Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Tiga Bulan Pernikahan.


Ammar berkali-kali mengutuk dirinya. Ia merasa gagal menjadi suami siaga untuk Gana yang pada saat itu sedang membutuhkan keberadaanya. Hal itu seharusnya bisa menjadi alasan untuk menarik simpatik dan hati istrinya. Ternyata, Ammar malah melewatkan kesempatan itu.


Malamnya sehabis kejadian antara Ammar dan Asyifa. Membuat perbincangan panjang antara Gana dan Ammar sampai pagi.


Berkali-kali Ammar menjelaskan kepada Gana. Walau Gana memaafkan, tapi Ammar tahu di sudut mata Gana tersimpan rasa kecewa.


"Aku minta maaf, Gana ..."


"Aku maafkan."


"Aku ..."


"Nikahi lah Asyifa, aku tidak apa-apa Ammar. Asyifa adalah wanita baik yang bisa menjadikanmu sebagai suami sungguhan. Tidak sepertiku. Aku belum mampu mencintaimu."


Gana sudah berulang kali memaafkan dan mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. Menolong Asyifa dalam hal genting, merupakan suatu sisi manusiawi. Bahkan ia membolehkan Ammar jika ingin menikahi Asyifa.


"Aku tidak mungkin menikahinya."


"Aku hanya orang ketiga di antara kalian. Pertunangan kalian batal karena aku. Aku malah merebutmu darinya. Aku yang sudah membuat dirinya hampir mati karena ingin bunuh diri."


Setelah ucapan itu keluar dari mulut Gana. Suasana hubungan Ammar dan Gana berubah. Tidak sehangat seperti di awal menikah. Bahkan dulu Ammar masih bisa mencium Gana dengan esapan panas nya. Namun sekarang? Jangankan mencium, bertatapan muka saja, Gana selalu menghindar.


Ammar selalu ingin menjambak rambutnya jika mengingat kejadian bersama Asyifa kala itu. Pada saat itu, Asyifa sedang terpuruk karena ditinggal menikah oleh Ammar. Wanita itu mengamuk dan frustasi.


Asisten rumah tangga di Apartemennya menelepon Ammar, memberitahukan bahwa majikannya sedang membawa pisau berdiri di atas balkon ingin terjun ke bawah.


Mendengar hal itu, membuat Ammar panik dan syok. Ia keluar dari ruang rapat, bahkan Bima dan Denis tidak diperkenankan untuk ikut. Ammar langsung melesat menuju Apartemen Asyifa.


Ia memang membenci Asyifa Karena sudah bersekongkol dengan Adri untuk membohongi Gana. Tapi sejatinya Asyifa adalah wanita yang baik, dia pernah menemani Ammar selama empat bulan, memberikan dirinya cinta, kelembutan dan perhatian untuk mengalihkan fikirannya dari Gana, walau Ammar tidak kunjung mencintai wanita itu. Apalagi Asyifa ia tinggalkan secara mentah-mentah dari pertunangan, yang akhirnya membuat malu dua keluarga.


Huru-hara terjadi di Apartemen, Asyifa memohon agar Ammar mau menikahinya. Tapi Ammar tetap menolak dan mengatakan ia lebih memilih istrinya, walau Gana belum bisa memberikan hatinya. Dan pada saat itulah Asyifa langsung menggores ujung pisau di urat nadinya.


Setelah tiga bulan berlalu pasca kejadian itu. Gana lebih tertutup kepada Ammar. Wanita itu jarang tertawa, jarang bicara tapi masih menjawab jika Ammar bertanya. Ammar membiarkan Gana untuk tidur di kamar mana yang ia suka. Kadang Gana memilih tidur bersamanya di ranjang yang sama, kadang ia memilih tidur di kamar lain.


Ammar mentolerir saja, ia tahu dirinya salah. Salah dalam hal ketidaksengajaan nya.


Ammar sampai membelikan tabung oksigen, inhaler asma, dan beberapa obat-obatan yang diperlukan Gana jika asma istrinya kambuh. Ia merasa menyesal, tidak ada disaat Gana membutuhkan.


"Ibu sudah pulang, Yun?" tanya Ammar yang langkah kakinya baru sampai di rumah.


"Sudah, Pak. Lagi dikamar, kayaknya lagi mandi."


"Kamar yang mana? Kamar kami?" tanya Ammar antusias. Manik mata Ammar memperlihatkan rasa rindu selama tiga bulan ini.


"Kamar tamu, Pak."


