Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Bolehkah Aku Ikut?


Ammar Pov.


Masih dalam pejaman mata, aku menggeliatkan tubuh. Sepertinya acara kemarin banyak menghabiskan energi dan sangat membuatku lelah, sampai rasanya tulang belulang ku remuk semua.


Dan tiba-tiba saja, ingatan tentang semalam kembali datang. Jujur, aku sedih. Gana menolak secara halus, bahkan menyebut nama lelaki keparatt yang aku benci.


Tapi aku tidak bisa kecewa dan marah. Karena aku tahu, aku yang memilihnya dalam posisi seperti ini. Aku tahu, dia masih tersandung cinta di masa lalu. Tapi aku yakin, kebersamaan kami akan merubah rasa di hatinya.


Aku sudah berjanji, dan akan aku tepati. Karena aku berfikir, dia mau menikah denganku, tidur bersebelahan dengan ku seperti saat ini dan melihat wajahnya setiap hari saja. Aku sudah senang dan cukup.


Aku bentangkan tanganku. Kok, kosong? Refleks aku membuka mata, mencari dirinya yang aku fikir masih berbaring di sebelahku.


"Gana ..." aku memanggilnya. Lantas aku menoleh ke arah pintu kamar mandi, yang sedikit terbuka tapi cahayanya gelap. Aku yakin dia tidak ada di dalam.


"Gana?" kemana dia? Apa mungkin di walk in closet miliknya? Aku langsung beranjak bangkit dan ... tunggu. Ada selimut yang membentang di pertengahan perutku. Aku tersenyum, ini pasti istriku yang menggelarnya.


Nyatanya Gana memang belum mengetahui diriku. Aku tipe lelaki penyuka hawa dingin. Tidak pernah memakai selimut ketika tidur. Apa mungkin Gana kedinginan? Ku lirik AC kamar, suhunya masih 23. Sedang lah menurutku, tidak terlalu dingin. Mungkin istriku bisa menerimanya.


Karena aku tau, Gana mempunyai riwayat asma. Dia tidak suka hawa yang terlalu dingin. Itu juga yang ingin aku tanyakan, adakah alat atau obat yang harus aku siapkan untuknya? Takut-takut penyakitnya kambuh.


Demi dia, aku tidak masalah jika harus dipakaikan selimut setiap hari. Aku menyeka selimut itu dan beranjak bangkit dari ranjang. Dan lagi-lagi sebelum aku masuk ke ruangan pribadinya. Aku terhenyak, ada sebuah sajadah dan sarung sudah tergelar dengan baik diatas karpet. Itu pasti Gana yang menyiapkannya.


Dadaku bergemuruh, ku lirik jam di dinding dan benar saja sudah jam enam. Cahaya matahari saja sudah mulai tampak dari atas ventilasi yang hordeng nya memang belum di geser.


Aku panik, aku takut Gana tahu kalau aku kebablasan, dan tidak shalat subuh, karena aku yakin dia pasti sudah membangunkan ku berulang-ulang untuk menitah shalat.


Buru-buru aku bangkit dan melipat sajadah dan sarung, segera aku letakan ditempatnya lagi agar Gana tidak curiga. Sebenarnya masalah ini yang membuat aku kelimpungan. Setiap waktu shalat, Gana akan menitahku.


Seperti tadi malam, dirinya menyuruhku untuk shalat Isya. Dan aku akan hanya menjawab iya, dan bilang shalat di mushola. Padahal tidak, aku diam di tepi kolam renang.


Sebenarnya hati ku terenyuh, aku membohonginya. Aku biarkan diriku semakin berendam di larutan dosa. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah sampai ditahap ini.


Aku tidak mungkin melepas usaha sampingan ku yang banyak memberikan keuntungan selama enam tahun terakhir. Dan dengan jalan hitam ini, membuat jiwaku berani tidak selemah seperti Ammar yang penuh tekanan di masa lalu. Aku mempunyai kekuatan untuk memberantas orang-orang yang tidak ku sukai.


Setelah menaruh sajadah dan sarung, baru saja aku ingin berbalik. Pintu kamar terbuka dan sosok wanita yang aku cinta hadir dari luar.


