Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Bodohnya Aku Terayu.


Setelah puas mendapatkan pelepasan, keduanya pun tidur saling memeluk di sofa. Niatnya hanya ingin bergoler sebentar untuk melepas penat dan akan pindah ke kamar, nyatanya sampai satu jam mendekati imsak, pasangan suami istri itu tetap berada di sofa. Suara berisik para art yang tengah menyiapkan menu sahur di meja makan, sampai tidak menggelitik telinga mereka sama sekali untuk terbangun.


Bik Nah sudah berinsiatif untuk membangunkan mereka berdua walau hanya dengan suara tanpa sentuhan, tapi mereka seperti kerbau kekenyangan yang tidak mendengar. Malah, dengkuran Gana dan Ammar bersaut-saut keras, sedikit memekak telinga.


Sampai di mana, anak-anak mereka sendiri yang turun tangan dan suara.


"Mama ... Papa, bangun!" seru Rora sambil menggendong Alda. Aidan dan Taya pun ikut membangunkan mereka. Biasanya Gana akan membangunkan semua anak-anaknya di lantai atas untuk turun ke bawah, makan sahur. Namun saat ini, bibik yang membangunkan mereka. Dan saat melintas kamar orang tuanya, Rora mendengar Alda menangis mencari Gana. Sedangkan Adela masih tertidur pulas.


"Kok Papa udah pulang, ya? Katanya pulang lusa," ucap Taya. Aidan dan Rora menggelengkan kepala.


Mereka berempat menatap Ammar yang sedang memeluk Gana hanya dengan boxer saja. Lelaki itu bertelanjang dada. Sedangkan Gana, masih menggunakan piyama dasternya tapi kancing di bagian dada terlepas, bongkahan nikmat mengandung gizi untuk Alda terekspos nyata.


"Mah ... mimi ...," seru Alda yang tangisannya sudah menghilang saat ia sudah melihat Mamanya di sini. Ia pikir wanita itu pergi menghilang.


Aidan berbisik di telinga Mama dan Papanya bergantian. "Mah ... Pah, bangun."


Tersugesti mungkin, keduanya pun hanya mengangguk tanpa membuka mata.


Dan.


Deg.


Kelopak mata mereka seketika terbuka, iris mata Ammar saja masih memerah karena dipaksa untuk membuka cepat. Gana tersentak, suara Aidan bukan lah ilusi.


Kaget karena disaksikan ke empat anaknya tanpa baju di dada, bergegas lah mereka mengurai pelukan dan bangkit, tanpa kata Ammar beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamar dengan blingsatan. Malu dirinya saat melintas meja makan menuju kamar, para art dapat melihat bagaimana ceruk tubuh Ammar yang begitu menggiurkan kaum hawa.


"Mah ...," Alda mengulurkan tangan ke leher Gana, meminta untuk di gendong. Masih dalam rasa kaget dan malu akan ketahuan anak-anak nya, Gana menggendong Alda. "Ayo, sahur!" ajak Gana kepada tripel A untuk melangkah ke meja makan.


Rambut Mamanya sedikit berantakan, ada bulatan merah di bawah dagu Gana yang Ammar tinggalkan, tidak lepas dari sorot mata anak-anaknya.


"Leher Mama kenapa tuh kok merah gitu?" tanya Aidan.


Gana seakan tahu apa yang dimaksud. Para art sekilas terkekeh dan wanita itu pun malu jadinya. "Kayaknya digigit nyamuk, Nak," balasnya. Sambil menggendong Alda, Gana menuangkan nasi di piring anak-anaknya.


"Kok Papa tiba-tiba udah pulang, Mah? Sampai kapan?" tanya Taya.


"Iya, Mah. Katanya Papa akan pulang lusa, kenapa sekarang?" timpal Aurora.


"Papa ketinggalan sesuatu, Nak. Jadinya mau enggak mau malam ini pulang," balas Gana kepada Taya dan Rora. "Nanti balik lagi ke Semarang, Mah?"


"Belum tau, Mama belum tanya Papa lagi."


"Terus ngapain Mama dan Papa tidur di sofa? Kenapa enggak di kamar?" Aidan bertanya lagi.


Gana yang sedang menuangkan sayur ke atas nasi mereka hanya bisa menghela napas panjang. "Dasar Abang! Harusnya dia yang jawab! Ini kan karena ide gilanya yang memaksa bermain di sofa, dan bodohnya aku terayu!" Gana berdecak kesal dalam hati.


"Tadi 'tuh lagi nonton, Nak. Eh, ketiduran ...." senyum kaku Gana paksakan untuk muncul.


"Aidan pimpin doa sahur," Gana mengganti topik pembicaraan.


