammar, tangannya beranjak mengusap selimut dibagian yang menutup pusat inti Gana.
Lelaki itu kembali menatap Gana yang masih menempel di dadanya. "Makasih ya udah buat aku enak ... baru tau rasanya kayak gitu, biasanya aku pakai sabun." Ammar langsung melipat bibirnya. Ia keceplosan. Takut-takut Gana mendengar. Siapa tahu kan wanita itu sudah bangun, namun berpura-pura? Batin Ammar.
Baru saja seperti itu, Ammar sudah merasakan kagum. Apalagi jika ia sudah berhasil menembus Honey? Sudah dipastikan Ammar akan bersorak gembira tujuh hari tujuh malam.
"Biasanya aku suka bayangin kamu, lihatin foto sambil cium-cium kayak orang enggak waras, sampai aku bisa klimaks. Tapi sekarang----" Ammar menyengir. "Enggak nyangka ya, ternyata bayangan aku jadi kenyataan. Aku bisa lega sama bibir kamu yang lezat ini." Ammar menjawil bibir pucat Gana yang masih terlihat bengkak.
Ammar tertawa.
"Jangan lama-lama belajar mencintai akunya ya, sayang. Soalnya aku udah enggak tahan sama si Honey. Aku mau kenalan banget sama dia. Honey bikin aku kayak kesetrum. Magnetnya kuat banget." Ammar tertawa lagi. Ia terus saja merancau. Menganggap Gana seperti benda mati. Setidaknya, ia sempat mencium aroma Honey yang begitu menggiurkan.
"Kamu capek ya? Mau diulang enggak?" Ammar menyentuh bongkahan sintal di permukaan dada Gana. Ammar masih terus membercandai istrinya.
"Aku sayang kamu, Gana. Sayang banget." Ammar semakin merekatkan pelukannya. Lelaki itu begitu tulus dan murni. Memperlakukan Gana layaknya bayi yang amat berharga. Tubuh polos Gana yang hangat sangat menyejukan tubuh Ammar.
Tapi, tiba-tiba dada lelaki itu terasa sesak. Sesak karena teringat ucapan Farhan kemarin.
"Oh, iya. Apa kamu tidak pernah berfikir, bagaimana kalau istri dan keluarga besar mu tau apa yang kamu kerjakan? Pernah menerka, bagaimana murka nya mereka? Terutama istrimu, mungkin saja ia akan meminta cerai."
Ammar Menggerakkan kepalanya dengan gelengan. Ia menatap tajam dinding yang sedang ia tatap. "Itu tidak boleh terjadi! Tidak boleh!"
Ammar memejam kedua mata, meletakan dagu di atas kepala Gana. "Ya Allah aku ingin bertobat, tapi mengapa susah sekali?" tanyanya dalam lirihan. Ammar mengecup lagi pusaran rambut istrinya dan menumpahkan rasa sedihnya. "Maafkan aku sayang. Aku janji, hanya setahun. Tidak akan lebih dari itu."
***
Sudah sewajarnya jika dirumah mertua, sang menantu akan bangun pagi dan ikut nimbrung di dapur. Walau Mama Alika bukanlah tipe mertua yang cerewet, yang akan selalu mengerahkan tenaga menantu untuk membantunya selagi menginap dirumah.
Oh ... Jangan salah. Wanita itu adalah Superwoman nya di keluarga ini. Selalu mandiri dan bisa mengerjakan apapun tanpa harus memusingkan tenaga orang lain.
Bahkan sampai saat ini, wanita itu masih saja turun ke dapur untuk memasak. Seperti pagi ini, Mama Alika sedang sibuk di dapur bersama art yang hanya bertugas untuk merajang dan mencuci sayur, lauk dan pauk. Sisanya Mama yang akan menumis dan menggoreng atau merebus. Sungguh Gana takjub dibuatnya.
"Masak apa, Mah?"
Suara Gana tiba-tiba mengagetkan Mama. "Lho, udah bangun? Mau teh sayang?" Mama menawarkan. Gana melongo ke dalam wajan, melihat sang Mama mertua tengah mengeluarkan kelihaiannya dalam memasak.
"Boleh, Mah."
"Bik, buatin Gana teh ya."
"Baik, Bu." art bersiap menyiapkan teh untuk istri Aden-nya.
"Boleh Gana bantu, Mah?"
Mama Alika tersenyum. "Enggak usah di bantuin, ini udah mau selesai. Lihatin aja cara masaknya." Gana mengangguk.
Beberapa masakan memang sudah matang dan tersaji di meja makan. Waktu sudah menunjukan pukul 06:30. Karena jam tujuh pagi, biasanya Papa Bilmar harus sudah sarapan. Ya, begitulah rutinitas Mama Alika setiap pagi, ia akan sibuk di dapur mulai sehabis subuh.
"Mama masak kulit ayam?" wajah Gana senang bukan main, ketika melihat kulit ayam yang sudah direbus lalu dimasukan kedalam tumisan bumbu kecap.
"Mama sengaja masak ini. Mumpung Ammar lagi menginap, Mama buatin makanan kesukaannya. Gana juga suka 'kan? Kemarin si Adek cerita, katanya kamu juga suka. Kalian emang jodoh, sampai makanan aja sukanya bareng."
DEG.
Gana tersentak bukan main. "Aa---Ammar suka kulit ayam, Mah?" tanyanya dengan intonasi tidak percaya.
Mama Alika mengerutkan dahi. Tahu, jika mertuanya mulai merasa dirinya aneh. Buru-buru Gana mencairkan suasana agar kembali hangat.
"Ma--maksudnya, kita berdua memang penyuka kulit ayam, Mah." Gana mendorong saliva nya lamat-lamar kedalam kerongkongan. Menutup kebohongan yang hampir terkuak.
