Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Salahku Apa?


Ammar kembali bernapas lega setelah mendengar penuturan dari Denis diseberang sana, yang mengatakan bahwa tidak ada orang lagi selain mereka yang mendatangi apartemen hari ini.


Gegap gempita jiwanya. Senyumnya mengembang, karena hari ini bukan hari terkutuknya. Ia merasa Tuhan berbaik hati karena sudah mengabulkan doanya barusan.


Walau sudah begitu, masih ada sedikit rasa mengganjal dihatinya, karena kepergian Gana yang tidak meminta izin dulu padanya atau membalas pesan-pesan yang dirinya kirim. Yang Ammar terka sekarang adalah, emosi Gana kembali kambuh mengingat kejadian tadi malam.


Sesaat kemudian, kedatangan sang istri yang sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi dan tentu sangat ia khawatirkan, pun tiba.


Ammar menghampiri badan mobil yang baru saja mendarat dipelataran halaman rumah. Gana melihat lelaki itu dari dalam kaca mobil yang tengah berjalan menghampiri. Deru napas Gana kembali berantakan. Wanita itu menunduk dan meremat lagi kain di dada.


"Ibu harus bisa tenang." ucap Yuni. Dalam tertunduk nya, Gana mengangguk. "Doain saya, Yun."


"Pasti, Bu."


Tok tok tok.


Jendela mobil lalu di ketuk Ammar. Sepertinya lelaki itu tidak sabar untuk merengkuh istrinya dan melemparkan beberapa pertanyaan tentang aktivitas wanita itu hari ini.


Gana membuka pintu kemudi, lalu turun.


Padahal ia sudah berusaha untuk bisa tersenyum. Rasanya sulit. Ia melewati Ammar begitu saja yang selangkah lagi akan mendekapnya.


"Tolong tanamannya ya, Yun." titah Gana kepada Yuni yang sudah melangkah ke arah bagasi.


"Sayang ..." seru Ammar. Lelaki itu mengekor dibelakang langkah Gana yang terus berjalan cepat untuk menghindarinya.


"Kamu dari mana? Kok enggak bilang kalau mau pergi?" Ammar berhasil menyamakan langkah Gana.


Gana tetap diam tidak mau menjawab. Hatinya kepalang sakit, ia benci lelaki ini. Gana diam saja sampai dimana ia langsung berlari memeluk Mama Alika yang baru saja keluar dari kamar.


"Mama ..." Gana memeluk Mama mertuanya. Menumpahkan asa, rindu, dan tentunya rasa sakit yang ingin sekali ia adukan tentang kelakuan Ammar dengan bukti-bukti yang menjijikan.


"Kamu dari mana, Nak?" tanya Mama sambil mengusap punggung menantunya.


"Habis beli tanamanm, Mah. Gana kangen Mama ..." ucapnya tulus. Gana sedang mencoba untuk melepas penat dan kegusaran di jiwanya.


Ammar menatap Gana dengan kerutan di dahi. Aneh sekali, fikirnya. Gana tidak pernah semanja itu jika sedang tidak sakit.


"Kamu sesak, Nak?" tanya Mama memaksa melepas dekapan itu agar bisa menatap jelas wajah dan tubuh Ganaya.


"Enggak, Mah."


"Masa? Tapi bunyi swing nya jelas banget. Badan kamu juga hangat." Mama meraba permukaan kulit lengan Gana.


Gana tersenyum tapi bola matanya terlihat menggenangkan air. "Enggak 'kok, Mah."


Mendengar perbincangan antara Mama dan Gana membuat jantung Ammar berdegup lagi. Keanehan Gana sangat tercetak jelas di matanya.


"Sikap Gana lain padaku, apa yang sedang ia sembunyikan?" Ammar membatin. Lalu melangkah menghampiri kedua wanita itu.


"Papa ..." seru Gana ketika melihat Papa Bilmar baru keluar dari kamar tamu.


"Sudah pulang, Nak?" tanya Papa mengelus rambut Gana ketika menantunya sedang mencium hormat punggung tangannya.


"Iya, Pah. Maaf ya pas Papa dan Mama datang, Gana sedang diluar. Belanja tanaman." kembali menjelaskan kepergiannya kepada Papa mertua.


Mama Alika dan Papa Bilmar tersenyum. "Iya enggak apa-apa."


Mereka semua melangkah menuju sofa ruang tamu. Ingin berbincang melepas lelah dan rindu.


Ammar beringsut duduk disebelah Gana. Awalnya Gana ingin pindah untuk duduk disebelah Mama, tapi Ammar mencekal tangannya. Dan akhirnya ia duduk disebelah Ammar, berhadapan dengan Mama dan Papa.


