
Dua hari lalu batas kesabaran Ammar sudah memuncak. Emosinya naik tanpa bisa dikendalikan. Dan akhirnya Ammar menyesal hebat, karena sampai ringan tangan kepada Gana.
Bukan itu mau nya, sungguh. Ammar hanya kaget dengan kata cerai yang terlontar dengan gampangnya dari bibir sang istri.
Istri yang selama ini selalu ia perjuangkan, terus berusaha memberi sisi lembut, perhatian dan segala banyak pengertian yang Ammar lakukan untuk Gana.
Mencoba memahami disaat istrinya belum mencintai, belum mau disentuh untuk memberikan hak-hak yang sudah seharusnya ia terima.
Tetapi Ammar menerima semuanya dengan lapang dada, menjalankan kewajiban sebagai suami, memberi nafkah, melindungi istri, merawat Gana sampai bisa berjalan lagi dan ia tetap menunggu Gana untuk tidak memaksa mengambil kehormatan yang masih Gana bekukan sampai saat ini.
Dengan semua pengorbanan itu apakah Ammar pantas untuk di ceraikan? Begitulah yang Ammar fikir tanpa tahu unsur apa yang membuat Gana terbakar dengan amarah sampai bisa mengucap lantang kata perceraian.
Semenjak perdebatan kemarin. Gana mengulangi kejadian di tiga bulan pernikahan, ketika ada masalah, ia memilih untuk tidur di kamar tamu, tidak mau memunculkan batang hidungnya dihadapan Ammar.
Ammar mengerti, dan tahu kalau Gana berhak marah karena sikapnya kemarin. Dan ia membiarkan Gana dengan ketenangannya sendiri. Ammar sudah mengucap maaf dibalik pintu sejak kemarin, dan seperti biasa, Gana yang belum lega akan emosi hanya akan diam membisu.
Tapi Ammar sudah berjanji, selepas hari ini bertemu dengan Mr. Jang di dermaga. Ia akan mengakhiri semua usaha ini. Ingin memulai lembaran hidup yang baru bersama Ganaya, bidadari hatinya.
"Sayang, aku berangkat. Mungkin pulangnya besok pagi. Mendadak aku harus ke luar kota. Aku mau meninjau cabang, ada masalah di sana" ucap Ammar sambil mengetuk daun pintu kamar tamu. Ia berharap Gana mau menemuinya.
Gana yang masih tiduran di atas sajadah sehabis shalat duha. Menoleh ke arah jam dinding.
"Aku fikir dia sudah berangkat sejak pagi." gumam Gana, ia menatap waktu sudah pukul 09:00 pagi. Seketika saja wajahnya menegang karena baru ingat, kalau hari ini Ammar sudah janjian dengan Farhan untuk pergi dengan seseorang.
"Sayang ..." panggil Ammar dan mengetuk pintu sekali lagi. Berharap Semesta mau membukakan hati istrinya untuk sekedar menyapanya hari ini.
Tapi ternyata nihil, Gana tetap tidak mau menyambutnya. Jangankan keluar untuk mencium punggung tangannya, menyahuti panggilan saja, Gana enggan.
"Jangan lupa makan ya. Aku berangkat." terakhir ucapan itu yang Gana dengar sebelum Ammar berlalu. Padahal di dalam wanita itu sedang tergesah-gesah berganti pakaian.
Dalam hati, ia terus memaki. Kenapa bisa lupa kalau hari ini suaminya akan pergi. Gana tidak boleh kehilangan momen ini. Ia harus membongkar semuanya.
Dengan langkah cepat. Kini Gana sudah membuntuti laju mobil Ammar dari belakang. Suami-istri itu saling mengendarai mobil seorang diri.
Gana terpaksa melenggang tanpa Yuni, karena gadis itu malah ke pasar membeli minyak, dan dirinya juga lupa untuk berkoordinasi mengingatkan kalau harus ikut lagi dengannya.
Sedangkan Ammar, memilih membawa mobil sendirian untuk menjemput Bima dan Denis yang sudah menunggu di depan kosan mereka. Tidak menggunakan bodyguard lagi, karena kemarin dirinya sudah memecat mereka semua.
