
"Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh ..." Ammar mengucap salam, dengan menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri di atas sajadah.
Saat ini lelaki itu tengah menjadi imam shalat Dzuhur di mushola rumahnya. Dibelakang dirinya yang menjadi makmum, ada Mahendra, Alex, Denis, Bima. Serta tak jauh dari jarak mereka ada Ganaya, Mulan, Anna dan Dava. Setelah mengadakan makan siang, mereka bergegas untuk shalat berjamaah.
Setelah mengucap salam. Ammar mengubah duduknya dengan kaki menyila. Lelaki berpeci itu sedikit menundukkan wajah kebawah karena sedang berdzikir. Terlihat jari-jemarinya sedang memainkan bola-bola tasbih.
Gana yang sudah selesai berdoa. Menatap senyum ke arah punggung suaminya. Siapa yang tidak bangga mempunyai suami yang suaranya sangat indah ketika melantunkan bacaan shalat.
Dedek kecilnya di masa lalu, lelaki yang dianggap tidak lebih dari seorang adik, kini menjadi suami yang pernah berkedok sebagai mafia, lalu bertaubat dan kembali seperti bayi suci yang baru lahir.
Gana terus memandang senyum dengan air mata yang ingin turun, sampai Mulan menyenggol lengannya. Gana menoleh dan menyeka bibit-bibit tetesan air mata agar tidak tumpah ruah.
"Kesemsem nih ceritanya?" ledek Mulan. Ternyata wanita itu sedari tadi memperhatikan Ganaya yang sedang menatap manja ke arah Ammar.
Wajah Gana memerah dari balut mukenanya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Gana mengangguk, ia menggenggam tangan Mulan.
"Aku sangat mencintainya." bisik Gana pelan. Malu-malu tapi mau, ia mengungkapkan perasaannya.
"Sudah kamu utarakan?"
Gana menggeleng.
Alis Mulan menaut. "Katakan saja, laki-laki itu tidak terlalu peka kalau kita nya tidak genit."
Gana menarik napas, tatapan matanya kembali menyorot ammar. Ia hening sebentar. Kini suaminya itu sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya
"Mbak aku ke kamar mandi dulu ya, mau pipis." ucap Anna. Wanita yang sedang hamil memang akan sering buang air kecil
Gana dan Mulan yang asik berbisik-bisik lalu menoleh. "Mau diantar, Mbak?"
Anna menggeleng. "Enggak apa-apa, Mbak. Aku bisa."
Gana dan Mulan mengangguk senyum. "Hati-hati ya, Mbak. Awas licin." ucap Gana.
"Iya, Mbak." lantas Anna bangkit membawa perut besarnya untuk berlalu menuju toilet.
"Mau kemana sayang?" Anna menoleh karena Alex memanggilnya.
"Ke kamar mandi."
"Aku temenin." ucap Alex.
Lelaki itu bergegas berdiri menghampiri Anna dan membawanya berlalu. Alex sangat mencintai Anna, karena wanita itu menerima apa adanya Alex sekalipun dengan segala kecacatannya. Maka dari itu, ia ingin bertaubat. Menikmati jalan hidup yang normal.
"Ya elah bucin amat." ledek Mahendra.
Alex menoleh dan memberikan jari tengah. "Kayak kamu enggak ajah." sungut Alex dan diringi tawa oleh Ammar.
"Kan kamu juga sama bucin ke Mulan." ledek Ammar lalu menoleh ke arah Mulan dan Gana yang sedang menatap mereka.
Mulan mencebikkan bibir. "Kayak kamu enggak aja ke, Mbak Gana ..." ia menggoda Ammar.
Ammar tersenyum. Melirik istrinya yang pelan-pelan menunduk malu. Wajah Gana memerah lagi.
"Cepat kasih Ammar anak, Mbak." bisik Mulan. "Laki-laki tuh kalau istrinya lagi hamil, rasa sayangnya dobel. Lihat 'kan tadi, Kak Alex ke istrinya?"
Gana membulatkan matanya dan mengangguk membenarkan. "Insya Allah, Mbak."
"Apa kalian udah---?"
Gana menyelak. "Belum." karena ia mengerti apa yang di maksud Mulan.
"Ayo dong. Mumpung musim hujan, biar hot." Mulan terkekeh. Dan Gana ikut tertawa.
"Kelamaan, Gana. Nanti malam aja." Mulan memaksa. Bola mata Gana berpendar kemana-mana, terlihat gurat dari wajahnya seperti orang bimbang.
"Tapi aku belum ada persiapan." bisik nya pelan.