"Kamu sakit sayang?" bisik Ammar.


Gana menggeleng dengan wajah kaku. Melihat respon asam dari Gana, membuat Ammar merasa tidak nyaman.


"Apalagi sih salahku? Bukannya tadi pagi kami sudah kembali mesra?" Ammar menahan sesaknya sendiri dalam batin.


"Bagaimana perusaahan, Dek? Aman?" tanya Papa.


Ammar beralih menatap Papa, dengan tangan menggenggam tangan Gana yang ia letakan di atas pangkuannya. Tangan wanita itu berkeringat, menahan emosi yang sejak tadi ingin memuncak.


"Beraninya kamu menggenggam tanganku dengan tangan mu, yang selalu kamu gunakan untuk membelai wanita-wanita yang kamu pakai, Ammar!" gumam Gana. Ia melirik tajam ketika tangannya digenggam erat oleh sang suami. Ingatannya pada alat kontrasepsi dan pil KB, terus menjerumus denial nya. Gana belum bisa menebak secara pasti.


"Aku jijik sama kamu!" hatinya lirih.


Tahan Gana ... Tahan. Dewi Fortuna terus berbisik, menenangkan ritme jantungnya yang kembali bergejolak.


"Aman, Pah. Malah Adek baru memenangkan tender. Berhasil bekerja sama dengan perusahaan Tysoncorp di Swiss." ucap Ammar dengan wajah yang berkilat-kilat akan cahaya karena berbangga diri.


"Wah, yang benar, Dek? Hebat kamu. Papa aja selama memimpin EG belum bisa bekerja sama dengan mereka." ucap Papa takjub.


"Siapa dulu dong Mamanya ..." Mama ikut berbangga diri.


"Papanya juga di ajak dong. Emang bisa Adek keluar gitu aja tanpa sumbangsih dari Papa."


Dan mereka bertiga bergelak tawa. Berbeda hal dengan Gana. Kepala wanita itu tiba-tiba berputar-putar. Pening dan sakit, karena menangis seharian. Hatinya terhimpit, bisa-bisanya Ammar tersenyum lepas kepada orang tuanya, menyembulkan kehebatan dan menyembunyikan dosa.


Entah mengapa mendengar suara Ammar tengah bercakap-cakap membuat ia jijik. Bayangan pistol, alat kontrasepsi, pil KB, foto suaminya tengah memegang kepala buntung dan cincangan tubuh Manusia, sungguh membuat dirinya tidak sanggup bernapas.


Napas Gana mulai berantakan. Bunyi swing dari balik dadanya semakin terdengar. Gana tidak konsen dengan pembicaraan mereka, sampai Ammar menoleh ke arah Gana, karena istrinya sedari tadi hanya diam dan ia juga mendengar jelas jika napas Gana tengah memburu hebat.


"Hhh ..." Gana semakin sesak. Dirinya ingin sekali berteriak tidak sanggup karena harus menanggung beban akan kebohongan yang suaminya ukir selama ini sendirian.


Kornea matanya mulai menggelap. Kabut putih tampak muncul menutupi bayangan Mama dan Papanya yang mulai menyerukan namanya ketika Gana mulai limbung ke sisi sofa kosong disebelahnya.


"Sayang ..." seru Ammar, buru-buru tangannya meraih tubuh Gana. Lelaki itu tersentak karena mendapati istri yang tiba-tiba pingsan.


****


Malam sudah naik ke peraduan. Udara di dalam kamar sudah cukup hangat. Karena suhu AC sudah diatur Ammar menjadi 28 derajat celcius---cukup panas.


Dirinya pun sedari tadi mengipas-ngipas tubuh yang mulai berpeluh. Kata Dokter yang memeriksa Gana sejak wanita itu pingsan. Gana tidak boleh terkena hawa dingin, letih dan banyak fikiran.


Hanya menahan panas, Ammar sungguh tidak mempermasalahkan.


Mama dan Papa berulang kali menanyakan apakah Gana sedang hamil atau tidak. Atau mungkin tidak tahu jika dirinya sedang mengandung. Ammar berkilah kalau Gana hanya sedang masuk angin. Mengandung dari mana fikirnya, Harley saja masih perjaka belum menumpahkan larvanya.


Gana berbaring menatap atap kamar. Entah sejak kapan dirinya sudah ada dipusara ranjang dengan tubuh yang sudah memakai piyama tidur. Selimut spongesbobs membentang di atas perut dibawah dada. Bahkan ketika Papa dan Mama menengoknya lagi sebelum beranjak ke kamar, Papa sedikit terkekeh dengan nuansa kamar mereka berdua.


