
Biasanya orang-orang akan merantau untuk mencari kesuksesan, keberuntungan untuk mengais rezeki yang lebih dari yang sudah di dapat. Namun berbeda hal dengan Ammar. Lelaki itu memutuskan untuk merantau, berhijrah hanya sekedar ingin bersembunyi, melindungi rumah tangga dan juga ingin memulai hidup baru bersama bidadari surganya dengan tenang, aman dan nyaman.
Pulau Langkai di selat Makassar adalah pilihan yang diberikan oleh Mahendra kepada Ammar. Karena di seberang pulau tersebut, Mahendra memiliki sebuah pabrik yang selama ini di kelola oleh orang-orang kepercayaannya.
Dan lelaki itu mau kalau saat ini Ammar yang mengembannya. Namun Ammar menolak, ia hanya ingin menjadi buruh biasa. Menjadi seorang Direktur, akan membuat ia kembali tampil di muka umum. Tentu penyamaran dapat terbongkar.
Pulai Langkai adalah pulau yang sering disebut dengan pulau cermin karena memiliki air laut yang bening. Penghuni tetap di pulau ini tidak banyak, hanya sekitar 400 orang.
Mata pencaharian penduduk disini adalah seorang nelayan atau menyewakan jasa menjadi tour guide. Tak jarang banyak wisatawan yang datang ke pulau yang indah ini untuk berekreasi. Pulau Langkai di Makassar adalah salah satu wisata bahari indah kepunyaan Indonesia.
Di pulau ini masih minim listrik. Listrik di dapat dari generator yang beroperasi dari pukul 17.30 sampai dengan pukul 21:00 Wita. Sisanya pulau Langkai akan menggelap. Walau begitu Ammar dan Gana tetap menerima kekurangan di pulau ini. Mereka tetap tinggal. Ammar terus menjalani hidup bersama istri dan anak-anak nya di sini.
Rumah yang di dirikan Mahendra untuk Ammar dan Gana terletak paling jauh di pedalaman dari bibir laut. Rumah yang masih berbahan kayu tapi kuat. Di dalamnya hanya ada dua kamar. Kamar mandi berada di luar, menggunakan bilik, karena di daerah tempat tinggalnya belum ada PAM.
Air yang mereka gunakan berasal langsung dari sumur. Ammar rajin menimba air untuk mandi, memasak air untuk minum dan kebutuhan lainnya. Walau seumur hidup tidak pernah merasakan hidup seperti ini, tapi Ammar bahagia. Karena dirinya merasa sangat tenang.
"Bang, makan dulu." seru Gana.
Ia meletakan ayam goreng dan tumisan labuh di meja makan. Gana melenggang langkah menuju ambang pintu, menatap suaminya yang masih menjemur pakaian di halaman rumah.
"Iya sebentar, Dek." jawab Ammar tanpa menoleh. Ia masih saja fokus memeras baju yang sudah ia cuci agar airnya luruh.
"Iya udah, Bang." Gana masuk lagi ke dalam.
"Duh pagi-pagi, Daeng Ammar udah ngejemur aja nih." goda Ruminah. Janda tua yang anaknya sudah besar-besar. Wanita itu menghentikan laju motornya sehabis dari pasar. "Daeng Gana pasti masih tidur ya." wanita yang hobinya bergosip itu terkekeh. Daeng adalah sapaan orang di pulau ini seperti teteh, mbak atau uni.
Ammar ikut tertawa. "Lagi hamil besar, saya kasian, Daeng. Udah bangun kok, udah masak juga. Emang nggak ke cium masakan istri saya?" Ammar membela dengan sindiran halus.
Ruminah tersenyum kecut. Niat nya untuk memanas-memanasi Ammar agar nama Gana jelek, namun tidak berhasil. "Udah ah saya mau pulang." Ruminah berlalu dengan wajah masam.
"Iya, Daeng. Hati-hati."
Langkah Gana yang baru saja ingin masuk ke kamar untuk melihat Aurora apakah sudah bangun atau belum, langsung terhenti. Dengan muka kesal dia kembali melenggang keluar menuju halaman rumah.
"Ngapain sih Abang ngeladenin dia??" bibir bawah Gana maju bagai bebek. Ia merungut sambil menatap suaminya yang tengah membuang air bekas perasan cucian ke tanah dari ember.
"Masa orang nanya nggak di jawab, Dek." jawab Ammar dengan nada lembut.
Ia tatap istrinya yang sudah gendut bagai tomat. Mengusap perut Gana yang kembali membuncit dari balik sarung miliknya. Selama mengandung Gana lebih suka memakai baju longgar dan sarung milik Ammar. Serta wajahnya yang selalu belepotan dengan bedak dingin ala orang-orang Bugis.
Di sana mempunyai tradisi untuk membuat adonan bedak pelindung dari cahaya matahari. Karena setelah sarapan sambil menjaga warung. Gana akan berlama-lama di kebun bunganya. Apapun yang Gana mau, Ammar akan selalu memenuhinya.
