
Baru saja ingin berbelok ke ruang ICU. Langkah kaki Ammar yang beriringan dengan langkah dua keponakannya terhenti begitu saja ketika melihat Bima dan Denis sedang berjalan mengarah kepadanya. Mereka berdua habis menjenguk Mama Alika.
Dari raut wajah kedua asistennya itu terlihat tampak senang walau terdapat sisa-sisa kebasahan di kantung matanya.
"Alhamdulillah, Ibu sudah sadar, Pak. Saturasinya naik. Tadi sudah diperiksa oleh Dokter."
Cahaya di wajah Ammar kembali tampil. Lelaki itu langsung bersujud di lantai sambil mengucapkan kata hamdalah berulang-ulang kali.
"Alhamdulillah ... Alhamdulillah." serunya. Bima dan Denis mengembang senyum haru.
Mendengar neneknya sudah sadar, Dipta dan Bisma berlari meninggalkan Ammar untuk melesat masuk kedalam ruang ICU yang saat ini hanya di huni oleh neneknya saja. Maklum, yang menempati ruangan adalah pemilik Rumah Sakit ini.
Ammar kembali beranjak berdiri dan tersenyum kepada mereka. "Makasih Bim, Den, sudah menjenguk Mama."
"Sama-sama, Pak."
"Sejak kapan kalian tiba?"
"Setengah jam yang lalu, Pak. Kami mencari Bapak, tapi tidak ada di dalam. Hanya ada Ibu Maura, keponakan kembar dan Papanya Bapak."
"Saya tadi ada di mushola."
Denis dan Bima mengangguk.
"Lantas Ibu dimana, Pak?" Bima masih kepo.
Tentu sosok Ibu yang ditanya oleh Bima di sini adalah Ganaya, istrinya. Lantaran hanya wanita itu yang tidak mereka lihat batang hidungnya.
Cahaya yang tadi berkibar, kini redup lagi. Sudah empat jam Ammar mencoba menghubungi ponsel Gana, tapi tidak aktif. Lelaki itu sebenarnya resah. Tapi ia ingat apa kata-kata Gana sebelum beranjak pergi, wanita itu sudah berjanji akan kembali. Ia pun masih belum tau apa yang terjadi dengan Ibu mertuanya, niatnya setelah Mamanya sadar ia akan datang ke RS berbeda, tempat dimana Mama mertuanya sedang berbaring.
Merasa Presdirnya termenung cukup lama. Denis menepuk pelan bahu Ammar untuk terlonjak dari lamunan.
"Mama mertua saya juga sakit. Jadi Ibu di sana sekarang." jawab Ammar jujur dengan helaan napas panjang yang begitu mencurigakan.
Bima dan Denis bukanlah anak polos kemarin sore yang bisa menerima jawaban ala kadarnya dari Ammar.
"Sebenarnya ada apa, Pak? Bapak bisa cerita sama kami, kami siap membantu."
Ammar tertawa pelan. "Sudah telat, Bim, Den. Dosa ini memang sudah seharusnya saya tanggung. Saya fikir, saya bisa menyembunyikannya. Ternyata saya salah, Allah masih ingin mencuci saya sampai bersih dari dosa."
Dua alis Bima dan Denis menaut. Dan Ammar faham karena mereka menjadi bingung. Ammar merogoh kantong dan mengeluarkan amplop berisi foto yang disebarkan oleh si penjahat kepada kedua keluarga besarnya.
Bima meraihnya saat Ammar menyodorkannya.
"Hah!" desah mereka nyaring. Bola mata mereka meletup-letup seiring napas yang mulai berhembus kasar.
"Pasti Farhan yang menyebarkannya kepada keluarga saya dan keluarga Ibu." ucap Ammar dengan suara datar dan kosong. Ada kesedihan dan kekecewaan yang sangat menggema di sana.
"Ini sudah keterlaluan, Pak!" decak Denis tidak suka. "Sikapnya sungguh tidak berotak! Ijinkan kami untuk membunuhnya, Pak!" sambung Bima berapi-api.
