Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Tidak Sadarkan Diri.


Ammar menyandar lemah di sandaran kursi kerjanya dengan kedua tangan terlipat di dada. Sorotan matanya jauh menerawang apa yang ingin ia putuskan sekarang kepada Farhan. Terus-menerus menatap sudut ruangan kerjanya yang mewah, sesekali ia menghela napas, karena idenya terasa buntu.


"Bagaimana?" Farhan kembali bertanya. Ia juga menatap Ammar dengan kedua tangan terlipat didada, kaki kanan terangkat dan diletakan di atas kaki kiri. Pria berjas hitam itu menunggu keputusan Ammar.


Baru saja semalam Ammar mendapatkan kebahagiaan, tapi siang ini ia dapat berita yang mengejutkan.


"Mereka harus mengganti apa yang sudah kita keluarkan. Modal untuk pembiayaan pembuatan granat sudah berjalan setengah, aku tidak mau rugi, Han!" Ammar menurunkan tatapannya ke arah Farhan.


Farhan tertawa mengejek. "Ya, tapi bagaimana caranya? Sedari tadi itu yang aku pertanyakan, aneh sekali kamu, seperti orang yang sedang tidak fokus!"


Farhan merasakan keanehan yang luar biasa, sudah tiga jam ia duduk di sini, tapi ketuanya tidak juga memberikan solusi seperti biasa. Ammar adalah lelaki yang cerdas, ide brilian dari otaknya akan selalu mengalirkan keputusan yang jenius.


Benar memang, bayangan Gana terus saja hinggap dibenaknya, membuat dirinya tidak konsentrasi.


"Ancam Alex! Jika dia nekat tetap ingin membatalkan kerja sama dengan kita dan beralih kepada yang lain. Habisi dia!" Ammar memutuskan. Kedua matanya menyalak tajam penuh kebencian.


"Kamu yakin, Ammar?" wajah Farhan mulai gugup.


Habisi? Membunuh 'kan maksudnya? Dalam dunia mereka, bunuh-membunuh memang sudah biasa, tapi ini? Alex? Sahabat mereka?


"Tidak ada jalan lain. Aku tidak ingin rugi! Di sana 'kan Alex sebagai Nakoda dalam organisasi itu, dia yang menyetir mereka selama ini. Mengapa bisa dia berpaling dari kita? Kita 'kan sahabatnya?"


"Mungkin, ia ingin mendapatkan harga yang lebih murah lagi. Apa sebaiknya----"


"Bahan-bahan peledak yang selama ini kita jual, kualitasnya sangat terbukti. Kekurangan hanya satu, kita ilegal."


"Aku tidak mau tau, jika Alex masih saja kokoh pendirian untuk membatalkan kerja sama dengan kita! Beri dia pelajaran, bawakan kepalanya untukku! Lumayan kan, bola matanya bisa kita jual."


Farhan hanya menggeleng samar. Semakin kesini, Ammar semakin kejam dan beringas. Tidak perlu itu sahabat atau bukan, jika tidak menguntungkan, nyawa tidak lagi berharga.


"Baiklah, aku akan melakukan negosiasi dengan Alex. Lalu, bagaimana dengan perkebunan tembakau? Kata anak buah ku yang berjaga di sana, ada dua mobil yang sempat mondar-mandir disekitar gerbang dua hari lalu. Sepertinya sedang mengintai tempat kita, aku takut mereka adalah polisi."


Raut wajah Ammar kembali tegang. "Masa?"


Farhan mengangguk. "Lusa, rencananya aku akan menyuruh anak buah untuk melakukan perjalanan laut dengan kapal pesiar pribadi kita. Lalu setelah itu akan dilanjutkan dengan perjalanan darat sampai ke perbatasan Hongkong."


"Jangan lupa sogok petugas perbatasannya seperti biasa. Aku akan tambahkan lagi pasukan anak buah untuk mengikuti perjalanan anak buah mu. Ini proyek mahal, Mr. Aufang sudah mengirimkan dana triliunan kepadaku."


