Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Sudah Jadi Tugas Aku


Aidan yang masih basah karena sisa-sisa air ketuban langsung di letakan di dada Gana yang dalamann-nya sudah dilepas. Tangisan bayi itu meredup saat merasakan kehangatan dari kulit dada Mamanya.


Kepala mungil Aidan mulai bergerak-gerak untuk mencari puncak dada. Karena bayi yang baru lahir belum bisa melihat dengan jelas.


Maka ketika ingin menggapai areola mammae sang Mama, Aidan memakai indera penciumannya dengan mempergunakan bau dari cairan amnion yang masih menempel di kedua telapak tangannya, yang ternyata sama dengan bau puncak dada Gana.


Pola seperti ini sering di kenal dengan sebutan IMD atau insiasi menyusui dini. Berfungsi agar Aidan bisa cepat menyusu, memperkuat jalinan kasih antara Ibu dan bayi dengan kulit mereka yang saling menyatu. Semua hal itu dapat membuat intensitas kedekatan, rasa nyaman dan kehangatan tercipta dengan baik di antara mereka.


"Ayo, Dek. Dikit lagi, ayo!" Ammar bersorak senang. Saat Aidan membentur-benturkan kepalanya di daerah dada Gana. Bidan Nia berkata jangan dipaksa di dekatkan, biar refleks Aidan yang bekerja, biarkan dirinya sendiri yang bergegas.


"Mauh ata, Dekkkkkkkkk?" tanya Rora yang terlihat gemas melihat bayi yang mirip dengan dirinya sedang bergerak-gerak lambat mencari areola sang Mama. Buru-buru Ammar meraih tangan Rora yang ingin terulur memegang kepala Aidan.


"Jangan, Nak. Adek nya mau nyusu!" seru Ammar.


"Atu tuga mauhh cucu ..." ucapnya semangat. Lalu bergegas mendekat ke puncak dada sebelah kanan milik Mamanya, seraya ingin menyesap. Namun, sebelum hal itu terjadi, Ammar memilih menggendong Rora dan menjauh dari ranjang.


Dan anak itu merajuk. Ia meronta minta turun, mengulurkan tangan ke arah Gana. "Nanti ya, Nak. Gantian dulu sama dedek." ucap Gana.


"Huwwaaaaaaa ... Mama!" Rora bergeliat dalam tangis.


Kasian Aurora, ia berhenti Asi ketika Gana mulai mengandung Aidan. Tiba-tiba saja air susunya tidak keluar lagi, maka sejak saat itu Rora hanya diberikan sufor. Maka tidak jarang jika Rora sering demam. Gana berharap air susunya nanti tidak akan tersendat lagi, agar bisa menyusui Aidan sampai full dua tahun.


"Sini mau di gendong sama Ibu, Nak?" Bu Bidan mencoba menenangkan. Rora menggeleng tidak mau dan semakin menangis. Ia terus berteriak dan memukul-mukul pipi dan menjambak rambut Papanya.


"Mauhh tuyun, Papa! Ihhhhh ...." Ammar diam saja saat keningnya di gigit. Ammar masih fokus menatap Aidan yang masih susah mencapai puncak dada.


"Apa enggak di arahin aja? Saya kasian lihatnya, Bu." ucap Ammar kepada Bidan Nia. Kelihatannya Aidan sudah haus sekali.


"Emang harus gini, Bang. Abang lupa? Dulu 'kan Rora juga begini." selak Gana.


Ammar tersenyum tipis, seraya mengingat. "Oh iya, ya. Abang lupa, Dek."


Gana menyengir kuda. Wanita itu bisa ceria lagi karena rasa sakit serasa menghilang sesaat, melihat Aidan lahir dengan selamat. "Jarak Kakak sama Dedek hanya setahun, Bang. Masa iya lupa." dan semua terkekeh.


Ammar mendengus malu, dan pasrah karena terus di toyor-toyor kepalanya oleh Rora.


"TUYUNN, PAH!" si gendut terus saja bergeliat. Menarik-narik telinga Ammar untuk mau menurunkan tubuhnya. Dan Ammar hanya diam, tidak menuruti.


