Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Adek Sayang Abang.


Sampai tengah malam, Ganaya terus muntah dan muntah. Membuat Ammar tidak bisa tidur sama sekali, untung saja malam ini Alda tertidur pulas. Lelaki itu bisa leluasa menjaga istrinya. Menemaninya bolak-balik ke kamar mandi, memijatnya dan membalurkan minyak kayu putih.


Dan, di pukul dua pagi, Ammar membawa Gana ke Rumah Sakit milik Mamanya, di temani Papa Galih dan Mama Difa. Wanita itu masuk ke UGD untuk di periksa dalam kategori gawat, karena setelah bekali-kali muntah, dirinya tidak sadarkan diri.


Saat ini Gana sudah terbaring di brangkar pasien. Jarum infus sudah menancap di punggung tangan sebelah kanan. Ammar sempat panik karena selama di perjalanan Gana tidak kunjung sadar, dan syukurlah sekarang Gana sudah siuman.


"Mama dan Papa pulang saja dulu ke rumah. Biar Gana, Ammar yang jaga," ujar Ammar kepada kedua mertuanya. Ia kasian, karena sudah dua jam Mama dan Papa menunggu di sini. Para lansia itu pun butuh istirahat dan beberapa jam lagi akan menjelang subuh.


Melihat Gana sudah berangsur membaik. Mama dan Papa mengiyakan.


"Kabari kalau sudah masuk kamar perawatan, ya. Nanti setelah sarapan pagi Mama dan Papa akan kesini lagi." ucap Mama.


"Jaga Gana, Ammar." timpal Papa.


Ammar mengangguk. "Iya, Mah, Pah." ia membungkuk, mencium tangan kedua orang tua istrinya yang akan pamit pulang.


"Tolong titip anak-anak, Mah, Pah." sambungnya lagi.


"Iya, Nak. Kamu jangan khawatir." jawab Mama. Papa mendekat lagi ke pembaringan Gana.


"Kok duduk?" tanya Papa. Ia bergegas membantu Gana yang ingin beranjak duduk menyandar di punggung ranjang.


"Pegal, Pah. Baring terus."


"Udah enggak mual 'kan, Nak?" tanya Mama.


Gana mengangguk. "Masih sedikit, Mah."


"Obatnya mungkin masih bekerja. Kamu yang sabar." timpal Mama.


Gana mengangguk datar. Terlihat dari kilang matanya, begitu sendu.


"Sehat, ya, Nak. Papa dan Mama pulang dulu." Papa mencium kening Anaknya, yang sembilan tahun lalu sudah ia anggap mati. Pun sama dengan Mama.


"Kalau memang hamil lagi enggak apa-apa. Jangan sedih." Mama menasehati. Ia mencium pipi Gana.


Gana mengangguk dengan air mata menggenang. Mama dan Papa pun akhirnya berlalu dari pandangan Gana. Ammar mendekat dan duduk di tepi ranjang, menatap istrinya. Ia genggam tangan Gana dan wanita itu melepasnya paksa. Ia memalingkan wajah, malas menatap lelaki yang sudah menikahinya selama sebelas tahun.


Pada saat Gana datang ke UGD. Dokter mendiagnosa Gana dengan penyakit Gastritis akut (maag) yang disertai Vomitus atau muntah-muntah. Tapi, setelah di kaji lagi. Gana mengaku sudah telat haid dua minggu. Dokter jaga curiga bahwa Gana tengah hamil. Dan tengah mengalami Hiperemesis Gravidarum hebat (mual dan muntah pada saat awal-awal kehamilan).


Dokter jaga meminta Gana untuk memeriksakan air urine nya. Dan hasil laboratoriumnya masih negatif. Tetapi, Dokter tetap menyarankan agar besok Gana menjalani USG kandungan. Siapa tahu kadar hormon HCG nya masih rendah jadi belum tampak pada urine.


Hal itu lah yang membuat Gana ketar-ketir. Mama dan Papa pun sama, mereka kasihan kalau putrinya benar-benar hamil lagi. Berbeda dengan Ammar yang malah terus berdoa agar Gana memang benar-benar hamil.


Ammar tahu istri nya merajuk. Karena setiap Gana positif hamil, pihak yang akan ia salahkan adalah Ammar. Tersangka dalam penanaman kecebong-kecebong lincah di dalam ladang per bungaan nya.


"Adek mau minum?" tanya Ammar lembut. Ia kembali menggenggam paksa tangan Gana dan tidak membiarkan Gana untuk melepasnya. Gana menggeleng dengan wajah masih berpaling.


