
"Punaaaa atuh, ih!" Adela meraih boneka kesayangannya dari tangan Alda.
"Awwwwwwwwwww!!" Magatha Aldavia Artanegara tidak mau kalah, bayi yang seiring perjalanan waktu sudah berubah batita, berusia dua belas bulan itu berteriak nyaring. Sepertinya Alda kesal, ia menarik baju Adela.
"Papaaaa!" seru Adela kepada Ammar masih sibuk menatap kolam ikan kesayangannya di halaman depan rumah. Adela berhasil melepas tangan Alda dari bajunya.
Ammar menoleh menatap kedua anaknya yang sedang main di gazebo dekat kolam. Melihat Alda bersikeras menarik boneka barbie yang tengah Adel genggam.
"Gantian sama Adek, Nak." dari jauh Ammar menasehati.
Mahika Nadela, menggeleng. "Ndak mauh 'ah. Nanih kepayanah di cabut agih, Pah!"
Dan Alda berteriak lagi dengan kedua tangan mengepal, lantas menangis.
"Huwaaaaaaaaaaaaa ... Apah!" Alda seraya meminta belas kasih kepada Ammar untuk di hampiri.
Anak itu sudah bisa berdiri namun belum bisa berjalan. Alda memang sedikit lambat dibanding Kakak-kakaknya, yang sudah bisa melangkah walau tertatah-tatah dalam waktu usia setahun. Ia masih saja menangis dan mencoba meraih boneka yang Kakaknya pegang.
Mahika tidak perduli Magatha menangis. Yang penting bonekanya aman. Ia mengelus-elus rambut barbie nya, bermain sendiri. Karena Alda terus saja gaduh, akhirnya Ammar mendekati mereka ke gazebo.
Ammar meraih Alda dan mengusap air mata di wajah anak itu, dan mengecupnya berulang kali.
"Apahh ... tuh!" Alda masih menatapnya sedih sambil mengulurkan tangan ke arah Adel seraya ingin meminta boneka barbie tersebut.
"Kak, Papa boleh pinjam?"
Si rambut keriting yang sekarang tengah di kepang dua, mendongak ke arah Ammar. Mahika tetap menggeleng.
Dan Magatha menangis lagi. Ammar hanya bisa menghela napas panjang, menekan lelah. Hari libur seperti ini seharusnya ia bisa me time dengan para ikan-ikan kesayangannya di kolam. Tapi, setiap ia ingin bersantai. Ada-ada saja masalah-masalah kecil yang terjadi. Seperti sekarang.
"Kakak ambil boneka yang lain, kasian nih Adek nya juga mau main."
"Main ajah yang ain, janan inih!" Mahika bangkit berdiri dan turun dari gazebo. Ia meninggalkan Ammar dan Alda begitu saja untuk masuk ke dalam rumah. Anak keriting itu kesal karena Ammar lebih membela Alda.
"Ya Allah, tuh, anak! Kalau udah ngambek persis kayak emaknya!" dengkus Ammar.
Dan Gana langsung keselek mecin, karena di omongin. Haha.
Alda menangis lagi. Si rambut tipis, memeluk leher Papanya. "Main sama Papa aja, ya, Nak." bukan karena Alda tidak memiliki boneka. Tapi, Ammar saja yang malas masuk ke dalam rumah untuk mengambil mainan Alda. Ia masih ingin memantau ikan-ikan peliharaan nya.
Dalam sesegukan nya, Alda mengangguk. Ammar menggendongnya dan mereka duduk di tepi kolam.
"Adek Alda, kenapa? Kok nangis?" tanya Maizana Attaya, kakak ketiganya. Attaya tidak sengaja mendengar suara Alda menangis.
Aldela menghampiri Kakaknya yang sedang duduk di atas sofa sambil memakan biskuit dari toples. Sedangkan Aidan duduk melantai di atas karpet tengah main PlayStation.
"Tadi dedek mauh inih, Kak." Adela menunjuk barbie yang sedang ia peluk di dada.
