
Telapak tangan Ammar bergetar ketika memegang badan gawai yang layar terangnya masih ia tatap. Melihat video yang dua minggu lalu, Yuni rekam di apartemen kala itu.
Kerongkongan yang tiba-tiba kering, ia basahi terus dengan air ludah. Bola matanya fokus menatap Ganaya yang sedang menilik bukti-bukti kejahatan Ammar dalam layar rekaman tersebut.
Dirinya bisa menilik jelas ketika istrinya tengah menangis histeris, terguncang, terserang asma dan terdengar suaranya tengah memaki-makinya dengan kata kasar didalam rekaman Yuni. Yuni, si art cerdas. Merekam semuanya tanpa terkecuali, dari angel manapun ia bisa menguasai.
Jantungnya memburu hebat. Saat tahu istrinya sudah lebih dulu mengetahui aksi bejatnya.
Malu sekali Ammar. Malu ... Teramat malu. Sudah malu ketahuan istri, pun ketahuan art. Di mana wibawanya setelah ini.
Gana masih menatap lekat suaminya yang sedang menunduk menatap isi rekaman. Ia duduk tepat disebelah Ammar di bibir ranjang.
Mereka sampai rumah pukul 21:00 malam, Gana memaksa Ammar untuk mandi, keramas, dan shalat Isya berjamaah.
"Menjijikan bukan?" ucap Gana menerobos lamunan Ammar yang raut wajahnya sudah berubah mendung, lemas dan gegana.
Gana yang masih berbalut mukenah mencoba menyadarkan Ammar sekali lagi dengan perbuatannya yang sudah menimbulkan banyak dosa. Lelaki berpeci dengan sarung yang belum di buka itu mengangguk sendu.
Ada isakkan pelan yang mencuat. Tanpa terasa tetesan air bening berduyun-duyun membasahi permukaan pipinya.
"Apa kamu sadar bertahun-tahun memberikan orang tuamu makan dari hasil uang haram Ammar?"
"Membelikan pakaian, mainan untuk para keponakanmu juga dengan uang kotor?"
"Memberiku mahar pernikahan, menafkahi ku selama ini dari uang hasil membunuh orang? Menjual organ? Menjual narkoba? Memperdagangkan wanita? Membantu mafia-mafia untuk berperang dengan senjata-senjata yang kamu jual?"
Ammar semakin tenggelam dalam sesak. Pupil matanya melebar dengan ringisan tangis yang tertahan. Baru kali ini seumur hidup, ia merasa amat pilu, menyedihkan dan kotor lebih dari sebuah kotoran.
"Apakah yang telah kami makan dari uangmu, bisa menjadi daging? Tidak Ammar. Kamu malah memberikan bara api neraka kepada tubuh kami." suara Gana amat lirih, sampai berucap saja, ia sambil meremat kain mukena di bagian dada karena masih saja merasa sakit.
Ammar mendongakkan wajah lalu menoleh menatap istri yang tetap sudi menerimanya kembali. Mereka saling bersitatap dalam air mata yang di biarkan turun merembes.
"Bagaimana jika kedua orang tua kita tau, Ammar? Anak lelaki dan menantu mereka, tidak lebih dari seorang bandit. Kamu mengotori gelar haji kedua orang tua kita, Ammar. Kamu lukai mereka, kamu bohongi ... hiks." suara Gana terjeda. Air matanya semakin luruh. Nyeri sekali batinnya. Bayangan orang tua mereka yang sedang tersenyum tiba-tiba terlintas.
"Bisa 'kah kamu menamparku saja, sayang? Tanpa harus berucap seperti ini? Rasanya sakit sekali ..." ucap Ammar pelan, sampai riak ludahnya tidak terdengar. Dadanya seperti tersambar petir.
Mengapa ucapan Gana baru terlintas di benaknya sekarang?
"Sebenarnya aku sudah ingin berubah, tapi ..."
"Kembali terpengaruh dengan sahabat yang paling kamu dewakan." selak Gana. Wanita itu kembali tegar, dengan menghentikan tangisnya. Wajah dan hidung sudah sangat memerah.
"Bertahun-tahun bersahabat, berapa kali ia mengajakmu untuk shalat Jumat, Ammar?"
DEG.