Ammar menarik napas, mengangguk kepala sambil melepaskan kaitan dasinya. Ia melangkah gontai menuju kamar untuk membersihkan diri.


Bagaimana caranya berdamai dengan Gana? Menarik perhatiannya, membuat Gana mencintai dirinya. Jika wanita itu terus saja menghindar, menganggap tinggal serumah dengan lelaki asing.


Bahkan semenjak tiga bulan ini, Gana memaksa keras untuk membawa mobil sendiri, Ammar hanya bisa menurut seperti anak burung yang di tinggal pergi oleh induknya di tumpukan jerami hangat. Lagi-lagi rasa penyesalannya karena tengah mengabaikan Gana, menjadi titik dalang yang paling besar.


Gana sampai membatalkan niat mereka yang tadinya ingin menggelar acara resepsi, memberitahukan jati diri suaminya yang sah kepada publik.


Gana sengaja melakukan ini, ia hanya ingin Ammar menceraikan dirinya. Gana sudah frustasi, karena selama tiga bulan ini, ia belum bisa mencintai Ammar, Dewi Fortuna dalam dirinya berkata selamanya Ammar hanya ia anggap sebagai adik, tidak akan bisa lebih dari itu.


Dan bagaimana dengan Adri? Gana sudah mulai belajar melupakan lelaki itu, dan kadar cintanya hanya tinggal dua puluh persen.


***


"Bu ... makan malam nya sudah siap." Yuni mengetuk pintu kamar Gana. Gana yang sedang berbaring di ranjang sedang video call dengan Dava seketika menoleh ke arah pintu.


"Ya makasih, Yun."


Gana tidak beranjak. Ia masih setia video call bersama Dava dan Mulan. Mereka memang belum bertemu lagi setelah pertemuan di RS. Tapi mereka selalu berkomunikasi lewat WhatsApp. Gana suka mengomentari status-status WhatsApp Mulan.


Ia senang jika wanita itu suka mengupdate foro-foto Dava ketika sedang bermain. Walau jauh, tapi Gana dan Mulan merasa hubungan diantara mereka sangatlah dekat. Sampai Mulan dan Gana lupa untuk menceritakan kepada para suami mereka, kalau mempunyai teman baru.


"Kamu enggak mau main kerumah? Nih, Dava nya kangen." berkali-kali Mulan menawarkan untuk main kerumahnya. Tapi Gana selalu berkata, akan aku usahakan. Karena wanita itu memang sedang sibuk-sibuknya.


Gana tersenyum. "Kirim alamatmu ya, besok aku akan pulang cepat dari kantor."


"Mau menginap?" tawar Mulan.


Baru Gana ingin menjawab tidak, tapi Mulan sudah keburu angkat bicara lagi.


"Suamiku sedang ke luar kota tiga hari. Kalau kamu menginap, kita bisa ngobrol sampai puas."


"Baiklah, aku akan menginap." sepertinya Gana butuh orang yang bisa diajak curhat.


"Tapi minta ijin dulu dengan suamimu." ucap Mulan.


Senyum Gana yang awalnya melebar, seketika meredup. Ia baru ingat kalau saat ini dirinya tidak single lagi. Ada Ammar, sebagai suami yang harus ia libatkan keberadaannya.


"Gana ...?"


Gana mengerjapkan mata. Wanita itu terlonjak dari lamunannya. "Baiklah, aku akan meminta ijin dulu."


***


Karena dua minggu lalu, mereka kembali ribut. Lebih tepatnya Ammar yang terus memaksa agar Gana mau bersikap hangat seperti dulu. Dan parahnya lagi diujung keributan, Gana meminta cerai kepada Ammar.


Tentu hidup Ammar akan hancur, jika wanita itu meninggalkannya. Ammar menolak, lelaki itu histeris.


"Tapi minta ijin dulu dengan suamimu."


Gana terbayang-bayang dengan ucapan Mulan. Ia mengunyah dengan fikiran gegana. Ia terlalu gengsi untuk memulai ucapan. Ia tidak mau hatinya luruh, Gana masih tetap dengan pendiriannya.


Ia ingin Ammar tidak betah hidup dengannya, lalu menceraikannya. Semua ini ia lakukan, agar Ammar bisa bahagia dengan wanita lain yang mencintainya.


Hanya dentingan sendok dan garpu, sebagai penyerta di antara mereka.


"Ammar ..." panggil Gana pelan, namun wajahnya masih tertunduk ke atas nasi.


"Iya Gana."


Gana menghela napas, lantas memejam kedua mata. Merasakan kelembutan dan keteduhan dari suara suaminya. Jahat sekali dirinya. Sudah bersikap acuh, tapi Ammar tetap beramah tamah kepadanya.