Farhan mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu." Farhan bangkit dari kursi sambil merapihkan kemejanya.


Belum genap memutar tubuh dan Ammar baru saja melangkah keluar dari balik meja, ia bermaksud ingin mengantar Farhan sampai ke luar pintu. Namun pintu ruangan yang sedari tertutup rapat langsung terbuka lebar.


"Gana ...?" seru Ammar. Lelaki itu kaget setengah mati. Mendapati wanita cantik yang paling ia cintai, ketiga setelah Mama dan Kakaknya.


"Kemana Denis dan Bima? Mengapa Gana bisa mudah masuk tanpa penjagaan? Apakah tadi dia dengar pembicaraanku dengan Farhan?" Ammar membatin dengan perasaan campur aduk. Ia senang jika wanita ini datang, tapi tidak di waktu seperti ini.


"Maaf ya, aku datang tidak memberi kabar." ucap Gana tersenyum. Menatap senyum manis dan tatapan biasa saja seolah tidak mendengar apa-apa. Membuat Ammar begitu lega. Dirinya tidak diketahui.


Ammar mengangguk. Gana sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada Farhan, dan Farhan menyambutnya dengan senyum ramah.


Farhan menatap Ammar, seraya kode agar dijelaskan siapa wanita mungil dengan berbalut dress berwarna kuning di tubuhnya. Tapi Ammar tidak mau menjelaskannya. Ia hanya menepuk bahu Farhan untuk terus berjalan sampai ke pintu.


"Kamu duduk dulu ya." titah Ammar kepada Gana, sambil melangkah keluar.


"Baik, Ammar." Gana menurut untuk duduk dulu di sofa.


Sesaat langkahnya sudah sampai diluar, pintu ruangan langsung ia tutup rapat. Mereka langsung melangkah sampai ke depan pintu lift.


"Wanita itu siapa? Kira-kira dengar enggak apa yang kita bicarakan?" tidak hanya Ammar, tapi Farhan pun gelisah.


"Kayaknya enggak, dari wajahnya. Dia tenang-tenang aja." jawab Ammar santai.


"Dia memang siapa?" Farhan mengulangi.


"Calon istri, doain ya." Farhan menaikan satu alisnya. "Hah? Masa?"


Ammar mengangguk. Percaya diri sekali dirinya. "Kamu bisa kan turun sendiri? Enggak perlu sambil aku neneninn dong, untuk sampai ke bawah---"


Farhan mendengus. "Bededbbah!"


Ammar tergelak tawa renyah. Ia memencet tombol lift dan seketika pintu itu pun terbuka. Mendorong Farhan agar cepat masuk.


"Bbye ... kabarin aku ya."


"Kabarin kemana?"


"Sembarangan kalau ngomong! Kamu tuh kenapa, kayaknya aneh banget!"


"Lanjut di hape aja, daaahh." Ammar melambaikan tangan kemudian berlalu dengan langkah panjang menuju ruang kerjanya.


Dadanya berdegup bahagia, mimpi apa semalam? Kenapa sang permaisuri hati bisa datang ke sini untuk menemuinya.


"Selama aku jadi sahabatnya, belum pernah sekalipun melihat Ammar begitu senang ketika didatangi wanita."


"Atau jangan-jangan, itu----?"


Farhan bergegas ingin keluar untuk menyusul Ammar, sayangnya pintu lift sudah tertutup. "Mungkinkah itu wanita itu yang selama ini Ammar sukai?"


"Ada apa ya, tumben sekali Gana sampai ke kantor?" tanya Ammar kepada dirinya sendiri, setelah langkah kakinya terhenti didepan pintu.


Lelaki itu terlebih dulu, merapihkan rambut nya, meng hah 'kan napas dan yang terakhir mengendus aroma wangi di jas-nya.


"Hemm ... perfect!" desahnya mantap.