Pernah ia sampai pergi ke kota Makassar menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam hanya untuk mencari bibit mawar dan makanan kucing. Walau Gana amnesia, tapi rasa suka terhadap kedua hobi itu tidak bisa menghilang begitu saja.
Padahal Ammar sudah melarang Gana bermain dengan kucing-kucing. Karena sebelum mengandung Aurora, Gana pernah keguguran. Ammar selalu menggadang-gadang kalau bulu kucing membawa hal yang tidak baik untuk kandungan.
Maka semenjak Aurora lahir dan saat ini tengah mengandung calon anak kedua mereka, yang Insya Allah akan lahir dua bulan lagi, Ammar hanya membolehkan Gana merawat kucing diluar rumah, tidak diperkenankan masuk seperti dulu.
Ngomong-ngomong sampai detik ini, mereka tidak tahu jenis kelamin anak keduanya apa. Karena selama Gana mengandung ia hanya periksa oleh Bidan satu-satunya di pulau ini.
Terlebih saat melahirkan Aurora, ia hanya dibantu oleh dukun beranak, karena pada saat itu Ibu Bidan sedang pergi ke luar kota. Padahal seharusnya ia bisa melahirkan dengan Dokter-dokter kandungan ternama dan berada di Rumah Sakit milik mertuanya.
Keinginan Ammar untuk membawa pulang Gana, selalu pupus. Tidak terasa waktu bergulir dengan cepat, sudah dua tahun setengah Gana dan Ammar menetap di pulau ini.
Dan setiap tahunnya Gana kembali mengandung seperti sekarang. Di saat Aurora baru berumur lima bulan, Gana kembali hamil.
Kini, Aurora sudah menginjak usia dua belas bulan, dan Gana sedang mengandung usia tujuh bulan.
"Ayo masuk. Abang lapar." Ammar mengajak Gana untuk masuk ke dalam rumah dan hinggap di meja makan. Menghentikan perdebatan yang pasti tidak akan ada ujungnya.
"Lain kali tuh diemin aja, Bang. Di sangka dia, Abang itu naro hati!" dengkus Gana tidak habis-habis. Rasa cinta dan cemburunya begitu besar kepada Ammar. Ia menuangkan nasi ke piring Ammar dengan mulut yang tidak berhenti memaki Ruminah.
Ammar mencium pipi Gana yang duduk disebelahnya. "Hati Abang cuman mentok ke kamu, Dek. Enggak bisa lirik-lirik yang lain lagi. Bersyukur banget punya istri cantik dan serba bisa. Serta mau nemenin Abang yang keadaanya kayak gini."
Gana tersenyum karena dipuji-puji. Ammar memang paling bisa kalau urusan rayu-merayu. Tetapi Gana langsung menyerengitkan dahi setelah mendengar kalimat terakhir.
"Keadaan Abang yang kayak gimana? Segini aja Adek udah senang. Kita masih bisa makan enak, bisa beli susunya Rora, susu hamilku dan Abang selalu penuhin warungku. Makasih ya, Bang." Gana berbalik mencium pipi lelaki itu.
Ammar mengangguk senang. Baru saja ingin menyatukan bibir mereka, dan seketika itu pula terhenti.
"BELIIIII..." kemesraan itu akhirnya buyar, karena ada pembeli datang di warung kelontong milik Gana.
"Pasti si Bahar. Mau ngutang rokok lagi." decak Gana. Ia sudah hafal suara lelaki itu. Ammar terkekeh. "Biarin aja kalau mau hutang, nanti juga di bayar." jawab Ammar enteng.
"Ya gak bisa dong! Ya udah, Abang makan duluan aja." titah Gana.
Ammar menggeleng. "Abang tunggu. Kita sarapan bareng."
"Ya udah kalau gitu."
Gana beranjak bangkit menuju warung kecil tapi komplit yang berada diluar rumah. Ammar terpaksa membukakan Gana warung. Bukan untuk mencari uang, tapi karena wanita itu terus merengek ingin bekerja membantunya mencari uang.
Tanpa ia tahu, Ammar mempunyai tabungan yang cukup banyak. Masih bisa membiayai kehidupan mereka sampai sepuluh tahun kedepan tanpa bekerja. Tapi drama harus tetap di mainkan. Ammar harus tetap bekerja di pabrik Mahendra agar Gana dan para warga tidak curiga. Bagaimana bisa menghidupi anak dan istri tanpa bekerja? Kalau tidak mau di curigai ngipri babi, monyet atau dinousaurus.
Ammar buru-buru bangkit, saat suara tangis Aurora yang baru bangun tidur, terdengar sangat nyaring. Anak itu menangis karena merasa sendirian di kamar.