Ammar menghela napas untuk meringankan beban di dada yang begitu nyeri. Lelaki itu menggeleng.
"Saya sudah berjanji kepada Ibu, untuk tidak akan pernah membunuh nyawa lagi. Walaupun saya ingin sekali meremukkan tubuh Farhan saat ini! Tapi mungkin hal ini yang harus saya bayar darinya, ketika saya memang betul-betul harus menjauh dari lelaki itu! Saya harus terima konsekuensinya, karena saya memang ingin bertaubat dan menjauhi dia sampai mati!" Ammar bersumpah.
Sebelum kejadian ini, fikirannya masih gamang. Ia masih memikirkan lelaki itu, masih ingin di rengkuh untuk dibawa ke dalam jalan taubat. Ternyata Semesta tidak meridhoi. Hati Ammar tertutup dan mulai murka kepada lelaki itu.
"Tolong jangan lakukan tindakan bodoh apapun tanpa seizin saya! Doakan saja saya bisa diampuni oleh dua keluarga besar ini."
Bima dan Denis mengangguk berat. Tanpa sadar mereka memeluk tubuh Presdirnya begitu saja. Lalu menangis. Hati mereka teriris dan takut. Takut kalau Ammar terusir dari dua keluarga ini.
Entah mengapa perasaan mereka tepat dengan keadaan Ammar yang sekarang, dan Ammar belum mau memberitahukan bagaimana ia sudah di usir dari keluarga ini. Akan ada saatnya berbicara tenang kepada dua asisten setianya ini.
"Sudah jangan cengeng. Berapa nyawa yang sudah kalian bunuh? Masih saja kayak balita, Ck!" Ammar berdecis geli.
Dan mereka berdua semakin merekatkan pelukan. Karena tau, sang Presdir hanya sedang berpura-pura kuat.
****
Krek
Pintu ruangan Mama, Ammar buka pelan. Yang menjaga Mama di pembaringan refleks menoleh ke arahnya yang baru saja menyembul dari balik pintu.
Maura, Kakak tercintanya. Langsung melengos malas menatapnya. Wanita berhijab itu mengusap sisa-sisa air bening disudut matanya. Ia mengecup kening Mama yang menatapnya lemah. "Kakak keluar dulu ya, Mah. Mau telepon Gifa."
Mama hanya memainkan mata tanpa menjawab. Dirinya masih lemah.
"Pah, Kakak ke luar dulu ya." ijinnya juga dengan Papa. Papa yang kembali merebahkan kepala di sebelah perut Mama sambil mengusap-usap rambut istrinya hanya mengangguk. Debaran jantungnya sudah membaik, karena istri tercintanya kembali lolos dari masa kritis. Perihal keadaan istrinya memang sudah membuat ia lega, hanya saja tentang Ammar, dirinya belum bisa menerima dengan ikhlas.
"Bun, kita di sini aja ya." seru Five G di sofa.
"Enggak! Ayo ikut Bunda keluar. Nenek butuh istirahat." titah Maura mengajak mereka paksa dengan nada dingin.
Ammar tahu, suara dingin dan tatapan jutek yang Maura layangkan kepada Five G, pasti secara tidak langsung mengarah kepadanya.
Ammar masih mematung di daun pintu, menunggu Kakaknya datang menghampiri karena ingin keluar.
"Kak ..." serunya. Berharap Kakaknya mau menoleh atau bercakap lagi setelah habis menamparnya tanpa ampun beberapa jam lalu.
Maura tetap kukuh dengan kekesalannya. Wajar ia marah. Kelakukan Ammar sungguh diluar batas nalar manusia.
Menjadi Mafia, merusak harkat dan martabat keluarga. Bukan hanya keluarganya yang kena imbas, tapi juga keluarga suaminya.
Ia sudah mengirim pesan beberapa kali kepada Gifa, tapi suaminya hanya membaca dan tidak menjawab. Maura tahu, suaminya tengah kecewa. Dan lagi-lagi berimbas padanya.
