Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Sosok Yang Di Rindukan.


Sinar matahari pagi Jakarta kembali Ammar dan Gana rasakan. Jika dulu mereka pergi ke Makassar hanya berdua, kini Gana dan Ammar kembali pulang dengan para buah hati mereka.


Sebelum Adzan subuh berkumandang. Dengan pengawalan ketat di perjalanan. Sampailah keluarga kecil Ammar di rumah Mahendra dengan selamat tanpa kurang satu apapun.


Setibanya, Mulan memeluk Gana erat. Ia tidak kaget kalau Gana kembali mengandung, karena memang mereka terbiasa video call selama ini untuk sekedar menanyakan kabar.


Dava yang saat ini sudah berumur enam tahun, sejak tadi tidak lepas menatap Aurora. Yang ditatap malu-malu, bersembunyi di balik tubuh Papanya di sofa.


"Sini main yuk." Dava melambaikan tangan ke arah Rora. Dan anak perempuan itu hanya menggeleng tidak mau. Ia seperti takut, karena belum kenal.


"Ayo ikut sama Kakak main, Nak." Ammar yang menitahnya. Dava yang sudah gemas, akhirnya maju dan menggandengnya.


"Ayo main." paksa nya.


Si anak perempuan yang tidak pernah main dengan anak sebayanya, hanya tau Pino, Kino, Aidan dan kurang dekat dengan lingkungan, akhirnya mengangguk.


Ia mau saja di gandeng Dava. Lalu di bawanya ke ruang televisi untuk bermain. Padahal di sana hanya ada robot-robotan dan mobil-mobilan. Tidak ada boneka dan alat masak-masakan seperti di rumah.


"Kamu sudah yakin mau bertemu keluargamu? Lalu bagaimana dengan Gana? Di pertemukan juga?" tanya Mahendra, setelah ia menyesap air teh hangat di cangkirnya. Sesudah sarapan, Ammar dan Mahendra duduk-duduk santai di ruang tamu. Sedangkan Gana dan Mulan masih di area meja makan. Aidan kembali tertidur di kamar.


Ammar termenung. Dadanya berdegup lagi. Ada perasaan yang seakan tidak siap untuk bertemu dengan keluarganya sekarang, tapi ada juga dorongan agar dirinya harus bertemu, karena Papanya yang sedang sakit. Dan ia juga rindu Mama dan Kakaknya.


"Aku akan tetap pulang kerumah. Papaku sakit, Ndra. Aku tidak mau menyesal seperti saat kehilangan para Kakekku, dulu."


Mahendra mengangguk-anggukan kepala.


"Bersama Gana dan anak-anak, kan?"


Ammar menarik napas dan menggeleng. Ia tatap Aurora yang sudah bisa bertaut tawa dengan Dava. Sesekali anak lelaki itu mencium pipi Aurora, karena gemas. Dan Aurora akan berbalik mencubit pipi Dava "Ndak mau ah, tanan tium-tium, Yoya." Rora lantas menoleh ke arah Papa sambil menunjuk Dava.


"Papa, Kakaknya nacal!" serunya.


Ammar tersenyum saja. Dan Mahendra yang merespon. "Jangan dong, Nak." ucapnya kepada Dava.


Dava hanya tertawa-tawa dan kembali menjahili Aurora. Mencium-cium lagi pipi gembil Rora.


Ammar kembali menatap Mahendra.


"Gana dan Aidan biar tetap di sini. Aku belum siap kalau Gana harus tahu sekarang. Kehamilan yang ke tiga ini, selalu membuatnya uring-uringan. Aku takut, dia akan stress mengetahui kebenarannya. Dan pasti akan membenciku karena aku sudah membohonginya. Aku tidak siap. Maka dari itu aku hanya akan membawa Rora saja."


DEG.


Bola mata Gana bergoyang saat langkah kakinya akan sampai. Seketika tubuhnya mematung dengan wajah yang mulai menegang. Ia tatap punggung suaminya dari balik dinding. Tadinya ia ingin bergabung untuk mengobrol bersama mereka berdua. Tapi mendengar perbincangan suaminya yang seperti ini. Ia jadi urung.


"Abang mau membawa Rora kemana?" Gana membatin dengan tatapan aneh.