Ia terus fokus dengan jagoannya. "Ayo, dedek. Jagoan Papa. Harus kaya Papa, pintar nyusu. Eh ..." buru-buru Ammar membekap mulut saat Gana dan para Bidan mendelik ke arahnya. Rora pun yang sejak tadi menangis langsung diam dengan wajah menuntut.


Apa tadi katanya? Papanya yang sudah besar seperti ini masih menyusu? Haha.


Gana melotot horor.


"Ampun, Dek." ucap Ammar pelan kepada Gana.


"Papa, mauh cucu tuga?" cicit Rora, yang amarahnya sudah meredah.


Ammar melipat bibit karena Gana semakin mendelikan mata, lantas Ammar meresponnya dengan mengembangkan senyum jumawa, buru-buru Ammar melenggang keluar membawa Rora.


Fokus kembali menatap Aidan, yang saat ini sudah sangat dekat dengan puncak dada Gana.


"Ayo, Nak ..." ucap Gana lembut. Ia kecup dahi Aidan yang masih berbau cairan ketuban.


"Ini, nih." seraya menggerakan dadanya agar Aidan bisa cepat menjangkaunya.


Dan.


Blup.


Aidan sampai. Dengan mengandalkan indera penciumannya, ia mampu mengulumm areola dan menyesap cairan kolostrum. Asi yang pertama kali keluar dengan warna kuning kental.


Kolostrum biasanya di produksi sekitar 1-5 hari pertama sejak bayi lahir. Dan setelah itu akan berganti menjadi susu biasa.Kolostrum mempunyai banyak kandungan gizi yang baik untuk bayi.


Gana sedikit meringis, saat Aidan menyedot pangkal dada dengan tekanan sedikit kuat dari bibir mungilnya.


CAP


CAP


Aidan mengecap kuat.


Pertama kali bayi menyusu paling lama lima belas menit. Sisanya tergantung mau nya. Setelah berhasil menyusu. Aidan diraih kembali oleh Bidan Nia untuk dibersihkan, di ukur tinggi serta berat badan.


Sedangkan Gana yang sudah selesai di jahit, sudah memakai pembalut, dibiarkan bergoler di ranjang dengan sarung kesayangannya.


"Alhamdulillah Ya Allah, atas anugerahmu." ucap Gana ketika melihat anak laki-lakinya sedang di bersihkan.


Magala Aidan Artanegara, bayi lelaki yang mempunyai tinggi lima puluh centimeter dengan berat tiga kilogram dengan rambut hitam lebat, hidung bangir sekilas ada belahan di sekita dagunya, saat ini sudah dalam dekapan Gana dan Ammar tanpa kurang apapun.


Berbahagialah keluarga Artanegara dan Hadnan, pasukan cucu mahkota mereka kembali bertambah.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Setelah tiga jam pasca melahirkan, berbaring di ranjang dan terlelap. Gana akhirnya bangun. Dirinya di papah Ammar ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah dari kamar mandi, wanita bersarung itu kembali di antar ke kamar, lantas di dudukan di bibir ranjang.


Saat ini, Ammar sedang menyuapi Gana makan. Ammar hanya bisa memasak bubur instan yang ada di warung. Karena nasi tadi pagi sudah amat dingin.


Bagian sisi rumah yang lain kembali gelap, hanya kamarnya saja yang terang, itu pun memanfaatkan cahaya dari lampu petromax yang tertempel di dinding.


"Udah ah, Bang. Adek kenyang." Gana memalingkan wajah saat Ammar ingin menyuapinya lagi. Ammar tetap memaksa Gana untuk mengunyah makanan. Ia suapi Gana perlahan-lahan, tidak mau kalau perut istrinya kosong melompong, apalagi habis melahirkan dan juga, sejak pagi wanita itu memang tidak mau makan.


"Sekali lagi, Dek. Tanggung."


"Yaudah ... aaaa ...." Gana membuka katupan bibirnya. Dan sendok berisi bubur kembali melesat masuk ke dalam mulutnya.


"Bang."


