
"Terima kasih, Han." ucap Ammar dengan mata yang masih basah. Farhan hanya mengangguk tanpa suara. Lelaki itu fokus menyetir.
Selama di rumah lelaki itu resah. Fikiran nya terus terpola kepada Ammar. Akhirnya ia memutuskan untuk datang. Melihat apa betul Ammar masih hidup. Karena anak buahnya berkata Gana sudah mati, karena mereka seret dengan lajuan mobil.
Nyanta nya, Gana masih hidup.
"Brengsekk!" Farhan mengumpat dalam hatinya. Kedua tangannya terlihat mengepal kuat di stir kemudi. Ia hanya ingin Ammar hidup tapi tidak dengan Gana.
"Ammar ... sakit." keluh Gana pelan.
Ammar membelai rambut Gana yang sedang ia rebahkan di pangkuannya. Kening dan kakinya yang menganga dengan darah, Ammar balut dengan kaos yang ia pakai, lalu di belah menjadi dua bagian. Ammar memilih bertelanjang dada, untuk menyelamatkan istrinya.
"Sabar sayang, bertahan ya." jawabnya lembut, lantas mengecup sekilas bibir Gana yang sudah memutih. Air bening menetes dari sudut mata Gana. Menahan rasa perih dan sakit. Sayatan luka panjang dari telapak kaki sampai ke atas paha, begitu menyakitkan seperti robekan daging yang sedang di kucurkan air garam.
Ammar menangis. Farhan baru tahu jika Ammar sebegitu tersiksanya dengan kondisi Ganaya.
"Tahan ya. Tidur saja dulu." ia mengecup dahi dan kelopak mata Gana bergantian. Air bening dari matanya sampai turun membasahi wajah Gana.
"Ya Allah, tolong selamatkan istriku." lirihnya dalam doa yang tulus.
Ya Tuhan, lembut sekali Ammar memperlakukan istrinya seperti ini. Farhan sampai menilik ke kaca spion, karena tubuhnya mendadak bergetar ketika melihat Ammar dengan segala sikap halusnya kepada Gana, dan terlebih lagi mengucapkan doa dan membawa nama Sang Maha Pencipta. Sesosok yang sudah mereka tinggalkan selama ini.
Ck! Farhan memiringkan sudut bibir. Seringai mencemooh Ammar hadir di wajahnya.
Dengan tubuh yang masih basah, dan luka yang menganga, serta sentuhan dan belaian dari Ammar. Membuat Gana akhirnya memejamkan kedua mata. Ammar terus berjaga, memperhatikan napas yang keluar dari hidung istrinya.
"Kenapa kamu bisa ada di sini, Han?"
Bola mata Farhan tiba-tiba terbelalak, berpendar kesana-kesini karena gugup. Tapi, ia adalah iblis yang pintar. Sangat mudah untuk menipu Ammar seperti yang saat ini sedang ia lakukan.
"Apa kamu lupa, di dekat taman bunga ada vila orang tuaku?"
Ya, villa tersebut memang ada. Orang tua Farhan mempunyai beberapa vila di kawasan taman bunga yang sering disewakan kepada para wisatawan.
"Adik almarhum Papa, ada yang menikahkan anaknya di sana. Maka aku datang dan melewati jalan ini untuk pulang. Karena alternatif jalan yang biasa, sedang ditutup."
Tentu saja semua itu alibi! Sial. Bagaimana jika Ayahanda Farhan yang sudah tenang di alam kubur, kembali terusik karena kejahatan anaknya di dunia. Ayah Nino pasti akan menangis dan malu kepada Allah.
"Terima kasih banyak, Han. Aku kembali berhutang budi padamu. Jika kamu tidak datang mungkin aku dan Gana tidak akan selamat." ucap Ammar.
"Sama-sama."
Ammar mempercayai kebohongan Farhan yang dianggapnya sebuah realita.
"Kamu yakin ingin berhenti?" tanya Farhan. Nada suara lelaki itu terasa dingin. Dengan kejadian ini, Farhan yakin Ammar akan takut jika melepas kasta mafianya.
Ammar hening. Jari-jemarinya masih membelai-belai rambut dan wajah Gana. Kedua matanya memilih menatap ruas jalan karena dilanda kebingungan.
"Lihat 'kan? Mereka bisa melakukan ini kepadamu dan istrimu, Ammar."
DEG.
Jantung Ammar kembali bergemuruh. Rahangnya mengencang dua kali lipat. Bola matanya menyalak tajam menahan rasa pedih di hati karena amarah.
"Aku ingin mencari mereka! Dan membunuhnya!!!" seru Ammar. Lelaki itu mengerang dengan air mata yang kembali menggenang.
Perih.
Sakit.
Hancur hatinya.
Melihat Gana dengan keadaan seperti ini.
Farhan mengulas senyum menatap jalan kosong didepannya. Memutar-mutar stir kemudi sesuai alur jalan.
"Aku akan membantumu untuk melenyapkan mereka!" ucap Farhan dengan nada baritonnya. Agar Ammar percaya, kalau Farhan ikut sedih dan murka atas kejadian yang menimpa Ammar dan Gana sekarang. "Dan aku akan berusaha lagi untuk melenyapkan Gana dari sisimu." Farhan bersumpah dalam jiwanya.