Hanya kalimat itu yang ia dengar. Selebihnya tidak. Dahi Gana berkerut-kerut untuk mencerna. Ia terus menguping pembicaraan suaminya dan Mahendra. Sampai dimana ia dikagetkan dengan kedatangan Rora yang tiba-tiba memeluk perutnya.


"Ma ...." belum sampai selesai Rora berseru, buru-buru Gana membekap mulut sang putri agar tidak bersuara.


Karena Rora terus saja ingin bersua, dari pada ketahuan. Gana memilih untuk membawa Rora segera masuk ke dalam kamar. Ia tidak mau ketahuan sedang menguping pembicaraan suami dan bos suaminya.


"Kalau keputusanmu sudah matang. Ya sudah jalani saja. Aku akan mendukungmu."


"Makasih banyak, Ndra. Aku sudah banyak merepotkanmu. Tapi belum ada satupun kebaikanmu yang aku balas."


Mahendra tertawa. "Dengan kamu sudah memaafkan aku perihal dulu. Itu sudah menjadi balasannya."


Ammar tersenyum dan mengangguk. Sampai dimana ia menoleh ke badan gawai yang baru saja ia aktifkan, tergeletak di atas meja, lalu bergetar. Ia banyak menemukan panggilan tidak terjawab dari sang Mama. Tapi tidak Ammar gubris. Ia ingin memberikan suprise untuk wanita itu atas kedatangannya sebentar lagi.


[Kamu sudah sampai di Jakarta, Dek? Mau jam berapa datang kerumah?]


Ammar membaca pesan masuk dari sang Kakak.


[Sudah, Kak. Masih di rumah teman. Sebentar lagi aku berangkat]


[Baiklah, hati-hati di jalan]


Ammar memasukan gawai ke dalam saku celana. Lantas beranjak bangkit. "Aku siap-siap dulu, Ndra."


"Baiklah."


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Kamu main hape terus, enggak di makan sarapannya." celetuk Papa yang duduk diseberangnya. Membuat Maura mengangkat wajah. Buru-buru ponsel ia masukan ke dalam kantung gamisnya. Mama ikut menilik wajah Maura yang terlihat berbeda sejak semalam.


"Bunda agak pucat. Sakit?" kini Gifali yang bertanya. Maura menggelengkan kepala ke semuanya. Namun ia lebih dulu menjawab pertanyaan Papanya.


"Mamanya teman sekolah Ginka dan Ghea, Pah. Nanyain mau ikut rekreasi enggak minggun depan." kilah Maura.


Gifali menyerengitkan dahi. "Rekreasi apa minggu depan? Kok Ayah enggak tau?"


Duh.


Maura menghela napas untuk meredakan kegugupan. "Baru dikasih info sama gurunya, Yah." wajah Maura memang terlihat tidak biasa. Dan semua memandang curiga. Ia memilih untuk melanjutkan sarapannya.


"Kamu beneran enggak apa-apa, Kak?" Mama memastikan. Suasana di meja makan jadi terasa tidak enak.


Maura tersenyum, menekan hawa gelisah nya. "Bener kok, Mah." jawabnya di sela-sela kunyahan.


Papa kembali melanjutkan makan dan Mama pun sama. Walau Mama sulit percaya jika Maura sedang tidak berbohong.


"Ayah kok belum ganti baju? Baju kantor nya kan udah Bunda siapin di kamar." melihat Gifali sudah menghabiskan sarapannya, seakan memaksa suaminya untuk berangkat kerja sekarang. Maura takut Gifali bertemu dengan Ammar.


Gifali menggeleng. "Hari ini Ayah enggak masuk kerja. Mau jemput Mama dan Papa, katanya mau kesini. Mau nengok Papa." jawabnya sambil mengusap bibirnya dengan tissue.


DEG.


Mulut Maura menganga setelah buru-buru menelan potongan daging ke dalam kerongkongan. Ia melotot horor suaminya dengan dada yang bergemuruh.


"Astagfirullah, kenapa jadi begini?" batin Maura.


"Papa dan Mama mau kesini, Nak?" Mama mengulangi. Ia tatap menantunya.


Gifali mengangguk. "Iya, Mah. Sebentar lagi mau Gifa jemput. Enggak apa-apa kan kalau pagi-pagi begini menjenguk?" tanya Gifa dengan tawa.


