
Menu makan malam kali ini yang sudah sangat menggugah selera untuk di lahap, ternyata tidak menarik lagi. Manakala Ammar, sudah menceritakan kabar kehamilan istrinya yang ke enam kepada kelima anak-anaknya sekarang.
Di antara lima anak, yang benar-benar sudah mengerti dengan penjelasan Ammar dan langsung berubah wajah menjadi masam hanyalah Malvinia, Magala dan Maizana. Sedangkan Mahika santai-santai saja, ia malah memakan makanan Magatha sampai habis.
Apalagi, Alda, batita botak yang saat ini sedang di susui Gana. Ia tidak mengerti apa-apa. Gana bersyukur walau sedang mengandung, air asi nya masih keluar. Tidak masalah jika sedang hamil tapi menyusui, selagi asupan makanan Ibu bisa terjaga dengan baik.
"Kenapa sih harus punya Adik lagi? Rumah pasti berisik lagi." Attaya merengut. Spageti nya di depan mata tidak lagi ia sentuh.
"Kata Kakek kemarin, Mama mau di steril 'kan? Kenapa enggak jadi?" sambung Rora.
Mendengar komplenan yang terlontar dari mulut Rora dan Taya, membuat dada Ammar dan Gana berdenyut nyeri. Ia pikir anak-anaknya akan mengerti karena sudah di jelaskan panjang lebar oleh Ammar barusan, nyatanya mereka tetap merajuk.
"Niatnya, Mama memang mau steril aja. Biar enggak hamil lagi. Tapi Allah berkehendak lain, Nak. Mama dan Papa dikasih lagi anak. Ya mau gimana lagi, selain harus di terima dan di jaga." Gana membuka suara. Tidak tahu saja mereka kalau awalnya Gana juga merajuk, saat tahu dirinya hamil kembali.
Rora dan Taya hanya diam saja dengan wajah kecewa. "Perhatian Papa dan Mama pasti akan terbagi lagi." kini, Aidan yang berucap.
Terlihat dari raut anak lelaki itu juga kecewa, mendengar ucapan Aidan. Taya dan Rora menggenang kan air mata. Yang baru Gana dan Ammar ketahui kalau selama ini mereka salah kalau menganggap ketiga anak itu kuat, ternyata mereka hanya sedang pura-pura berbesar hati.
Hati Gana berdesir, pun sama dengan Ammar. Ammar meraih ketiga anak itu untuk ia dekap. Dan menangis lah mereka di dada Papa nya.
"Kakak tuh pengin main kayak dulu sama Papa dan Mama. Tapi Papa selalu sibuk kerja, Mama juga sama, selalu sibuk sama Adek-adek," ujar Rora terseguk-seguk. Sebagai anak tertua, memang dirinya lah yang lebih banyak mengalah. Harus belajar dewasa untuk menghadapi ke empat adiknya. Harus menerima jika Mama dan Papa sedang memprioritaskan waktu untuk Adela dan Alda, karena mereka masih kecil-kecil. Walau perhatian Gana dan Ammar kepadanya sudah di rasa cukup, tapi bagi Rora masih saja terasa kurang.
"Taya juga ... " Taya setuju dengan ucapan Rora. Gana mengelus ketiga anaknya, ikut menangis haru.
Alda yang sedang menyusu ingin memejam mata, kembali membuka kelopak dengan lebar. Anak itu melongo karena Kakak-Kakaknya menangis. "Kakahhhhhhh!" seru Alda menarik rambut Taya dari belakang, karena posisinya mereka sedang berdekatan.
"Kok tadih nanis-nanis, tenapa 'cih?" tanya si keriting dengan wajah tanpa beban. Sekarang ia sedang memasukan daging burger milik Taya ke dalam mulutnya. "Akuh mamam, ya."
"Jangan di habisin, Dek. Kakak masih lapar soalnya," ujar Taya sambil menyeka air matanya.
"Didit doangg, Kak." tapi ia malah memakan seluruh burger itu dalam satu suapan mulut.