Ammar sudah mencoba menjelaskan asal muasal mengapa ia bisa menjadi lelaki yang tidak beretika, tetapi keluarga besar tetap mengutuknya.
Maura memilih menerobos bahu Ammar dengan kasar sambil menggiring semua anak-anaknya untuk keluar dari kamar.
Batin Ammar tersentak. Sakit sekali. Selama hidup Ammar selalu di manja oleh Maura. Wanita itu lebih dekat dibanding Mama dan Papanya sekalipun. Tapi kini? Wanita itu memilih untuk menjauh.
Samar-samar sudut garis bibir Ammar melengkung ke atas. Ia menatap senyum Mama Alika yang menatapnya dengan genangan air mata. Tak mampu berucap kata untuk memanggil, jadi hanya dengan gerakan jari yang masih menempel di kain seprai.
Ammar mendekat. Dan berdiri di sebelah Mama yang bersebrangan dengan Papa.
"Mau apa kamu!" tanpa menoleh, suara bariton Papa kembali memekak daun telinganya.
Mama seraya menoleh ke arah suaminya untuk mengatakan 'Tolong maafkan anakku'
"Adek mau lihat Mama, Pah."
Papa mengangkat kepala. Beranjak dari duduknya, lantas mengecup kening Mama. Ia mengusap air mata di sudut netra istrinya.
"Setelah melihat, pergilah dan jangan datang lagi!"
Mendengar ucapan itu membuat Mama ingin menyergah namun masih susah. "Jangan dipaksa bicara. Kamu masih lemah, sayang. Aku ke luar dulu ya. Setelah anak ini pergi baru aku akan masuk lagi." Papa berlalu tanpa menatap Ammar. Rasa benci begitu menusuk. Bukan hanya Ammar, Papa pun sakit mengucap hal itu.
"Pah ..." seru Ammar dengan nada lirih. Berusaha lagi memaksa untuk di maafkan, tapi rasanya ia tidak pantas untuk meminta secepat ini. Lelaki itu menghela napas, mencoba sabar dulu dan mewajarinya. Ia tahu, Papanya masih marah, masih syok dan belum bisa menerima keadaan ini segampang itu.
Setelah pintu tertutup. Ia duduk di kursi bekas Maura tempati barusan. Ammar melingkarkan tangan dan merebahkan kepala di perut Mama. Mencium tangan Mama yang sudah terpasang banyak selang. Kemudian mencium kaki Mama berulang-ulang. Seperti yang sudah ia lakukan kepada Papa, namun lelaki itu menendangnya.
Masih di ujung kaki Mama. Ammar menangis tersedu. "Maafin Adek, Mah. Adek khilaf. Mata Adek tertutup dunia. Ampuni Adek, Mah .... hiks."
Bola mata Ammar kembali menganak sungai. Isak tangis dan ingus bercampur, membuat berisik ruangan. Wajah lelaki itu merah, menahan sesak yang sulit tertampung. Tangisan tidak hanya ia tunjukan untuk meminta maaf. Tapi tangis haru, karena Allah mau mengabulkan doanya, agar bisa meminta maaf kepada Mama dan mengeluarkan wanita itu dari jalan maut.
Mama menggerakan kakinya sebagai kode agar Ammar menatap wajahnya sekarang. Karena jari-jemari tangannya masih sulit di gerakan. Delapan jam koma, pasti butuh tenaga lebih ekstra.
Ammar mengusap air mata dan beringsut memeluk Mamanya lagi. Kini di daerah dada. Air mata Mama yang ada disudut jatuh membasahi rambut Ammar.
"Ttttt---aauu---bb--bbat, Nn--nak." susah payah untuk menyembulkan kalimat itu. Selain dirinya masih lemah, hidung dan mulut Mama juga terhalang sungkup oksigen.
Ammar menatap senyum cintanya.
"Adek udah taubat, Mah. Walau belum lama. Baru dua minggu."