Papa Bilmar ikut tertawa. "Jangankan pagi, tengah malam juga kalau mau menjenguk. Papa perbolehkan." Papa menghela napas. "Akhirnya orang tuamu mau juga kesini setelah lama sekali kami tidak saling menyapa."


Mama mengusap bahu Papa seraya menghilangkan kesedihan. "Alhamdulillah ya, Pah."


Papa mengelus tangan Mama. "Iya, Mah. Papa yakin kok sebentar lagi keluarga kita akan berkumpul seperti dulu."


"Maksudnya, Pah?" Gifali mengulang. Maura dan Mama menatap curiga ke arah Papa. Merasa ditatap penuh misteri, Papa mengulum senyum jumawa. "Ya kan kalau Mama dan Papa Gifa sudah mau kembali dekat dengan kita, apa itu bukan kembali berkumpul, namanya?"


Bisaan sekali si Kakek tampan ini. Padahal otot-otot jantungnya seakan ingin terhempas. Karena takut hampir ketahuan.


Hanya Gifa yang polos dan mengangguk. Sedangkan Mama dan Maura masih menatap Papa dengan hal berbeda. Kedua wanita itu seakan meraba-raba. Apakah Papanya sudah mengetahui tentang Ammar?


Tak lama kemudian. Gifali pamit untuk menjemput Mama dan Papanya. Maura semakin was-was dan takut. Berkali-kali ia telepon Ammar. Dan ia kesal, karena Ammar tidak mengangkatnya.


Ia ingin mengatakan kalau Adiknya lebih baik datang malam hari saja, jika pagi ini tidak mau mengalami tragedi yang menegangkan. Bukan hanya Ammar, Maura juga belum siap jika keluarga suaminya kembali menyerbu Ammar dan mungkin akan merebut Gana kembali.


"Ya Allah, Adek! Angkat dong!!" decak Maura. Ia terlihat mondar-mandir di kamar. "Ammar pasti ngambek dan marah banget sama aku!" Maura kembali mencoba menghubungi Ammar. Dan tetap saja, tidak di angkat.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Krek.


Pintu kamar tamu terbuka.


Masuklah Ammar dengan senyuman. Ia mendapati Gana yang sedang duduk menyandar di punggung ranjang sambil berselonjor. Wanita itu sedang memangku Aidan untuk di susui. Ada Rora juga yang sedang mencium-cium Adiknya.


Seakan tidak tahu, tidak mendengar dan tidak gegabah untuk mencecar pertanyaan dengan hal yang barusan ia dengar. Gana menatap suaminya dengan wajah tidak menuntut.


"Dek, Abang mau pergi dulu ke pabrik ya. Di suruh sama Pak Mahendra. Sebentar aja kok enggak lama. Abang juga mau ajak Kakak." ucap Ammar duduk dibibir ranjang.


"Kalau mau ke pabrik kok bawa Kakak?" Gana tetap berusaha tenang. Rasa curiga biarkan ia simpan dulu. Ia masih menunggu, siapa tahu suaminya akan jujur.


"Abang mau kenalin Kakak sama temen-temen kerja Abang yang disini, Dek."


"Hanya Kakak aja? Aku dan Aidan enggak?"


Ammar tersenyum. Lantas memberikan pijatan pelan di kaki istrinya. "Kamu nya pasti capek, aku kasian."


"Abang aneh ya. Enggak mau jujur. Aku yakin nih, pasti ada yang disembunyiin dari aku." Gana menatap Ammar dalam lamunan. Kemudian ia mengangguk. "Ya udah kalau gitu. Hati-hati ya, Bang. Pantau Rora terus." Gana menjawab santai, seakan dirinya percaya di mata Ammar.


"Iya dong sayang. Ayo Kak mandi yuk." ajak Ammar. Aurora menurut untuk mau di mandikan.


Gana menatap Ammar dan Rora yang masuk ke kamar mandi dengan wajah seribu tanya. Tidak biasanya hatinya mengulas curiga kepada lelaki itu.


"Abang aneh banget." ucap Gana sambil menatap Aidan.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Nanik-nanik ke uncak unung, tinih-tinih cekayi." dibalik kaca mata hitam dengan tangan yang fokus menyetir, Ammar tersenyum mendengar Aurora yang terus bernyanyi sambil menyorot pemandangan di tepi jalan dari balik jendela mobil.