Sudah dewasa, kok ya kamarnya kaya anak kecil. Begitulah guyonan Papa yang membuat Mama juga tertawa.


Sudut mata Gana kembali mengembun. Air bening menetes lurus langsung membasahi bantal. Bibirnya kering laksana gurun yang tidak mempunyai mata air. Kembali ia sadar, lalu meronta dan memukul-mukul dadanya.


Hiks ... Hiks.


Gana syok, wanita itu terpukul hebat.


Hiks ... Hiks. Sesekali memanggil nama Mama dan Papa nya pelan.


Krek.


Pintu kamar terbuka. Lelaki yang sejak siang menjadi buah fikir sekaligus pemberi luka menganga dalam organ vitalnya, muncul dari balik pintu dengan sebuah nampan berisi makanan.


"Sayang ... sudah bangun?" tanya Ammar. Nadanya lembut sekali. Selembut kapas kosmetik wajah. Gana mengalihkan tatapan nya ke arah jendela di sisi kanan. Wanita itu bungkam, tidak sudi menatap Ammar.


Setelah meletakan nampan di atas nakas. Ammar duduk dibibir ranjang. Mencoba meraih tangan Gana, namun wanita itu menepisnya.


"KELUAR KAMU!" seru Gana kencang.


"KELUAR!!" teriaknya lagi.


Tersentak. Ammar melongo dengan dahi yang berkerut-kerut. Kaget sekali jiwa dan raganya, tiba-tiba dibentak oleh istri tanpa tahu salahnya apa lagi.


Ammar beringsut mendekati Gana yang mulai beranjak duduk, sedikit menjauh dari Ammar.


Ammar tetap mendekat. Mencoba mengelus rambut Gana namun wanita itu bergeliat. Menepis kasar tangan Ammar.


"Kenapa tiba-tiba marah? Apa salahku sayang?"


Oh, sendu sekali suara itu. Gana saja sampai menundukkan kepala dan memejam mata. Sungguh dirinya masih tidak percaya kalau lelaki yang selalu mengucap kata cinta, adalah lelaki yang menjijikan.


"Makan ya, terus minum obat." Ammar mengakhiri perbincangan yang ia yakini pasti akan berujuk pada pertengkaran.


Lelaki itu mulai mengambil piring yang ada di atas nampan. Baru saja ingin mengaduk nasi dan lauk dengan sendok, seketika Ammar terlonjak. Piring yang ada ditangannya di dorong oleh Gana dan akhirnya terjun bebas ke lantai.


Prang.


Bunyi pecahan piring terdengar. Nasi-nasi berhamburan berserta sayur dan ayam.


"KETERLALUAN KAMU, GANA! AKU TIDAK SUKA MELIHAT ORANG MEMBUANG-BUANG MAKANAN SEPERTI ITU!"


Hilang kesabaran Ammar. Ia menatap Gana dengan rasa kesal. Bola mata mereka saling bersitatap menumpahkan rasa sebal. Terlebih Gana yang mendelik tajam menatap suaminya.


"KAMU MELAWAN AKU, GANA? SUAMIMU!"


Manik mata Ammar menyalang tajam, ia semakin dirasuk hawa emosi karena Gana semakin menantangnya. Wanita itu tetap menatap Ammar dengan dagu terangkat, memicing mata jijik, penuh kebencian.


"BANGUN! DAN MAKAN MAKANAN INI, CEPAT!!" teriak Ammar kencang, ia menunjuk ke arah nasi-nasi yang sudah bertebaran di atas lantai.


Dadanya sudah tertutup amarah. Baginya hari ini Gana sudah kelewatan. Mulai siang tidak meminta izin untuk pergi, di kirimi pesan tidak dibalas. Selama dirumah hanya diam, lalu pingsan, disentuh tidak mau dan terlebih lagi Gana mengusirnya dari kamar.


Ammar menarik tubuh Gana kasar, membuat wanita itu menggelosor jatuh di lantai. Dengan napas yang masih sesak, air mata yang akhirnya kembali turun, Gana memunguti nasi-nasi yang sudah bercampur debu itu dengan jari-jemarinya yang bergetar hebat. Terpaksa menuruti kemauan suaminya untuk memasukan nasi itu kedalam mulutnya.


Namun sebelum nasi tersebut benar-benar masuk kedalam mulut. Ammar menepisnya. Lelaki itu berjongkok dan memeluk erat istrinya.


"Kamu kenapa, Gana? Salahku apa?" lelaki itu menangis, mengerang dalam penyesalan, karena amarah, mulai membudakinya untuk tidak bisa bersikap sabar. Ammar membuat Gana semakin terperosok dalam kebencian terhadapnya.


****


Aku sedih bikin part ini💔