
"Astagfirullah ... Ya Allah ... Allahuakbar!"
Brug.
Ponsel yang ada ditangan Yuni begitu saja limbung ke bawah. Kedua wanita ini berseru dzikir dengan histeris. Bola mata Gana seketika bergoyang-goyang menahan ledakan dari dalam dada yang ingin tumpah ruah.
"Kaa----kak---kaki, Yun ... Pott--potong--potongan kaki??" ucap Gana terbata-bata. Lehernya seperti sedang tercekik.
Mereka membuka satu file foto yang berisikan kumpulan tubuh-tubuh manusia yang termutilasi. Sehabis mengambil ginjal, maka si jenazah akan di cincang untuk tidak meninggalkan bukti. Kaki dan tangan di potong terpisah dari tubuh. Leher dan kepala pun dibelah terlebih dulu. Baru di kubur secara terpisah agar tidak terendus atau diketahui.
"Kaki manusia 'kan, Yun?"
Yuni mengangguk dengan raut wajahnya sudah pucat pasi. Gadis itu ketakutan. Ia sampai bersembunyi dibalik kursi Gana. Napas Gana mulai berantakan, sesak di dada semakin jelas kentara. "Astagfirullah ... Ya Allah." lirihnya.
"Kok Bapak simpan foto-foto yang kaya begitu ya, Bu?" tanya Yuni masih tidak faham. "Jadi merinding, Bu." Yuni mengusap kulit tengkuknya yang sudah meremang.
"Saya juga enggak tau, Yun. Saya pun sama, takut banget." ucap Gana dengan bibir bergetar.
Untuk menuntaskan rasa keingintahuannya yang belum menemukan titik terang. Gana mengklik tombol next.
"Ya Allah ..." seru mereka panjang. Langsung membekap wajah dengan kedua tangan, karena foto yang saat ini ia terlihat sangat menyeramkan.
"Ya Allah ... Astagfirullah ... Ya Karim ... Ya Muhammad ..." seru Yuni semakin nyaring. Dan dada Gana semakin terhimpit, rasanya rongga dalam paru-parunya mengecil.
Tangan Gana terjulur ke belakang, memaksa Yuni untuk melepas bekapan di wajahnya.
"Lihat, Yun! Lihat!" suara Gana terdengar emosi dengan foto yang sedang ia tatap. Ketakutan berubah menjadi suatu kebencian.
"Tolong bilang kalau lelaki yang sedang memegang kepala buntung itu BUKAN SUAMI SAYA!!" teriak Gana.
Decakan saliva yang terdorong ke dalam kerongkongan terdengar sekali dari Yuni. Bagaimana mungkin itu bukan suaminya, jelas-jelas lelaki bertubuh tegap dan kekar itu adalah Maldava Ammar Artanegara, anak lelaki dari keluarga Artanegara yang di elu-elukan keberhasilannya. Pengusaha terkenal, kaya, baik hati dan rupawan.
"Itu Bapak, Bu. Suami, Ibu ..."
DEG.
Ternyata bukan mimpi.
Gana ingin menolak lupa. Bahwa apa yang ia lihat sekarang bukanlah suaminya. Lelaki macam apa yang sedang memegang kepala manusia sehabis dipenggal dengan gelak tawa yang puas? Dan ada Farhan di sebelahnya dan ikut tertawa.
Didalam foto, Ammar tengah berdiri dengan tangan kanan memegang golok yang berlumuran darah serta di tangan kiri memegang rambut dari kepala yang baru saja ia tebas mengatung di udara. Raut wajahnya terlihat bahagia, karena pada saat itu, ia berhasil membunuh seorang penghianat ulung yang berhasil korupsi di EG.
"Kok bisa, mereka bersenang-senang di atas tubuh manusia telanjang tanpa kepala, Yun?"
Yuni mengedik ngeri. Rekaman video dari gawai, terlihat tidak fokus karena tangannya tremor dan dingin.
"Apakah suami saya mempunyai kelainan, Yun?" Gana terus bertanya, yang ia tahu pertanyaan itu tidak akan pernah di jawab oleh Yuni.
"Dan lelaki keparatt ini, apakah dia biangnya?" Gana menunjuk wajah Farhan. Memukul-mukul kaca komputer itu dengan kukunya yang lentik dan terawat.
"SUAMI SAYA SEORANG PEMBUNUH!"
DEG.
Dada Gana semakin sesak dengan penuturannya sendiri. Wanita itu tertunduk dalam duduknya, obat yang baru saja ia telan untuk mencegah agar asmanya tidak kambuh, ternyata tidak membuahkan hasil. Bunyi swing muncul, dada Gana terlihat bergerak naik turun.
"Bu?" Yuni mengusap-usap punggung Gana. "Kita pulang aja yuk, Bu. Asma Ibu kambuh." ajak Yuni. Gadis itu semakin khawatir dengan keadaan Gana.
"Rasanya sekarang saya kayak mau mati, Yun." desah Gana pelan. Matanya memejam. Menyandarkan lemah di sandaran kursi.