"Kamu baru bangun? Baru shalat ya?" Gana mendekat dan menyecar ku. Aku tersenyum, sambil mengusap tengkukku yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa. "Besok subuh nya jangan kesiangan lagi ya." ucapnya lagi.


"Iya sayang ..."


"Aku sudah masak. Kamu mau sarapan dulu? Atau mau mandi?"


"Masak?" jawabku. Aku kaget sebenarnya. Untuk apa dia memasak? Aku sudah membayar tiga pembantu, untuk apa ia masih bersusah payah.


"Aku masak sarapan buat kamu. Moga aja rasanya enak." Gana berjalan ke arah lemari pakaianku dan membukanya.


"Kamu mau pakai baju apa? Biar aku siapkan." mendapat perhatian seperti ini saja, rasanya aku ingin mencium kakinya. Hatiku bahagia, aku tau dia belum mencintaiku. Tapi sebisanya dia tetap belajar menjadi istri yang baik. Dan aku sangat senang.


"Mau pakai kaos? Kemeja atau ...?


"Eum ... kaos aja lah, dirumah ini kan." aku gemas dengannya. Aku hanya bisa tertawa. Dia yang bertanya, dia juga yang menjawab. aku lihat di ambilnya satu kaos berwarna kuning, lagi-lagi warna kesukaannya.


Mungkin aku akan memperbanyak warna itu, walau aku tidak terlalu suka. Lalu ia membungkuk sedikit untuk meraih celana santai dan dalaman ku, lantas diletakannya di bibir ranjang.


"Kamu mau mandi atau makan dulu?" tanyanya lagi sambil mengusap peluh di dahinya.


Karena rambutnya dikuncir meninggi, aku bisa dengan jelas melihat kalau peluh lainnya juga menetes di permukaan kulit lehernya. Ah, sangat sexy, Gana memang wanita idamanku. Apalagi semalam, bagian atasnya saja sudah membuat ku seperti hilang kesadaran, mulus sekali dan rasanya waw. Haha.


Aku menghampirinya. Lalu menarik tepi piyama ku untuk mengusap keringatnya. "Buat apa masak? Aku enggak mau kamu capek. Kamu aku nikahi, untuk jadi istri bukan jadi pembantu."


Gana tertawa. "Itu sudah kewajiban ku." Ia menurut saja ketika aku sedang mengusap keringatnya. Tanpa sengaja aku dengar perutnya berbunyi.


"Kamu lapar?"


Gana mengangguk.


"Ya sudah kita makan dulu aja." aku menggandeng Gana menuju meja makan.


Sampai di sana, ketiga art ku sudah berdiri menyambut kami. Wajah mereka sedikit menunduk, karena takut aku marahi. Sebelumnya memang aku sudah menugaskan mereka, agar Gana tidak boleh ke dapur atau melakukan hal apapun yang membuat dirinya lelah. Aku hanya ingin Gana selalu bahagia, senang dan tidak letih ketika menjadi istriku.


Aku duduk di kursi yang lebih dulu Gana tarik. Rasanya dadaku semakin berdebar, rasa cintaku kepadanya semakin berkibar. Perhatian sekali istriku ini. Aku tergugah dengan makanan yang ia buat. Gana memasak nasi kuning beserta banyak lauk sebagai pendampingnya.


"Segini cukup?" tanyanya, sambil memperlihatkan piring yang sudah berisi nasi kepadaku.


"Kurangi." aku merasa ia menuangkan nasinya terlalu banyak, ya hitung-hitung dia jadi tahu bagaimana kadar porsi nasi untukku.


"Mau pakai apa? Pakai semua aja ya?" nah, ini dia kebiasaannya. Selalu bertanya tapi akhirnya dia juga yang menjawab. Aku gemas, sampai aku jawil pipinya. Gana sepertinya malu. Malu karena dilihati oleh para art kami.


Dan ketika ia ingin menuangkan suwiran telur, aku menghentikan tangannya. Aku menarik punggung tangannya, dan memperhatikan sesuatu yang menempel di sana dengan jelas. Sepertinya sedari tadi, aku tidak begitu memperhatikan.


"Kenapa ini? Kena minyak?" aku sangat hapal luka seperti itu, karena dirumah. Mamaku sering mendapatkan luka seperti ini, dan Papaku akan mengusap-usap dan meniup-niup luka tersebut. Ah, mereka memang romantis. Aku jadi iri.