"Ya udah Papa dan Mama minta maaf kalau selama ini sudah salah karena mungkin terlihat membeda-bedakan. Tapi, demi Allah, rasa sayang Mama dan Papa kepada kalian itu semua sama rata. Sama-sama Adil. Jika Adik-adikmu di belikan baju atau mainan. Kalian juga selalu di belikan 'kan? Tapi untuk perhatian, memang akan berbeda sedikit ... sedikit sekali. Karena kenapa? Adik-adikmu ini belum terlalu mengerti. Lihat saja sekarang Adel." Ammar menunjuk si gendut yang sedang mengunyah.
"Ia lebih memilih makan dibandingkan mendengar penjelasan Papa dan Mama. Karena Adel belum mengerti. Ingat 'kan kemarin Adel juga sempat merajuk, ia juga cemburu kepada Alda. Kedua adikmu ini masih kecil-kecil. Masih belum bisa di lepas sendiri. Belum mandiri dan sedewasa kalian, Nak.
Jadi Mama dan Papa minta tolong, agar diingatkan, jika Mama dan Papa sudah terlalu jauh untuk melepas kalian sendiri. Namanya orang tua, ada lupanya, ada capek nya. Mungkin kurang peka dengan keinginan kalian.
Rora, Taya dan Aidan bisa ingatkan Mama dan Papa. Pah kita main,yuk. Atau Mah kita ke sini, yuk. Tinggal bilang aja Insya Allah Papa dan Mama selalu sanggupi. Jadi, Maafin Mama dan Papa, ya, Nak. Kalau selama ini sudah tidak sengaja berbuat tidak adil." Gana dan Ammar menasehati ketiga anaknya yang sudah berangsur tidak menangis lagi. Mereka mulai paham, dada pun terasa lega. Samar-samar senyum mulai merekah. Kalau begini, mereka tidak sesak lagi karena menahan ketidakadilan.
Benar kata para orang tua mereka. Sejatinya, anak-anak perlu di ajak bicara dai hari hati ke hati.
"Iya, Mah, Pah." ketiganya pun mencium Ammar dan Gana bergantian. Pun dengan Adela yang tiba-tiba ikut mendekap mereka dengan mulut penuh makanan.
"Pelutan, hehe." Adela meledek Mama, Papa dan ketiga Kakaknya yang sama-sama saling mendekap.
"Tapi, kalau bisa. Adek yang sekarang di perut Mama. Laki-laki, ya? Aku biar ada temennya. Mau aku ajak bareng main PS." pinta Aidan dengan raut penuh ingin.
DEG.
"Aamiin, Nak. Doakan, ya."
...🌾🌾🌾...
"Kamu yakin pilih baby sitter cantik, muda dan bahenol begitu, Gana?" tanya Farina sambil menatap Yanti dari kejauhan yang tengah menyuapi Adela. Bukan sengaja, tapi memang yang diberikan yayasan, sosok baby sitter yang sekarang bekerja memang seperti itu sosoknya.
"Iya, Gana. Aku tuh trauma lho sama pembantu cantik. Makanya aku pecat aja waktu itu. Biarin deh aku capek di rumah, asal enggak jadi pemicu keretakan rumah tanggaku." timpal Mulan. Mulan pernah memecat Art nya yang nakal. Art itu genit kepada Mahendra.
Saat ini, Mulan dan Farina sedang bertandang ke rumah Gana untuk sekedar ngumpul dan berbincang-bincang mengenai anak-anak mereka. Apalagi Gana tengah hamil lagi sekarang. Membuat kedua wanita itu antusias untuk membahas.
Gana terdiam sejenak. Ucapan Farina dan Mulan memang sudah menjadi buah pikir nya dari beberapa hari ini. Semenjak keluar dari Rumah Sakit tujuh hari lalu, dan di saat itu pula Yanti datang ke rumah ini untuk bekerja.
Ia adalah baby sitter yang Ammar sewa jasanya dari sebuah yayasan. Awalnya Gana kaget, karena yang datang begitu muda. Gadis berusia 22 tahun. Apalagi selama ini Gana sering menangkap tatapan Yanti kepada Ammar begitu hormat dan simpati melebihi tatapan kepada majikan. Serta suara Yanti jika sedang berbicara dengan Ammar begitu lembut dan halus, seperti di buat-buat. Tidak seperti Bik Minah, Bik Tati dan Bik Nani. Mereka bertiga selalu menundukkan kepala jika sedang berbicara dengan Gana dan Ammar.