"Aku akan menginap besok di rumah temanku. Aku harap kamu mengizinkannya." ucap Gana, masih dalam tundukannya.


Ammar hening sebentar. Jika saja hubungan mereka baik. Sudah dipastikan lelaki itu tidak akan mengizinkan. Tapi Ammar fikir tidak ada salahnya untuk mengiyakan, hitung-hitung membuat Gana jadi senang kepadanya karena diperbolehkan.


"Aku izinkan. Apa mau aku antar?"


Refleks Gana mendongak. Ia fikir dirinya tidak akan di izinkan. Gana menatap Ammar yang memberikan senyuman hangat kepadanya. Hati Gana teriris, mengapa ia bisa setega ini kepada Ammar.


"Terima kasih ... Dan tidak perlu." singkat, padat dan jelas.


Entah mengapa, menatap mata Ammar malam ini membuat hati Gana berdebar. Ammar terlihat sangat berbeda. "Wajahmu basah? Baru mandi malam-malam begini?"


Ammar terhenyak ketika Gana memperhatikan dirinya.


"Tadi, aku baru selesai berwudhu ingin shalat Isya. Tapi karena aku lihat kamu ingin makan malam, dan semua makanan sudah tersaji Aku memilih untuk makan dulu."


DEG.


Organ didalam tubuh Gana sepertinya mendadak semaput. Selama menikah dengan Ammar, Gana tidak pernah sekalipun melihat Ammar shalat atau sehabis berwudhu.


Namun saat ini, bongkahan mata Gana tergugah menatap kegagahan Ammar di balik air wudhu nya.


"Kenapa kamu tampan sekali malam ini?"


Setelah kata cerai di ucapkan oleh Gana. Saat itu pula, Ammar berfikir keras. Ia teringat ketika Gana pernah memohon untuk di doakan.


Dan tadi siang untuk pertama kali nya Ammar mendatangi masjid EG bersama Bima dan Denis. Para asistennya pun menggaruk kepala bingung. Sedang kesambet apa Presdirnya, setelah enam tahun menggantikan Papanya di EG. Lelaki itu akhirnya mendatangi masjid dan ingin menjalankan shalat jamaah Dzuhur.


Walau kenyatannya pada siang tadi, Ammar hanya termenung didalam masjid. Lelaki itu tidak shalat. Ia hanya diam melamun. Duduk menyila sambil menunduk. Matanya memejam, dan isakkan tangis yang mulai muncul. Ia masih malu untuk bersujud. Ia adalah lelaki yang penuh akan dosa.


Tapi Ammar kembali teringat dengan ucapan Gana pada malam pernikahan mereka.


"Kamu pernah mendengar kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha tidak?"


Ammar menggeleng ragu. "Mungkin pernah dengar, tapi aku lupa." dalihnya.


"Ketika Zulaikha mengejar cinta Nabi Yusuf. Maka Nabi menjauh darinya, tapi ketika Zulaikha mengejar cinta Allah. Allah datangkan cinta Nabi Yusuf kepada Zulaikha ... maka dari itu doakan aku, Ammar."


"Doakan aku." Gana mengulang.


Ammar sudah memutuskan untuk meraih cintanya Allah, merebut simpatik Allah dalam doanya. Agar mau memberikan Gana kepadanya.


Dan ia juga berniat untuk hijrah. Ammar ingin melepas usaha-usaha terlarangnya. Walau sesekali setan-setan yang sudah lama berkompolot didalam dirinya. Selalu membuat ia berat dalam menjalani taubat nasuha.


Dan sepertinya Semesta tengah memberikan kesempatan agar keinginan Ammar bisa terkabulkan.


"Gana ...?" panggil Ammar.


"Eh, iya." Gana kembali terlonjak dalam lamunan.


"Mau shalat jamaah denganku?" ajak Ammar. Ganaya terkesiap, dengan mata yang mengerjap beberapa kali. Ia mengangguk dengan tatapan datar. Hatinya berdesir tidak percaya.


Gana mirip seperti ayam lemas yang sedang minum obat. Ammar tersenyum lalu kembali melanjutkan makan malamnya.


Jantung Gana berdenyut. "Aku nih kenapa? Kok tiba-tiba perasaan aku gak karuan begini?" desah Ganaya.


Ia semakin tertarik menatap suaminya, yang sejak kemarin berusaha ingin ia ceraikan.


***


Like dan Komen ya guyss🌺🌺