Krek.


Ammar menyembulkan kepala dari balik pintu, kedua bola matanya langsung menangkap Ganaya yang sedang menatapnya juga dari sofa.


"Ada apa, Gana?" tanya Ammar begitu lembut, ia menghempaskan bokongnya di atas sofa yang sama. Ganaya memiringkan tubuhnya sedikit, agar bisa jelas menatap wajah Ammar.


"Kenapa?" ulanginya lagi.


Tanpa jeda, tanpa sendat dan pastinya dengan perasaan mantap, Ganaya berujar.


"Nikahi aku, Ammar!" Gana meraih tangan Ammar untuk di genggam.


"Nikahi aku, seperti permintaanmu kemarin malam. Aku mau jadi istri dan ibu dari anak-anakmu." Ganaya terus mendesak Ammar.


Wanita itu sudah tidak ada pilihan lain, selain meminta Ammar. Lebih baik menikah dan belajar mencintai lelaki ini, dari pada harus berjodoh dengan lelaki yang lebih tidak ia kenal.


Ganaya harus membuat adiknya bahagia. Dan ia juga ingin membalas sakit hatinya kepada Adri dan Asyifa. Dua pasangan laknat yang dengan teganya ingin memendam dirinya dalam suatu kebohongan.


Walau pada akhirnya Ganaya juga akan mendapatkan kebohongan yang fatal dari Ammar.


DEG.


Jantung Ammar memburu dengan hebat. Napasnya tersengal-sengal. Wajah tampannya begitu saja melongo. Dirinya terperanjat maksimal. Ia menatap Gana tanpa kedipan mata sama sekali.


Nyawanya seperti terhenti sampai di sini. Harusnya ia langsung berteriak senang, bukan malah melamun. Ammar masih tidak percaya.


"Ammar ..." seru Gana sambil menggoyangkan genggaman tangan mereka.


"Benarkah, Gana? Apa aku sedang bermimpi?" ucapnya pelan dengan raut wajah yang tiba-tiba lemas dan lemah.


Ganaya tersenyum. Ia tahu, saking bahagianya, Ammar sampai sulit menerima bahwa apa yang baru saja ia dengar adalah realita.


CUP.


Ganaya mengecup pipi Ammar. "Benar, Ammar. Ayo nikahi aku." sebisanya Gana merayu Ammar, agar lelaki itu mau. Walau tanpa di rayu, Ammar pasti akan setuju sekali.


"Kamu kenapa? Kok, tiba-tiba, mau?" ucapnya tanpa ekspresi.


"Kamu kan kemarin bilang, aku akan bodoh jika meninggalkan lelaki sebaik dan setampan kamu." Ganaya menjawil pipi Ammar. Walau rasa di sudut hatinya sakit sekali karena sudah berbohong. Dan Ammar pun pasti tahu akan hal itu, Ganaya memintanya bukan karena cinta.


Seakan sudah sadar dari lamunan yang tiba-tiba membuat tubuhnya bergetar. Bak, seperti di sinetron, Ammar langsung memeluk Ganaya. Mengunci erat tubuh wanita itu.


"Makasih, Gana ... makasih banyak." Ammar terus merancau dengan nada gembira yang tidak ada habis-habisnya. Sampai-sampai Ganaya sulit untuk bernapas, pelukan itu terasa kuat sekali. Tubuhnya yang mungil begitu saja di dekap oleh tubuh kekar dan berotot.


"Ammar ... tolong lepas! Aku sesak!!" Ganaya bergeliat, mencoba melepas tubuh Ammar sepihak.


"Eh----eh." seru Ganaya ketika tubuh Ammar begitu saja limbung ke sandaran sofa setelah pelukan mereka terlepas. Kedua mata Ammar terpejam. Dengan ritme napas yang mulai tidak terasa. Ammar tidak sadarkan diri.


"Loh, 'kok pingsan? Ammar ..."


***