"Ggaa--ga--gan---"
Seakan tahu apa yang ingin ditanyakan Mamanya, Ammar menyelak. "Gana sudah tau, Mah. Malah Gana yang membawa Adek pulang untuk bertaubat." jawabnya jujur.
"Alham--du-lill--lah." Mama menatap senyum Ammar. Ammar sudah menerka, Mama pasti akan memaafkannya. Yang tidak akan ia maafkan dari dirinya adalah jika saja Mama tidak bisa diselamatkan.
"Maafin Adek ya, Mah." pinta Ammar sekali lagi.
"Jann--jii?" Mama menggerakan kepalanya sedikit seraya meminta anak itu untuk berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
"Demi cinta Adek ke Mama. Adek janji." Ammar mendongak dan mencium pipi Mama.
Sekilas mama tertawa, walau batinnya terluka. Tapi mau apa di kata? Ini anaknya. Anak lelaki yang ia kandung, ia lahirkan, ia besarkan dan ia didik. Ia lebih menyalahkan dirinya dibanding Ammar. Ia mengklaim dirinya yang tidak becus mengurus sang anak.
"Mama mau jewer telinga Adek?" seloroh Ammar tidak mengenal suasana.
Mama Alika mengembang senyum walau masih lemas. Yang ia legakan sekarang, sang menantu tidak meninggalkan anaknya. Hanya suami dan Maura saja yang masih merajuk.
Sejatinya Mama belum tahu, kalau keluarga besannya sudah tahu apa belum tentang kelakukan Ammar. Mama ingin berkata, semoga Gana tidak cerita dan tetap menjaga aib suaminya.
Dan keinginan Mama ternyata pupus. Dirinya tidak tahu saja, jika keluarga besannya sudah tahu. Membuat Mama Difa mengalami penyakit yang sulit disembuhkan.
"Ggaaa--ga---gana ... ke-kema---"
Ammar menarik kepalanya dan menatap Mama. "Sedang di kamar mandi, Mah." Ammar meneguk ludah. Ia hanya bisa berdalih untuk menutupi kenyataan. Dan Mama hanya mengangguk pelan.
Ammar kembali teringat istrinya. Jantungnya kembali memburu. Apa yang terjadi di sana? Mengapa Gana sulit untuk di hubungi? Dirinya sudah mencoba menghubungi Gemma, tapi lelaki itu tidak merespon. Serta Gifa, juga sulit.
"Tunggu aku ya, aku akan jemput kamu." Ammar lirih, mencari bayangan istrinya di dinding.
***
Akhirnya gawai Gifali bisa di hubungi. Semenjak tadi Maura sudah ruwas dengan sikap suaminya yang mendadak dingin, mengangkat telepon juga dengan nada datar. Seperti orang linglung, nasib Mama Difa sekarang memang lebih buruk dari Mama Alika. Maka dari itu keluarga Hadnan meradang.
Berkat merengek dan terus bergelayut di tangan Kakaknya. Ammar berhasil pergi bersama Maura sekarang menuju Rumah Sakit dimana merawat Mama Difa sekarang. Five G sudah lebih dulu dipulangkan ke rumah dengan sopir. Kini, Ammar yang mengendarai mobil untuk Maura.
Wanita berhijab itu menyandar lemah di jok. Terus menyeka air matanya dengan punggung tangan, namun air bening itu tidak mau berhenti.
"Ini, Kak." Ammar memberikan sehelai tissue.
Maura tidak menjawab. Tatapan matanya tetap fokus kedepan jalan.
"Kakak mau minum?" tanyanya lembut.
"Jangan sok perhatian padaku!"
"Maaf, Kak." balas Ammar lirih. Ia terus memutar-mutar stir kemudi lagi.
Keduanya hening, menatap jalan menuju RS dengan sorotan cahaya lampu mobil Ammar. Maura yang baru pulang dari Bali, belum istirahat, belum sampai rumah dan belum bertemu suami, mendapat berita Mama dan Mama mertuanya masuk RS, belum lagi perihal adiknya yang menjadi penjahat selama ini, tentu semua itu membuat dirinya gegana. Emosinya naik turun.