"Ini buat kamu, aku enggak suka sama kulit ayam." Ammar melepaskan kulit krispi dari bagian ayam yang sedang ia makan, lantas meletakkannya di piring Gana. Gana tersenyum, karena ia sangat suka sekali dengan kulit ayam.
"Kamu aneh, Ammar. Masa makanan enak kayak gini kamu enggak suka?"
Gana kembali terbayang dengan percakapan yang terjadi di meja makan ketika mereka sedang makan malam. Di saat mereka baru-baru menikah dan belum berpisah kamar karena beberapa masalah.
Gana tertohok. Baik sekali sang suami kepada dirinya yang banyak tidak tahu diri. Ammar selalu mengetahui kesukaan Gana, merelakan apa yang ia suka demi orang yang ia kasihi.
Sedangkan Gana? Apa yang ia tahu tentang suaminya?
"Jangan kan tentang makanan kesukaannya. Tanggal berapa dia lahir saja, aku tidak tau." Gana membatin. Perih hatinya, ketika tahu banyak dosa yang sudah ia lakukan. Membiarkan suami selama ini hanya karena belum bisa mencintainya.
"Kamu selalu hafal hari ulang tahunku. Memberiku banyak hadiah dan kue ..." dan Gana akan selalu melewatkan hari ulang tahun Ammar tanpa rasa bersalah.
Gana menghela napas panjang. Kepalanya kembali terasa berat. "Selama ini aku sudah jahat padamu, Ammar. Selalu membiarkanmu dengan perasaanmu seorang diri."
Gana terus mengutuk kebodohan dirinya.
***
Semua sudah lengkap di meja makan. Kecuali Five G yang masih tertidur pulas di kamar. Gana dan Ammar juga sudah siap dengan jas kantor mereka, karena sebentar lagi akan berangkat bekerja.
Mulai hari ini Gana kembali menyiapkan segala kebutuhan Ammar. Ia mencoba membuang ego yang selama ini selalu mendoktrin dirinya.
Bagaimana bisa mencintai Ammar jika dirinya tidak mau membuka diri dan belajar. Sebelum turun ke meja makan. Gana sempat memasangkan Ammar dasi. Walau dengan wajah malu-malu karena mengingat hal semalam.
Ammar kembali senang, ketika Gana menuangkan lagi nasi di piringnya. Entah 'kah karena hanya didepan mertuanya saja atau memang Gana ingin membuka diri, fikir Ammar. Baginya tidak masalah, apapun yang Gana lakukan, ia akan menerimanya dengan suka cita.
"Pagi-pagi udah pada basah aja rambut---"
Buru-buru Papa Bilmar memasukan nasi kedalam mulutnya ketika mendapat delikan mata dari istrinya. Niatnya ingin menggoda anak dan menantunya. Tapi urung ia lakukan. Ammar dan Gana hanya tertawa kecil melihat Papa yang begitu takut dengan Mama.
"Dihabisin kulit ayamnya, Nak. Tadi Gana yang bantuin Mama masak." titah Mama Alika. Mendadak wajah Ammar menegang. Sudah dipastikan Gana mengetahui kalau dirinya sudah berbohong kala itu.
"Makan yang banyak, ini kan makanan kesukaanmu, sayang ..." walau susah menyebut sapaan di akhir kalimat, tapi sebisa mungkin Gana melakukannya. Ia hanya ingin berbalik menghargai perasaan Ammar kepadanya selama ini. Gana meletakan kulit ayam di piring suaminya. Harusnya Ammar senang dipanggil sayang. Tapi kenyataannya pagi ini ia cukup resah, ia takut Gana marah, karena sudah membohingi nya.
Gana mengelus lembut punggung suaminya dan sedikit berbisik. "Aku enggak marah. Ayo makanlah."
Ammar kembali tersentak, seakan wanita itu bisa membaca isi hati dan fikirannya. Ammar mengangguk dengan wajah bahagia.
"Makasih sayang ..." Ammar mengecup singkat pipi istrinya. Membuat Papa Bilmar dan Mama Alika saling bertatapan dalam rasa gembira.
Tanpa sengaja Ammar mendongak dan menatap wajah sang Papa yang sedang terpaku menatapnya.
"Papa tau, istrimu belum sepenuhnya mencintaimu, Nak. Tapi teruslah doakan Gana agar hatinya berbalik kepadamu. Seperti dulu, ketika Papa sedang berusaha membuat Mamamu melupakan mantan suaminya dan kembali mencintai Papa. Adek pasti bisa, Nak."
"Adek akan berusaha, Pah. Doakan Adek."
"Selalu, Nak."
Ammar dan Papa saling bersautan dalam telepati batin antara Anak dan Orang tua. Hati keduanya saling berdesir hebat.
***
Nah gengs. Siapin hati ya, karena aku mau masuk ke inti konflik. Karena sebelumnya kan kita udah masuk di awal konflik.
Jadi di cerita ini ada awal-inti-akhir konflik. Semua sudah runtut dalam outline ku. Aku akan melompat bulan sesuai cerita yang sudah aku susun, sampai ke satu tahun kemudian.
Di inti konflik, pasti akan lebih menegangkan. Karena di sinilah awal mula masalah akan terkuak sebagian. Itu clue dari aku ya. haha. Jadi kalo kalian ada yang tiba2 marah dan gak suka, moon maap😬. Emang gini alurnya hehe😘😘.
Kapan sih manis-manisnya thor? Kan kalian juga udah tahu di prolog nya, seperti apa, ya 'kan?🤭
Walau tegang tapi tetap sweet kok😍😍
Like dan Komennya ya gengs. Biar aku cemungut💪💪
si jahil❤️