Seperti keinginannya, Ammar ingin kembali ke jalan yang dulu. Tidak mau lagi di kawal, ia ingin menjadi manusia normal layaknya orang biasa. Tak perduli dengan ancaman resiko yang Farhan lontarkan.
Entah mengapa Ammar mempunyai keberanian untuk melawan jika ada musuh yang tiba-tiba menyerang. Dan, ia tidak akan segan-segan untuk menyembah kaki mereka yang pernah disakiti olehnya, untuk meminta maaf.
Di sepanjang perjalanan Ammar tidak curiga, kalau sebuah mobil putih mengikutinya sejak tadi, karena memang posisi mobil Gana ada dibelakang satu mobil orang dari mobilnya.
Ponsel Gana berdering. Tapi wanita itu tetap fokus mengemudi. Entah panggilan dari siapa, ia tidak mau menjawabnya dulu. Baginya jejak Ammar adalah yang terpenting sekarang.
Gana ber oh panjang, ketika mobil Ammar terhenti disebuah komplek kos-kosan lelaki. Ammar yang berpakaian lengkap ala kantor, langsung bergegas masuk kedalam area kos-kosan. Mobil dibiarkan terparkir diluar.
"Kos-kosan siapa ini?" tanya Gana. Wanita itu sibuk menatap bangunan bertingkat tanpa taman.
Tak lama kemudian. Ammar kembali muncul namun pakaiannya sudah berubah. Ia menggunakan kaos dan celana jeans yang dibalut dengan jaket kulit cokelat serta kaca mata hitam. Bima dan Denis mengekor di belakangnya.
"Oh, jadi menjemput mereka dulu? Ganti baju? Wah hebat sekali penyamaran mu untuk mengelabuhiku, Ammar!" Gana menghentak stir kemudi dengan kencang. Amarahnya kembali mengepul.
"Tapi kemana para bodyguard mereka? Mengapa tidak membawanya seperti biasa?" Gana bertanya-tanya. Ia mengawasi Bima dan Denis yang akan masuk kedalam mobil. Tapi, Denis begitu peka. Ia tahu ada yang mengawasi mereka dari jauh.
Gana sampai menundukkan wajah, sepertinya ia menangkap sorotan mata Denis ke arahnya.
"Seperti mobil Ibu." Denis membatin. Ia memilih memutar langkah ke pintu kemudi.
"Jangan sampai mereka tau kalau aku membuntutinya ..." gumam Gana.
Dibelakang Ammar masih sibuk dengan layar gawainya. Sedangkan Denis kembali menatap Bima dari kaca spion dalam. Memainkan mata dengan kode gerakan untuk menoleh ke belakang.
Bima yang cepat, sigap dan tangkap begitu saja mengikuti arah mata Denis. Lelaki itu kaget, ketika ada mobil istri presdirnya tak jauh dari badan mobil mereka.
Sebisanya Bima tenang. Ia menganggukkan kepala ke arah Denis sebagai tanda kalau dirinya sudah tahu.
"Jalan sekarang, Pak?" tanya Bima.
"Ya." jawab Ammar singkat. Lelaki itu masih fokus dengan layar gawainya.
Mobil Ammar kembali melaju dan Gana mengikutinya lagi dari belakang. Denis sengaja membawa mobil tidak terburu-buru, agar Gana bisa mengikuti lajuan kereta besi mereka.
Denis dan Bima membuka peluang untuk Gana membongkar semuanya di hari ini.
Angin kembali menyapu dan berseliweran di udara ketika ban mobil mereka kembali beriringan membelah jalanan ibu kota. Denis membawa mobil dengan pelan, agar Gana tetap hati-hati dan tidak grasak-grusuk ketika sedang mengendarai mobil untuk terus mengekor deru mesin mobil mereka.
Bima dan Denis tergugah dengan tekad Gana yang besar untuk menguak apa yang Ammar lakukan. Mereka hanya ingin, Ammar jera dan kembali ke jalan yang benar. Mereka juga ingin, Ammar tahu bahwa Farhan adalah lelaki yang licik.
****
Masih ada satu episode lagi, masih aku edit. Kasih aku dulu komen dan like yang banyak. Thengkyuh🌺🌺