"Minum, ya, Sayang? Bibirmu kering 'tuh." Ammar meraih air botol kemasan di atas nakas.


Ammar menyodorkan langsung ke bibir Gana. Gana hanya diam membisu. Air matanya menetes-netes. Dalam hati kecilnya, ia yakin kalau dirinya pasti positif hamil. Gana tidak pernah telat haid. Tanggal menstruasinya akan selalu tepat setiap bulan.


"Mungkin saja kamu memang kena maag, Dek. Bukan hamil." Ammar berkilah. Ia hanya ingin menyenangkan hati istrinya untuk tidak menangis lagi. Ammar ingin Gana mengisi perutnya dengan air putih. Karena kata Dokter Gana butuh mengisi tubuhnya dengan cairan yang baru untuk mengganti cairan yang sudah banyak terbuang.


"Perasaan aku enggak telat makan, Bang! Aku yakin, aku pasti hamil lagi! Ini tuh gara-gara Abang yang lupa pakai pengaman!!" dengkus Gana. Manik matanya menuntut menilik Ammar. Ia sampai mencubit tangan suaminya karena benar-benar kesal.


Dalam bulan kemarin, ada malam di mana Ammar lupa memakai permen karet. Sedang asik bercumbu rayu, lupa kalau persediaan permen karet sudah habis. Dan apa mau di kata, Ammar tidak akan bisa menahan.


Ia rayu Gana, lelaki itu bilang tidak akan kebobolan, karena hanya sekali tidak pakai dan juga Gana tengah memakai alat kontrasepsi IUD.


Padahal Gana sudah menolak dengan susah payah agar menunda percintaan mereka malam itu. Tetapi, Ammar sudah kepalang ingin. Hasratnya tidak bisa terbendung. Dan hasilnya, wanita itu berhasil telat datang bulan.


Seharusnya Ammar sudah bisa belajar dari pengalaman. Macam pasutri seperti mereka, yang sangat-sangar subur harus antisipasi dengan memakai alat kontrasepsi dobel. Yang terjadi sekarang, pernah terjadi dulu, terbukti Alda hadir di antara mereka.


"Maaf, Maaf! Kesel aku sama, Abang! Sana 'ah!" Gana mengusir Ammar untuk menjauh darinya. Sampai botol minum jatuh ke lantai dan membuat kebasahan di sana. Ammar mencoba tenang, tidak mau mengikuti hawa emosi.


Ammar tetap memaksa untuk berada di sini. Tidak mau pergi. Air mata Gana luruh terus menerus. Lelaki tidak tega. Lantas memeluk wanita itu untuk masuk ke dalam dadanya. "Maafin, Abang. Sayang."


Gana meronta dalam dekapan itu. "Abang tuh enggak ngerasain gimana capeknya hamil! Ngurus bayi pas baru-baru lahir. Anak kita juga udah lima! Masih kecil-kecil. Kenapa 'sih Abang enggak mikir kesitu? Mau nya bikin anak terus, nggak pernah mikir sikon! Gimana kalau anak-anak tau, mereka mau punya adik lagi? Gimana Alda yang sampai saat ini aja belum bisa jalan? Mikir dong, Bang!!"


Mendengar unek-unek Gana, membuat bulu kuduk Ammar meremang. Hatinya berdesir, karena istrinya seakan tertekan. Walau begitu, tetap saja di sudut hatinya Ammar tetap ingin mempunyai anak banyak. Ia ingin di perhatikan oleh anak-anaknya di hari tua. Melihat Mama dan Papa nya yang hanya memiliki dirinya dan Maura, membuat Ammar sedih.


Pasalnya, ia dan Maura sama-sama sibuk. Miris hati Ammar jika Papa meminta untuk di tengok, di pijat dan ditemani bermain burung peliharaan. Ammar selalu meminta Gana untuk menggantikan dirinya, menjenguk Mama-Papa, jika dirinya sedang pergi ke luar kota.


Walau pada kenyataannya, spekulasi Ammar tidak selalu benar. Kenyataan yang sering terjadi, di mana orang tua bisa menjaga sepuluh anak sekaligus, tetapi sepuluh anak belum tentu bisa menjaga orang tua.


"Maafin Abang, ya, Sayang. Abang salah." jika istri sedang merajuk, yang di inginkan istri memang hanyalah pengakuan salah dari suaminya, walau sang suami tidak salah seratus persen.


