Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Eks Part Four


"Mamaaaaaaaaaa! Mauhh ulangggg!! Huwaaaaaaaaaa ...." Adela terus menangis. Ia meronta-ronta di pangkuan Neneknya. Batita keriting itu terus saja merajuk, ia ingin pulang ke rumah sekarang juga.


"Duh berisik banget!" keluh Aidan.


"Dedek nangis terus kerjaannya!" sambung Taya.


Aidan dan Taya sampai menutup telinga karena tidak tahan mendengar rengekan Adela. Keduanya sedang menatap Aurora yang sedang fokus membantu mengerjakan tugas mereka berdua.


"Atak!!" seru Adela ke arah mereka bertiga. Dan yang di maksud dirinya adalah Kakak pertamanya, Aurora.


Rora mendongak, si solehah mengangguk dan tersenyum, lantas beranjak berdiri. Ia menghampiri si keriting dalam gendongan Mama Alika. Tangannya terulur untuk menggendong Adela.


"Mau sama Kakak? Tapi jangan nangis, ya?"


Adela dengan isak yang masih ada, akhirnya mengangguk.


"Nek, Papa dan Mama udah di mana? Malam ini kita menginap di sini?" tanya Rora kepada Mama Alika yang tengah duduk bersisihan dengan Papa Bilmar di sofa. Sang suami sedang menghubungi ponsel Anak lelakinya. Raut kesal tercetak jelas di wajah Papa.


"Iya kalian menginap di sini aja. Kalau sudah ngantuk, langsung bobo, ya." jawab Mama. Ia memutuskan sepihak.


"Iya, Nek." Aurora berlalu menggendong Adela untuk berkumpul bersama Aidan dan Taya, sedangkan Alda sudah pulas tidur di bouncher.


"Mau corat-coret, Adek?" tanya Taya. Ia mengusap kebasahan di wajah Adel. Si gendut mengangguk, lantas Aidan memberikan kertas dan spidol kepada Adiknya tersebut.


Aidan mengawasi Adela dan Taya kembali fokus saat Aurora kembali membantunya mengerjakan PR.


Adela ketiduran dari sore sampai melewati Isya. Dan saat anak itu terbangun, dirinya masih saja di rumah ini, karena Mama nya belum menjemput. Ia pun tidak tahu kalau Ammar sudah kembali dan akan pergi lagi.


Aurora, Aidan dan Taya juga terus menanyakan apakah Mama dan Papa nya benar-benar akan kesini lagi, atau mereka memang di titipkan malam ini, di sini. Dan Mama Alika bilang, orang tua mereka akan kembali lagi menjemput. Mama memberi alasan kepada mereka, kalau Ammar dan Gana sedang pergi kondangan.


Mama pikir, sebelum magrib Ammar dan Gana sudah tiba di rumah dan bisa membawa anak-anak untuk pulang dan istirahat, nyatanya sampai sekarang mereka belum muncul juga. Untung saja, di rumah mertuanya, Gana menyetok baju ganti untuk anak-anak, agar pada saat menginap tidak berat-berat membawa baju dari rumah.


"Nih Anak bener-bener, ya! Hape nya enggak di angkat. Gana juga!" decak Papa. Sedari tadi Papa ngomel-ngomel karena Ammar belum juga datang.


"Belah batu kali, ya. Berjam-jam begitu!" Papa tahu apa yang sedang Ammar dan Gana lakukan di rumah karena Mama yang bercerita.


Mama juga kesal, karena Ammar ingkar janji. Papa juga sudah menelpon art untuk membangunkan kedua anaknya itu. Dan Bik Ratih bilang, mereka berdua tidak kunjung keluar kamar. Padahal pintu kamar sudah di ketuk-ketuk puluhan kali.


Mama hanya bisa mendesahkan napas berat. Kedua tangannya bersedekap. Ia menyandar lemah di bahu suaminya.


"Kasian tuh Alda, nanti kalau bangun susunya enggak ada lagi. Stok asi nya Gana sudah habis." gumam Mama. Wanita tua yang rambut nya terurai sebahu dan sudah beruban, terlihat lelah karena seharian ini mengurus cucu-cucunya.


"Capek kamu, Mah?" tanya Papa. Papa menurunkan ponsel dari daun telinga dan meletakan nya di meja.


"Enggak, Pah." Mama berdalih. Jika ia bilang iya, Papa pasti akan semakin marah kepada Ammar. Bagaimanapun Ibu akan membela anak, walau dirinya tersakiti sekalipun.


"Sini bobo!" Papa menghentak kedua pahanya. Mama yang sudah memakai piyama tidur, mengangguk. Ia menurut. Mama meletakan kepalanya di pangkuan Papa. Menenggelamkan kepala di perut suaminya. "Tidur aja dulu. Biar Papa yang tunggu Adek sampai datang."