Gana gugup. Dan semua art pun sama. "Saya kan sudah bilang, agar Ibu tidak boleh---"


Gana menyelak ucapanku kepada para Art. "Bukan salah mereka, aku yang mau." sergahnya.


"Kalian sarapan dulu aja ya." ucap Gana sebagai kode agar mereka berlalu dan tidak mendapat ceramah dariku.


"Baik, Bu. Kami permisi, Pak, Bu."


Aku hanya mengangguk walau aku masih kesal. Ketiga Art ku lantas berlalu membawa tubuhnya untuk pergi menjauh dari kami.


"Jangan gitu dong. Kan jadi enggak enak sama mereka, Ammar."


Aku kembali melihat luka di tangannya yang masih aku pegang. Aku ikuti seperti yang sering Papaku lakukan kepada Mama.


"Untuk apa di tiup? Luka ini enggak perih, kok." ucapnya.


Aku menautkan alis dan ia menatapku bingung. "Enggak panas?" tanyaku.


Gana menggeleng. "Enggak, biasa aja kok."


Hemm. Aku tahu sekarang, sepertinya dulu Mamaku hanya manja saja kepada Papa. Bilangnya panas, biar di perhatikan. Ah, Mama. Aku jadi rindu beliau.


Dari kamar terdengar ponselku berdering. Gana ingin melangkah untuk berinsiatif mengambilnya, tapi aku lebih cepat berdiri. "Aku saja." ucapku. Gana hanya mengangguk dan kemudian duduk.


Siapa sih yang telepon pagi-pagi begini? Menganggu saja kemesraan ku dengan Gana.


"Farhan?"


Aku sebenarnya agak kesal dengan dia. Sudah aku bilang, jangan sering-sering menelepon ketika aku sedang di rumah. Harusnya dia mengerti, aku sedang cuti dan hanya ingin berduaan dengan Gana dirumah.


Karena yang kami bahas pasti soal pekerjaan. Dan aku takut Gana mengetahuinya atau tidak sengaja mendengar perbincangan kami.


Ada apa sih, aku jadi sedikit kesal dengannya.


"Apa? Mau kerumah?" aku tersentak.


Benar-benar Farhan membuat dadaku berdentam kuat. Bukan aku menolak atau tidak suka. Tapi, aku hanya takut saja, kalau Gana tiba-tiba menguping atau ingin nimbrung dengan obrolan kami. Dan satu lagi, bolehkah aku berfikir negatif? Aku takut, Farhan menyukai istriku. Dia kan lelaki normal, dan belum menikah. Apalagi Gana sangat cantik. Aku takut jika sering bertemu, bisa menimbulkan rasa-rasa cinta.


Mungkin ini hanya perasaan posesif ku saja. Tapi Aku hanya ingin berjaga-jaga. Karena banyak cerita diluar sana, teman baik menyukai istri temannya atau suami temannya. Menerawang hal itu, membuatku jijik dan ingin muntah. Aku tidak mau hal itu terjadi. Ah, sungguh aku seperti sudah masuk kedalam drama sinetron.


"Aku saja yang ke tempatmu. Jam sembilan aku sudah di sana." tanpa membiarkan dia menjawab aiueo. Aku matikan sambungan telepon itu secara sepihak.


"Siapa?" tanyanya, ketika aku sudah menghempaskan bokong di kursi dan meletakan gawai di sebelah piringku. Aku mulai memasukan nasi kedalam mulutku.


"Aku akan pergi sebentar ke kantor Farhan. Ada urusan." jawabku susah payah, karena nasi dan daging ayam tengah bergulat di lidahku. Baru saja ingin memuji karena masakannya enak, ia kembali bertanya.


"Urusan apa?" tuh kan, sudah aku duga. Ia pasti akan bertanya hal ini.


"Ada masalah dengan saham." jawabku singkat dan terus mengunyah.


"Apa boleh aku ikut?"


Mendengar permintaanya, membuatku ingin tersedak. Sepertinya cincangan ayam didalam mulutku, tersangkut di puncak kerongkongan. Aku sulit membuka suara.


***


Tiga episode nih di hari ini. Semoga kenyang yah🤭