Mulan mendengus. "Ikutin insting aja. Resapi belaian dan sentuhan Ammar. Awalnya bakal sakit, tapi kesana nya enak."
"Apa aku harus minum obat dulu?"
"Boleh." jawab Mulan santai.
Gana terlihat antusias. "Obatnya apa? Biar aku beli." polos sekali Gana. Haha.
Mulan mengedik pangkal bahu, seperti orang yang sedang kaget tapi pura-pura. "Tuh kan pengin." ledeknya.
Gana tersenyum kecut lalu akhirnya tertawa. "Kamu mau tau obatnya?" Mulan kembali menggoda.
Gana mengangguk lagi dengan wajah kembali bersemangat.
"Obat perangsangg. Haha." Mulan tidak bisa menyembunyikan gelak tawanya.
"Ih dasar kamu!!" Gana menggelitik tubuh Mulan yang masih dalam balutan mukena, sampai terus tertawa nyaring. Dava yang sejak tadi duduk dipangkuan Mahendra, melesat menghampiri dua wanita ini. Ammar dan Mahendra hanya ikut tertawa melihat keakraban istri-istri mereka.
Seperti mimpi, para pendosa itu bertaubat dan Allah menganugerahkan mereka dengan cinta-cinta sejatinya. Yang selama ini seraya mimpi untuk bisa diraih. Perjuangan cinta Mahendra dan Ammar, serta kesabaran mereka untuk menunggu dicintai. Terbayar sudah.
"Kawin yuk." ucap Bima dengan tatapan datar.
Denis menoyor kepala temannya itu. "Ari maneh, ngajakan urang nikah? Koplokk siaa! Gini-gini urang mah masih sehat atuh! Teu demen ka lalaki!" Denis bersungut-sungut murka. Bahasa daerah dari kota kelahirannya keluar begitu saja. Jadi ingat kampung, batinnya.
"Dih Peak! Maksud nya tuh, ayo cari wanita. Kita nikah, bangun keluarga kaya Bapak dan Ibu." jelas Bima.
Denis terkekeh. "Emang ada yang mau sama kamu?"
"Ada lah, sekarang juga ceweknya lagi nungguin di halaman depan. Doain gue yak, biar diterima." Bima bangkit setelah meninggalkan Denis yang sedang berfikir.
"Halaman depan? Siapa sih?"
Bola mata Denis seketika terbelalak. Lalu ber oh panjang dan akhirnya membekap mulut.
"YUNI? What??"
****
Malam kembali menjamah. Hujan kembali mengguyur bumi. Hawa kamar begitu dingin, Ammar sampai mematikan AC karena takut Asma istrinya kambuh. Nyatanya bukan Gana yang kedinginan karena hawa malam ini, tapi Ammar yang sedari tadi terus menempel seperti ulat bulu. Mereka unyel-unyelan di pusara ranjang dalam selimut. Baru saja jam delapan, tapi sudah memilih membeku di kamar.
Ammar memeluk perut Gana dari belakang. Wanita itu berbaring dengan posisi memunggungi. Dua-duanya sedang saling menunggu. Gana menunggu belaian Ammar. Pun sama dengan Ammar, ia berdoa. Semoga saja Gana tiba-tiba berubah ganas lagi seperti di dapur tadi pagi.
Ammar meletakan dagu di pangkal bahu istrinya, mengecup-ngecup leher Gana. Pangkal bahu Wanita itu sesekali naik karena geli, dan juga nikmat. Ah, Gana terpancing. Karena bulu kuduknya seketika naik.
Gana menautkan alis, ketika ada palung pagoda pastiles yang menusuk bokongnya. Ia tahu Ammar sudah mendamba.
Haruskah malam ini? Fikir Gana. Bahkan niatnya ia ingin membeli dalaman baru besok, yang akan ia gunakan untuk melepas kehormatannya, yang ingin ia peruntukan untuk suami tercinta yang sudah berpuasa berbulan-bulan karena menunggu cinta darinya terlebih dulu.
Ammar mengelus-elus perut Gana, kadang turun ke bagian inti dan mengelus-elus kain penutupnya di sana. Sambil menjulurkan lidah ke daun telinga Gana dan melumatt nya.
Gana menutup mata. Menggigit bibir bawahnya. Ingin mendesah, namun ditahan.
"Apa aku sudah boleh melakukannya?" bisik Ammar dengan nada sensualis. Jantung Gana memburu hebat, terkoyak-koyak. Rasa inginnya bersambut. Senang sekali wanita itu.
****
Like dan Komennya jangan lupa. Ada episode lagi setelah ini.