"Tapi kalau Adek dan Gana sudah sampai, jangan di omelin, ya, Pah." pinta Mama memelas. Mama masih saja kasihan walau ia juga kesal dengan ulah Ammar.


Papa membelai rambut Mama, lantas di kecup dahinya. "Iya, Mah. Nanti kalau Adek pulang Papa langsung sabet pakai rotan!"


"Apa tadi?" di rasa istrinya ingin mendongak, menatapnya. Buru-buru Papa tahan kepala Mama agar tidak bergerak. Tetap, menekan kepala sang istri ke dalam perutnya.


"Sudah tidur!" titah Papa.


"Lihatin cucu, ya, Pah."


"Iya, Sayang." nada Papa lembut lagi. Si Kakek memilih menunggu Ammar sampai pukul sembilan. Jika anak itu tidak datang juga. Maka, Papa akan menyuruh anak-anak untuk lekas tidur. Biar besok dirinya yang akan mengantar ke sekolah.


...🌾🌾🌾...


"Astaghfirullahaladzim." seru Gana dengan nada melengking. Ia beranjak duduk sambil menarik selimut untuk menutupi dadanya yang polos. Ia kaget karena ketika bangun, kamarnya masih dalam keadaan gelap. Lampu kamar memang tidak di nyalakan sejak sore oleh mereka, semenjak tiba. Pakaian mereka juga berserak di lantai.


Ia tilik jam di dinding yang sudah menunjukan pukul delapan malam. Padahal hanya dua jam Ammar menggempurnya di ranjang dan Gana sepertinya sangat kelelahan, karena beberapa jam lalu suaminya sangat beringas untuk meluapkan rasa rindu.


Dan Ganaya semakin gelagapan. Manakala ia baru teringat dengan kelima anaknya yang masih berada di rumah Mertuanya. Mengutuk dirinya, mengapa bisa terbangun semalam ini.


"ABANG!!" Gana membangunkan Ammar yang sedang tidur menelungkup tanpa busana. Ammar juga terlihat teler seperti habis minum obat tidur. Walau Gana sudah mencubit bokongg nya berkali-kali, tetap saja lelaki itu tidak bangun. Malah suara dengkuran terdengar semakin keras.


Dan.


"Akhhhhh, SAKIT!" Ammar berteriak. Lelaki itu mendadak bangun dengan iris mata yang masih memerah. Dipaksa bangun dalam keadaan pulas, membuat jantung nya berdegup kencang karena menahan kaget. Belum lagi, ketiaknya yang terasa panas karena Gana berhasil mencabut helaian rambut halus yang tumbuh di sana dengan kasar.


Bukannya kasihan, Gana malah kembali ingin mencabut bulu ketiak suaminya lagi. Sontak, Ammar menjauh. "Sakit, Dek! Gila kamu?" Ammar melototkan mata.


"Yang gila Abang! Tuh lihat udah jam berapa?" Gana menunjuk ke arah jam dinding dengan raut kesal.


"Jam delapan, emang nya kenapa?" dan bodohnya, Ammar malah bertanya sambil mengusak-ngusak ketiaknya yang terasa sakit sekali. "Kenapa? Abang bilang kenapa?"


Dan.


Stimulus otak Ammar langsung bekerja. Ia kembali melototkan mata ke arah Gana dengan wajah panik. Seakan roh nya kembali terisi.


"Aduh! Anak-anakku!" barulah ia teringat ke lima anaknya. Dan sudah di pastikan malam ini ia tidak akan terbang ke Jogja.


Ammar loncat dari ranjang, melangkah blingsatan menuju kamar mandi. Dan kembali ke luar, seakan ada yang terlupa. Ia mendekat lagi ke ranjang.


"Kenapa?" tanya Gana denga serngitan dahi.


Tanpa menjawab, ia langsung menggendong Gana paksa. Mereka berpolos ria menuju kamar mandi.


"TURUNIN!" teriak Gana.


"Enggak! Kita mandi bareng aja, biar cepat!" sergah Ammar. Napas Ammar memburu hebat. Bukan hanya anak-anak yang akan merajuk, tapi juga Mama dan Papanya.


"Abang pasti bakal di omelin sama Mama dan Papa! Anak-anak juga pasti marah!" di dalam kamar mandi Gana terus memaki-maki tidak ada habis-habisnya. Ammar mendiamkannya saja. Ia tahu, dirinya memang salah. Ammar fokus menggosok busa sabun di tubuh istrinya.


"Angkat keteknya!" titah Ammar. Gana menurut, lantas mengangkat kedua tangannya ke atas. Dan bibirnya terus saja bergumam untuk memarahi sang suami.


...🌾🌾🌾...