Jantungnya kembali bergoyang. Ammar menunduk lagi, lantas menggelengkan kepala. "Tidak pernah." jawabnya pelan.
Gana tertawa dalam tangis.
"Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat. Mereka akan memanggil dan menyebut namamu jika tidak mereka jumpai di surga."
"Dan sahabat soleh itu akan meminta kepada Allah untuk mengambil kita dari Neraka. Carilah sahabat jannah mu, Ammar. Bukan mengabdi kepada sahabat yang ingin menjebloskan kita ke neraka. Farhan sama sekali tidak akan memberikanmu syafaat apa-apa."
Ammar hening. Menatap lurus dinding kamar yang sudah diliputi dengan wallpaper spongesbobs. Lelaki itu menggerakan kepalanya naik turun seraya membenarkan, walau rasa sayangnya kepada Farhan sudah terpatri dan melekat bagai kulit dengan daging.
"Lupakan Farhan, selagi ia belum bisa bertaubat."
"Jauhkan Farhan, selagi ia masih tamak seperti sekarang."
Lidah Ammar kelu untuk menyanggah. Apa yang di ucapkan istrinya memang benar semua. Walau di sudut hati Ammar, ingin sekali merangkul Farhan agar bisa kembali menjadi lelaki normal sebelum beberapa tahun ini.
"Aku tahu di sini bukan hanya salah Farhan. Tapi ada salahmu juga yang menjadi andilnya."
"Rasa balas dendam yang masih membuih, ingin membunuh, menjatuhkan dan melenyapkan orang-orang yang telah membullymu di masa lalu. Walau kamu sakit karena mereka, aku tidak membenarkan apa yang kamu kerjakan sekarang Ammar ..."
Ammar mengangguk pelan dengan tatapan datar.
"Jika orang yang membuatmu sakit, lalu kenapa Allah yang kamu jauhi? Kamu berubah menjadi seonggok daging haram yang dibenci oleh Pencipta kita!"
"Seapapun kamu meronta, berteriak dari dalam tanah untuk meminta kami menemani, tetap saja kamu akan sendirian di dalam. Berteman dengan gelap, dinginnya tanah, hewan-hewan yang mulai merayap menggerogoti jasad mu. Dan tentunya pecutan halilintar dari Malaikat, ketika kamu tidak berhasil menjawab pertanyaannya. Kamu tetap sendirian. Hanya amal yang menemanimu, lantas jika saat ini kamu belum bertaubat, lalu amal apa yang akan kamu bawa? Sejatinya kita tidak tahu, kapan giliran kita untuk menghadap Allah."
Ganaya semakin membakar sukma Ammar. Ammar menunduk dalam dengan dada yang berkedut-kedut karena karbon di oksida seraya menghimpit paru-parunya.
"Siksa Allah sangat pedih, Ammar. Bertaubat lah, selagi kamu masih diberi waktu." sambung Gana.
Tidak tahan menahan. Ammar beringsut, untuk mencium kaki istrinya. Memeluk kaki Gana dengan erangan tangis.
"Aku takut ... aku tidak mau mati dulu. Aku ingin bertaubat." pekiknya dengan serak. Mendengar isak tangis Ammar yang kencang membuat Gana menangis lagi, ia sedikit membungkuk untuk mendekap tubuh suaminya yang masih bergelayut menumpahkan kekecewaan kepada dirinya sendiri.
"Taubatlah Ammar. Kembalilah ke jalan yang benar. Allah membentang dekapannya lebar untuk mantan pendosa. Karena taubat terbaik dari setiap umatnya adalah taubat pendosa."
"Lupakan masa lalu. Ikhlaskan orang-orang yang pernah menyakitimu. Kamu tau tidak, seorang syekh yang tubuhnya di tusuk pisau saja malah memeluk pelakunya. Tidak membalas, namun mendoakan."
"Kamu memang bukan syekh, yang kadar imannya masih jauh dari rata-rata. Tetapi setidaknya kita bisa mencoba dan menyontoh nya. Untuk bersabar dan menerima apa yang sudah kita lewati, dengan lapang dada."
"Karena apa yang kamu terima di masa lalu, semua sudah menjadi ketetapan Allah. Daun yang jatuh dari pohon karena hembusan angin saja, itu juga kehendak Allah, Ammar."