"Hem?" Ammar masih mengaduk-aduk bubur yang masih banyak di dalam mangkuk. Seketika Gana menyerengitkan dahi, karena itu artinya ia akan di suapi lagi. Padahal lelaki itu sudah mengatakan bahwa yang tadi adalah suapan terakhir.


"Udah ah, Bang!" sergah Gana tidak patah arang.


Ammar tidak menjawab. Ia malah menyodorkan lagi ke bibir Gana.


"Abang tuh gitu!" decaknya manja tapi berbalut kesal "Masih enggak napsu, Bang!"


Gana menoleh ke arah Aidan yang sudah pulas di pertengahan ranjang mereka. Ada Aurora juga yang sudah tidur tempat tidurnya sendiri. Seperti Mamanya, anak itu kalau tidur lasak. Baju piyamanya sampai tersingkap ke atas dada, angin menyapu perutnya.


"Tapi, Bang. Adek----"


"Jadi istri harus nurut apa kata suami!" selak Ammar.


Mendengar ucapan Ammar yang sedikit dingin, membuat Gana menunduk. Ammar juga letih. Sejak pagi sampai semalam ini ia belum istirahat. Beruntunglah Gana setelah melahirkan, ia masih bisa berbaring tidur memeluk Aidan. Sedangkan Ammar harus terjaga menjaga mereka. Ammar memang seperti ini, jika istri baru melahirkan. Ia akan sulit untuk tidur. Takut anak dan istrinya butuh sesuatu.


Lelaki itu pun belum makan, perutnya sejak tadi berbunyi tapi ia biarkan saja. Entah kenapa dadanya bergemuruh. Ada rasa yang menyumpal tidak enak di hati. Mama Alika tidak bisa di hubungi. Ponsel wanita itu mati, padahal Ammar ingin sekali mengabarkan kalau Aidan sudah lahir.


Ada apa dengan Mamanya di seberang sana. Mengapa sedari sore tidak ada kabarnya lagi?


"Masih ngilu?"


Gana mendongak, menatap wajah suaminya yang masih menunduk menatap mangkuk.


"Sedikit, Bang."


Hening lagi. Ammar tetap menyuapi Gana, dan Gana kembali membuka mulut. Ia tidak berani membantah.


"Abis makan, Abang elap badannya, ya. Biar enggak gerah pas tidur."


Akhirnya Gana tersenyum. Mendengar nada suara Ammar yang lembut kembali meluluhkan hatinya yang baru saja sedikit tersungging ... eh, tersinggung.


Gana mengelus pipi suaminya. "Makasih ya, Abang."


Ammar tersenyum lalu mendekat untuk mengecup bibir Gana lama.


"Jangan bilang makasih. Ngurus kamu itu udah jadi tugas Abang, Dek." ucapnya saat kecupan itu terlepas.


Gana memeluk Ammar. "Abang tambah sayang enggak sama Adek?" tanyanya manja. Rasanya ia bangga sekali, karena sudah berhasil memberikan dua anak, melahirkan anak dan terlebih lagi anak kedua mereka saat ini adalah laki-laki.


"Bangettttttt."


"Beneran, Bang?"


"Iya, beneran. Semakin sayang, semakin cinta, uh ... semakin segala-galanya." dan si kumbang memang pintar merayu.


Walau hatinya sedang gegana memikirkan Mama. Tapi melihat Gana seperti ini, ia tidak bisa merusak suasana hati istrinya yang sedang bahagia.


"Adek sangat berjasa buat Abang. Makasih ya cinta." Ammar kecup lagi bibir istrinya yang bau bubur.


Gana senyam-senyum sambil menatap atap kamar mereka, mungkin sedang mencari iguana pacaran. Entahlah.


"Tapi Adek gendut, Bang. Selama hamil malah jadi item, jerawatan. Enggak ramping kayak dulu."


Ammar mencibir lalu menjawil hidung istrinya "Bisaan kamu tuh, Dek! Merendah untuk meroket."


Hitam?


Jerawatan?


Dekil?


Dari mana??


Yang ada, selama Gana hamil. Wanita itu sangat cantik. Tubuhnya memang montok, namun membuat ia terlihat begitu menggemaskan.