"Ya kasih dong! Kan kasian dedek. Dulu juga Kakak selalu berbagi sama kamu." Maizana memasukan lagi biskuit berikutnya ke dalam mulut. "Kalau udah jadi Kakak, harus banyak ngalah. Kan kata Mama gitu." sambung Taya.
Mahika hening. Ia tatap barbie yang satu bukan lalu dibelikan oleh Mama Difa sebagai hadiah ulang tahun. Sebenarnya Mahika ingin memberikan boneka itu, tapi ia mundur maju. Takut kalau Alda akan mencabut kepala bonekanya. Dan pasti rusak.
"Tapih, watuh ituh. Bonekah aku di lusakin cama dedek."
"Namanya juga masih kecil. Belum ngerti. Barbie mu 'kan juga masih banyak." seakan tahu Kakaknya lebih membela adiknya, Adela merungut. Ia memilih turun dari sofa dengan air mata menggenang.
"Adek!" seru Taya. Dan Adela tetap berlalu meninggalkan ruang televisi. Ia tengok lagi ke arah luar, melihat Alda sudah bercanda-canda dengan Ammar. Anak itu menunduk lagi. Dirinya cemburu. Tiga tahun menjadi kesayangan keluarga sebelum Magatha lahir ke dunia, yang tidak jadi menjadikan dirinya sebagai anak bungsu.
"Masukin sayurannya, Nak. Pelan-pelan, ya. Mama mau pipis dulu." ucap Gana kepada Rora sambil melangkah ke kamar mandi di belakang dapur.
"Kak!" seru Adel. Ia menarik dress rumahan Rora.
"Iya." jawab Rora sambil memasukan wortel, kentang ke dalam kuah sop sesuai titahan Gana.
"Main, yuk." ajaknya dengan nada memelas.
"Kan Kakak lagi masak sama Mama. Nanti aja mainnya, ya. Udah sana, jangan di sini. Main dulu aja sama Taya." usir Rora halus.
Bukannya ia tidak senang ada Adela di sini. Tetapi, karena ia tahu. Adiknya ini hanya akan mengacak-ngacak bumbu-bumbu yang ada, seperti minggu lalu. Adel memasukan banyak garam ke dalam adonan tepung tempe mendoan. Dan dirinya lagi yang dimarahi Mama karena tidak bisa menjaga Adik.
Bibir Adela mencebik sedih. Terlihat dada nya bergerak naik turun menahan sesak. Perlahan air bening memupuk di kelopak matanya. Adela berbalik. Meninggalkan dapur. Ia jinjing barbie nya dengan air mata mulai menetes di pipi.
Ia pikir, hari libur. Adalah hari yang menyenangkan. Bisa berkumpul dengan semua Kakak-kakaknya, karena mereka tidak sekolah. Pun dengan Ammar karena lelaki itu libur bekerja. Nyatanya, Adela tetap main sendiri.
...🌾🌾🌾...
Magatha di letakan di kursi khusus untuk makan di samping kursi Ammar. Sedangkan Taya dan Rora duduk bersisihan dan di hadapan mereka ada Aidan yang sudah tidak tahan menahan lapar, sedari tadi ia mengemili kerupuk. Gana sibuk menuangkan nasi di piring suami dan anak-anaknya.
Dan.
"Kok anakku, kurang satu?" Ammar yang menunggu makanannya siap untuk di makan, tengah memainkan gawai, lantas mendongak ke arah istrinya. Pun sama dengan Taya, Rora dan Aidan yang baru sadar kalau Adela tidak ada.
"Adela!!" seru Ammar.
"Adek!" ketiga Kakaknya ikut berseru. Dan tidak ada jawaban.
"Eyden coba lihat ke kamar." titah Papa. Aidan mengangguk dan bangkit dari kursi.
"Bukannya tadi sama Abang di depan?" tanya Gana. Kini tangannya menuangkan sayur sup di piring suaminya.
"Iya memang. Tapi tadi ngambek, berebut boneka sama Alda. Terus masuk ke dalam." Ammar menjawab santai. Beda dengan Gana yang mulai merasa was-was. Pasalnya selama ia sibuk memasak, dirinya tidak sama sekali melihat Adela.