"Kuh iyat aja, banak poon cemaya."


Anak itu kelihatan senang sekali bisa naik mobil bagus. Wajarlah, selama ia hidup belum pernah merasakan bagaimana rasanya naik mobil. Tadi subuh, sesampainya ia di bandara. Anak itu tertidur sampai rumah. Jadi tidak tahu dan merasakan bahwa dirinya di apit oleh banyak mobil mewah dan pengawal.


Ammar mengelus rambut Aurora yang tergerai panjang dengan bando kupu-kupu berwarna putih tersemat di atas kepalanya. Memakai dress yang juga senada dengan warna bando nya.


Lelaki itu kembali menatap jalan didepan dengan sejuta rasa yang campur aduk. Sesak selama tiga tahun lebih yang ia rasakan, setelah ini mungkin akan sedikit berkurang.


Ammar senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana wajah Papanya yang akan melihatnya lagi. Yang ia anggap anaknya ini sudah mati. Padahal tanpa Ammar tahu, dirinya lah yang akan terjebak dengan permainannya sendiri. Ia yang akan terperangah.


"Papa tita tu mauh temana cih, Pah? Kok Mama cama dedek ndak pegi tuga?" lelaki itu terlonjak dari lamunan sesaat Rora sudah duduk dipangkuan nya, ikut memegang stir. Lalu mengalungkan kedua tangan ke leher Papanya.


"Tatek itu apa cih, Pah?"


Ammar hanya tersenyum. Susah untuk menjelaskan kepada anak ini. Biarlah nanti saja. Aurora bisa dijelaskan sendiri oleh keluarga mereka nanti dirumah.


Kembali ia teringat dengan istrinya.


"Maafkan aku, Gana. Aku seperti ini, karena aku mencintaimu." batinnya sedih dan nelangsa. Ia kembali termenung, mengingat senyuman Gana yang tadi mengantarkan dirinya dan Rora untuk pergi kerumah Mama dan Papa.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Mobil yang Ammar kemudikan begitu saja lolos masuk kedalam gerbang rumah, sesaat semua penjaga termegap-megap melihat kemunculannya lagi.


Fikir mereka, orang mati hidup lagi. Ammar seraya tertawa melihat para penjaga menatapnya histeris. Ammar tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan, nanti saja lah fikirnya.


"Wah ... lumah capa nih, Pah? Gede banet ya?" si cerewet tidak berhenti bertanya. Bola matanya membesar ketika mobil Ammar melesat masuk ke dalam pekarangan rumah yang mewah. Terlihat ada beberapa kelinci bergerak kesana kemari, lepas di rerumputan.


"Wah-wah ... Pah tuh, ada kinci. Hihihi." tunjuk nya gemas.


"Rora mau? Nanti boleh bawa." ucap Ammar sambil menekan pedal rem mobil agar berhenti dengan baik di pelataran parkir.


Rora mengangguk-anggukan kepala. "Boyeh, Pah? Nanni gigit ndak yah?"


Ammar hanya tersenyum mendengar celotehan anaknya yang tidak habis-habis. Saat ini, Ammar terlihat sangat tampan dengan memakai kaca mata hitam di wajah. Menggunakan kemeja biru navy yang dimasukan kedalam celana jeans. Melingkar sebuah ikat pinggang warna hitam di sana. Lelaki itu bergegas turun sambil menggendong Aurora.


Ia melangkah pelan, menuju pintu utama. Dan sebelum masuk. Ia termenung sebentar. Rumah asri, mewah dan terdengar percikan air mancur dari kolam ikan favoritnya masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Membuat riak rindu di dada semakin membuncah.


"Macuk cini, Pah?" kembali Ammar terbangun, ia tersenyum, mencium lagi sang anak yang menunjuk ke arah dalam rumah. "Iya, Nak."


Ammar kembali melangkah dengan degupan jantung yang semakin kentara. Apa yang harus ia ucap sebagai permulaan nanti? Di terimakah ia oleh Papanya?


"Assalammualaikum ..."


DEG.


Suara yang sudah lama pergi.


Suara yang sudah lama tidak terdengar.


Suara yang amat dirindukan.


Kini kembali ada.


Kembali di sini.


Di rumah ini.