Gana terus saja menangis. Berkali-kali Ammar sampai membekap mulut Gana agar tangisannya tidak terdengar dan mengundang kegaduhan. Karena saat ini mereka sedang berada di UGD, banyak pasien juga yang sedang gawat. Walaupun Ammar di kenal sebagai anak dari pemilik Rumah Sakit dan mereka pun amat menghormati, tetap saja Ammar dan Gana harus menjaga sikap.


"Aku mau pulang!! Pulang, Bang! Pulangg!" Gana berteriak lagi. Wanita ini terlihat stress. Ia mendorong dada Ammar untuk menjauh darinya. Dekapan itu pun terurai.


"Di sini dulu. Biar kamu istirahat." Ammar memaksa. "Abang tuh enggak mikirin anak, ya? Anak-anak nanti gimana kalau aku di sini, Bang? Abang mikir dong!"


Di rasa Gana sudah keterlaluan, karena terus-menerus memakinya tanpa henti sedari tadi. Dan Gana juga yang susah untuk diberi pengertian. Ammar menatap tajam istrinya. Rahang Ammar mengetat keras.


"DIAM KATA KU! Kamu tau 'kan, Abang paling tidak suka dibantah!" nada bariton Ammar yang selama menikah jarang terlontar kepada Gana, kini terdengar dengan lantang.


Gana hening. Ia tertunduk bisu. Sejatinya ia tahu, di balik sisi kelembutan Ammar. Lelaki itu juga punya perangai yang menakutkan. Siapakah Ammar dulu? Seorang mafia kejam yang seharusnya di rajam sampai mati.


"Maa---maaf, Bang." Gana meminta maaf. Ia takut.


"Kalau pun Abang memintamu untuk melahirkan sepuluh anak, kamu harus siap, Dek! Paham?"


Gana mengangguk dalam tundukan nya. Ammar menghela napas panjang. Ia kembali mendekap istrinya. Ia tidak akan bisa lama-lama menyentak istrinya seperti itu.


"Itu hanya perumpamaan, Sayang. Sejatinya, hanya Allah yang bisa mengabulkan setiap permintaan. Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Tidak tahu misteri apa yang akan terjadi di balik memiliki anak banyak.


Kalau memang kamu hamil lagi. Berarti di pandangan Allah, kita mampu. Kita sanggup. Kita bisa. Maka jangan pernah mengeluh, karena apa yang kamu keluhkan sekarang. Mungkin hal itu yang banyak dinginkan oleh orang lain. Di tangisi oleh orang lain dalam sujud nya."


DEG.


Sesak dalam dada Gana, mulai mengendur. Wanita itu berdesir. Ia tidak menyangka sudah berubah menjadi wanita yang kurang bersyukur.


"Maafkan Adek, Bang. Adek khilaf." Gana mengalungkan kedua tangannya di leher Ammar. Meletakan kepalanya di dada lelaki itu. Jantung mereka saling bertaut kembali bersatu dalam romansa romantis.


"Jika benar kamu hamil. Mulai saat ini, Abang akan mengurangi intensitas pekerjaan di perusahaan. Akan membantu kamu lebih ekstra untuk mengurus anak-anak. Abang janji. Yang penting kita banyak berdoa, minta kemudahan sama Allah untuk menjalani hidup."


Air mata kesedihan yang sejak tadi menetes, kini berganti dengan derai haru. Gana tersenyum dan mengangguk. "Makasih banyak, Bang. Adek sayang Abang."


"Abang yang lebih sayang, Adek."


...🌾🌾🌾...


Bismillah guys. Aku mulai season dua. Karena kita akan masuk ke bulan Ramadhan, dan aku belum pernah membuat scene ceritaku di suasana bulan puasa. Maka, aku akan membuat suasana tersebut di keluarga kecil Abang.


Di sini mungkin minim konflik. Tapi tetap aja ada, hitung-hitung sebagai pemanis. Ya gitu lah hidup, gak akan mulus-mulus aja 'kan? Jangan dulu ngebayangin, wah pasti seru nih. Aku takut di luar ekspektasi kalian🤭. Tapi sebisa mungkin aku sajikan yang terbaik. Aku tuh gak minta macam-macam 'kok. Tolong hargai cerita ini dengan LIKE DAN KOMENAN dari KALIAN.


Dan aku mau promoooo nih. Mampir dong ke cerita Geisha dan Genta. Di sana udah ada 11 bab. Kali aja cinta sama ceritanya, kayak kalian cinta sama Gana dan Ammar. Hehe. Kalian bisa baca cerita mereka selagi nunggu Abang dan Adek aku update.


Ini covernya. Cari di profil ku ya. ( di Mangatoon/Noveltoon)