"Bukannya tadi Adek ke dapur, Kak? Mau main sama Kakak?" bisik Taya kepada Rora.
"Iya. Tapi, aku suruh ke ruang tivi main sama kamu dulu."
Dan.
Wajah kedua Kakak ini mendadak tegang. Merasa mempunyai salah kepada Adik nya.
Krek.
Pintu kamar tidur Mama dan Papanya Aidan buka. Selama ini, Adela dan Alda masih satu tempat tidur dengan Gana dan Ammar. Yang sudah bisa tidur sendiri di kamar masing-masing baru Rora, Taya dan Aidan.
"Kok enggak ada, ya?" kamar tampak sepi. Kamar mandi pun gelap, menandakan kalau tidak ada orang di kamar ini.
Aidan kembali ke meja makan. "Di kamar enggak ada, Mah, Pah."
"Ha?" semua melongo. "Masa, Dek?" Gana memastikan. Pasalnya Adela adalah anak penakut. Ia tidak akan main jauh-jauh ke sudut rumah jika tidak bersama Mama, Papa dan para Kakaknya.
Gana memutuskan untuk mencari ke ruang setrika, siapa tahu Adela sedang bersama Bik Sumi. Biasanya siang-siang begini, Bik Sumi sedang menyetrika dan Adela suka menemani sambil bermain boneka sendiri.
"Sejak nyetrika, Bibik enggak lihat si Eneng, Bu." Gana semakin panik sesaat art nya menjawab seperti itu. "Tolong, Bik. Cari Adel." Gana resah.
Ammar dan triple A mulai bangkit dari duduknya untuk mencari Adela.
"Adel!"
"Adek!"
Semua berseru memanggil si anak keriting tersebut. Setiap kamar yang ada di rumah ini, Ammar dan Gana geledah. Sudah menelpon satpam di luar untuk menyusuri pekarangan rumah dan mengecek cctv siapa tahu Adela keluar gerbang. Dan tetap saja anak itu tidak ditemukan.
kebun belakang, pelataran kolam renang, garasi dan sudut-sudut terkecil di rumah ini sudah Gana dan Ammar datangi dengan raut gelisah. Wajah Gana memerah menahan takut, wanita itu menangis karena sudah setengah jam anaknya tidak ditemukan.
"Abang sih! Jagain anak aja enggak bisa! Aku kan lagi masak tadi!" Gana meluapkan kekesalan kepada Ammar.
"Kamu nya jangan panik dulu, Dek. Abang yakin 'kok Adel enggak kemana-mana. Masih di sini."
"Ya, tapi, mana? Udah dicari-cari kemana-mana enggak ada!" nada Gana melengking.
Taya, Rora dan Aidan hanya bisa diam jika Mamanya sudah marah dan menangis. Ammar menghindari perdebatan. Ia memilih memeriksa lagi, padahal dirinya sudah bolak-balik ke sana ke sini, tapi anak itu belum juga di temukan.
Gana menangis di sofa. Ia memanggil-manggil nama Anaknya. Taya, Rora dan Aidan kembali mencari Adela dengan rasa bersalah di dada.
Dan.
"Mah, Pah. Adek di sini!" seru Aidan.
Semua bergegas dengan langkah blingsatan untuk masuk ke dalam kamar utama yang ditempati Gana dan Ammar selama ini. Semua menautkan alis kaget, pasalnya kamar itu sudah di cek tiga kali dan tidak kunjung menemukan Adela.
"Mana, Dek?" tanya Gana ketika baru masuk di ambang pintu. Ada Ammar di belakangnya bersama Taya dan Rora. Mereka tidak melihat ada Adela di sini. Kamar tetap sepi.
Aidan menunjuk ke kolong tempat tidur. Dan semua membungkukkan tubuh untuk ikut menyorot ke arah yang Aidan tunjuk.
"Astagfirullahalladzim!" seru Gana dan Ammar bersamaan.
Ada Adela yang tengah tidur memeluk barbie miliknya dengan kelopak mata membengkak di lantai dingin di bawah tempat tidur.
...🌾🌾🌾...