Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Dava bisa, Om.


Gana tengah berdiri di depan cermin. Ia sudah memakai gamis dan kerudung rumahan. Jika saja tidak ada teman Ammar yang sedang berkunjung, biasanya Gana hanya akan dasteran dengan rambut terurai.


"Abang pasti suka 'nih," pujianya sendiri. Sekarang, ia tengah mengoles lipstik tipis berwarna merah muda di bibir ranumnya, membuat wajahnya semakin segar dengan timpalan bedak yang juga tidak terlalu tebal.


Ammar pasti senang melihat kecantikan istrinya hari ini. Apalagi dirinya habis berendam di cairan susu sambil menonton drama Korea kesukaan, membuat tubuhnya begitu mulus, licin dan menggiurkan.


"Maaaaa ...." Gana menoleh ke pembaringan, ia mendapati Alda yang sudah mengerjapkan mata beranjak duduk.


"Udah bangun anak cantiknya, Mama?"


Alda mengangguk dan menjawab. "Mimi ...," tangannya terulur ke arah Gana yang sedang melangkah ke arahnya. Gana merangkak naik ke kasur. Ia raih Alda untuk di susui. Gana menyandar di punggung ranjang mengelus-elus tubuh Alda yang montok. Suara decapan saliva begitu terdengar ketika Alda menyusu dari pangkal dadanya.


"Pelan-pelan, Nak. Nanti kamu tersedak."


Alda masih fokus melahap gundukan kenyal milik sang Mama untuk mengalirkan nutrisi ke dalam mulutnya, sambil memegang-megang wajah Gana.


"Mama cantik, ya?" tanyanya kepada si gundul. Seakan mengerti, Alda hanya memainkan mata saja. Gana tersenyum dan mencium kening anak bungsu yang tidak jadi bungsu sekarang, karena adik Alda beberapa bulan lagi akan launching.


Saat Gana ingin meraih remote di atas nakas untuk menyalakan televisi, alisnya mengerut. Ia seperti mendengar ada suara kerusuhan di luar kamar.


"Kayak suara?" sambil menyusui Alda. Buru-buru ia bangkit dari ranjang. Ia ingin memastikan apa benar ada suara wanita yang sangat ia hapal. Gana lebih dulu mengambil nursing cover atau cover menyusui. Ia pakai di dada untuk menutupi Alda yang tengah menyusu.


Krek.


Pintu kamar ia buka. Matanya pun terbelalak. Ia kaget saat kedua mantan mafia tengah di rajuk oleh para temannya di sofa.


Gana bergegas cepat melangkah menghampiri mereka.


"Kalian ke sini juga? Katanya mau di rumah aja?" tanya Gana yang langkahnya sudah sampai di ruang tivi.


Ting. Dan bersamaan itu, lift berbunyi. Gana menyeret bola mata untuk menoleh ke arah lift dan wanita itu tertohok bukan main saat mendapati Yanti keluar dengan wajah tertunduk merah menahan kesal.


"Loh?" gumam Gana tidak percaya. "Perasaan udah di kunciin, kenapa bisa turun dari lift? Apa dia nembus tembok kamar?" seketika bola mata Gana melotot horor, ia tercenung hebat. Yanti tetap saja melewati dirinya menuju kamar.


"Kamu sih teledor, Mbak!" Mulan setengah menyentak. Ia memberikan wajah masam.


"Udah dong, Bu. Jangan ngambek. Ayah enggak ngapa-ngapain kok!" Mahendra membela diri. Begitupun Alex yang sedang merayu Ana yang tengah berapi-api.


"Ada apa ini, Mbak?" tanya Gana memperjelas kepada Mulan dan Ana.


Dan.


Lift kembali terbuka. Gana menoleh lagi dan mendapati Farina yang lebih dulu keluar dari sana dengan langkah kesal menuju sofa di mana mereka sekarang berada. Di belakang Farina ada Alex dan Ammar.


"Kata kamu dia udah di kunciin, mana??" tanya Farina sewot kepada Gana yang masih mencerna tidak mengerti. Mengapa para bidadari hati mafia ada di sini? Sejak kapan datang? Apa yang terjadi? Mengapa mereka merajuk seperti itu?


Mendengar pertanyaan Farina kepada Gana membuat para lelaki membulatkan matanya.


"Maaa--maksudnya, di kunciin?" tanya mereka dengan nada kaget.