"Apa yang kamu lakukan selama ini, Ammar? Apa??" Gana berteriak histeris, dengan dada yang terasa berat lantas menatap atap. Mencari bayangan lelaki yang mulai hari ini ia benci. Wanita itu tidak akan pernah terfikir kalau suaminya akan sekejam itu. Air mata Gana turun dengan deras.
"Ibu minum lagi ya." Yuni menyodorkan air yang sudah tinggal setengah langsung ke mulut Gana.
"Saya enggak mau, Yun. Perut saya enek lihat banyak foto kayak begitu sejak tadi." ucapnya memegang perut dan dada yang semakin sesak. Ia menghalau tangan Yuni dengan rontaan tangis.
"Oh, iya, Yuni hampir lupa." kembali ia rogoh tas, dan meraih alat inhaler asma dan minyak angin.
Gana menurut, memegang alat tersebut dengan tangan kirinya dan sibuk menghisap. Sedangkan tangan kanannya masih di atas mouse. Yuni mengoleskan minyak angin di sekitar tengkuk, leher dan dahi Gana. Agar majikannya bisa rileks.
Merasa lebih baik, Gana memutuskan untuk terus menilik foto-foto tersebut sampai habis. Hanya gelengan kepala samar karena rasa tidak percaya dan gulungan air mata yang terjerembab turun.
Gana kembali membeliakkan hazel matanya, ketika tatapan nya beralih ke file foto ke dua, ada beberapa organ yang sudah di formalin berada di dalam toples berjajar di sebuah lemari pendingin.
"Astagfirullah ... apa lagi ini? Sungguh Ammar, kamu sudah GILA!!" gana histeris lagi. Meghentak-hentak meja dengan kepalan tangannya.
"Sabar, Bu." Yuni tetap tidak menghentikan elusan di bahu majikannya, serta terus merekam apa yang ada di komputer.
"Semua ini dilakukan di mana ya?" ucap Gana pelan dengan kekuatan yang mulai menghilang. Lemas sekali tubuhnya, seperti orang yang tidak ketemu nasi berhari-hari.
"Seperti bangunan khusus ya, Bu? Apa mungkin markas?"
"Markas, Yun?"
Yuni mengangguk. Ia tetap merekam dan juga memijat tengkuk Gana.
"Kan kalau di film-film mafia gitu, pasti ada markas nya, Bu. Buat tempat eksekusi."
Gana ingin menjerit. Ucapan Yuni, mengingatkan dirinya dengan pengakuan Mahendra. Kalau mereka seorang kriminal.
"Kamu yakin, Yun. Suami saya melakukan ini?" Gana kembali mengulang pertanyaan yang ia ingin sekali dijawab dengan kata tidak. Lirih sekali dalam bertanya, rasanya Gana tidak sanggup untuk berdiri. Kedua telapak kakinya terasa menciut tidak bisa menapak.
"Yuni bingung, Bu. Rasanya enggak percaya. Bapak yang sebaik itu, bisa seperti ini. Tapi kalau lihat dari semua foto-foto ...." Yuni menjeda. Ia bungkam.
"Apa Yun?" Gana memaksa Yuni untuk mengeluarkan pendapatnya.
"Kalau dilihat dari semua bukti, Bapak memang melakukan tindakan kejahatan, Bu."
Gana menyandarkan lagi tubuhnya di sandaran sofa. Menghentak-hentakan kepala belakangnya ke puncak sofa. Ia menumpahkan air matanya dari balik pejaman mata. Tubuhnya seakan melayang.
Hiks ... Hiks
Gana menangis terisak-isak. Tampa sadar tubuhnya meronta sampai jatuh terjerembab ke atas lantai dari kursi. Meremas kain di dada dengan ringisan nyeri.
Gana terpukul, terkejut dan syok.
"Begini 'kah kamu dibelakang kami selama ini, Ammar?" rintihan Gana membuat Yuni ikut menangis. Ia merasakan kekecewaan yang amat dalam tengah ditumpahkan dari hati majikannya. Gana memeluk Yuni, menumpahkan rasa sakit, pedih dan hancur. Terus menangis sampai wajah memerah. Tak sadar jika napasnya kembali sesak.
"Kita pulang ya, Bu. Ibu bisa bicarakan hal ini baik-baik dengan Bapak." Yuni memberi saran. Tanpa menunggu anggukan kepala dari Gana, Yuni bergegas beranjak berdiri sambil menarik tubuh Gana ke atas. Merangkul wanita ringkih itu yang tengah memeluk perutnya sambil menangis, dan melangkah keluar kamar.
Belum semua bukti terkumpul, tapi Gana sudah tidak sanggup. Dadanya bergemuruh hebat, laksana kapal yang tengah diguncang ombak ditengah lautan.
TAP.
Mendadak Yuni menghentikan langkah. "Kenapa, Yun?" tanya Gana dengan nada serak dan berat karena air matanya masih menetes.
"Kayak ada orang yang mau masuk, Bu."
Gana menegapkan tubuh, melepas rangkulan Yuni lantas membawa mata untuk menatap daun pintu.
Wajah mereka berdua menegang dengan ritme jantung yang kembali menderu-deru.
"Habis kita, Yun!"
****
Nih aku udah nepatin janji, episode ke dua dihari ini.
Like dan Komennya ya guyss🌺🌺