DASAR LAHNAT!
***
Ammar membungkuk dengan kedua tangan menangkup wajah. Bahu nya bergetar seiring isak tangis yang keluar. Farhan terus menemani Ammar, dari Gana masuk ke ruang emergency sampai sekarang bermuara di kamar operasi.
Hasil Rontgen pada tulang kaki Gana, memperlihatkan adanya patahan hebat. Untung saja Dokter masih bisa mempertahankannya, tanpa harus mengamputasi.
Ammar menangis sejadi-jadinya. Mengutuk hari ini. Hari yang sial untuk dirinya dan istri. Mengapa harus terjadi di hari yang menurutnya istimewa?
"Sabar, Mar. Gana pasti sembuh." Farhan memegang bahu Ammar untuk menguatkan lelaki itu.
Ammar melipat kedua tangannya di dada lalu menyandarkan kepalanya di dinding. Menghembuskan napas kasar ke udara dengan muka yang terus basah.
"Apa yang harus ku katakan kepada keluarganya, jika setelah ini Gana akan sulit untuk berjalan? Istriku akan cacat, Han!"
Tangisan Ammar kembali pecah ketika mengingat ucapan Dokter Spesialis Orthopedi, tentang keadaan Gana setelah operasi. Wanita itu harus bedrest selama tiga bulan. Menggunakan kursi roda untuk penyambung hidupnya.
"Keluarga kalian pasti akan mengerti. Ini semua musibah."
Dasar setan, bijak sekali Farhan berbicara. Bisa-bisanya lelaki itu mengatasnamakan Tuhan, seolah karena telah memberikan musibah kepada Ammar dan Gana.
"Lagi pula Dokter bilang, dengan tindakan fisioterapi serta pengobatan lainnya, akan membuat Gana bisa berjalan seperti dulu. Kamu nya sabar, Mar."
"Sekalipun dirinya cacat. Aku akan menerimanya dengan senang hati, Han. Aku mencintai segala kelebihan dan kekurangannya. Tapi aku hanya tidak bisa menerima, kalau Gana seperti ini karena latar belakang ku sebagai penjahat!"
Bahu Ammar kembali membuncang. Nyeri sekali sudut hatinya. Mengapa Gana yang harus merasakannya?
"Harusnya aku, Han! Aku aja yang sakit, jangan istriku! Karena Gana, enggak tau apa-apa, Han!"
"Enggak tau apa maksudnya?"
Itu bukan lah suara Farhan yang bertanya. Mendengar suara lain yang tidak asing ikut menelusup di antara pembicaraan mereka. Membuat mereka berdua Lantas mendongak.
"Gemma?"
Ammar panik setengah mati ketika mendapati lelaki itu sudah ada dihadapan mereka sekarang, dengan bola mata yang sudah memerah dan wajah yang basah.
Padahal akhir-akhir Gemma tengah berbahagia, karena setelah menikah dua bulan lalu dengan Fara. Akhirnya istrinya langsung mengandung. Tapi bagai di sambar petir, Gemma syok. Ketika dirinya dikabari kalau Kakaknya sedang terbaring di meja operasi.
"Kamu sendiri?" tanya Ammar. Ia menatap Gemma dengan wajah tidak enak hati. Ia pasti akan di sudut kan, karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
"Aku kesini berempat dengan Fara, Mama dan Papa. Tapi ketika sampai di sini, Mama pingsan lagi. Papa dan Fara membawanya ke IGD."
Sebenarnya Mama Difa sudah pingsan beberapa kali di rumah ketika dikabarkan tentang kondisi Gana. Wanita itu syok bukan main. Anaknya mengalami kecelakaan hebat di jalan. Dengan langkah yang lemas dan dada yang terus berdebar. Mama Difa tetap pergi menuju Rumah Sakit.
Tapi, ketika kakinya sudah memijak lantai Rumah Sakit, wanita itu kembali pingsan. Ia tidak kuat menerka bagaimana kondisi putrinya sekarang.
Begitupun dengan keluarga Artanegara dan Gifali. Mereka langsung bergegas on the way menuju Rumah Sakit. Hanya Gelfani yang terus menangis memeluk Fadil di Batam, karena tidak bisa langsung mendarat di Jakarta untuk melihat keadaan sang Kakak.
Ammar menghela napas berat. Kembali memejamkan kelopak mata dan mengeluarkan sisa-sisa kebasahan di sekitar pelupuk matanya.
"Gana belum tau, kalau setelah ini dirinya akan sulit berjalan. Harus memaki kursi roda selama berbulan-bulan." Farhan menyelak. Mengucapkan hal itu kepada Gemma. Ia tau Ammar sedang gugup.
"APA?" seru Gema. Suaranya begitu memekik.
***
Ini tuh sebenarnya episode buat besok. Tapi karena buat ngobatin rindu kalian karena kemarin aku libur. Aku kasih deh tiga episode di hari ini.
Ayoloh, aku baik kan? Komen dan Like nya yang banyak ya.
Sabar ya Gana sayang,
Nanti Ammar bakal potong rambut Gana. Loh, kok di potong? Nanti ya, adegannya masih lama. Hehe🌺