Para istri mencebik dan menghela napas, kecuali Gana. "Mami yang menitah Gana untuk menguncikan Yanti di kamar. Eh, tapi. Malah lolos!" Farina membuka suara. Ia sudah duduk di sofa bersama Farhan yang bersisihan dengan Mulan dan Mahendra.


"Astaga sampai begitunya, Mih," Farhan menjawab.


Farina mendelik. "Astaga ... astaga!! Ya karena aku tahu. Kalian semua ini, genit!! Makanya kami semua antisipasi! Coba kalau tadi kita enggak datang tepat waktu, kalian pasti semakin menjadi godain dia!" sungut Farina. Dan para istri menganggukan kepala.


Gana yang masih berdiri, menggendong Alda, menyusuinya. Langsung membekap mulut, ia menoleh ke arah Ammar yang berdiri juga di sebelahnya.


"Abang!" serunya kesal.


Ammar menggeleng dan menyergah. "Buu---bukan Abang, Dek. Abang tadi enggak ngapa-ngapain." wajah Gana sudah memerah menahan kesal.


"Beneran, Dek. Demi Allah ...." kini, Ammar ikut duduk, karena Gana pun mulai duduk di single sofa.


"Maksudnya gimana 'sih ini? Kok aku enggak paham?" tanya Gana kepada mereka semua.


"Pokoknya tadi, mereka semua ini genit sama si Yanti," balas Mulan dengan rahang mengeras. Dan semua lelaki menyergah, memberikan rayuan kepada para istri nya.


Gana menatap Ammar. "Demi Allah, Abang mah enggak, Dek,"


Bibir Gana mencebik. Ia mengusap-usap Alda yang sedang bergeliat karena sudah kenyang di susui.


"Jangan nuduh gitu dong, Bu. Ayah tuh udah kepalang cinta sama Ibu. Masa ngobrol biasa aja, di bilang genit," ucap Mahendra meyakinkan istrinya. Jari-jemarinya kini beralih memijat-mijat pelan tangan Mulan. Mulan yang masih kesal hanya diam saja menatap ke depan.


"Iya, Ayang. Aku juga udah cinta mati sama kamu, masa iya kamu meragukan cintaku, My Amore," kekeh Alex, sambil memberikan smoke eyes pada Anna. "Kaki nya pegel enggak? Mau di urutin juga kayak Mulan?" tanya nya lagi.


Merasa di ledek, Mahendra menghempaskan bantal sofa kepada Alex. "Tokek, lu!" dan Alex tertawa-tawa.


"Apa kita mau ke salon aja sekarang? Papi temenin Mami sampai subuh," tukas Farhan, ia mencoba merayu lagi. Lebih baik melihat senyum Farina ketimbang memilih melepas rindu bersama para temannya, jika begini jadinya. Yanti memang penyakit.


Farina beralih menatap Gana.


"Secepatnya pecat Yanti, Gana! Kalau rumah tanggamu mau aman! Apalagi kamu sedang hamil, ngurus anak banyak. Nanti kamu makan hati, terus mati. Mau kamu, si Ammar nikahin si Yanti?"


Gana dan Ammar sama-sama mengerutkan dahi. Kalau Gana mulai merengut kepada Ammar, lelaki itu malah menyergah. "Ya jangan samain aku dong, Rin! Emang nya aku suami kalian---?"


Sergahan Ammar kepada Mulan menggantung di udara, manakala para mantan mafia lainnya tengah menatap horor padanya.


Ucapan Farina membuatnya tidak aman di hati Gana. Dan begitu juga sebaliknya, ucapannya membuat Farhan, Mahendra dan Alex menjadi tidak aman di hati para istri. Haha. Serba salah.


...🌾🌾🌾...


"Pokoknya kamu jangan keluar dulu, sebelum teman-teman Bapak, pulang. Ngerti 'kan!" perintah Gana kepada Yanti.


Saat ini Ibu hamil itu tengah berada di kamar Yanti. Ia juga sudah meminta maaf kepada Bik Nah karena sudah dikuncikan. Yanti merajuk atas sikap Farina, ia meminta kepada Gana untuk berhenti bekerja. Walau Gana tahu, Yanti adalah bibit-bibit penyakit, tapi ia masih butuh tenaga Yanti. Setidaknya sampai ia mempunyai orang baru yang sebayaan dengan Bik Nah untuk menggantikan Yanti.


"Dan saya mau, kamu pakai baju yang tertutup dan kerudung! Jangan terbuka-buka kayak begini. Dosa, Yanti!"


Yanti mendongak dari tundukkan nya. "Tapi, saya enggak punya baju kayak, Ibu. Semua baju saya kayak begini, Bu."