Papa, Mama dan Maura yang sedang duduk di ruang tamu sontak menoleh. Semua menatap dengan bola mata yang ingin keluar.


Benarkah lelaki itu?


Benarkah sosok itu nyata?


Ammar masih berdiri sambil menggendong Rora dengan jarak beberapa meter dari mereka. Lantas ia melepaskan kaca matanya. Kemudian di sematkan di tepi leher kemeja. Ia kembali mengucap salam dengan genangan air mata.


"Assalammualaikum ..." suaranya yang bergetar kembali mengucap salam. Seolah membangunkan lamunan orang-orang yang ingin sekali ia peluk. Maura saja yang sudah tahu perihal kedatangan Adiknya, malah ikut tercenung.


Pandangan mata lelaki itu berpendar sendu menatap ketiga jantung hatinya.


"Masya Allah, benar. Ammar pulang? Ya Allah, Anakku!" seru Mama.


Melihat Mama yang kemudian berlari ke arahnya dan Maura mengekor dibelakang Mama. Segera Ammar turunkan Rora ke bawah. Ia beringsut, langsung bersujud di kaki Maman Alika


Hiks ... Hiks.


"Mah, maafin Adek." isaknya. Lelaki itu mencium kedua kaki Mamanya bergantian.


Bahu Mama membuncang dalam tangisan yang berat. Ia masih kaget dan belum bisa berkata apa-apa.


"Ini benar Adek 'kan? Anak Mama?" Mama setengah membungkuk, mengusap kepala Ammar yang terus memeluk kakinya, menangis dan minta maaf.


"Bangun, Nak." Mama menarik bahu Ammar untuk beranjak berdiri.


Blas.


Kedua wanita yang masih menangis itu lantas memeluk tubuh yang sudah lama tidak mereka lihat.


"Adek!!" seru Mama dan Maura bersamaan dalam air mata yang menganak sungai. Mama memeluk bahu kanan Ammar, sedangkan Maura memeluk bahu kiri Adiknya. Mereka menangis terseguk-seguk.


Ammar menatap lelaki paru bayah yang santai menatapnya di atas sofa. Papa memandang Ammar tanpa rasa terkejut sama sekali. Sejatinya ia sudah tahu kalau Ammar sudah tiba di Jakarta, menurut pengakuan dari Detektif yang ia bayar, si Roy Miyoshi. Tapi untuk datang sepagi ini kerumah, sungguh, diluar ekspektasinya.


Namun air matanya tetap menggenang. Papa bangkit dari sofa lalu menghampiri mereka bertiga yang sedang berpeluk.


"Rora, sini, Nak. Sama Kakek." ucap Papa berkata kepada Rora yang masih bingung menatap Papanya dipeluk oleh wanita yang tidak ia kenal. Lalu menoleh ke pada pria beruban yang sok akrab memanggil namanya. Papa Bilmar terus melangkah ke arah cucu perempuannya.


Sontak mendengar ucapan Papa. Membuat Ammar, Mama dan Maura mengurai pelukan itu. Dalam sesegukan tangis, mereka saling melemparkan pandangan.


Seakan tahu dirinya di anggap aneh. Papa tertawa sambil menggendong Aurora dan menciumnya berkali-kali. Aurora tidak bergeliat, ia senang saja di gendong.


"Papa tahu selama ini kamu pergi kemana. Tinggal dimana. Bersama Gana dan kedua anakmu, bahkan Gana sedang hamil lagi sekarang. Dan Papa tau, hari ini kamu sudah tiba di Jakarta.


DEG.


Semua tercengang, terutama Ammar. Dari balik wajahnya yang basah. Ia terpelongo tidak percaya.


"Papa tidak bisa kamu bohongi, Ammar!" ucap Papa.


"Papa, maafin, Adek." isak Ammar.


Dan di saat ia mau beringsut untuk bersujud di kaki Papanya. Ada suara istighfar yang membuyarkan rasa haru mereka.


"ASTAGFIRULLAH, AMMAR?" seru Mama Difa nyaring. Begitupun dengan dua orang disebelahnya. Gifali dan Papa Galih. Bola mata dari ketiga orang tersebut seraya ingin jatuh, seperti sedang melihat hantu. Mereka baru saja tiba dan langsung di suguhkan dengan pemandangan penuh air mata seperti ini.


BUG.