Kulitnya wajahnya saja terasa lebih kenyal, putih dan glowing. Memang ada jerawat yang tumbuh itu pun di bawah dagu dan tidak terlihat. Ya, terkadang Ibu-ibu hamil suka tidak percaya diri. Ia merasa insecure dengan tubuh dan wajahnya, pasca mengandung dan melahirkan, merasa selalu tidak cantik.


Wajarlah dirinya takut, sekarang-sekarang ini lagi musim-musimnya betina berwajah putih tapi berleher hitam, sedang berani mendaftar menjadi pebinor ...Eh, pelakor. Haha. Maka dari itu, kita sebagai istri harus bisa segala-galanya dibanding pelakor, titisan anak buahnya Abu Jahal.


Gana tertawa. "Yahh ... kok Abang bisa nebak sih?"


"Apa yang ada di kepala kamu Abang tau." Ammar menyatukan dahi mereka. "Bilang aja kamu mau ke salon. Iya, kan?"


"Haha." Gana terkekeh. Ia bergeliat di pelukan suaminya. Memutar-mutarkan jarinya di dada Ammar.


"Adek mau nagih janji, Abang. Kan katanya kalau udah lahiran, Abang mau bawa Adek ke Jakarta. Adek boleh ke mall, ke salon, kita makan di restoran.


Adek mau beliin kemeja, kancutt, kaos kutangg buat Abang. Terus dress buat Kakak, serta baju tambahan buat Dedek. Sekalian kita jalan-jalan berempat.


Kayaknya uang tabungan Adek dari hasil warung cukup buat kita pergi ke Jakarta, Bang." ucap Gana berapi-api. Semangatnya munjung sekali. Tak perduli uang yang ia kumpulkan akan habis, yang penting bisa rekreasi bersama anak dan suaminya. Hidup tiga tahun di desa, tanpa hiburan sama sekali. Sudah pasti membuatnya suntuk, jenuh dan bosan.


Oh, sungguh. Kasian sekali Gana.


Mendengar kota Jakarta di sebut, membuat wajah Ammar seketika berbeda. Samar-samar melipat senyum yang sejak tadi merekah, lalu di rubah dengan senyuman tipis.


"Ya, nanti. Kalau Aidan sudah boleh di ajak naik kapal."


"Naik pesawat aja, Bang. Biar cepat." cecar Gana.


"Iya." Ammar menjawab singkat. Ia tatap lagi bubur di mangkuk yang sudah berair.


"Tapi bener, Bang? Adek masih cantik? Adek tuh ngerasanya kayak burikan gitu loh." Gana mencebik. Ia masih ingin Ammar kembali memujinya. Menumbuhkan rasa percaya diri.


Dengan hati yang masih bimbang, Ammar harus tetap menata hati didepan Gana. Tugas lelaki yang sudah menjadi suami, memang harus bisa menampung keluhan istri baik dari segi apapun.


Selama menikah, seorang istri hanya ingin keluhannya dan kemaunnya bisa didengarkan baik. Walau hanya mendengarkan, tanpa memberi solusi. Hal kecil seperti itu saja, sudah membuat istri senang bukan main. Ia merasa dirinya di hargai, diperhatikan dan tetap merasa menjadi prioritas.


"Abang udah sering liat kamu ileran, mulut nganga pas tidur. Ngoroknya gede. Kentutnya bau. Banyak garis-garis di perut sama paha. Udah Abang lihat semua! Udah Abang rasain. Tapi tetap aja Abang cinta. Emang pernah Abang ngeluh? Abang tuh terima Adek apa adanya."


Ammar labuhkan lagi kecupan di dahi Gana. "Eum ... bau kecut!" Ammar terkekeh.


Gana membulatkan matanya. Lantas mencubit lengan Ammar. "Katanya enggak akan ngeluh!!"


Ammar terus tertawa. "Iiihhhh, Abang!!" Gana jengkel setengah mati.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Kakak sama Dedek kalau udah gede kayak gini kali ya.


Bibit-bibit unggul Ganaya dan Ammar๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