"Ya udah pakai baju---"


"Baju seragam saya juga sudah kekecilan, Bu." tahu kalau Gana akan memintanya pakai baju seragamnya kembali, buru-buru wanita ini menyergah.


Gana menghela napas. Rasanya ia jenga sekali dengan sikap Yanti yang terlihar di manja-manja kan. "Ya udah, kamu nanti pakai baju saya. Saya juga bisa belikan yang baru,"


Yanti tersenyum mengangguk walau dalam hatinya memaki. "Malas banget! Aku kan masih muda, masa penampilannya harus tua macam mereka, huh!!" Yanti membatin. Ia malas jika harus memakai gamis dan kerudung seperti para bidadari hati mafia.


Setelah dirasa selesai. Gana berlalu dari kamar Yanti untuk melangkah ke meja makan. Di sana sudah ramai untuk makan siang. Para suami yang ditemani para istri sedang menikmati santapan menu bersama anak-anak. Apalagi anak-anak habis berenang, mereka semua mengadu sudah sangat lapar sekali.


"Sini, Sayang," Ammar bangkit dari kursi saat melihat Gana tiba. Ia memundurkan kursi di sebelahnya untuk mempersilakan Gana duduk. Ia takut Gana masih marah padanya karena salah paham.


Para ketiga mantan mafia berkelakar. "Rayu dulu, sebelum malam ribut lagi." dan ucapan Farhan ditimpa gelak tawa oleh Mahendra dan Alex.


"Bangsatt!" dengus Ammar kepada mereka.


"Bancat ituh atah cih?" sambil mengunyah brokoli, si keriting bertanya. Buru-buru Anna membetulkan. "Enggak boleh ngomong gitu lagi, ya, Nak. Dosa."


Adela membulatkan mata. "Tenapa doca, ante?"


Gana mencubit perut Ammar. "Makanya kalau ngomong dijaga, Bang!"


Ammar meringis. "Mereka duluan yang mulai, aku hanya korban di sini. Padahal mereka yang genit!"


"Pret, banget!!" Alex memasukan daging ayam yang sudah dibubuhi sambal ke dalam mulut Ammar.


"Mulutnya si Ammar memang kudu disambelin," imbuh Mahendra.


"Nih, Pah. Minum ...," melihat Papanya kepedesan, Aurora menyodorkan air minum kepada Ammar. "Makasih, Nak," ucap Ammar sebelum menengguk air.


"Duh calon mantuku. Baik banget kamu, Nak. Perhatian sekali kepada orang tua." Mahendra tersenyum menatap Aurora.


"Calon mantu itu apa, Om?" tanya si lugu.


"Kalau sudah besar. Semisal Rora jadi menikah dengan Kakak Dava. Maka Rora akan jadi menantu Tante dan Om," Mulan menjelaskan. Mata indah Mulan berbinar manakala menyebutkan kata menantu kepada Aurora.


Aurora melongo hebat dan menjawab dengan suara nyaring tidak percaya. "Menikah sama Kak Dava??"


Yang disebut memberikan raut senang. Saking bahagianya sampai gigi-geligi Dava terlihat semua saat saat tersenyum memandang Rora. Masih kecil padahal, tapi ia memang sudah sayang kepada Rora sejak mereka masih kecil.


Rora terdiam, dari raut wajahnya ia seperti tidak mau. Malah ia memilih menatap Falan yang sedang makan bareng sepiring dengan Taya.


"Anakmu bisa nikahin anakku, kalau bisa hapal 30 juz!" tantang Ammar.


Mahendra membulatkan mata dengan permintaan Ammar. Ia memegang bahu Dava. "Gimana 'tuh, Nak?"


Dava si manis, tetap mengangguk. Ia menatap Ammar dengan senyuman sayang kepada Rora. "Dava bisa, Om!"


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Duh, Yudhistira Adhava Mahendra. Anak baik yang perjalanan cintanya nanti bersama Malvinia Aurora tidak akan semudah untuk di jalani, mungkin melebihi Ammar wkwkw. Maapkan Author, sayang❤️❤️😘.


Haha. Clue ya dari aku. Dan gatau kapan rilis dan mau di letakan di mana, hihihi. Sekarang mah nikmatin aja dulu Abang sama Adek sampai lahiran anak ke tujuh.


Makasih banyak atas doa-doa dari kalian biar aku sehat. Moga kalian juga sehat ya. Mohon maaf lahir batin juga, karena besok Insya Allah kita akan mulai puasa.


Follow IG ku ya. @megadischa