Bungkusan kue yang Papa bawa saja sampai terjatuh. Lelaki itu tersentak bukan main.


"Ammar?" desah Papa pelan. Papa mengusap dada naik turun. Tentu pemandangan ini sulit untuk ia terima. Napas semua nya terlihat berantakan.


Benarkah lelaki itu Ammar?


Menantunya yang sudah dianggap meninggal?


Orang mati? Hidup lagi?


"Pah ... Mah." desah Ammar pelan kepada mereka. Lelaki ini pun tersentak setengah mati. Mengapa bisa kedua mertuanya ada di saat ini dalam waktu bersamaan. Maura terlihat panik, cemas dan gelisah.


Namun, semua kembali tercengang saat Aurora berseru sambil menunjuk ke belakang mereka bertiga.


"Mama ... Dedek!" seru Aurora senang. Anak perempuan tersebut langsung turun dari gendongan Kakeknya. Lantas berlari ke arah Gana yang sedang menggendong Aidan di ambang pintu rumah dengan wajah bingung.


Suasana kembali mencekam. Mana kala semua mata menoleh dan memandang Ganaya. Wanita yang sudah di anggap mati walau jasad tidak ditemukan.


DAR.


Seakan halilintar bersautan.


Menyambar.


Menggema.


Menerpa Ammar hari ini. Dirinya tidak menyangka, kalau istrinya akan mengikutinya dan menyusulnya ke sini. Gana bukanlah wanita yang bisa dibodohi dengan akal-akalan Ammar.


Walau selama ini semua orang sudah berhasil di tipu daya oleh suaminya. Seakan Semesta sudah mencukup kan pelarian Ammar. Sejatinya, Allah mencintai lelaki itu. Tidak mau Ammar terus masuk ke dalam jurang yang menyesesakan untuk menahan kepiluan batin lebih lama.


Ammar menegap kan tubuh untuk mencari kekuatan. Ia tatap istrinya dari kejauhan. Jantungnya kembali memburuh. Habislah riwayatnya saat ini. Siap tidak siap, semua sudah terbongkar.


"Ya Allah, tolong hamba ..." doa Ammar.


Gana menatap orang-orang yang tidak ia kenal satu persatu. Semua mata memandang ya dengan raut terkejut dan terperanjat setengah mati, sampai membekapan mulut dengan gelengan kepala, terutama bagi keluarga Hadnan.


Benarkan wanita hamil yang tengah berdiri dengan dua anak itu, Ganaya? Dan semua orang semakin mengiyakan mana kala Gana bersuara.


"Abang ngapain di sini, Bang?" tanya Gana polos. Untuk apa suaminya ada dirumah mewah seperti ini. Semua mengerutkan dahi, menangkap ke anehan dari ucapan Gana.


"Masya Allah. Itu benar Gana, Pah. Anak kita!" ucap Mama. Kakinya terasa lemas. Melihat Ammar saja, dadanya terasa diremas. Kini, tanpa aba-aba. Ia kembali tertohok kepada sosok anak yang sudah ia relakan kembali ke pangkuan Allah.


Mama Difa dan Papa Galih seakan ingin terhuyung, dan Gifali sigap menopang dari belakang walau dengan tatapan mata tidak percaya. Wanita cantik dan gembil itu, memang anaknya. Anak yang ia rindukan, yang ia tangisi ketika bersujud kepada Illahi.


"Alhamdulillah ... Alhamdulillah." Papa terus berseru bahagia. Puji Syukur kepada Allah terus ia suarakan.


Mama tersadar, sesaat Papa sudah beringsut untuk memeluk Ganaya yang sedang hamil sambil menggendong Aidan dalam kain gendongan.


"Ya Allah, anak Papa. Jantung hati Papa. Alhamdulillah ... Alhamdulillah." Papa menangis memeluk Gana yang masih diam saja menatap Ammar. Sampai dimana Mama juga ingin memeluk. Namun Gana memaksa untuk menghindar dari dekapan mereka.


"Maaf, Bapak dan Ibu ini siapa ya?"


DEG.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบbersambung๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Duh berat bikin part ini guys, sesek๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ kasih aku komen yang banyak dan panjang-panjang. haha. biar aku semangat.


Kasih foto Rora aja deh, biar di godain lagi sama Davaโค๏ธ