"Selama 12 tahun aku menikah dengan Gifa, belum pernah ia sedingin ini padaku!" keluhnya menahan tangis. Maura masih ingat ketika Gifa menjawab teleponnya dengan nada masih meringis.
Bulir-bulir air mata menggenang lagi di pelupuk mata Ammar. Ia tidak akan menyangka, masalahnya akan berdampak kemana-mana.
"Dimana wajah kami sebagai keluargamu di hadapan keluarga Gifa, Ammar?!" Maura menyentak adiknya.
Ammar hanya bisa diam. Seperti biasa ketika Kakaknya memarahi, ia memang akan seperti itu. Hanya diam saja.
"Keluarga kita beragama. Mama dan Papa selalu mengajarkan kita tentang etika, adab, norma dan patuh kepada Tuhan. Lalu kenapa kamu berubah menjadi iblis? Berkat Bully??" Maura berdecih. Ia mengingat pembelaan Ammar beberapa jam lalu.
"Alasanmu klise, Ammar! Boleh jadi dendam kepada orang yang dibenci, tapi tidak dengan berubah watak dan sikap! Aku fikir kamu cerdas, nyatanya kamu bodoh! Benar kata Papa, kamu sudah tidak pantas untuk jadi penerus keluarga. Otakmu sudah rusak, dosamu sungguh tak terbendung! Minta lah maaf sebesar-besarnya pada Allah, semoga saja rumah tanggamu tidak berada di ujung tanduk!"
Darr.
Ammar menciut. Dadanya kembali remuk. Seakan cahaya gelap mulai mendominasi pandangannya.
"Aku akan melepaskan EG, Kak." ucap Ammar mantap, walau pelan. Ia tahu dirinya tidak pantas.
Sekilas Maura menautkan alis. Jantungnya berdetak cepat. Sepertinya ucapannya sudah kelewatan. Wanita berhati baik itu menjadi sangat emosi dengan keadaan ini. Ia sampai tidak sadar sudah melukai hati Adiknya sendiri. Di satu sisi ia bimbang memikirkan nasib mertuanya, dan di satu sisi lagi ia takut keluarga suaminya membenci Ammar dan memisahkan lelaki itu dari istrinya. Menerka seperti ini saja sudah membuat dada Maura nyeri, apalagi jika benar terjadi? Dan tentu saja memang akan terjadi.
"Aku akan bertanggung jawab---"
"Mama mertua kita mengalami stroke, setengah tubuhnya tidak berfungsi, kamu mau bertanggung jawab dengan hal apa???" selak Maura dengan decakan kesal yang berapi-api.
Ammar terperanjat dengan bola mata membeliak. "Stroke, Kak?" ulanginya dengan cemas. Ia tidak menyangka, dua Mama yang berarti baginya, akan mengalami hal tidak mengenakan seperti ini. Untuk meluapkan emosi, Ammar memukul stir dan mengerang. Maura sampai menyerengit kaget karena takut.
Sesungguhnya sedari tadi, ia belum tahu sakit apa yang sekarang diderita Mama Difa. Yang ia tahu Mama mertuanya hanya sedang di rawat di RS karena syok akan foto-foto dirinya.
"Ya Allah ..." Ammar merintih. Jantungnya bergemuruh hebat. Fikirannya jadi kacau, ia takut ucapan Kakaknya benar-benar terjadi. Pernikahannya kali ini benar-benar di ujung tanduk.
"Pantas saja ponselnya tidak aktif sejak siang sampai sekarang. Apa Gana marah? Dan mulai menjauhi aku?" Ammar membatin.
🌺🌺🌺
Oh yang belum temenan aku di IG. Yuk follow aku. Cek story-ku. Aku suka kasih info kapan aku up, kapan tidak up, dan sekitar novel2 baru yang mungkin akan aku publis.
IG ku : @megadischa
Like dan Komennya ya guys.