"Eh, anak cantiknya Papa udah bangun." Ammar menggendong Rora yang sudah terduduk di pusara ranjang sambil menangis. Batita cantik, gemuk, bermata lentik yang secara keseluruhan mirip sekali dengan wajah Ammar dan hanya menyisakan bagian hidung saja yang mirip dengan Gana.
Mendapatkan dekapan hangat dari Papanya, membuat anak itu nyaman dan menghentikan tangis. Ammar membawa Rora ke luar kamar untuk menemaninya sarapan.
Sudah dua hari ini Ammar tidak pergi ke pabrik. Karena ombak di laut sedang meninggi. Kapal kecil adalah alat transportasi Ammar menuju pabrik dari pulau Lankai. Gana melarang Ammar bekerja, karena sangat beresiko. Ia tidak mau suaminya mati tenggelam. Ammar akan memakai motor dari rumah menuju dermaga, dan menitipkannya di sana.
Berangkat pagi dan sore sudah di rumah sebelum ombak di laut, pasang. Maka dari itu, ketika sedang libur seperti ini. Dirinya bisa membantu Gana untuk mengurus Rora, mencuci pakaian dan bergantian menjaga warung.
"Kali ini aku bayar, Daeng." ucap Bahar bangga. Seorang nelayan muda yang kadang suka beralih profesi menjadi tour guide. Ia menyodorkan uang dua puluh ribu kepada Gana, setelah sebungkus rokok sudah ia buka isinya.
"Ini kan bayar yang sekarang. Yang dua hari lalu, empat hari lalu dan---" Gana yang sedang mengecek buku hutangan para pembeli lalu mendongak saat dirasa orang yang ia bicara sudah tidak ada. Dan benar saja Bahar cepat melenggang pergi dari warung dengan secepat kilat bagai setan.
"Dasar ya! Awas nanti kalau beli lagi aku tarik kumisnya!! Begini terus, bangkrut deh aku!" decak Gana kesal. Lalu menatap turun ke perut.
"Adek nanti jangan kayak gitu ya, Nak." lantas mengusapnya naik turun dan memberikan senyuman sesaat anaknya bergerak. Ia masih saja berharap kalau anak yang ia lahirkan sebentar lagi akan berjenis kelamin laki-laki.
Melihat Mamanya masuk ke dalam rumah, Aurora langsung bergeliat, mengulurkan tangan ke atas seraya meminta untuk digendong.
"Ma ... Ma."
"Anak Mama udah bangun? Mandi yuk, Nak?" ucap Gana. Ia meraih Rora dari gendongan Ammar. Agar suaminya bisa sarapan.
"Nanti aja mandiinnya. Sekarang Adek sarapan dulu." titah Ammar. Gana pun akhirnya menurut.
Melihat Rora yang sudah anteng, Gana meletakan anak itu di ayunan yang Ammar buat sendiri di dalam rumah. Aurora terus bergumam, suaranya berisik, begitu nyaring. Ia bermain dengan para bonekanya.
"Bang, kapan kita ke Jakarta lagi? Sekalian kita chek up ke Dokter kandungan. Adek ingin tahu jenis kelamin anak kedua kita, Bang. Siapa tahu lelaki, biar sepasang."
Ammar tidak menjawab, ia fokus menikmati makanannya.
"Bang ..."
"Makan dulu." jawab Ammar.
Tetapi Gana hanya diam. Ia merungut menyandar di sandaran kursi. Wajahnya ditekuk. Tahu istrinya merajuk, Ammar pun menjawab.
"Ya, nanti." hanya itu yang Ammar jawab. Ia mulai menikmati sarapannya. Dan Gana tetap memiringkan sudut bibir. Dari usia kandungan lima bulan, Gana sudah merengek ingin ke Jakarta dan Ammar hanya akan beralasan seperti itu.
Mengingat Jakarta, membuat kenangan masa lalu kembali muncul. Hatinya menjadi tidak enak. Rasanya ia tidak ingin kembali ke sana. Terlalu banyak luka dan sulit untuk Ammar benahi.
Gana juga masih belum mengingat apapun tentang masa lalu mereka. Akan sulit menjelaskan jika harus dipertemukan lagi dengan keluarga besar, membongkar jatidiri dan menerima kemarahan Gana yang sudah di bohongi.
Ammar belum siap.
🌺🌺🌺🌺
Hay daeng-daeng, aga kareba? Salama 'ki tapada salama'.
Salam sapa khususnya pembaca yang ada di Makassar. Halloooo ...
Dan untuk kalian yang berada di kota lain. Semoga sehat selalu ya. Kenapa aku milih kota Makassar, karena aku lagi nostalgia guys. Masa kecilku di sana, di kampung halaman Papa. Walau kisah cinta antara Mama dan Papa tidak seindah Gana dan Ammar, tapi mereka tetap pasangan indah bagiku dan adeku.❤️❤️
Like dan komennya jangan lupa ya.
Malvinia Aurora Artanegara.