"Enggak tunggu Papa, Mah?" tanya ketiga anaknya bersamaan. Gana menggeleng, ia tahu suaminya pasti tengah keramas. Dan Aidan menurut. Ia mulai membimbing semua yang di meja makan untuk berdoa niat sahur.


Seperti biasa, walau Gana tidak sahur ia tetap menemani suami dan anak-anak untuk menyantap sahur. Sekalian membuatkan masing-masing susu dan menyiapkan vitamin kepada mereka satu persatu, agar kuat walau dalam keadaan berpuasa.


"Kok kalau nonton, Papa sampai lepas baju? Kan dingin, Mah." Aidan tetap saja kepo. Ia bertanya sambil memasukan daging ikan gurame kedalam mulutnya.


Dan mereka bertiga ber oh panjang, seperti merasa lega karena kekepoan sudah terjawab. Bedanya dengan para art yang masih saja tertawa dan Gana hanya membalas dengan kekehan kecil.


...🌾🌾🌾...


"Abang 'sih, enggak sekalian aja kita main di gerbang. Biar di bangunin sama warga!" dengus Gana. Keduanya sedang menyandar di punggung ranjang bersisihan, setelah menunaikan shalat subuh berjamaah. Ammar mendekap Adela di dadanya, pun sama dengan Alda di dada Gana.


Ammar berkelakar, "Nanti kita dimandiin sama air comberan. Terus dimasukin karung, dibuang ke Afrika, mau?"


Gana mendengus. "Malu loh dilihat anak-anak sama bibik!"


Ammar tertawa. "Ya sekali-kali nggak papa lah," jawabnya santai. Ia elus-elus rambut keriting Adela. Ammar bersyukur anak ke empatnya ini tidak sampai harus dirawat, ternyata hanya demam biasa. Lantas beralih mengusap Alda yang mulutnya sudah terlepas dari pangkal dada Gana.


"Enak, ya, Nak. Bekas Papa ...." tawa Ammar. Gana mendelik horor sambil memasukan lagi bongkahan dadanya untuk masuk ke dalam piyama.


"Canda sayang," ucap Ammar. Ia jawil dagu Gana yang lancip.


"Untung Alda masih mau." Gana kecup kelopak mata Alda yang tertutup. Cantik sekali anak itu, bulu mata nya amat lentik mirip dengan Rora.


"Ya mau lah. Kan enak, apalagi bekas Papanya tadi." Ammar makin menjadi-jadi menggoda Gana.


"Adek gigit, ya!" ancam Gana, ia mengeratkan giginya seraya ingin mengigit lengan sang suami.


"Jangan yang ini, Dek. Enggak enak. Harley tuh enak."


"Ih batal loh, Bang!"


Ammar menghentikan tawa, menautkan alis. "Apanya batal? Orang cuman ngomong doang. Biasanya kan digigit, kenapa tadi enggak?"


Gana semakin melototkan mata. Ia cubit bibir Ammar. "Ini bibir kudu di kuncir, biar enggak urakan!"


"Urakan begini, juga suka 'kan?" Ammar tersenyum genit. Dan saat ingin mencium pipi Gana, istrinya malah menjauh. "Batal ih cium-cium!"


"Sekarang aja bilang 'Batal, Bang! Batal'. Tadi ajah pas di sofa, 'Yang ini, Bang, cium. Terus yang ini, sama yang ini', haha." Ammar terus saja menggoda Gana. Ia mengingat bagaimana ekspresi sang istri saat mereka sedang bergulat.


Sebagai istri, kita juga harus menuntut untuk dipuaskan dengan cara yang kita mau. Dalam psikolog sex, Itu penting sekali, agar kita tidak gampang bosan ketika diajak bermain oleh suami. Tidak merasa capek duluan atau malas, karena merasa gerakan yang akan dimainkan pasti begitu-begitu saja.


Wajah Gana merah menahan malu. Ia pun bedalih, "Ya namanya juga lagi enggak sadar."


"Hoh, masa? Mintanya aja nambah, apa itu juga enggak sadar?" sebisa mungkin, Ammar akan mengikuti apapun kemauan istrinya agar wanita itu puas maksimal.


"ABANGGGG!!" Gana geram palsu. Ia memilih berbaring memunggungi Ammar sambil memeluk Alda. Ia sekilas terkekeh, ketika tadi malam merasa amat murahan sekali karena meminta juga untuk dipuaskan dari beberapa bagian tubuhnya yang ia sukai.


Ammar masih saja tersenyum. Ia usap lembut rambut Gana sampai ke punggung. Dan wanita itu menyukai usapannya.


"Pijitin, Bang," pinta Gana. Ammar mengangguk. Ia ganti usapan itu dengan pijatan kecil.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Segini dulu aja ya, sisa buat besok. Biar aku ada bahan, selamat puasa guyss.


Yang belum Follow IG aku, follow ya, kita temenan. @megadischa