"Maka dari itu, kembalilah menjadi hamba yang baru. Hamba yang ikhlas dan sabar. Kalau kamu bilang sabar ada batasnya, kamu salah. Sabar tidak pernah ada batasnya, dan aku ingin kamu bersabar dengan hati yang masih menganga karena luka di masa lalu."
"Maafkanlah mereka. Dan juga meminta maaf kepada tubuh-tubuh yang sudah kamu renggut paksa nyawanya. Tubuh yang sengaja kamu cincang, membiarkan mereka menghadap Allah tanpa seuntai kain kafan, tanpa di mandikan dan tanpa doa dari keluarganya. Kamu sungguh keji Ammar, maka dari itu bertaubat lah, sebelum Allah murka padamu."
DAARR.
Guntur mendadak muncul membelah awan dengan suaranya yang mencekam. Iringan air hujan dari atas sana mulai turun membasahi bumi.
Ammar semakin terisak. Ia terlihat lemah sekali tidak berdaya. Semua ucapan isterinya sangat mengiris kalbu.
"Makasih sayang, makasih banyak. Jika bukan kamu istriku, entah lah, aku tidak tau apa yang akan terjadi sama aku setelah ini." Ammar mengerang dalam air mata dan ingus yang terus keluar dari lubang hidungnya. Air matanya membasahi kain mukena Gana di bagian lutut.
"Saat tau semua itu, aku juga hampir gila, Ammar. Ingin sekali menceraikanmu. Tapi karena Ijab-mu padaku sudah menggantung di Arsy. Maka aku urungkan."
"Tugasku sebagai istri untuk membawa suami yang sudah berjabat tangan dengan Papa sepuluh bulan lalu di meja akad, untuk membawanya kembali pulang. Pulang lah Ammar ... Allah selalu menunggu taubatmu."
Hiks ... Hiks.
Ammar semakin larut dalam penyesalan yang terus mengguncang tubuhnya. Jijik sekali ia dengan tubuhnya sekarang. Tangan yang selalu digunakan untuk mencium punggung tangan orang tua, membelai pipi istrinya dengan cinta malah ia gunakan untuk membunuh dan mencincang tubuh manusia dengan kepuasan yang amat tinggi.
"Tapi dosaku sudah banyak sekali. Apakah Allah akan mengampuniku?"
"Allah itu maha baik. Kamu tau tidak kenapa bibir atas dan bibir bawah kita tidak bergerak sewaktu kita mengucapkan kalimat laaila ha illallaah?
Ammar menggeleng dalam tundukan nya.
"Jawabannya karena Allah teramat sayang kepada kita. Allah memberikan rahmat yang besar kepada hamba-hambanya di saat sakaratul maut. Pada saat itu tubuh kita tidak bisa apa-apa. Dan Allah memberikan pilihan paling mudah untuk hambanya melafadzkan laaila ha illallaah. Sekalipun bibir kita lemah tidak bisa bergerak."
Ammar terdiam. Tangan yang sedari tadi kuat ketika meremat kain mukena istrinya terasa mengendur. Jiwa semangat untuk bertaubat semakin terasa. Ia yakin Allah akan mengampuninya.
Gana mendongakkan wajah Ammar. Agar lelaki itu menatapnya. Wajah sang suami sudah sangat basah, karena ia menangis terseguk-seguk seperti bayi yang kehausan karena ingin menyusu.
"Maafkan aku, sayang. Terima kasih karena sudah mau menerima aku yang seperti ini. Menjaga aib-aib ku."
Gana mengangguk, mengusap kebasahan di wajah suaminya dengan punggung tangannya. Lantas menghujani wajah Ammar dengan berbagai kecupan dari bibirnya. Keningnya, kedua matanya, hidungnya, pipinya dan terakhir bibirnya.
"Sekarang tidur ya. Biar nanti tengah malam kita bisa bangun. Aku ingin kamu shalat malam dan shalat taubat nasuha."
Ammar mengangguk dengan senyuman. Ia beranjak berdiri dan menerjang Gana dengan pelukan.
"Sehat selalu, istriku ... Panjang umur."
***
Insya Allah setelah episode ini akan aku update lagi. Jadi tungguin aja ya.
Like dan komennya yah buat dedek berpeci.