"Lalu aku harus bagaimana? Untuk sekarang-sekarang, aku memang butuh bantuan baby sitter. Aku harus kumpulkan energi agar bisa memantau seluruh anak-anaku." tukas Gana.
Untuk saat ini, ada satu baby sitter untuk Adela dan Alda, yang hanya di tugaskan untuk menyuapi makan, memandikan dan mengajak main jika Gana sedang repot dengan triple A. Art rumah tangga juga sudah di tambah tiga, oleh Ammar. Jadi, selama mengandung Gana tidak mengerjakan apapun. Ia hanya fokus untuk membagi tubuhnya agar bisa memperhatikan, menemani, bermain dengan kelima anak nya dengan kondisinya yang sedang hamil sekarang. Walau semua anak-anak komplen, karena makanan ia makan tidak seenak masakan Mamanya.
"Cari yang tuaan, Gana. 'Kan, bisa." jawab Farina.
"Bukannya kita mau berprasangka buruk. Tapi jaga-jaga aja. Soalnya aku perhatikan, baby sitter mu agak berbeda. Lihat saja dandanan nya menor. Melebihi kamu." Mulan menasehati.
Dada Gana bergerak naik turun. Agak terasa berat. Ia mengiyakan ucapan Mulan. Dirinya memang polos sekali selama hamil. Rasa mood untuk berdandan, rasanya pudar. Melihat Yanti yang sexy, bahenol dan bibir merah menyala membuat Gana semakin takut dan terus menerka buruk.
"Lebih baik kamu pecat aja? Perasaan aku tuh enggak enak lihat dia. Aku takut, Ammar di goda," ujar Farina.
"Ya Allah, Rina. Amit-amit 'ih!" Gana menyergah ucapan Farina sambil mengelus-elus perut nya yang masih kempes.
"Aku juga ngerasain hal yang sama, persis kayak Farina. Kalau mau pilih baby sitter yang sudah tuaan, wajahnya teduh, terus enggak berpakaian ketat kayak gitu. Mengundang hasrat tau nggak!" timpal Mulan.
Gana mulai terpengaruh. Ia terus menilik Yanti, dan apa yang di ucapkan Farina dan Mulan memang benar. Seragam baby sitter dari yayasan tidak lagi ia pakai. Yanti lebih sering memakai kaos ketat dan celana pendek atau rok. Dan wanita itu akan bergegas mandi dan berdandan rapih saat Ammar akan tiba di rumah.
"Tapi, ini kan baru terkaan kita. Kalau aku pecat hanya karena ia muda, cantik dan sexy dan hanya takut kalau suamiku tergoda? Abang pasti akan marah. Anak-anak juga sudah lengket sama dia. Yanti juga gesit, kerjaannya rapih. Dia juga bisa bantuin Rora, Taya dan Aidan belajar. Sampai saat ini sih dia belum melakukan kesalahan di mataku, walau aku sedikit ada rasa curiga sama dia. Tapi gimana, ya? Aku juga takut kalau tatapannya selama ini ke Abang, ada rasa suka. Aku jadi bingung."
Walau ia tahu, Ammar sangat mencintainya. Tapi tidak menutup kemungkinan jika tergoda. Apalagi ada yang lebih segar untuk di pandang. Memang bukan cinta, tapi kalau napsu sudah berbicara, semua akan gampang saja terjadi.
"Kamu awasin aja dulu dalam sebulan ini. Kalau memang terkaan kita salah. Alhamdulilah, berarti kecurigaan kita tidak terbukti. Mungkin kamu bisa kasih dia nasihat untuk menjaga penampilannya, suruh pakai hijab sama gamis kayak kamu. Biar dia nggak meningkatkan hasrat suami mu."
Gana menghela napas panjang. Ia menilik Yanti lagi-lagi, sampai yang di tilik merasa risih. Mengetahui Yanti menatap aneh, Gana memalingkan tatapan nya ke arah Mulan dan Farina lagi.
"Baik lah. Akan aku coba nasihati. Sambil memperhatikan dirinya sebulan ini."
...🌾🌾🌾...
Like dan Komenannya atuh jeung, jangan lupa yaw❤️❤️